Saat hamil tujuh bulan, Kayla baru sadar bahwa pernikahannya hanyalah kebohongan.
Suaminya berselingkuh.
Mertuanya membencinya.
Dan rumah mewah yang dulu ia sebut rumah perlahan berubah menjadi neraka.
Padahal tanpa Kayla, Adrian Wijaya bukan siapa-siapa.
Dikhianati saat mengandung, dibuang ketika paling rapuh, Kayla memilih bangkit. Perlahan, wanita yang dulu diremehkan itu berubah menjadi sosok yang tak lagi bisa disentuh.
Kini saat semua pria mulai berlutut memperebutkan hatinya...
mantan suaminya justru kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Frenzy hrp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
minta bantuan
Pukul satu dini hari, ruangan kontrakan nomor tiga masih dilingkupi keheningan yang pekat. Kayla duduk bersandar di dekat meja lipatnya, dia mencari solusi namun tak kunjung dapat.
KTP miliknya sendiri tersimpan aman di dalam dompet, tetapi Kartu Keluarga (KK) miliknya masih berstatus menjadi satu dengan keluarga Wijaya.
Kenyataan pahit itu menghantam dada Kayla dengan telak. Dia juga tersadar bahwa Arsen belum memiliki Akta Kelahiran sama sekali.
Untuk mengurus semua itu di birokrasi, dia membutuhkan dokumen pernikahan dan KTP Adrian. Jika dia nekat mencantumkan nama pria itu, pelacakan keluarga Wijaya akan langsung mendeteksi keberadaannya dalam hitungan jam.
Rasa frustrasi perlahan mulai menggerogoti ketenangan yang baru saja Kayla bangun sore tadi. Dia tidak boleh kehilangan kesempatan kerja ini hanya karena masalah dokumen legalitas.
Setelah merenung dengan dada sesak di tengah malam, Kayla memutuskan untuk menunggu hingga pagi tiba.
Tepat pukul enam pagi setelah ibadah subuh, Kayla menatap nomor kontak Dokter Raditya di layar ponselnya. Dengan tangan yang sedikit dingin dan debar jantung tak beraturan, dia memberanikan diri menekan tombol panggil.
Ponsel itu berdering tiga kali sebelum akhirnya suara yang akrab dan terdengar agak lelah menyapa dari seberang saluran. "Halo, selamat pagi, Kayla? Ada apa? Apa ada keluhan medis dengan jahitanmu atau kondisi Arsen?"
Mendengar suara penuh perhatian dari dokter yang menyelamatkannya itu, hati Kayla sedikit menghangat.
"Selamat pagi, Dokter Raditya. Maaf... maaf sekali saya lancang menelepon sepagi ini. Kondisi fisik saya dan Arsen sehat, Dok. Tapi... saya sedang ada masalah lain dan benar-benar butuh bantuan."
"Tenang, Kayla. Tarik napas dulu," potong Dokter Raditya lembut, seolah tahu wanita di seberang telepon sedang menahan tangis. "Ceritakan pelan-pelan. Masalah apa?"
Kayla meremas ujung telekungnya mencoba menstabilkan suaranya yang bergetar. "Saya dapat panggilan final untuk kerjaan freelance online jam sembilan pagi ini, Dok. Tapi pihak HRD tiba-tiba meminta dokumen Kartu Keluarga dan KTP suami untuk proses administrasi kontrak."
"Saya tidak punya fisik KK itu karena masih bergabung dengan keluarga Wijaya, Dok. Dan yang paling membuat saya buntu... Arsen belum punya Akta Kelahiran," duka Kayla mulai tumpah,
"Kalau saya urus akta pakai nama Adrian, keluarga Wijaya pasti langsung tahu lokasi kami. Tapi kalau tidak ada dokumen sama sekali, saya akan kehilangan pekerjaan ini, Dok. Saya bingung harus bagaimana."
Di seberang telepon, sempat terjadi keheningan sejenak. Dokter Raditya tampaknya sedang mengembuskan napas panjang, ikut merasakan duka dan himpitan berat yang sedang dihadapi ibu tunggal di depannya.
"Kayla, dengarkan saya," ujar Dokter Raditya dengan nada tegas namun sangat menenangkan. "Untuk akta lahir arsen, saya akan minta staf administrasi rumah sakit sekarang juga untuk menerbitkan Surat Keterangan Kenal Lahir resmi bercap rumah sakit.
Di dalam surat itu, hanya akan tercantum namamu sebagai ibu kandung yang sah, tanpa ada nama pihak lain demi privasi dan keamanan pasien."
"Kamu bisa pakai surat itu dan surat pernyataan mandiri bermeterai untuk meyakinkan HRD bahwa posisi freelance ini tidak butuh tunjangan keluarga," lanjut Raditya.
"Tapi, kalau mereka tetap kaku dan mempersulitmu karena masalah KK, lepas saja pekerjaan itu. Jangan memaksakan diri."
Kayla tertegun, mengusap air matanya. "Tapi, Dok... saya butuh penghasilan ini untuk Arsen."
Dokter Raditya terkekeh kecil, sebuah tawa hangat yang seketika mencairkan ketegangan di dada Kayla. "Saya tahu. Makanya, kalau mereka menolakmu, saya punya teman dekat yang punya firma konsultan keuangan independen. Dia sedang butuh auditor lepas untuk kerja dari rumah.
Saya jamin kamu bisa langsung kerja di sana tanpa birokrasi KK yang rumit. Jadi, maju saja buat wawancara pagi ini tanpa beban, paham?"
Pesan dan dukungan langsung dari Dokter Raditya menjadi jaring pengaman yang luar biasa bagi mental Kayla.
Rasa takutnya lenyap, digantikan oleh rasa percaya diri yang penuh saat jarum jam menunjukkan pukul sembilan pagi tepat. Kayla mengklik tautan Google Meet dengan punggung tegak.
Layar monitor langsung menampilkan wajah Bu Mirna dari tim HRD yang sudah siap. "Selamat pagi, Bu Kayla. Terima kasih sudah mengirimkan berkasnya. Namun, tim administrasi kami mencatat bahwa Anda tidak melampirkan Kartu Keluarga dan KTP suami."
Kayla menarik napas dalam, menatap lurus ke arah kamera laptopnya dengan tenang dan profesional. "Selamat pagi, Bu Mirna.
Seperti surat pernyataan bermeterai yang saya lampirkan, status hukum saya saat ini adalah orang tua tunggal mandiri yang tidak memiliki akses terhadap dokumen pihak mantan pasangan demi alasan privasi keamanan."
"Saya juga sudah melampirkan Surat Keterangan Kenal Lahir resmi berkop rumah sakit yang memvalidasi hubungan hukum saya dengan anak saya," lanjut Kayla tanpa ada keraguan sedikit pun.
"Mengingat posisi yang saya lamar adalah pekerja online seluruh legalitas personal anak sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya pribadi, bukan perusahaan."
Bu Mirna terdiam sejenak di seberang panggilan video. Dia membaca ulang surat dari rumah sakit dan argumen hukum Kayla yang bener-bener solid serta tidak meninggalkan celah risiko bagi perusahaan.
Setelah beberapa detik yang menegangkan, senyum profesional kembali terukir di wajah sang HRD.
"Penjelasan Anda sangat jelas dan masuk akal, Bu Kayla. Tim legal kami juga menyatakan berkas Anda sudah memenuhi syarat kualifikasi untuk status mitra online," ujar Bu Mirna seraya mengetikkan sesuatu.
"Saya baru saja mengirimkan tautan kontrak kerja digital ke email Anda. Silakan ditandatangani sekarang."
Dengan jari yang sedikit gemetar, Kayla membuka email baru tersebut dan mengklik tombol tanda tangan digital menggunakan akunnya. Begitu proses selesai, halaman monitor laptop barunya berkedip menampilkan status baru.
Mata Kayla mendadak terasa sangat panas Dia menutup mulutnya dengan satu tangan, menahan tangis haru agar tidak terdengar oleh Bu Mirna yang baru saja berpamitan dan mematikan panggilan video.
Kayla bangkit dari kursi, berjalan mendekati kasur busa dan langsung merebahkan tubuhnya di samping Arsen.
Dia memandang wajah tidur putranya yang tampak begitu damai tanpa beban, lalu mengecup kening bayinya dengan penuh rasa syukur yang mendalam.
Langkah pertama untuk bangkit sudah berhasil dilewati dengan sempurna, dan untuk langkah selanjutnya dia akan berusaha agar mereka baik-baik saja.