Gugur dalam tragedi berdarah di abad ke-14, jiwa Nyai Kencana—kesatria wanita Kerajaan Sunda—terlempar ke masa modern. Ia merasuki raga Citra, mahasiswi beasiswa yang nekat melompat dari jembatan demi menjaga kehormatannya dari jebakan pemerkosaan.
Kini, Citra bangkit dengan kepribadian baru: dingin, tegap, dan menguasai ilmu kanuragan kuno. Tidak ada lagi Citra lemah yang bisa ditindas!
Perubahan drastis Citra membuat Elang Dirgantara, pewaris tunggal konglomerat yang angkuh dan sombong, penasaran sekaligus jengkel. Hubungan mereka layaknya anjing dan kucing yang selalu bergesek konflik.
Namun, roda takdir berputar. Keluarga Elang bangkrut total dalam semalam. Diusir, dikhianati teman-temannya, dan nyaris bunuh diri.
Bagaimana kisahnya baca terus novelnya ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah Nissa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 - Rahasia yang Terbakar di Angkringan!
Denting sendok yang beradu dengan gelas kaca tebal perlahan meredup setelah lewat tengah malam. Di bawah bentangan terpal plastik biru-oranye yang mulai lembap oleh embun, riuh pembeli kini menyisakan aroma jahe bakar dan gurihnya minyak sate yang mengering di atas panggangan. Beberapa lembar tikar pandan di sudut luar sudah digulung rapi, menyisakan semen trotoar yang basah oleh sisa es batu yang mencair.
Surya berdiri di balik gerobak kayu, bersandar santai pada tiang penyangga sembari memegang kotak laci uang yang kusam. Jemarinya yang kasar bergerak cepat menghitung tumpukan uang dua puluh ribuan dan lima puluh ribuan yang meluap hingga laci itu tidak bisa dikunci. Seringai lebar menghiasi wajahnya, memamerkan kepuasan yang murni.
"Jancuk, Sam... kalau tiap hari kayak gini, bisa buncit perutku, bisa beli motor baru!" seru Surya sembari menepuk laci kayu itu hingga berdentum berat. Ia menoleh ke arah Kirana yang sedang mengumpulkan sisa bungkus nasi di atas meja pendek.
"Gak sia-sia aku jalan jauh-jauh dari Malang kalau hasilnya mantap kayak gini, Mbak. Kamu gak pengen tak boking jadi bendahara tetap ta?"
Kirana memutar bola matanya malas, lalu melempar selembar kain lap basah tepat ke bahu Surya. "Dalam mimpimu, Tembok Malang! Mending lo hitung yang bener itu duit, jangan sampai kurang seribu rupiah pun. Dan sori ya, tarif bokingan gue mahal, gak sebanding sama omzet nasi kucing lo yang cuma seupil ini."
Surya menangkap kain lap itu dengan sigap, berpura-pura mengusap dadanya yang terluka sambil terkekeh pelan. Pipinya agak merona merah, salah tingkah akibat tatapan ketus Kirana yang selalu berhasil mematikan argumennya.
Sementara itu, di sudut gerobak yang paling gelap, Elang Dirgantara terduduk lesu di atas kursi kayu pendek tanpa sandaran. Seluruh badannya terasa rontok. Kaos oblong putih longgar milik Surya yang dipakainya basah cuyup oleh keringat dan uap panas tungku. Sepasang lengannya yang biasa bersih kini gemetar karena kelelahan, dan noda hitam dari jelaga arang kelapa tercoreng kasar di sepanjang tulang pipi dan pelipis wajahnya yang pucat. Ia menunduk, menatap kedua telapak tangan yang hitam kotor—kontras mutlak dari hidup mewahnya beberapa hari lalu.
Sebuah bayangan mendekat tanpa suara. Citra Kencana berdiri tepat di depan Elang. Di tangan kanannya, ia memegang selembar handuk kecil putih yang sudah dibasahi air hangat dari panci penanak.
Tanpa mengucap sepatah kata pun, Citra menekuk lututnya lalu berjongkok tepat di hadapan Elang. Jarak wajah mereka kini dekat sekali. Dengan gerakan tenang, ia mengulurkan handuk basah itu dan mulai mengusap pelipis kiri Elang dengan lembut, menyeka noda jelaga hitam yang mengotori kulitnya.
Elang tersentak kecil. Sentuhan handuk hangat dan embusan napas teratur dari bibir Citra yang menerpa lehernya membuat jantungnya mendadak berdegup kencang. Aroma tubuh Citra yang menenangkan merayap masuk ke indra penciumannya, membuat Elang mendadak gugup.
"G-gue... gue bisa sendiri," bisik Elang terbata-bata. Ia menggerakkan tangannya yang kaku, mencoba menepis pergelangan tangan Citra pelan demi menjaga sisa-sisa gengsinya.
Namun, Citra tidak bergeming. Gadis itu tidak menarik tangannya; ia justru menghentikan usapannya sejenak, lalu menatap lurus ke dalam manik mata Elang. Sorot mata Citra tampak tenang namun begitu tegas. Tatapan itu mengunci Elang hingga membuat egonya runtuh dan ia mematung tanpa mampu bersuara. Ada ketegangan yang mendadak pekat di antara mereka, membuat batin Elang bingung di antara rasa benci yang tersisa dan rasa butuh yang mulai tumbuh di hatinya.
"Nggak usah gengsi. Orang kerja keras itu wajar kalau mukanya kotor kena arang," ucap Citra lirih, namun nadanya langsung menusuk harga diri Elang. Ia kembali melanjutkan usapannya dengan lembut, membersihkan sisa jelaga di bawah rahang Elang.
"Harga diri lo itu nggak ditentukan dari tebalnya dompet kakek lo, Elang. Tapi dari gimana lo bisa bertahan waktu semua fasilitas lo dicabut. Tatap mata gue... dan ingat, cowok yang ada di depan gue malam ini nggak boleh jadi pengecut yang cuma bisa meratapi nasib di bawah terpal angkringan."
Elang membeku sepenuhnya. Ia membiarkan jemari lembut Citra menyelesaikan tugasnya dalam keheningan, merasa harga dirinya yang manja selama ini sedang ditelanjangi sekaligus dibangun kembali oleh kalimat gadis penerima beasiswa tersebut.
*
Tik. Tik. Tik.
Detak jam dinding platinum menjadi satu-satunya suara di ruang kerja lantai teratas Menara Dirgantara Perkasa. Ruangan seluas seratus meter persegi itu sunyi dan terkesan dingin. Di balik meja jati besarnya, Wirawan Dirgantara berdiri tegap membelakangi ruangan. Kedua tangannya bertaut di belakang punggung, menatap lurus ke luar jendela kaca antipeluru yang menampilkan hamparan lampu Jakarta.
Di belakangnya, seorang pria berjas hitam tanpa emblem, kepala intelijen kepercayaan keluarga Dirgantara, berdiri dalam posisi siap sambil menundukkan kepala. Ia mengulurkan sebuah tablet digital ke arah Wirawan.
"Laporan harian mengenai Tuan Muda Elang, Pak. Ini rekaman yang sedang ramai di media sosial malam ini," ujar pria itu dengan suara rendah.
Wirawan membalikkan tubuh, lalu mengambil tablet tersebut. Sepasang mata sang konglomerat terpaku pada layar yang menampilkan cuplikan video amatir perdebatan di Angkringan Surya. Di sana, cucu tunggal sekaligus pewaris imperium bisnisnya terlihat memakai celemek kusam dengan wajah kena jelaga, pasang badan melindungi seorang gadis dari ancaman tongkat bisbol.
Alih-alih marah melihat darah dagingnya memegang jepitan sate di pinggir jalan, Wirawan justru menarik napas panjang. Sudut bibirnya perlahan terangkat, membentuk senyum tipis yang penuh arti.
"Bagus... Kamu tidak mengecewakan saya, Elang," gumam Wirawan dalam hati.
Siasat ekstrem berupa sandiwara kebangkrutan palsu yang ia rancang ternyata membuahkan hasil lebih cepat dari dugaannya. Dalam rekaman video yang buram itu, Wirawan bisa melihat sesuatu yang tidak pernah ada selama dua puluh tahun Elang hidup mewah: sorot mata yang keras dan kokoh. Karakter itu tidak rapuh seperti ayahnya, Bramantyo, di masa lalu. Elang sedang belajar bertarung dari bawah.
Namun, perhatian Wirawan beralih pada gadis beasiswa yang berdiri di samping Elang, Citra Kencana. Ia memperhatikan bagaimana ketenangan gadis itu mampu meruntuhkan dominasi Wijaya Samudra tanpa perlu kekerasan. Ada wibawa yang tidak biasa dari gestur tubuh Citra. Bagi insting bisnis Wirawan yang sudah menghadapi ribuan negosiator internasional, pembawaan gadis itu terlalu ganjil untuk ukuran mahasiswi biasa.
"Cari tahu semua data tentang gadis ini," perintah Wirawan, suaranya berat dan dingin sambil mengembalikan tablet ke tangan asistennya.
"Citra Kencana... dia bukan mahasiswi beasiswa biasa. Ada sesuatu di balik matanya yang harus saya ketahui."
Di belahan kota yang lain, suasana mewah berbiaya miliaran rupiah dipamerkan dengan kontras yang penuh emosi negatif.
Di ruang keluarga rumah gedongan bergaya Mediterania, Rania Puspa Dewi sedang bersandar di sofa beludru merah muda. Wanita paruh baya itu mengenakan gaun malam sutra tipis, wajahnya tertutup lapisan masker putih yang kontras dengan gincu merah di bibirnya. Ia menyesap teh chamomile dari cangkir porselen Inggris, memamerkan jajaran cincin permata di jarinya.
Di hadapannya, televisi layar lebar menampilkan berita yang sedang tren malam itu: “RUNTUHNYA TAKHTA PANGERAN: PEWARIS TUNGGAL DIRGANTARA PERKASA YANG KINI MENJADI PELAYAN ANGKRINGAN PINGGIR JALAN.”
Rania melepaskan tawa sinis yang melengking tinggi, meluapkan rasa dendamnya.
"Rasakan itu, Elang kecil... Lihat bagaimana anak Bramantyo yang sombong sekarang harus merangkak di trotoar kotor cuma buat sepiring nasi. Ini obat paling manjur buat sakit hatiku waktu kakekmu mendepakku keluar dari rumah tanpa sepeser pun aset!"
Namun, kesenangan Rania buyar seketika saat membaca barisan teks berjalan di bawah layar televisi. Netizen justru mulai memuji kemandirian Elang yang menolak menyerah, serta mengelu-elukan ketangguhan Citra Kencana. Simpati publik mulai mengalir deras, berpotensi memulihkan nama baik Elang.
Rania mengepalkan tangan kirinya erat-erat hingga kukunya memutih. Rasa cemas mulai merayapinya. Ia tidak boleh membiarkan Elang punya celah untuk bangkit kembali. Jika Elang berhasil mendapatkan simpati publik dan mentalnya tertempa dari bawah, seluruh rencana sabotase korporasi yang ia susun bersama kelompoknya bisa berantakan.
Dengan gerakan cepat penuh amarah, Rania menyambar ponsel berlapis emas miliknya. Ia menghubungi sebuah nomor rahasia yang terenkripsi, tersambung langsung dengan kaki tangannya di lapangan, kelompok preman pasar yang biasa disewa untuk pekerjaan kotor.
"Dengar baik-baik," desis Rania ke mikrofon ponselnya, pelan namun kejam.
"Besok malam, bawa semua anak buahmu ke lokasi angkringan tenda dekat kampus itu. Aku nggak mau lihat tempat itu berdiri lagi esok lusa. Ratakan dengan tanah, bakar kalau perlu! Dan pastikan anak manja bernama Elang itu dapat pelajaran fisik... bikin dia cacat atau hancurkan tangannya, biar dia tahu akibatnya kalau coba-coba jadi pahlawan di kota ini!"
Rania menutup telepon dengan napas memburu. Matanya berkilat penuh ambisi jahat.
**
Instingnya mendadak tajam. Sesuatu di dalam diri Citra, warisan masa lalu yang mengenali aroma bahaya, bergetar hebat, mengirimkan alarm tanda bahaya yang kuat.
Citra menghentikan gerakannya. Ia membalikkan badan perlahan, lalu melempar pandangan tajam menembus kegelapan jalanan yang sepi di luar tenda. Di balik keheningan malam itu, ia bisa merasakan ada ancaman besar yang sedang bergerak mendekat, siap menghancurkan ketenangan yang baru saja mereka bangun.