Kalau kamu butuh novel yang ceritanya manis, menggemaskan, dan ringan, untuk menemani waktu istirahat dan mengusir penat, kisah tentang Anaya dan Bos narsisnya adalah pilihan terbaik.
Setelah lima tahun bertahan menghadapi Bima—CEO muda genius, tajir melintir, dan narsisnya selangit—Anaya sang sekretaris kompeten memutuskan resign demi mengejar mimpi membuka toko kue dan toko buku kecil.
Beban finansialnya tuntas sejak adiknya sukses menjadi atlet nasional.
Namun, rencana resign itu buyar saat Mama Bima justru menjebaknya untuk menjadi menantu. Bagaimana kelanjutan nasib Anaya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: BATAS SABAR SANG CEO
Kemeja abu-abu milik Bima yang kini tersampir di bahu Anaya memang memberikan sedikit kehangatan, tapi itu sama sekali tidak membantu menurunkan suhu ketegangan yang mendadak melesat tinggi. Aroma parfum di kemeja Bima yang bercampur dengan uap air hangat dan wangi sabun sandalwood justru menciptakan kombinasi aroma yang memabukkan, memenuhi paru-paru mereka berdua dalam jarak yang teramat dekat.
Anaya masih memegangi kedua ujung kerah kemeja kebesaran Bima, merapatkannya ke dada dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Namun, bukannya mundur untuk memberikan ruang aman, Bima justru bergeming. Pria yang kini hanya mengenakan singlet hitam ketat itu perlahan memalingkan kembali wajahnya, menatap Anaya yang sedang tersudut di bawah kucuran sisa air shower.
Melihat air yang menetes dari ujung rambut lepek Anaya, mengalir melewati pipi meronanya, dan jatuh ke ceruk lehernya yang putih bersih, sepasang mata elang Bima seketika meredup lambat laun. Ada kilat yang berbeda di sana—kilat yang jauh lebih pekat dan berbahaya dibanding cemburu butanya tempo hari. Sisi narsis dan angkuh yang biasanya menjadi benteng pertahanan Bima mendadak runtuh, digantikan oleh insting murni seorang pria dewasa yang pertahanannya baru saja dihantam badai sensual.
Bima maju satu langkah. Langkah yang begitu pelan, namun sanggup mengunci pergerakan Anaya total. Kedua tangan kekarnya yang bebas dari busa sabun kini terangkat, mendarat telak di dinding marmer basah di sisi kanan dan kiri kepala Anaya, mengurung tubuh mungil sekretarisnya dalam sebuah kuncian absolut.
"P-Pak Bima... katanya tadi disuruh pakai kemejanya?" cicit Anaya dengan suara yang nyaris habis di tenggorokan. Dia mencoba menggunakan kemeja itu sebagai tameng, tapi tatapan Bima yang seolah menguliti jiwanya membuat tameng itu terasa tidak berguna.
Bima menundukkan kepalanya perlahan, mengeliminasi jarak vertikal di antara mereka hingga hidung mancungnya hampir bersentuhan dengan dahi Anaya. Napas Bima yang hangat dan memburu kasar menerpa permukaan kulit wajah Anaya yang sudah sepanas kompor.
"Saya memang menyuruh kamu pakai baju saya, Anaya," bisik Bima, suaranya merendah menjadi bariton yang sangat parau, seksi, dan terdengar begitu frustrasi. "Tapi kamu tahu? Kemeja itu gak menyembunyikan apa pun dari mata saya sekarang. Pikiran saya sudah telanjur terkontaminasi dengan visual yang baru saja kamu pamerkan."
"Pak, jangan gila ya..." Anaya mencoba protes, tangannya yang tersembunyi di balik kain kemeja Bima reflek mendorong dada bidang pria itu. Namun, otot dada Bima yang keras di balik singlet hitamnya justru terasa seperti dinding beton yang mustahil digeser.
"Saya memang bisa gila kalau begini terus," sela Bima cepat, memotong kalimat protes Anaya tanpa ampun. Sepasang matanya menggelap sempurna, menatap lekat-lekat bibir merah ranum Anaya yang basah dan sedikit bergetar karena kombinasi rasa dingin dan gugup. "Anaya... lima tahun saya menahan diri untuk tetap profesional di depan kamu. Tapi kalau kamu terus-menerus nunjukin pemandangan seperti ini di depan muka saya, saya gak bakal peduli lagi sama status bos-sekretaris kita..."
Deg!
Dada Anaya bergemuruh hebat. Jantungnya bener-bener maraton fana sampai rasanya mau meledak. Napasnya memburu, naik turun dengan ritme yang tidak beraturan, menciptakan gesekan halus antara dadanya dan dada tegap Bima. Bukannya merasa takut dengan ancaman terselubung sang bos, sudut hati Anaya yang paling dalam justru memberikan reaksi yang berkhianat. Sepasang matanya secara tidak sadar bergerak turun, menatap bibir Bima yang basah oleh sisa air shower—bibir yang jaraknya kini hanya tinggal beberapa milimeter saja dari bibirnya sendiri.
Atmosfer panas yang telah mereka pendam selama bertahun-tahun di dalam kubikel kantor yang kaku, malam ini mendadak mencapai titik didihnya di dalam kubikel shower rumah utama. Ketegangan intim itu begitu pekat hingga Anaya bisa merasakan ketegangan otot-otot lengan Bima yang mengurungnya.
Bima perlahan memiringkan kepalanya, membiarkan bibirnya menyapu lembut helai rambut basah di dekat pelipis Anaya, bergerak turun menuju pipinya yang selembut sutra. "Kamu mau tahu batasan sabar saya, hmm? Jangan salahkan saya kalau besok Senin kamu datang ke kantor bukan sebagai sekretaris lagi, tapi sebagai..."
CELEK!
KRETEKKK... BRAKK!
Suara pintu utama kayu yang tebal di luar mendadak terbuka dengan kasar, memotong kalimat sensor milik Bima yang hampir saja meluncur mulus.
"BIMAAA! ANAYAAA! Ya ampun, Ma! Pintu kamar mandinya beneran digembok dari luar pakai rantai jemuran!" Suara bariton khas Pak Hartawan menggelegar dari arah area wastafel, terdengar sangat panik sekaligus emosi. "Kamu ini apa-apaan sih, Ambar! Kalau anak orang pingsan karena pengap di dalam gimana?!"
"Aduh, Papa! Jangan berisik kenapa sih! Kan Mama cuma mau bantuin si Bima biar cepet bergerak!" Suara Bu Ambar ikut terdengar menyahut dari ambang pintu, nadanya terdengar agak bersalah namun masih ada sisa-sisa kekehan usil di sana.
Mendengar suara kedua orang tua Bima yang mendadak menginvasi ruangan, kesadaran Anaya langsung melompat kembali ke realitas bumi. Dengan kekuatan yang mendadak muncul entah dari mana, Anaya mendorong dada Bima sekuat tenaga hingga kuncian tangan pria itu terlepas.
"Pak Bima! Pak Hartawan sama Ibu sudah datang!" bisik Anaya panik setengah mati, wajahnya yang tadi merah karena romansa kini berubah menjadi merah karena horor membayangkan rasa malu kalau mereka ketahuan berduaan di dalam kubikel shower dengan kondisi basah kuyup.
Bima memejamkan matanya sesaat, mengembuskan napas panjang yang dipenuhi rasa frustrasi tingkat dewa. Pria itu mengacak rambutnya yang basah dengan gemas, merutuki interupsi bapaknya yang lagi-lagi menghancurkan momen emas dalam hidupnya.
"Iya, saya tahu," sahut Bima pasrah, suaranya kembali berubah menjadi santai meskipun ada nada dongkol yang amat kentara.
Pria itu merapikan penampilannya yang hanya memakai singlet, lalu melangkah keluar dari kubikel shower terlebih dahulu untuk menemui orang tuanya, diikuti oleh Anaya yang berjalan dengan pelan di belakangnya sambil menenggelamkan tubuhnya di dalam kemeja abu-abu kebesaran milik Bima.
Begitu melihat sosok anak laki-lakinya keluar hanya dengan singlet dalam hitam dan celana abu-abu yang basah kuyup, mata Pak Hartawan langsung melotot sempurna. "Bima! Kamu... kamu ngapain gak pakai baju begitu?! Terus itu kenapa basah semua?!"
Bima memasang wajah paling lempeng dan paling narsis, melipat kedua tangannya di depan dada seolah tidak terjadi apa-apa. "Ini semua gara-gara jebakan Mama, Pa. Sabunnya licin, terus saya gak sengaja nabrak tuas shower. Jadi saya sama Anaya terpaksa melakukan simulasi penanganan banjir darurat di dalam kamar mandi."
Bu Ambar yang melongok dari balik punggung suaminya langsung menutup mulutnya begitu melihat Anaya keluar dengan kemeja Bima yang kedodoran dan rambut yang lepek. Bukannya merasa bersalah, mata wanita paruh baya itu justru makin berbinar cerah penuh kemenangan.
"Ya ampun! Rencana Mama beneran berhasil! Bima, kamu pinter banget ya langsung gerak cepat ngasih kemeja kamu ke Anaya!" seru Bu Ambar girang, mengabaikan delikan maut dari anak kandungnya sendiri. "Ya sudah, ya sudah! sebelum makan malam, Bima, kamu ganti baju sana di kamar atas! Anaya, sini ikut Mama ke kamar tamu, Mama punya banyak baju baru yang belum pernah dipakai. Ayo, Sayang!"
Bu Ambar langsung menyambar pergelangan tangan Anaya, menarik sekretaris pilihan hatinya itu menjauh dari area kamar mandi, meninggalkan Bima dan Pak Hartawan yang hanya bisa geleng-geleng kepala.
Sebelum belok di tikungan koridor, Anaya sempat menoleh ke belakang, menangkap basah tatapan mata Bima yang masih mengintainya dengan senyuman licik yang seolah berkata: Urusan kita di dalam kubikel tadi... belum selesai, Anaya.
ternyata pada masih
malu" kucing...
lanjut Thor ceritanya
di tunggu updatenya
cerita kelanjutannya, Thor
mungkin Anya belum merasakan benih" cinta pak...
pak Bima juga seperti itu
kerjaan melulu yg di fikirkan...