Satu Hari 5 Bab... bantu saya untuk terus berkarya😎😎
Di Kota Xiang, seorang jenius muda bernama Xiao Ba pernah dipuja sebagai harapan terbesar Keluarga Xiao karena memiliki Akar Spiritual Suci Tingkat 9, bakat langka yang bahkan sulit ditemukan dalam seribu tahun. Namun semuanya berubah ketika akar spiritualnya hancur secara misterius, membuatnya jatuh dari langit ke dasar kehinaan dalam semalam.
Dulu dipuji, kini dihina.
Dulu didekati, kini dijauhi.
Bahkan keluarga yang pernah memohon perjodohan dengannya datang untuk memutuskan hubungan sambil mempermalukannya di depan semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DafToon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kebangkitan Sampah Keluarga Xiao
Sementara Xiao Ba duduk tenang dalam meditasinya di paviliun belakang, suasana di aula utama kediaman Keluarga Xiao tengah memanas.
Di hadapan seluruh anggota keluarga yang berkumpul, berdiri seseorang yang tidak diundang namun datang dengan kepala tegak seolah ia yang paling berhak ada di sana. Seorang pria paruh baya yang usianya terlihat sekitar delapan puluh tahun, berpakaian rapi dengan aura keluarga terpandang yang menempel di setiap gerak-geriknya.
Ia adalah Yun Song, Patriark Keluarga Yun.
"Patriark Xiao," ucapnya dengan nada yang terdengar sopan namun menyimpan ketajaman di baliknya, "saya minta Anda mengerti kondisi Tuan Muda Xiao saat ini. Kontrak pernikahan ini tidak mungkin untuk dilanjutkan."
Hening sesaat menyelimuti aula.
Semua orang tahu ceritanya. Dulu, saat Xiao Ba masih bersinar sebagai pemilik Akar Spiritual Suci Tingkat 9, Yun Song sendiri yang datang dengan penuh semangat, memohon agar putrinya, Yun Feyue, dijodohkan dengan sang tuan muda. Xiao Sun menyetujuinya sebagai bentuk balas budi, karena Yun Song pernah menyelamatkannya dari serangan binatang spiritual berbahaya di masa lalu.
Saat itu, Keluarga Yun merasa mereka sedang mengikat diri dengan bintang yang akan bersinar paling terang.
Kini, bintang itu menurut mereka telah padam.
"Siapa yang mau menjadi istri dari seseorang yang hanya bisa terbaring tak berdaya di tempat tidur?" Suara merdu namun dingin membelah keheningan aula.
Semua mata berpaling ke sumber suara itu.
Yun Feyue berdiri dengan anggun. Rambut hitam panjang terurai sempurna, kulit seputih salju, pinggang ramping, wajah yang memukau dengan kecantikan yang tidak perlu berhias berlebihan. Dulu wanita ini dikabarkan begitu tergila-gila pada Xiao Ba hingga ia sendirilah yang mendesak sang ayah untuk melamar.
Kini ia berdiri di tempat yang sama, di hadapan keluarga yang sama, dengan kata-kata yang terasa seperti pisau.
"Xiao Ba tidak layak bersanding denganku."
Kakaknya, Yun Bao—pemuda yang ekspresi sombongnya sudah menjadi ciri khasnya—tidak mau ketinggalan. "Saya minta Patriark Keluarga Xiao bijak dalam mengambil keputusan. Keluarga Yun tidak mungkin memiliki menantu yang sepanjang hidupnya tidak bisa berkultivasi."
"Kontrak pernikahan ini ada di sini," sambung Yun Song sambil meletakkan gulungan kontrak di atas meja dengan gerakan yang terasa lebih seperti melempar daripada meletakkan. "Silakan Patriark Xiao menghancurkannya sendiri. Keluarga Yun sudah tidak berada di level yang sama dengan Keluarga Xiao."
Kata-kata itu terasa seperti tamparan keras di wajah seluruh Keluarga Xiao.
Dari aula yang menghadap Teluk Beira, suara ombak terdengar samar-samar seolah alam pun ikut merasakan penghinaan yang sedang terjadi.
Mata Xiao Sun memerah. Urat-urat di tangannya yang menggenggam lengan kursi menegang. Namun, sebelum ia sempat bicara, suara lain mendahuluinya.
"Keterlaluan!" Xiao Xiaotian, cucu Penatua Ketiga yang selama ini cukup dekat dengan Xiao Ba, tidak bisa lagi menahan dirinya. "Bukan keluarga kami yang memohon perjodohan ini. Kalian yang datang dulu! Saat Xiao Ba terpuruk, kalian malah datang mempermalukannya tanpa rasa malu sedikit pun!"
"Huu," sahut salah satu anggota rombongan Keluarga Yun dengan suara merendahkan. "Kalau tahu dia akan berakhir jadi sampah, siapa yang mau mengikat keluarganya dengan lelaki seperti dia?"
Xiao Sun berdiri dari kursinya.
Aura seorang Patriark yang telah hidup lebih dari satu abad memancar dari tubuh tuanya—bukan aura yang paling kuat di Kota Beira, namun cukup untuk membuat beberapa anggota muda Keluarga Yun mundur setengah langkah tanpa sadar.
"Kalian keterlaluan," suaranya rendah namun menghantam seperti palu. "Saat cucuku di puncak kejayaan, kalian datang memohon-mohon. Saat kondisinya seperti ini, kalian datang mempermalukannya. Saya bisa menerima kalau kalian ingin memutuskan perjodohan. Tapi, saya tidak bisa terima kalau kalian datang ke sini untuk menginjak-injak martabat cucuku dan Keluarga Xiao. Apa kalian kira saya sudah menjadi pengecut di hari tua saya?"
Yun Song tidak gentar. Justru senyumnya semakin lebar, senyum orang yang merasa sedang memegang kartu terbaik.
"Hahaha! Saya tahu Patriark Xiao memiliki kultivasi yang lebih tinggi dari saya. Tapi sepertinya Patriark belum tahu, putra dan putri Keluarga Yun akan segera menjadi murid Sekte Aula Langit."
Keributan kecil langsung pecah di antara anggota Keluarga Xiao yang mendengarnya.
Sekte Aula Langit adalah salah satu dari tiga sekte terkuat di Benua Yancun, berdiri sejajar dengan Sekte Cahaya Bulan dan Sekte Sembilan Naga. Bergabung dengan sekte sekelas itu bukan sekadar prestasi pribadi. Itu adalah tiket naik ke lapisan kekuatan yang berbeda sama sekali dari persaingan antar-keluarga di level Kota Beira.
"Yun Bao dan Yun Feyue keduanya memiliki Akar Spiritual Suci Tingkat 7," lanjut Yun Song dengan nada pamer yang tidak ia sembunyikan. "Aula Langit mengundang mereka masuk tanpa ujian. Jadi, tolong pahami posisi masing-masing."
Suasana di pihak Keluarga Xiao berubah.
Bahkan Penatua Kedua, Xiao Ye, yang selama ini tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menambah beban di pundak Xiao Sun, ikut bersuara. "Sudahlah, tidak ada lagi yang bisa dipertahankan. Tuan muda sudah jadi sampah di kalangan kultivator. Kenapa Patriark masih mempertahankan ego?"
Xiao Sun menutup matanya sejenak.
Seluruh aula menunggu.
Tidak ada yang menyadari bahwa di luar aula, langkah kaki yang tenang dan ringan sedang semakin mendekat.
Dari celah pintu aula yang terbuka, sesosok pemuda melangkah masuk.
Jubah putih bersih. Rambut hitam panjang yang terurai rapi. Langkahnya tidak terburu-buru, setiap jejaknya menyentuh lantai dengan ketenangan yang tidak dibuat-buat, seolah ia sedang berjalan di taman pribadinya dan tidak ada satu pun hal di dunia ini yang mampu mengusik keseimbangannya.
Alisnya berbentuk indah, matanya jernih namun tajam seperti mata elang yang sedang mengamati dari ketinggian. Ada senyum tipis di bibirnya—bukan senyum orang yang berusaha terlihat baik-baik saja, melainkan senyum orang yang benar-benar tidak merasa perlu khawatir.
Seluruh aula terdiam.
Xiao Sun terperangah. Matanya berkaca-kaca tanpa ia sadari.
Beberapa anggota keluarga saling pandang dengan ekspresi tidak percaya.
Pemuda itu adalah Xiao Ba.
"Salam untuk Kakek, salam untuk para penatua," ucapnya tenang sambil melangkah ke depan. Tidak menoleh ke kiri atau ke kanan, namun semua orang merasakan bahwa pandangannya yang rileks itu tidak melewatkan satu detail pun dari situasi yang ada.
Kemudian ia berhenti, tepat di hadapan rombongan Keluarga Yun.
Matanya menatap Yun Feyue—sosok wanita yang dulu pernah berkirim surat padanya hampir setiap hari—dengan ekspresi yang sama sekali tidak mengandung kepedihan, kerinduan, atau kemarahan. Hanya ketenangan yang membuat wanita itu tanpa sadar mengerutkan kening.
"Kenapa Kakek begitu gelisah?" kata Xiao Ba, suaranya cukup keras untuk didengar seluruh aula. "Keluarga Xiao tidak membutuhkan menantu seperti dia."
Ia mengulurkan tangannya dan mengambil kontrak perjodohan dari atas meja sebelum siapa pun sempat bereaksi.
"Ular berbisa susah dijinakkan. Jinak sesaat, suatu saat akan menggigit."
Dengan satu gerakan, ia meremas kontrak itu.
Abu.
Kontrak yang mestinya menjadi ikatan dua keluarga itu hancur menjadi debu di antara jari-jarinya, beterbangan dan menghilang dibawa angin laut yang masuk melalui celah jendela.
Ekspresi Yun Feyue berubah sejenak. Ada sesuatu yang berkilat di matanya, entah terkejut atau tersinggung. Namun, ia cepat menyembunyikannya di balik senyum sombongnya yang biasa.
"Apa yang bisa dilakukan sampah sepertimu?" gumamnya. "Biarpun seratus tahun, dua ratus tahun, bahkan seribu tahun berlalu, kamu tidak akan pernah bisa melampaui pencapaianku!"
Xiao Ba menoleh membelakangi Keluarga Yun, tidak merasa perlu membuang waktu untuk menatap mereka lebih lama.
"Jangan terlalu sombong," ucapnya ringan. "Hanya dengan bakat yang biasa dan pengetahuan yang dangkal, kalian mengira diri sendiri tidak terkalahkan."
Ia berpaling ke arah pintu aula.
"Apalagi yang kalian tunggu? Tinggalkan kediaman Keluarga Xiao."
Yun Bao hampir tersedak mendengar nada perintah dalam ucapan itu. Wajahnya memerah. "Huu! Hanya sampah sepertimu, berani mengusir kami?! Lihat saja bagaimana sampah dan pecundang sepertimu akan menjalani sisa hidupnya!"
Keluarga Yun meninggalkan aula dengan kepala terangkat tinggi, puas telah menginjak-injak keluarga yang statusnya selama ini selalu berada di atas mereka.
Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari bahwa pemuda berambut hitam yang mereka tinggalkan itu sama sekali tidak mengerutkan kening.
Di depan paviliun, Lu Ming masih berdiri di posnya ketika Xiao Ba melangkah keluar dari aula.
Pengawal setia itu membeku sejenak saat menyadari siapa yang berjalan ke arahnya.
"Tuan Muda, Anda sudah bisa berdiri?" Suaranya bergetar. Matanya berkaca-kaca.
"Hahaha," Xiao Ba tersenyum tipis, "sepertinya langit masih melindungi Keluarga Xiao."
Lu Ming memandang punggung Tuan Mudanya yang berjalan semakin menjauh dengan langkah yang ringan dan penuh keyakinan. Ada sesuatu yang berbeda dari aura yang memancar dari pemuda itu—samar, tersembunyi dengan rapi, namun terasa seperti gunung yang sedang tidur.
"Tuan Muda memiliki aura yang aneh. Apakah jalur kultivasi Tuan Muda kembali?" gumam Lu Ming dengan bingung, matanya tidak beranjak dari sosok yang semakin mengecil di kejauhan.
Di sudut aula yang masih berantakan oleh ketegangan sebelumnya, Xiao Tian menggelengkan kepalanya pelan.
"Memalukan. Gara-gara sampah itu, seluruh keluarga dipermalukan."
Ia tidak menyadari bahwa sampah yang ia maksud, pada saat ini, sudah jauh melampaui dirinya dalam hal yang tidak akan pernah bisa ia ukur dengan matanya yang dangkal.
Di dalam kamarnya, Xiao Ba duduk kembali dalam posisi meditasi.
Tadi, sebelum melangkah keluar ke aula, ia telah menemukan sebuah teknik dari lautan kesadarannya, yaitu metode penyembunyian tingkat kultivasi, dan menjalankannya tanpa kesulitan berarti. Sehingga saat berada di tengah keramaian aula tadi, tidak satu pun yang mampu merasakan keberadaan energi Qi dalam tubuhnya.
Di mata semua orang, ia masih sampah yang tidak bisa berkultivasi.
Saat ini, alam kultivasinya sudah mencapai Alam Pengumpulan Qi Tingkat 3, sementara kekuatan jiwanya sudah berada di Tingkat 8, jauh melampaui basis kultivasinya. Dengan Metode Kultivasi Kaisar Langit yang mengalir sempurna dalam tubuhnya, ia tahu bahwa menembus hingga Tingkat 5 hanya soal waktu.
Ia memejamkan mata.
Dalam hatinya, satu kalimat bergulir pelan namun dengan keyakinan yang tidak tergoyahkan.
"Tunggu saja, Keluarga Yun dan Kerajaan Ying. Tidak akan lama lagi."
Dunia mengira api itu sudah padam.
pertahankan👌