Kristella Duan tak menyangka jika pekerjaannya sebagai penulis novel erotis membawanya terjebak dalam pusaran obsesi mafia kejam Dominic Stralerr. Ketua klan mafia terbesar yang hanya bisa bergairah karena membaca novel yang dia buat.
Bagaimana Kristella di tekan untuk membuat cerita- cerita hanya untuknya, dan demi membangkitkan gairahnya yang telah mati. Hingga sebuah ide gila muncul yang Kristella kira bisa membuatnya lepas dari tekanan tersebut, namun justru membuatnya semakin terjerat dan tak bisa lepas.
"Bagaimana kalau kita praktekan saja secara langsung, Tuan?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nenah adja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berita Kriminal
Ella keluar dari kamarnya dengan sekantung besar sampah di tangannya.
Saat melewati para tetangganya yang sedang saling mengobrol Ella mendengar pembicaraan yang membuatnya berhenti sejenak.
"Malam tadi, kan?"
"Benar kejadiannya pukul sembilan malam saat gadis itu pulang bekerja, dan tiba- tiba hilang begitu saja. Dan yang di temukan hanya tas dan sebelah sepatunya."
"Mengerikan. Apa itu perdagangan manusia?"
"Tidak tahu yang pasti harus hati- hati mulai sekarang, jangan terlalu sering keluar malam."
"Kamu benar, aku dengar korban hilang sudah banyak dan semuanya perempuan."
Ella memelankan langkahnya untuk menuruni tangga dan berpikir tentang hal semalam saat ada seseorang yang mengejarnya.
"Apa dia penculik?" Ella bergidik saat membayangkan dia di culik seperti korban semalam, beruntung ada pemilik kosnya, jika tidak mungkin dia yang akan hilang sekarang.
Tiba di pembuangan sampah Ella menyimpan sampahnya, lalu berhenti sebentar masih dengan pemikirannya tentang semalam, lalu menggeleng saat menyadari dia terlalu banyak berpikir.
"Yang penting harus hati- hati, kan?" Ella yang lebih sering keluar malam untuk sekedar berbelanja tentu lebih takut dari yang lain.
Saat akan kembali ke dalam kamar kosnya Ella menghentikan langkahnya dengan ragu saat merasa ada seseorang yang memperhatikannya.
Ella menoleh ke belakang namun tak menemukan hal yang mencurigakan dan hanya melihat kegiatan orang-orang normal pada umumnya hingga dia melanjutkan langkahnya untuk kembali masuk ke dalam kamar kosnya.
Begitu Ella masuk, seseorang berpakaian serba hitam dengan masker yang menutupi wajahnya dari balik pohon besar dan menatap ke arah kepergian Ella.
....
Suara tembakan terdengar di susul langkah kaki berat sebuah sepatu yang melangkah tenang ke arah seorang pria yang lari dengan terbirit-birit.
Tatapan matanya tajam dan menghunus hingga mereka tiba di sebuah gang sepi.
"Cari sampai dapat," ucapnya dingin. Sebelah tangan yang mengampit sebatang rokok yang dia hisap kuat demi menyerap sari dari rokok tersebut. Asap yang mengepul di udara membuat kegelapan tertutup asap tipis.
Dia masih tenang dan membiarkan anak buahnya berpencar mencari orang tersebut.
Hingga suasana mencekam itu semakin terasa saat terdengar pelatuk di tarik tepat di belakang kepalanya.
"Brengsek! Kau iblis kejam," desisnya dengan nafas terengah menandakan jika dia kelelahan.
Namun pria itu masih tenang dan kembali menghembuskan asap rokoknya di udara.
"Apa kau tidak merasa bersalah membunuh keluargaku?" katanya lagi.
"Apa kau memikirkannya sebelum mengkhianatiku?" Suara itu terdengar berat namun masih tenang berbanding terbalik dengan pria di belakangnya yang terengah. "Seharusnya kau pikirkan itu sebelum melakukan kesalahan, Remon. Saat kau melakukan sumpah, maka harus ada yang selalu kau korbankan."
"Bajingan!" Gerakan tangannya cepat melepas pelatuk yang sejak tadi dia tekan. Namun gerakan Itu tetap terbaca dan dengan satu gerakan halus pria itu berhasil memutar tubuhnya dan membalik senjata.
Dor!
Peluru bersarang di dahi lawannya membuat darah sedikit muncrat ke wajahnya.
"Kau masih kurang cepat, Remon," ejeknya melihat lawannya yang terkapar.
Anak buahnya kembali berkumpul dan melihat orang yang mereka cari sudah mati dan terkapar.
"Bersihkan itu!" Pria tinggi tegap itu meraih sapu tangan dari anak buahnya dan mengusap wajahnya yang terkena noda darah, lalu melemparnya ke atas pria lawannya yang terkapar di tanah. Langkah lebarnya melangkahi mayat itu begitu saja, membuat para anak buahnya segera membereskan kekacauan tersebut.
Seolah tak terjadi apapun pria itu melangkah masuk ke dalam mobil dan duduk dengan tenang.
"Jalan!"
Mobil melaju dengan kecepatan normal menyusuri jalanan gelap di tengah malam hingga mobil tersebut memasuki sebuah rumah dengan gerbang tinggi juga pagar beton yang mengelilingi rumah tersebut.
"Selamat datang, Tuan." Para pelayan yang menyambut tak dia hiraukan dan hanya terus berjalan masuk ke dalam rumah besar tersebut.
Begitu memasuki kamar pria itu membuka jasnya dan melempar ke arah asisten rumah tangga yang sejak dia memasuki rumah terus mengikutinya.
"Kami sudah menyiapkan para wanita untuk menemani anda, malam ini, Tuan."
"Hum." Pria itu duduk di sofa tunggal dan menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.
Tangan si pelayan di tepuk pelan sebanyak dua kali membuat beberapa wanita masuk dengan menampilkan senyum menggoda.
Langkah anggun mereka berhenti tepat di depan pria itu. Menunggu bos mereka memilih salah satu diantara mereka.
Pria itu menatap datar melihat satu persatu wanita di depannya.
Tubuh mereka sama, sama- sama proposional dengan lekuk di bagian pinggang dan bagian menonjol sudah seperti gitar Spanyol. Pakaian tipis juga membuat mereka benar-benar nampak menggoda.
"Kau." Dia menunjuk seorang wanita yang langsung tersenyum lebar seolah begitu bangga telah di pilih.
Wanita telah terpilih membuat beberapa lainnya segera pergi termasuk asisten rumah tangga yang mundur perlahan masih dengan jas tuannya di tangan.
Pintu tertutup membuat suasana tiba-tiba terasa hening.
Wanita itu bergerak dan melangkah mendekat, "Tuan..."
"Jangan banyak bicara. Lakukan saja tugasmu." Langkah wanita itu terhenti menatap mata elang yang menuang minuman dengan suara gemericik air di dalam gelas itu terasa menegangkan.
"Tentunya kau tahu apa akibatnya kalau tidak bisa melakukannya dengan benar."
Wanita itu menelan ludahnya kasar, lalu mengangguk.
Tangannya gemetar halus dan mulai menurunkan tali gaunnya, hingga kain tipis itu meluncur kebawah kakinya membuat tubuhnya tak terhalangi satu helai benang pun.
Wanita itu mendekat. Saat tangannya bergerak hendak menyentuh kancing kemeja pria itu tangannya di hentikan dengan cepat.
"Beraninya menyentuhku!"
"Ta— pi bagaimana kita melakukannya kalau begitu?" Wanita itu tergagap, tangannya yang di cekal di hempaskan begitu saja.
"Apa kau pantas?" Dingin dan kejam.
"Sentuh dirimu sendiri!"
Wanita itu tertegun. "A— apa?"
"Biar aku lihat apa kau pantas menyentuhku. Tunjukkan seberapa jalangnya kau!"
Wanita itu menatap dengan sedikit harapan di matanya.
"Kalau aku bisa menggodamu, kita akan melakukannya?"
"Hum."
"Baiklah, Tuan." Wanita itu mulai bergerak, kedua tangannya menyentuh tubuhnya dan melenggok menggoda.
Gerakannya halus, menyentuh dirinya sendiri yang akan membuat siapapun tergoda dan tak membuang waktu untuk menerjangnya.
Namun bagaimana wanita telanjang itu menari di depannya, keinginannya tak juga meningkat. Wajahnya masih datar bahkan hasrat dalam dirinya tak juga naik.
"Membosankan!" Pria itu menarik revolver di sakunya dan meluncurkan tembakan hingga menembus kepala wanita tersebut.
Pria itu beranjak membiarkan para pengawal menarik mayat wanita tersebut keluar dari dalam kamar. menyisakan dirinya yang menghela nafas panjang menandakan rasa frustasi yang dalam.
Suara pintu terketuk menarik perhatiannya hingga asistennya masuk dengan sebuah tablet di tangannya.
Melihat satu lagi mayat wanita telanjang sang asisten hanya mampu menggeleng pelan.
"Belakangan ini ada yang menarik, Tuan," ucapnya memecah keheningan.
Asistennya menyerahkan tablet di tangannya. "Orang-orang ramai membicarakan penculikan wanita. Dan beberapa membuat statmen jika kelompok kita yang melakukannya."
Pria itu melihat berita yang tengah ramai jadi perbincangan di media sosial, namun yang membuatnya tertarik bukan hal itu melainkan iklan di bagian bawah berita tersebut
Sebuah aplikasi novel yang membuatnya membuka situs tersebut. Bukan apa- apa gambar di iklan tersebut cukup menarik gambar dewasa yang harusnya tak bisa tersebar luas begitu saja.
Pria itu mendengus saat situs terbuka dan hanya menampilkan berbagai macam novel yang sama sekali tak menarik. Ternyata itu hanya gambar untuk menarik pembaca saja dan dia terjebak. Saat hendak menekan tombol kembali jarinya terhenti saat melihat sebuah judul yang lumayan menarik.
"Gairah Liar Bosku," ucapnya membaca judul novel tersebut.
Asisten yang merasa aneh mengerutkan keningnya, bosnya bahkan tak menanggapi berita yang menyinggung kelompoknya.
"Pergilah." Namun tatapannya masih tak teralihkan dari tablet di tangannya.
"Lalu bagaimana dengan kasus itu, Tuan?"
"Biarkan saja. Memangnya kalau itu perbuatan kita mereka bisa apa?" Dia berucap acuh tak acuh hingga si asisten pergi dengan segera.
Pria itu menekan cover novel yang sejak tadi menarik perhatiannya dan mulai membaca.
Untuk pertama kalinya dia tertarik pada hal yang benar-benar tak penting, namun saat ini dia hanya perlu mengalihkan pikirannya dari rasa frustasi di kepalanya.
Hingga saat bab pertama di mulai alisnya mulai naik sebab isinya memang novel dewasa.
Bab demi bab dia lewati, dan satu hal yang dia sadari. Tubuhnya mulai terasa panas sebab kepalanya mulai membayangkan adegan demi adegan dalam novel tersebut, hingga dia tiba di bab akhir dan bab bersambung.
Bagian intinya yang terasa mulai menegang kembali terasa lemas seolah kehilangan gairah yang baru akan naik.
"Sial!" Kenapa tanggung sekali.
Pria itu melihat kolom komentar dan mereka yang membaca bisa berkomentar tentang isi buku.
Jadi pria itu menggerakkan jarinya dan mengetik sebuah komentar.
"Aku beri hadiah satu juta kalau bab selanjutnya lebih panas."
kan kamu yg ngawalin....
jadi ketagihan kan itu Dom..🤭
ada musuh atau emang sengaja diledakin sama Dom buat ngehapus jejak 🤔🤔
kamu malah bikin Ella jadi takut sama kamu..
bakal kangen dunks kak ....
aq dah vote kamu nih..
semoga retensi kamu bagus ya..