NovelToon NovelToon
Antara Cinta Dan Takdir

Antara Cinta Dan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Shofiyah 19

Cinta sejati itu mengikhlaskan, merelakan dan melepaskan. Membiarkan bahagia orang yang kita cintai. Meskipun bahagianya dengan orang lain dan bukan bersama kita. Manusia hanya bisa berencana tapi tetap Allah yang menentukan bagaimana ke depannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shofiyah 19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Asya dan Rara berjalan beriringan di sepanjang koridor kelas madrasah diniyah sore. Mereka akan ke asrama karena kelas madrasah diniyah yang sudah selesai.

Sedari tadi banyak sekali santri yang bergosip tentang kepulangan putra tunggal pemilik pesantren.

'Gus Kafka beneran mau pulang?'

'Hua senengnya hati adek'

'Ngga sabar nunggu pangeran'

'Calon imam idamanku'

"Mereka lagi gossip apaan sih? Perasaan dari tadi heboh mulu," ucap Asya kesal

"Haduh Asya, kamu kok ketinggalan berita hot gini sih?," geram Rara sahabat Asya selama di pondok lebih tepatnya Rara Khadijah

"Apa begitu penting?," tanya Asya heran

"Iyalah, ini tuh yang selalu ditunggu-tunggu semua santri putri," ucap Rara histeris

"Lebay," cibir Asya lalu mempercepat jalannya

"Asya ih, tunggu aku dong," ucap Rara kesal sambil berlari kecil

"Kamu jalannya lelet sih," ucap Asya terkekeh

"Ih nyebelin kamu," ucap Rara cemberut membuat Asya tertawa pelan

"Lagian apa sih beritanya?," tanya Asya setelah meredakan tawanya

"Tuh kan kamu kepo akhirnya," ucap Rara terkekeh

"Ya udah, nggak jadi," ucap Asya cuek

"Jangan ngambek dong, sahabatku bestie ku," rayu Rara dengan muka memelas

"Nggak usah pasang muka kayak gitu," ucap Asya sambil mengusap wajah Rara

"Ish..awas berantakan ya kerudungku," ucap Rara kesal sambil membenahi kerudungnya

"Yang penting hati kamu nggak berantakan Ra," celetuk Asya santai

"Jangan bikin aku flashback dong," rengek Rara membuat Asya tertawa pelan

Perkataan Asya membuat Rara mengingat kenyataan pahit saat mereka masih kelas 11 tahun lalu. Waktu itu Rara menyukai senior mereka tapi takdir berkata lain. Mereka berdua memang sempat dekat, tapi tak lama kemudian ternyata kakak senior itu dijodohkan oleh orang tuanya dan akhirnya tunangan. Rara sangat patah hati waktu itu.

Tapi untungnya ada Asya yang selalu menyemangatinya. Asya yang selalu menjadi pendukungnya menasehatinya layaknya saudara. Itu yang membuat Rara sangat bersyukur mempunyai seorang sahabat seperti Asya.

"Oke, kembali ke topik awal sekarang. Berita apa sih yang saat ini lagi viral di ponpes ini?," tanya Asya malas

"Gus Kafka mau pulang dari Kairo," pekik Rara histeris

"Oh," jawab Asya cuek

"Kok cuma 'oh' doang sih?," tanya Rara kesal

"Terus aku harus gimana?," ucap Asya santai

"Paling enggak kamu itu excited gitu loh," jawab Rara

"Ngapain juga harus kayak gitu. Nggak ada gunanya juga buat kelangsungan hidup aku," ucap Asya malas

"Ya siapa tau aja nanti kamu bisa jadi jodohnya gus Kafka," celetuk Rara santai

"Ngapain kamu doain aku jodohnya gus Kafka? Kok enggak kamu aja?," tanya Asya heran

"Ya aku juga tau diri kali, Sya," celetuk Rara santai

"Maksudnya?," tanya Asya bingung

"Gus Kafka itu terlalu subhanallah untuk aku yang astaghfirullah. Jadi cocoknya sama kamu," ucap Rara sambil tersenyum

"Kok aku?," tanya Asya heran

"Feeling aja dan ingat satu hal, Sya. Firasat seorang sahabat itu nggak pernah salah," ucap Rara serius

"Jodoh itu di tangan Allah," celetuk Asya

"Iya memang, tap-," ucap Rara

"Udah ah, jangan ghibah kayak gini. Nggak baik tau," ucap Asya memotong ucapan Rara

"Kamu aneh deh, Sya," ucap Rara kesal

"Aneh gimana maksud kamu?," tanya Asya heran

"Ya aneh aja. Disaat semua santri excited dengan kabar kembalinya gus Kafka tapi kamu malah biasa aja," ucap Rara santai

"Tujuan aku di sini untuk memperdalam ilmu agama Ra, bukan kayak mereka yang mengkhayal untuk jadi istrinya gus Kafka. Iya kalo khayalannya kesampaian tapi gimana kalo tidak," celetuk Asya lalu tertawa

"Pastinya kecewa lah," ucap Rara terkekeh

"Nah itu tau. Kalo mondok itu niatkan untuk ngaji sepenuhnya bukan khayalan untuk hal-hal yang belum tentu terwujud," ucap Asya bijak

"Masya Allah, bijak banget calon bu nyai ini," decak Rara kagum

"Aamiin," jawab Asya terkekeh

Skip

Di sisi lain, seorang pemuda berjalan sambil menyeret kopernya keluar bandara. Ia menoleh kesana kemari untuk mencari orang yang menjemputnya. Senyumnya merekah saat melihat orang yang dirindukannya berdiri tak jauh darinya. Pemuda itu mempercepat langkahnya untuk menghampiri sosok itu.

"Assalamualaikum Abi," ucap gus Kafka sambil mencium tangan Abi Ahmad

"Waalaikumsalam," jawab Abi Ahmad lalu memeluk putra kebanggaannya sekilas

"Gimana kabar Abi?," tanya gus Kafka setelah melepas pelukannya

"Alhamdulillah Abi baik-baik saja," jawab Abi Ahmad terkekeh

Gus Kafka menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan abi Ahmad. Matanya mengedar kesana kemari untuk mencari sosok wanita terhebatnya. Karena sedari tadi ia hanya melihat abi Ahmad sendirian.

"Kamu cari siapa?," tanya Abi Ahmad terkekeh

"Umi," jawab gus Kafka singkat

"Umi di sini," ucap wanita cantik berjalan ke arah keduanya

Gus Kafka tersenyum saat melihat sosok yang dicarinya tengah berjalan ke arahnya. Sosok wanita yang paling ia sayangi. Wanita yang telah berjuang antara hidup dan mati demi melahirkannya ke dunia ini.

"Assalamualaikum Umi," ucap gus Kafka lalu mencium tangan Umi Syakira

"Waalaikumsalam Nak, umi rindu sama kamu," jawab Umi Syakira sambil memeluk gus Kafka

"Kafka juga rindu sama kalian semua," ucap gus Kafka setelah umi melepaskan pelukannya

"Rindu kok nggak pulang-pulang," gerutu Umi Syakira sambil menatap sinis gus Kafka

"Iya ya Mi. Kayak bang toyib aja nggak pulang-pulang," sahut Abi Ahmad terkekeh

"Hehe maaf," ucap gus Kafka cengengesan

"Umi habis darimana?," tanya gus Kafka penasaran

"Umi habis dari toilet," jawab Umi Syakira singkat

"Sudah-sudah. Ayo kita pulang sekarang," ucap Abi Ahmad

"Iya, ngobrolnya dilanjut nanti saja di rumah," sahut Umi Syakira mengelus kepala gus Kafka

Mereka berjalan menuju ke arah mobil yang terparkir. Terlihat sopir ndalem yang sedang menunggu di samping mobil.

Mobil melaju meninggalkan bandara menuju pesantren. Gus Kafka hanya fokus memandangi jalanan yang mereka lalui.

Selama beberapa jam perjalanan, akhirnya mereka sampai tujuan dengan selamat. Mereka keluar dari mobil. Gus Kafka mengamati tempat yang dipijaknya saat ini. Terpampang jelas tulisan Pondok Pesantren An-nafi'.

Tempatnya masih sama seperti sebelum ia berangkat menempuh pendidikannya di Kairo.

"Ayo masuk," ucap Abi Ahmad menepuk pundak putranya

"Iya Abi," jawab gus Kafka sambil tersenyum

Abi dan Umi sudah berjalan lebih dulu menuju ndalem. Gus Kafka kemudian menyusul kedua orang tuanya. Ia berjalan dengan santai. Sesekali ia membalas sapaan santri yang menyapanya sopan. Beberapa pekikan santri putri membuat gus Kafka terkekeh dan menggelengkan kepalanya.

'Hua gus Kafka kembali'

'Assalamualaikum guskuuuh'

'Calon abi dari anak-anakku'

'Imam masa depankuuuhh'

'Lihat aku gus'

'Adek merindukanmu gus'

"Alay," cibir Asya sambil memutar bola matanya malas

Gus Kafka menghentikan langkahnya mendengar cibiran salah satu santri abi Ahmad. Gus Kafka penasaran dengan gadis itu karena disaat semua temannya memuji gusnya. Eh dia malah mengatai temannya alay.

"Ih Asya nggak boleh gitu. Nanti ada yang denger," ucap Rara kesal

"Bodo amat, Ra," sahut Asya enteng

"Aneh deh kamu, Sya," ucap Rara bingung

"Udah ah, ayo kembali ke asrama," ucap Asya lalu menarik tangan Rara

Tanpa mereka sadari, gus Kafka memandangi kepergian Asya. Ia tersenyum tipis saat tau gadis itu sama sekali tak memujinya. Hal itu membuat gus Kafka menjadi penasaran.

'Menarik' batin gus Kafka terkekeh

1
Mrs. Ren AW
mampir baca, semoga menarik ceritanya 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!