Aruna Prameswari tidak pernah tahu bagaimana hidupnya berubah menjadi runyam. Semenjak Kedatangan sosok Liam Noah Rajasa, Atlet bola sekaligus Pengusaha ibukota. Hidupnya dibuat kacau balau sejak laki-laki itu selalu merecoki harinya yang gitu-gitu aja. Kerja, lembur, nongkrong, dan pulang.
Laki-laki itu semakin gencar mendekati dirinya ketika tahu kalau dirinya baru saja putus dari pacarnya, padahal Aruna masih belum begitu move on. Namun Liam dengan segala usahanya hingga membuat dirinya menyerah dan cinta itu datang tiba-tiba.
akankah Cinta Aruna yang datang tiba-tiba berakhir dengan indah atau malah sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nisa_prafour, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19
Bali jam 4 sore memang menakjubkan. Apalagi pantai nya. Banyak pasangan muda-mudi bahkan yang sudah berumur pun rela menunjukkan kemesraan mereka sambil menikmati sunset sore yang indah.
Bercumbu, pelukan, bahkan sampai yang hampir bercinta pun tak luput dari pandangan Aruna kali ini. Gadis itu turun di tengah-tengah pantai untuk ikut menikmati keindahan milik sang pencipta kali ini. Badannya ia biarkan basah separuh dengan rambutnya yang sudah ia satukan menjadi satu.
Perasaannya sedikit lega setelah beberapa saat lalu menumpahkan segala bentuk keluh kesahnya dalam bentuk tangisan. Setelah ia rasa cukup di dalam air pantai, Aruna menyudahi acara berendamnya. Ia kembali berjalan melangkahkan kakinya untuk menuju kembali ke penginapan.
Rasa dingin itu menusuk kulit Aruna. Tidak terlalu menusuk tulang namun jika terlalu lama akan membuat Aruna menggigil. Langkahnya yang pasti, tiba-tiba saja memelan ketika melintasi loby hotel. Kedua matanya memicing memastikan apa yang ia lihat saat ini. Dan ia mengasumsikan dirinya bahwa ia tidak salah lihat saat ini.
Sosok laki-laki tinggi yang sejak ia menginjakkan kakinya di Bali tidak bertemu dengannya sama sekali. Terakhir ketika mereka menginjakkan kaki di awal ketika memasuki hotel ini. Dan laki-laki itu pamit padanya karena ada urusan.
Dan kini mata Aruna sedikit melotot ketika sosok itu juga ternyata melihatnya. Bukan hanya dia melainkan sosok wanita cantik dengan kulit kuning Langsat disampingnya itu. Lebih tepatnya wanita yang tengah merangkulnya itu dan beberapa detik tadi Aruna sempat memergoki keduanya bercumbu.
Sialan! Aruna jadi malu sendiri. Apalagi tatapan terkejut laki-laki itu yang juga menatapnya. Aruna bodoh!
"Aruna!!"
Tidak mengindahkan panggilan laki-laki itu Aruna berjalan melewatinya. Ia buru-buru masuk kedalam kamarnya dengan baju yang masih setengah basah.
"Noah Bajingaaan! Kalau mau bermesraan kenapa harus didepan umum sih! Disini kamar banyak Mr. Patingga!! Dasar tolol!"
Haloo Aruna kenapa kesannya kamu kesal ya? Atu kamu malu karena memergoki mereka bercumbu atau ... Aaah sialan! Aruna tidak ingin mengingat apapun untuk kejadian hari ini.
.
.
.
.
.
'Gimana liburannya?'
'Seru kok buk. Ayah dimana?'
Setelah Selesai mengganti pakaiannya, Aruna yang bersandar diatas ranjang hotel mendapatkan telfon dari sang Ibu mengunakan ponsel kakak iparnya.
'Ayah lagi bantu-bantu didepan sama mas mu. Arin dimana?'
Sialan! Ia baru ingat kalau sejak tadi adiknya itu belum kembali. Kemana sebenarnya bocah itu? WhatsApp terkahirnya gadis itu hanya mengatakan kalau ia sedang bersenang-senang dengan laki-laki gebetannya. Siapa namanya Aruna lupa. Nayan? Oman? Nitan? Nial? Ah sudahlah Aruna tidak ingin pusing memikirkan laki-laki gebetan adiknya itu.
Yang jelas sekarang ia harus mencari alasan yang tepat agar sang ibu tidak heboh ketika mengetahui anak gadisnya lupa waktu di kota orang lain.
'A-arin lagi mandi Bu. Daritadi tidur terus soalnya jadi Runa suruh mandi'
'Yasudah kalau gitu. Ibu cuma memastikan aja kalau kalian baik-baik saja'
'iya Bu. Ibu nggak usah khawatir Aruna pasti bakal jagain Arin. Kita baik-baik aja kok. Temen-temen mas Rehan juga baik semua'
Bullshit! Aruna saja sejak menginjakkan kaki di Bali selalu sendiri. Lebih tepatnya Aruna yang lebih memilih menyendiri.
'Yowis kalau gitu. Ibu tutup ya. Sebentar lagi pengajian akan dimulai. Kamu jangan lupa makan'
'iya Bu'
'ibu belikan pie susu ya nduk kalau pulang. Simpan aja sampai ibu pulang nanti'
'siap kanjeng ratu'
Dan sambungan telfon pun terputus. Aruna kembali men-scroll ponselnya. Menuju laman chat WhatsAppnya.
Salah satu alisnya terangkat ketika mendapati chat yang baru saja masuk.
NOAH
Run
hai, sorry i'm leaving you
Where are you now?
You okay?
^^^Me^^^
^^^Hai Noah^^^
^^^i'm okay^^^
NOAH
answer me, where are you?
^^^Me^^^
^^^aku di kamar^^^
NOAH
open the door
Bersamaan dengan Aruna yang hendak membalas kembali pesan dari laki-laki itu, suara ketukan pintu kamarnya terdengar. Aruna menyingkap selimutnya dan berlari cepat untuk membuka pintu kamarnya. Dan benar saja sosok laki-laki tinggi dengan kemeja putih tipis itu berdiri tepat didepannya.
"Hai Run!"
Kali ini Aruna sedikit mengernyit. Bukan, karena heran ataupun bingung. Aruna menatap Noah dengan kedua matanya yang meneliti penampilan laki-laki itu, "You drunk?"
"Sedikit. Sorry kalau kamu nggak nyaman ya. Tapi aku jamin aku masih sadar seratus persen"
"Nggak. Nggak papa, By the way Kenapa kamu kesini?"
"Aku mmm. Nothing, just wanna see you"
Aruna terkekeh kecil. Lalu dengan reflek tangannya memukul Noah pelan, "Dasar gila! How about your girl?"
"Girl?" Sialan! Bagaimana Noah bisa melupakan soal gadis itu. Jelas sekali Aruna tadi melihatnya melakukan hal konyol yang seharusnya tidak terjadi. Dan ini gara-gara Wanita itu.
"Aah no! Bukan siapa-siapa yang perlu dipusingkan"
"Okeey. Jadi apa yang akan kamu lakukan disini?"
"How about you?"
"Aku? Nothing. Mungkin aku akan menunggu adikku kembali"
"Adikmu? Kurasa dia nggak akan kembali sebelum subuh nanti "
"How come?"
"Mau keluar lihat mereka? Sekalian jalan-jalan?"
"Nggak!"
"Kenapa?"
"Gimana sama pacar mu? Aku nggak mau ribut-ribut nanti kalau ketahuan jalan gini"
"Oh God! I swear Run. Dia bukan cewekku "
"Nouken you!"
Noah tersenyum. Aruna pun mencoba membuang jauh bisik-bisik kecil pada hatinya. Ia lebih memilih menerima ajakan Noah setelah ia mengganti bajunya.
"Kita akan kemana?"
"Nanti kamu tahu"
"Aku nggak mau kalau ke party atau apapun itu"
"Of course No"
"Noah??"
"Iya?"
"Sorry sepertinya sandalku putus"
"Apa?"
"Sandalku Noah putus"
Rengekan Aruna benar-benar seperti rayuan gombal untuk Shayne. Laki-laki itu sontak menoleh pada kedua kaki Aruna. Dan benar saja tali sendal milik Gadis itu terputus dari ujungnya. Sialan! Kenapa gadis ini cantik sekali dibawah sinar rembulan malam ini.
"Oke, mau kugendong?"
"No no. Itu nggak perlu"
"Kalau kamu telanjang kaki, aku jamin setelah kamu mendapatkan slipper, kakimu akan lecet" Shayne memang benar. Jalanan dari hotelnya memang sedikit berbatu.
"Aku lagi pake dress kamu sadar kan Noah. Jadi nggak mungkin kamu gendong aku"
"Dari depan of course Run"
Sialan! Apa itu pilihan yang baik?
"Nggak! Malu Noah "
"Kita di Bali Run kalau kamu lupa"
"Noah... Aku -- ya ampun Noah!!"
Aruna memekik heboh tatkala Noah dengan tiba-tiba mengangkat tubuhnya. Laki-laki itu tidak bercanda soal menggendongnya. Dan kini ia sudah berhasil dalam dekapan laki-laki itu.
Ia berdebar ...
"Ada swalayan di depan setahuku. Kita kesana"
"Aku tahu"
Jangan banyak bicara bisa nggak sih Noah Patingga? Ia gugup sekali sekarang! Demi Tuhan Noah dan parfum musk yang bercampur sedikit dengan bau wine membuat Aruna benar-benar terlena.
Leher jenjang yang -- STOP IT Aruna. What do you think About Noah!! Dasar wanita nakal. Ingat kamu disini liburan. Laki-laki ini benar-benar berbahaya untuk kesehatan jantungnya.
"Kamu sudah makan?"
Lagi? Noah ini benar-benar ya. Meskipun Aruna tahu Laki-laki ini mencoba mencairkan suasana yang sedikit canggung.
"Be-belum"
"Mau makan apa? Kebetulan aku tadi nggak ikut makan malam juga"
"Noah?"
"Iya?"
"Bisa nggak kita beli sendal trus habis itu cari Arina. Maksudku, kita makan bareng. Siapa tahu dia juga belum makan"
Oke Noah wanita cantik ini malu ternyata.
"Okey"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...