Argantara, 27 tahun, supir setia keluarga Harsono yang hidupnya sederhana dibawa Pak Harsono dari panti asuhan tempat dia dibesarkan.
Dua belas tahun lalu, dia menyelamatkan nyawa Pak Harsono dari kecelakaan, dan sejak itu Pak Harsono menganggapnya seperti anak sendiri.
Kini Pak Harsono divonis kanker paru stadium tiga dan hanya punya waktu satu tahun.
Dia punya satu permintaan terakhir: "menikahkan Argantara dengan putri semata wayangnya, Kirana Prameswari"
Tujuannya bukan cinta, tapi agar Kirana yang keras kepala tidak merasa sendirian saat dia pergi...
Kirana Prameswari, pewaris perusahaan HARSONO yang dingin dan perfeksionis, awalnya menolak keras. Bagi dia, Argantara hanya supir dekil yang bau garasi.
Tapi demi sang ayah, dia terpaksa menerima pernikahan itu.
Tapi dibalik setujunya Kirana Ada kontrak yg hanya Kirana dan Arga yang tau.
Pernikahan yang dimulai dari kebohongan dan paksaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars JuPiter🪐, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 : AYAH YANG RAPUH
Hujan turun begitu derasnya, membasahi jalanan Ibu Kota dan memberikan rasa dingin untuk siapapun yang ada di dalamnya.
Begitu pula dengan Arga...
Hanya saja bukan udaranya yang dingin, melainkan hatinya.
Arga sebenarnya sudah ingin kembali ke kantor setelah mengantar Pak Harsono pagi tadi.
Tapi tiba-tiba telepon Pak Harsono berdering.
"Arga... kamu tetap di rumah ya. Jagain Kirana. Papa takut dia kenapa-kenapa."
Suara Pak Harsono terdengar lelah dan penuh kekhawatiran.
Akhirnya mau nggak mau, Arga harus stay di rumah.
Dia hanya bisa duduk di kursi garasi sambil menatap pintu kamar Kirana yang tertutup rapat sejak pagi.
"Nona... tolong jangan kenapa-kenapa ya..." gumamnya pelan.
Hingga tak terasa sore tiba.
Hujan sudah reda, menyisakan mendung yang menggantung di langit seperti hati Kirana saat ini. Kelam. Berat. Tidak tahu kapan akan terang lagi.
DI JALAN.
Pak Harsono pulang naik taksi karena Arga harus stay di rumah jagain Kirana.
Tapi sebelum pulang ke rumah besar Harsono, Pak Harsono tiba-tiba menyuruh sopir taksi untuk berhenti.
"Ke Taman Makam Pahlawan Kalibata, Mas. Blok C."
Sopir taksi itu mengangguk tanpa banyak tanya.
Dia sudah sering melihat pria paruh baya ini datang ke tempat ini. Setiap bulan. Selalu sendiri. Selalu dengan wajah penuh kesedihan.
Pak Harsono keluar dari taksi dan berjalan pelan menyusuri setiap petak makam.
Langkahnya pelan. Pincang. Seolah setiap langkahnya membawa beban seribu ton.
Payung hitam yang dia pegang hampir tidak bisa menahan derasnya angin sore.
Hingga akhirnya dia berhenti di depan satu nisan.
Nisan berwarna hitam mengkilap dengan rumput yang tertata rapi.
Di papan nama itu tertulis dengan jelas:
ANASTASYA PRAMESWARI HARSONO
15 Maret 1988 - 12 Juli 2019
Nama yang begitu Pak Harsono rindukan.
Nama yang dulu selalu memanggilnya "Ayah" dengan suara lembut.
Nama yang dulu selalu menjadi pelita di rumah besar Harsono. Nyonya Anastasya
istri Pak Harsono, Mamanya Kirana.
Pak Harsono berlutut di depan nisan itu.
Tangannya gemetar saat menyentuh batu nisan yang dingin.
Air matanya jatuh tanpa bisa dia bendung lagi.
"Anas... aku datang lagi..." suaranya bergetar.
hening hanya terdengar rintik gerimis yg mulai kembali menjadi hujan.
"Aku... aku gagal, Anas..."ada getaran disetiap kata yang keluar.
Pak Harsono menunduk dalam-dalam. Dahinya menyentuh rumput basah.
"Aku gagal menjaga Anak kita agar tidak menangis lagi, Anas... Aku gagal jadi ayah yang baik untuk Kirana..."Tubuh beliau
mulai tanpak berguncang.
Disaat yang sama hujan rintik-rintik mulai turun lagi. Seperti ingin ikut menyertai tangis sorang Suami, seorang Ayah.
Hujan mulai membasahi bahu Pak Harsono yang kurus. Payung yang beliau bawa seakan tak punya fungsi saat ini. Air hujan yang dingin membaur dengan air matanya yang tak mampu beliau hentikan.
"Kalau kamu masih ada... kamu pasti akan marah sama aku, ya?
Kamu pasti akan bilang, 'Harsono... kenapa kamu tega paksa Kirana nikah sama Arga? "
Pak Harsono tersenyum getir.
"Tapi Anas... aku takut. Aku takut kalau aku pergi, Kirana akan sendirian di dunia ini. Aku takut kalau panti itu akan tutup. Aku takut kalau nggak ada yang jaga mereka..."
Pak Harsono memeluk batu nisan itu erat-erat.
Seperti memeluk tubuh Nyonya Anastasya yang sudah 7 tahun pergi.
"Anas... tolong jaga Kirana untukku ya... tolong jaga Arga juga... dia anak baik, Anas... dia tulus..."
Angin sore berhembus pelan.
Seolah menjawab tangisan Pak Harsono dengan desiran daun-daun di sekitar makam.
Pak Harsono duduk di sana sampai langit benar-benar gelap.
Sampai jas batiknya basah kuyup.
Sampai tubuhnya menggigil kedinginan.
Baru ketika taksi itu kembali datang menjemputnya, Pak Harsono berdiri dengan susah payah.
Dia mengusap nisan Nyonya Anastasya satu kali terakhir.
"Selamat tinggal, Anas. Besok aku datang lagi..."
DI RUMAH BESAR HARSONO.
Arga yang melihat Pak Harsono pulang dengan pakaian basah kuyup langsung berlari menghampiri.
"Tuan! Kenapa Tuan kehujanan?! Nanti Tuan sakit "
Arga langsung mengambil handuk kering dan menyelimuti bahu Pak Harsono.
Pak Harsono hanya tersenyum lemah.
"Aku... aku cuma kangen Mama kamu, Ga..."
Kata "Mama kamu" itu keluar begitu saja dari mulut Pak Harsono.
Kata yang seharusnya tidak dia ucapkan.
Arga terdiam. Dadanya sesak.
"Mama..."
Kata itu sudah lama tidak dia dengar.
Kata yang selama ini hanya dia simpan di dalam hati.
Pak Harsono menepuk bahu Arga pelan.
"Jaga Kirana ya, Ga. Papa titip Kirana sama kamu..."
Arga mengangguk pelan. Matanya berkaca-kaca.
"Siap, Tuan. Saya janji."
Pak Harsono berjalan masuk ke dalam rumah dengan langkah yang semakin lambat dari biasanya.
Punggungnya terlihat semakin bungkuk.
Seperti ayah yang rapuh. Seperti ayah yang takut ditinggalkan anaknya.
Sementara itu, di lantai atas...
Kirana masih mengurung diri di kamar.
Dia tidak tahu kalau ayahnya baru saja menangis di makam ibunya.
Dia tidak tahu kalau ayahnya hanya punya waktu satu tahun lagi.
PAGI HARI JAM 05.00 WIB
Arga masih tertidur di kursi garasi dengan selimut tipis yang menutupi bahunya.
Tiba-tiba pintu belakang terbuka dengan kasar.
Bibi Rina berlari keluar dengan wajah panik dan napas terengah-engah.
"Ga! Ga! Bangun! Tuan sakit! Demamnya tinggi banget!"
Arga langsung terbangun seperti tersambar petir.
Dia melompat berdiri tanpa sempat merapikan bajunya.
"APA?! TUAN SAKIT?!"
Bibi Rina mengangguk sambil memegang keningnya yang berkeringat.
"Iya Ga! Dari tadi malam Tuan menggigil terus! Arga cepat bawa Tuan ke rumah sakit!"
Arga berlari ke kamar Tuan Harsono,
Tanpa pikir panjang, Arga langsung menggendong Pak Harsono yang lemas dan demam tinggi ke dalam Alphard.
Baju tidur Pak Harsono basah oleh keringat dingin. Bibirnya pucat. Napasnya berat.
Arga menginjak pedal gas sekuat-kuatnya.
"Tahan ya Tuan... tahan... kita harus sampai rumah sakit..."batinnya berteriak.
Karena panik, Arga lupa satu hal penting:
Pak Harsono juga punya seorang putri.
Seorang anak perempuan yang belum dikasih tahu kalau ayah satu-satunya jatuh sakit.
JAM 07.30.
Kirana akhirnya turun dari kamar.
Setelah seharian kemarin mengurung diri dan tidak mau menemui papanya, hari ini dia bermaksud ingin bicara baik-baik.
Dia ingin bilang kalau dia tidak sanggup menerima perjodohan ini. Dia ingin mengejar mimpinya jadi seorang desainer.
Dia ingin menjelaskan semuanya dengan kepala dingin.
Tapi... pagi itu meja makan kosong.
Tidak ada Pak Harsono yang duduk sambil membaca koran.
Tidak ada kopi hitam yang mengepul.
Tidak ada suara pelayan yang mondar-mandir.
Hanya ada keheningan yang terasa menusuk jiwanya.
"Bibi... Papa mana?" tanya Kirana pelan sambil menatap Bibi Rina yang sedang menyapu.
Bibi Rina berhenti menyapu. Wajahnya langsung pucat.
"Non Kirana... Tuan... Tuan jatuh sakit. Tadi subuh sudah diantar Arga ke Rumah Sakit Cipto..."
JDERRR....
Hati Kirana seketika mencelos.
Rasanya seperti ada tangan besar yang meremas jantungnya tanpa ampun.
Dadanya tiba-tiba sesak. Napasnya tercekat.
"Kenapa aku tidak dikasih tahu...?"
"Kenapa malah Arga yang lebih tau "
"Kenapa Papa lebih percaya Arga daripada aku...?"
Perasaan bersalah seketika menyerang relung hatinya.
Begitu sesak. Begitu menyesakkan.
Kemarin dia marah-marah. Kemarin dia bilang Papa tega.
Tapi sekarang Papa terbaring sakit di rumah sakit... dan dia tidak ada di sampingnya.
Kirana tidak peduli lagi dengan riasan. Tidak peduli lagi dengan baju rapi.
Dia langsung berlari ke garasi, mengambil kunci mobilnya, dan melajukan mobil merahnya ke arah Rumah Sakit Cipto dengan kecepatan tinggi.
DI RUMAH SAKIT CIPTO. RUANG ICU.
Arga duduk di kursi ruang tunggu dengan kepala tertunduk.
Tangannya menggenggam erat gelang kayu pemberian Pak Harsono yang selalu dia pakai.
Wajahnya pucat. Matanya sembab karena kurang tidur.
Tiba-tiba pintu ruang dokter terbuka.
Dokter dengan jas putih keluar dan menghampiri Arga.
"Pak Arga, saya Dokter Andi yang menangani Pak Harsono."
Arga langsung berdiri. Kakinya gemetar.
"Dokter... bagaimana keadaan Tuan?" suaranya bergetar.
Dokter Andi menghela napas panjang.
"Kondisi Pak Harsono semakin parah, Pak Arga. Kanker parunya sudah menyebar ke beberapa bagian. Saya sarankan agar Pak Harsono tidak banyak pikiran. Stres bisa memperburuk kondisinya."
ARGA MEMBEKU DI TEMPAT.
Kata-kata dokter itu seperti palu godam yang menghantam kepalanya.
"Semakin parah... tidak banyak pikiran..."
Arga menelan ludah dengan susah payah.
"Dok... berapa lama lagi Tuan bisa... bertahan?" tanyanya pelan, hampir tidak terdengar.
Dokter Andi menatap Arga dengan iba.
"Kalau dengan perawatan maksimal... mungkin satu tahun. Mungkin kurang. Itu tergantung kondisi mental pasien juga."
Arga terduduk lemas di kursi.
Satu tahun...
Berarti Pak Harsono hanya punya waktu satu tahun untuk melihat Kirana bahagia.
Satu tahun untuk melihat panti itu tetap berdiri.
Tiba-tiba Pak Harsono yang baru sadar dari pingsannya membuka mata.
Dia memanggil Arga dengan suara lirih.
"Ga... Ga..."
Arga langsung berlari ke sisi ranjang.
"Siap Tuan... saya di sini..."
Pak Harsono meraih tangan Arga dengan lemah.
"Ga... jangan... jangan kasih tahu Kirana... tentang penyakit Papa..."
"Papa... nggak mau Kirana takut... Papa nggak mau Kirana nggak bisa kejar mimpinya..."
Arga menunduk dalam-dalam. Air matanya jatuh.
"Baik Tuan... saya janji..."
Dokter Andi yang mendengar itu hanya bisa mengangguk.
"Baik Pak Harsono. Kami akan jaga rahasia ini."
DI LORONG RUMAH SAKIT.
Kirana berlari dengan napas terengah-engah.
Rambutnya berantakan. Wajahnya pucat.
Dia mencari-cari ruang ICU Pak Harsono.
Tiba-tiba dia melihat Arga duduk di kursi ruang tunggu dengan kepala tertunduk.
Kirana berhenti. Dadanya sesak.
Dia ingin berteriak. Ingin marah. Ingin bertanya kenapa Arga yang ada di sini duluan.
Tapi saat melihat wajah Arga yang pucat dan mata yang sembab...
Kirana tidak bisa berkata apa-apa.
Kirana hanya bisa berdiri di ujung lorong sambil menggenggam erat dadanya.
Hatinya sakit. Sangat sakit.
"Papa... Kirana minta maaf... Kirana minta maaf karena kemarin marah sama Papa..." batinnya.
[BERSAMBUNG...]
jadi orang kaya gak perlu sombong.
rumah tangga macam ini paling gampang di bikin huru" orang ketiga kalian berdua sama" suka diem"