NovelToon NovelToon
Reinkarnasi: Hamil Anak Pameran Utama Pria

Reinkarnasi: Hamil Anak Pameran Utama Pria

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Masuk ke dalam novel / Penyesalan Suami
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Unamed

Valeria Francesca terbangun di dalam tubuh wanita antagonis sebuah novel yang ditakdirkan mati tragis di meja operasi setelah kedoknya membobol keluarga konglomerat terbongkar. Di cerita asli, wanita ini menipu sang CEO, Alessandro Dirgantara, menggunakan pahlawan palsu dan jebakan kehamilan untuk memaksa menikah.

Saat terbangun di momen tepat sebelum melabrak Alessandro dengan hasil tes kehamilan, Valeria langsung merobek kertas itu. Demi selamat dari maut, ia memilih pura-pura penurut sambil diam-diam menabung untuk kabur.

Namun saat Valeria menyelinap ke rumah sakit untuk aborsi diam-diam agar bisa lari dengan tenang, Alessandro justru mendobrak pintu ruang operasi dengan mata memerah dan membentak, "Siapa yang memberi kamu izin menggugurkan anak kita?!"

Valeria melongo. Bos, bukankah di novel aslinya kamu yang paling ingin anak ini mati?!

!!(KARYA INI MURNI FIKTIF PENULIS)!!
!!(TEMPAT,LATAR MURNI IMAJINASI)!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unamed, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: Pacarku Sangat Kuat

Tindakan ini seketika membuat Valeria Francesca tertegun kaku. Menatap gelas air yang disodorkan tepat di depan wajahnya, sepasang kulit pipinya langsung merona merah padam dalam sekejap. Bukankah tindakan ini sama saja dengan ciuman tidak langsung di antara mereka berdua?

Valeria tertawa canggung dan mendorong pelan gelas tersebut menjauh. "Kamu saja yang minum, Ales. Aku sengaja meracik air madu ini khusus untukmu."

Alessandro tidak menggeser posisinya sedikit pun, tetap mengunci pandangan matanya lurus menatap ke dalam netra mata Valeria. "Di masa lalu, bukankah kamu selalu proaktif mendekat bahkan hanya untuk berbagi segelas air dengan saya? Mengapa sekarang kamu mendadak bersikap begitu berjarak?"

Jantung Valeria seketika mencelos. Apalagi saat Alessandro menatapnya dengan tatapan intens yang begitu membakar, membuat fokus pikirannya mendadak gugup dan gelisah. Alessandro belum lama ini baru saja mencurigai kalau dirinya sedang menyembunyikan sebuah rahasia besar. Jika sekarang ia kembali menolak, ketajaman insting sang CEO dipastikan akan langsung menaruh curiga. Pria berkuasa itu bahkan bisa saja mendelegasikan asisten pribadinya untuk menyelidiki seluruh rekam medisnya ke rumah sakit.

Jika petaka itu sampai terjadi, dirinya benar-benar berada di dalam status 'mati lebih cepat, reinkarnasi lebih awal'. Merasa sangat tidak nyaman di bawah kepungan tatapan tajam tersebut, Valeria terpaksa menguatkan mentalnya, membuka bibirnya, lalu meneguk sedikit air madu hangat tepat di atas bibir gelas yang sama.

Alessandro menatapnya lekat. "Bagaimana cita rasanya?"

Valeria bahkan sama sekali tidak sempat merasakan kelezatan madu tersebut akibat dirundung gugup, lalu menyahut terbata-bata, "A-ah... cukup manis kok."

Usai memaparkan kalimat tersebut, ia segera memutar otak untuk mengalihkan topik pembicaraan. "Sudahlah, waktu sudah larut malam sekarang. Ayo kita tidur."

Ia praktis melarikan diri kembali ke posisinya di balik selimut dengan lubuk jantung yang berpacu kencang. Meskipun tindakan Alessandro barusan murni didasari oleh gerakan bawah sadarnya, namun mengapa Valeria justru merasa seolah-olah dirinya sedang sengaja dirayu oleh pesona sang pria?

Tidak lama setelah Valeria merebahkan raga fisiknya di atas kasur, Alessandro pun menyusul untuk naik ke atas ranjang. Keduanya secara tersirat memilih untuk saling diam membisu, mematikan seluruh pencahayaan lampu kamar, lalu memulai tidur mereka.

Tepat di saat Valeria mengira atmosfer kesunyian ini akan terus bertahan kokoh hingga mereka terhanyut masuk ke dalam fase tidur lelap, ia mendadak mendengar gema suara bariton Alessandro memecah keheningan malam, "Terima kasih."

Valeria menghentikan pergerakan tubuhnya sejenak, lalu membalikkan poros wajahnya kaku untuk menatap Alessandro. "Terima kasih untuk apa?"

Alessandro menatap lekat ke arahnya di balik pekatnya kegelapan kamar. "Air madu hangatnya."

Valeria tidak habis pikir hal sepele seperti itu saja sampai harus memicu kalimat terima kasih dari balik bibir sang CEO besar. "Status kita kan sepasang kekasih, Ales; sudah sewajarnya bagiku untuk melakukan hal-hal kecil seperti ini demi kenyamananmu."

Alessandro tampak menaikkan sebelah garis alis tebalnya tipis di udara. "Namun, di masa lalu kamu mutlak belum pernah sekalipun membuktikan tindakan nyata seperti ini."

Valeria seketika langsung terbungkam kaku dilanda kebuntuan kosakata selama beberapa saat. Apakah Alessandro sebenarnya masih konsisten memendam rasa curiga tebal di dalam kepalanya? Atau jangan-jangan pria jenius ini sedang sengaja meluncurkan taktik jebakan untuk menguji kejujuran batinnya?

Sepasang bola mata Valeria bergerak bergulir taktis. "Bukankah kamu sendiri yang tadi memaparkan penuturan bahwa itu semua adalah lembaran cerita masa lalu? Pasca-terlewatinya insiden ketakutan tempo hari, aku kan sudah memantapkan prinsip batin untuk bertobat dan membuka lembaran hidup baru yang lebih baik."

Alessandro tidak meluncurkan kalimat bantahan lanjutan, hanya terus memfokuskan sepasang manik mata hitamnya untuk menatap lekat ke arah sang wanita. Di tengah sunyinya malam, sepasang netra mata mereka saling beradu pandang, membuat atmosfer udara di sekeliling area kasur mendadak tampak diselimuti oleh seberkas riak ketegangan romantis yang sangat pekat nan ambigu.

Merasakan atmosfer di sekitarnya kian bergerak melintasi batas aman, Valeria dengan gerakan cepat langsung memotong pendek pembicaraan. "Sudahlah, cepat tidur sekarang. Kondisi lambungmu saat ini sedang didera penyakit akut, kamu tidak diizinkan untuk tidur terlalu larut malam."

Alessandro melepaskan sebaris suara gumaman bariton tipis penuh afirmasi setuju, lalu akhirnya memalingkan garis pandangan mata tajamnya ke arah lain. Merasakan kepungan tatapan tajam yang mengintimidasi batin tersebut akhirnya resmi menguap pergi, Valeria diam-diam mengembuskan sebaris desahan napas lega yang panjang di dalam hatinya sebelum akhirnya memejamkan sepasang matanya kembali.

Sepasang kekasih ini berbaring bersama di atas ranjang yang sama, namun dengan fokus pikiran yang masing-masing menyimpan rahasia batin tersendiri. Ini semua murni merupakan kesalahan dari tabiat Alessandro yang mendadak bersikap terlampau melankolis dan sentimental malam ini, sukses membuat Valeria terjebak di dalam insomnia akut hingga kesulitan untuk memejamkan mata dalam rentang waktu yang cukup lama.

Namun jika dipikirkan menggunakan rasionalitas umum, catatan lembaran sejarah masa lalu memang membuktikan bahwa pemilik tubuh asli mutlak belum pernah sekalipun berkontribusi meluncurkan tindakan nyata demi kenyamanan Alessandro; wanita matre itu selalu saja hanya mengandalkan modal manis di bibir murni sebagai bumbu rayuan semata tanpa pernah ada aksi riil di kehidupan nyata. Maka dari itu, wajar saja jika seorang Alessandro Dirgantara sampai harus meluncurkan kalimat terima kasih formalitas hanya karena perkara sepele seperti segelas air madu hangat.

Jika ditarik kesimpulan berdasarkan sudut pandang ini, sosok Alessandro sebenarnya berada di dalam status yang sangat kasihan sekali. Pria berkuasa itu tidak hanya dipaksa pasrah untuk dijebak masuk ke dalam lingkaran jalinan asmara beracun, namun nominal fantastis aliran dana finansial yang ia gelontorkan sepanjang hari pun terbukti mutlak belum pernah sanggup untuk membeli sebuah binar ketulusan batin yang riil dari pasangannya.

Akibat dari peperangan batin yang membuatnya terjebak tidur larut malam, tepat di detik kesadaran jiwa Valeria kembali terbangun keesokan paginya, siluet tegap Alessandro terpantau sudah sejak lama mengayunkan kaki tegapnya untuk bertolak berangkat menuju ke kantor pusat. Pasca-didera oleh adanya penderitaan rasa nyeri lambung akut ditambah lagi dengan kurangnya waktu istirahat tidur semalam, seorang Alessandro ternyata masih sanggup mempertahankan totalitas performa kerjanya secara normal di perusahaan; pria berkuasa itu benar-benar terlahir memiliki struktur mental baja laksana manusia besi di kehidupan nyata. Pantas saja dirinya ditakdirkan sanggup menduduki puncak kasta tertinggi sebagai sang CEO besar penguasa bisnis kota.

Namun, mengingat kembali perkara penyakit gangguan lambung akut yang diderita sang pria, seberkas pengingat medis mendadak melesat di dalam kepala Valeria. Ia menarik keluar gawai ponselnya dari balik saku piyama, menggerakkan ujung jemari tangan untuk meluncurkan sebaris pesan teks singkat menuju ke arah nomor pribadi Alessandro:

【Kondisi lambungmu saat ini sedang cedera, jadi di dalam fase beberapa hari ke depan kamu dilarang keras menelan minuman kopi ya. Selain itu, jangan lupa untuk meminum obat lambungmu secara presisi sesuai dosis dokter.】

Tindakan perhatian kecil itu murni ia luncurkan karena dirinya mendadak teringat akan bahaya medis yang mengancam kesehatan sang pria. Sesosok manusia gila kerja laksana Alessandro Dirgantara yang bahkan di tengah kondisi organ lambungnya didera rasa nyeri hebat masih saja nekat meluncurkan raga fisiknya demi menghadiri jamuan bisnis luar... dipastikan mutlak merupakan tipe pria yang di sepanjang hidupnya tidak pernah memedulikan regulasi kesehatan fisiknya sendiri sehari-hari.

Tepat di saat Sekretaris Susan melangkahkan kakinya untuk masuk melintasi ruang kerja utama sang CEO besar untuk melayangkan pertanyaan administratif seputar jenis menu minuman apa yang ingin ia nikmati siang ini, gawai ponsel di atas meja kerja Alessandro mendadak bergetar pendek memancarkan notifikasi masuk. Menatap lekat ke arah rentetan deretan kalimat instruksi medis penuh perhatian dari Valeria yang terpampang jelas di atas permukaan layar digital, Alessandro sempat terdiam membisu meluncurkan fase keheningan batin selama satu detik penuh, sebelum akhirnya memutar kepalanya perlahan untuk menatap Sekretaris Susan, bersuara lempeng, "Bantu saya untuk menuangkan segelas susu hangat saja."

Ketajaman pandangan mata Sekretaris Susan tentu saja langsung berhasil menangkap detail isi deretan kalimat pesan teks di atas meja, dan fungsi otaknya dalam satu kedipan mata langsung sanggup menebak dengan akurat mengenai jati diri dari sang pemilik nomor pengirim pesan tersebut. Di dalam lubuk batinnya yang paling dalam, Sekretaris Susan secara agresif langsung meluncurkan aksi memutar sepasang bola matanya jengah untuk meluapkan gejolak rasa muak, namun di permukaan wajah kaku formalitasnya ia tetap mempertahankan pembawaan sopan korporat, menyahut patuh, "Baik, Pak CEO Alessandro, instruksi Anda akan segera saya laksanakan."

Pasca-menyelesaikan seluruh rangkaian ritual pembersihan wajah dan mandi di dalam kamar mandi, Valeria yang baru saja melangkahkan kakinya keluar segera menangkap sebaris pesan teks balasan singkat dari Alessandro yang sudah terpampang manis di layar kaca gawai ponselnya:

【Baik.】

Meskipun profil pembawaan karakter dari pria berkuasa itu terkenal kaku sedingin es batu, namun dirinya terbukti selalu konsisten memberikan respons konfirmasi yang taktis di setiap detik Valeria meluncurkan pesan teks harian. Perilaku penuh tanggung jawab ini bersumpah terbukti jauh lebih berkelas jika dibandingkan dengan jajaran komplotan lelaki hidung belang bermulut buaya di dunia nyata, yang di setiap harinya hanya sanggup memuntahkan seribu satu macam rayuan janji manis di bibir namun mutlak belum pernah sekalipun membuktikan aksi nyata yang berguna bagi pasangannya.

Valeria mengayunkan langkah kakinya turun menuju ke lantai bawah. Sembari berjalan menyusuri selasar, fungsi otaknya mulai menyusun sebuah kalkulasi strategi taktis; mengingat di sepanjang rentang waktu jam siang hari ini dirinya mutlak tidak memiliki agenda aktivitas penting lainnya, bukankah akan jauh lebih menguntungkan bagi kelangsungan keselamatan nyawanya jika dirinya bersedia meluangkan waktu untuk meracik seporsi bubur hangat bernutrisi tinggi lalu mengantarkannya langsung menuju ke ruang kerja Alessandro?

Langkah proaktif ini merupakan sebuah momentum emas yang sangat ideal untuk memanen pasokan poin impresi baik (favorability points) di dalam batin sang pria berkuasa. Dengan adanya bukti nyata di mana dirinya tidak hanya sudi meracik segelas air madu hangat di tengah malam namun kini bahkan rela memeras keringat tenaga untuk memasak seporsi bubur millet hangat demi memulihkan kesehatan lambung sang CEO... maka di masa depan kelak di saat seluruh kedok konspirasi besarnya terbongkar lebur ke permukaan... seorang Alessandro Dirgantara diharapkan setidaknya bakal bersedia menurunkan sedikit intensitas kekejaman algojonya untuk memberikan seberkas belas kasihan emosional bagi keselamatan nyawanya.

Memikirkan keuntungan taktis tersebut, Valeria segera membalikkan poros tubuh rampingnya untuk melangkah tegas memasuki interior dapur utama. Di sepanjang dimensi kehidupan aslinya di dunia nyata dulu, di setiap detik sistem biologis tubuhnya didera oleh serangan rasa nyeri lambung akibat tekanan stres kerja, dirinya memang sudah sangat terbiasa meracik sup bubur millet harian, sehingga tingkat kompetensi keahlian tangannya di sektor kuliner yang satu ini dipastikan sudah berada di level eksperiensial yang sangat matang dan mumpuni sekali.

Hanya butuh kurun waktu kurang dari tiga puluh menit saja bagi Valeria untuk bisa menuntaskan seluruh proses pemasakan sup bubur millet hangat tersebut hingga matang sempurna. Ia segera mengemas porsi makanan bernutrisi tersebut ke dalam sebuah wadah tabung termal penahan panas (thermal container), menyambar tas mewahnya, lalu segera memanggil armada taksi daring untuk mengantarkan posisi raganya lurus meluncur menuju ke gedung pencakar langit Dirgantara Group.

Untuk momentum kunjungan siang kali ini, rute perjalanannya untuk naik menuju ke lantai atas terpantau masih harus dipaksa pasrah untuk dikawal dan dipandu langsung oleh eksistensi raga Sekretaris Susan. Begitu sepasang manik mata tajam milik wanita karier tersebut menangkap siluet wadah tabung termal makanan yang sedang mendekap erat di sela jemari tangan Valeria, Sekretaris Susan seketika langsung melepaskan sebaris suara dengusan pendek yang sangat dingin dan sinis dari balik celah tenggorokannya. "Wah, Nona Valeria Francesca ternyata benar-benar terlahir memiliki keahlian tingkat dewa ya di dalam sektor memanfaatkan setiap celah momentum yang ada murni hanya untuk meluncurkan aksi pencitraan pamer yang murah di depan mata Pak CEO."

Valeria menyahut dengan intonasi suara yang sangat santai, tenang, dan acuh tak acuh tanpa beban, "Tentu saja harus proaktif, Sekretaris Susan. Jika sebagai kekasih resmi aku sendiri mutlak enggan meluangkan energi untuk merawat keselamatan fisik pacarku sendiri, lalu wanita luar tidak tahu diri mana lagi yang kira-kira bakal diberikan hak istimewa untuk bisa mengambil alih posisi tugasku tersebut, bukan?"

Kalimat serangan balik telak yang sangat menusuk ulu hati tersebut seketika sukses membuat aliran napas Sekretaris Susan tercekik kaku dilanda kebuntuan kata selama beberapa saat, sebelum akhirnya menyemburkan kalimat ketus penuh penekanan geram, "Awas saja kamu... aku sendiri yang bakal berdiri kokoh menyaksikan seberapa lama lagi topeng akting kepura-puraan suci kamu ini bakal sanggup bertahan menipu dunia."

Pasca-mengantarkan raga Valeria tepat di depan ambang pintu kayu jati ruang kerja utama, wanita karier itu segera membalikkan poros tubuh fisiknya untuk melangkah pergi menjauh dengan ritme cepat. Valeria mutlak enggan membuang sisa energi batinnya hanya untuk meladeni luapan emosi picik sang sekretaris; ia segera mengulurkan tangan lentiknya untuk mengetuk permukaan pintu kayu dengan ritme teratur. Sebaris suara bariton rendah penuh wibawa menggema memberikan izin masuk dari arah dalam ruangan, "Masuk."

Valeria mendorong daun pintu terbuka, di mana sepasang mata bulatnya langsung disuguhkan oleh visualisasi siluet tegap Alessandro yang sedang duduk kokoh di balik meja kerjanya; tangan kanannya terpantau sedang bergerak taktis menggoreskan sebatang pena tinta mewah untuk menandatangani beberapa lembar berkas dokumen operasional korporasi.

Valeria bersuara lembut, "Apakah siang ini kamu sudah sempat menikmati hidangan makan siangmu, Ales?"

Mendengar gema suara merdu yang mendadak menyeruak memenuhi ruang udara di hadapannya, Alessandro menegakkan poros wajah tampannya perlahan. Begitu sepasang manik mata hitamnya berhasil mengunci siluet kehadiran Valeria, pergerakan jemari tangannya yang sedang memegang pena mewah seketika sempat terhenti kaku selama satu detik penuh dilanda kejutan batin yang halus. "Mengapa kamu mendadak meluangkan waktu untuk datang ke tempat ini?"

Valeria mengangkat sedikit posisi wadah tabung termal di tangan kanannya sembari mengukir seulas senyuman cerah, "Bukankah lambungmu saat ini sedang didera penyakit akut? Aku sengaja meluangkan waktu di dapur untuk meracikkan seporsi sup bubur millet hangat bernutrisi tinggi agar lambungmu bisa terasa jauh lebih tenang dan nyaman."

Pandangan mata tajam Alessandro bergerak bergulir lurus menyapu ke arah permukaan wadah termal penahan panas yang melekat di sela jemari tangan Valeria. "Aku sengaja menjadwalkan rute keberangkatan lebih awal dari jadwal normal; di dalam kalkulasi pikiranku, kamu pasti sampai detik siang ini belum sempat menikmati makanan apa pun bukan?" Valeria melangkahkan sepasang kaki anggunnya mendekat, memosisikan tabung makanan tersebut dengan lembut tepat di atas meja kerja raksasa sang CEO.

Alessandro menyahut lempeng tanpa ekspresi, "Belam."

"Nah, kalau begitu momentum waktunya terbukti sangat pas sekali. Di dalam fase pemulihan lambung ini, kamu dilarang keras menikmati menu makanan luar sembarangan, jaminan tingkat kebersihan higienisnya mutlak tidak bisa dipercaya seratus persen," papar Valeria dengan penuh perhatian. "Sup bubur millet hasil racikan tanganku sendiri ini terbukti sangat ramah dan efektif untuk menenangkan sistem pencernaan lambung yang cedera."

Tepat di saat katup penutup wadah tabung termal tersebut resmi diputar terbuka oleh Valeria, seberkas aroma keharuman khas sup bubur millet yang gurih, hangat, dan lembut seketika langsung meledak menyeruak menguasai seluruh penjuru sudut ruang kerja utama sang CEO besar. Valeria memanfaatkan bagian penutup wadah termal tersebut sebagai wadah mangkuk darurat, menuangkan porsi sup bubur hangat secukupnya, lalu mengulurkan tangannya untuk menyerahkan mangkuk tersebut langsung ke hadapan Alessandro. "Cobalah cicipi sedikit porsi sup hangat ini untuk memeriksa bagaimana cita rasa hasil masakan tanganku."

Alessandro mengulurkan telapak tangan kekarnya untuk menyambut mangkuk tersebut, di mana pergerakan ujung jemari tangannya secara tidak sengaja sempat bergesekan halus menyentuh permukaan kulit tangan lembut milik Valeria; memercikkan seberkas letupan sensasi kehangatan asing yang mengalir taktis melewati sistem saraf batin mereka selama satu kedipan mata saja. Alessandro sempat menahan pergerakan raganya sejenak, sebelum akhirnya memosisikan jemarinya untuk meraih sebatang sendok kecil, menyendok porsi bubur halus secukupnya, lalu memasukkannya ke dalam mulutnya perlahan.

Tekstur sup bubur millet yang sangat lembut, halus, dan licin seketika langsung menyebar merata di dalam rongga mulutnya, mengalirkan gelombang kehangatan fisik yang merayap meluncur menembus tenggorokan hingga mendarat dengan aman menyelimuti sistem lambungnya yang cedera; tidak hanya itu, derajat kadar tingkat kemanisan rasa yang terkandung di dalam bubur tersebut pun terpantau berada di dalam scala yang sangat pas dan steril dari rasa enek.

Valeria memfokuskan sepasang mata bulatnya untuk menatap lekat-lekat ke arah sela perubahan ekspresi raut wajah tampan sang pria. "Bagaimana hasil penilaian lidahmu, Ales? Apakah cita rasanya berada di kategori yang lezat?"

Alessandro menyambut tatapan mata bulat Valeria yang saat itu sedang terpancar nyata menatapnya penuh harap, membuat intonasi suara baritonnya mendadak diresapi oleh seberkas aksen kelembutan halus yang bahkan tidak disadari oleh fungsi kesadarannya sendiri, "Sangat lezat."

Valeria tampak mengembuskan sebaris desahan napas lega yang halus, di mana sepasang sudut matanya perlahan melengkung manis mengukir senyuman cerah. "Jika hasil penilaian lidahmu memang menyatakan lezat, maka kamu wajib menghabiskannya dalam porsi yang banyak ya. Aku sengaja memasak pasokan sup bubur ini dalam kuantitas skala besar di rumah; sisa kuotanya bahkan bisa kamu manfaatkan kembali sebagai menu jamuan makan malam kamu nanti di kantor."

Alessandro mengeluarkan sebaris suara gumaman bariton rendah penuh kelegaan batin, "Mm. Faktor pemicu apa yang sebenarnya mendadak merangsang struktur pikiranmu siang hari ini hingga rela memeras keringat tenaga untuk mengantarkan porsi bubur sup hangat ini ke kantorku?"

Valeria tidak meluangkan banyak energi logis untuk menyusun taktik jawaban; ia hanya menyahut dengan pembawaan yang sangat santai dan acuh tak acuh, "Aku murni hanya teringat fakta medis bahwa kondisi organ lambungmu saat ini sedang didera rasa nyeri hebat, Ales. Di dalam kalkulasi pikiranku, menikmati porsi sup bubur hangat seperti ini dipastikan bakal langsung bekerja taktis murni untuk membuat sistem pencernaan tubuh kamu menjadi jauh lebih tenang bugar."

Alessandro menegakkan poros wajah tampannya, memfokuskan sepasang manik mata hitamnya murni untuk mengunci dan mengamati lekat-lekat ke arah sela wajah Valeria selama beberapa detik penuh, sebelum akhirnya bersuara menggunakan intonasi bariton yang sangat lempeng dan tenang, "Katakan saja secara langsung... jenis aset tas mewah bermerek baru apa lagi yang saat ini sedang ingin kamu buru untuk dibeli menggunakan kartuku?"

Uhuk! Valeria seketika langsung hampir saja tersedak oleh air liurnya sendiri akibat serangan kalimat lempeng tersebut. Ia menyahut dengan nada suara penuh kedongkolan batin yang sangat pekat, "Bukankah sejak tempo hari aku sudah berulang kali memaparkan penuturan konfirmasi kepadamu, Ales? Prinsip batin diriku saat ini benar-benar sudah bertobat total membuka lembaran hidup baru dan tidak lagi memendam rasa ketertarikan buta untuk mengoleksi aset barang mewah fana seperti itu! Bisakah struktur pikiran jeniusmu itu segera berhenti untuk selalu menyusun spekulasi kesimpulan sepihak menuduh profil diriku sebagai sesosok wanita yang berpikiran dangkal dan matre sepanjang hari?!"

Menatap lekat ke arah sepasang manik mata bulat Valeria yang saat itu memancarkan sekeranjang gurat rasa kekecewaan semu serta kejengkelan yang kentara, mutlak tidak bisa dibaca secara kasat mata apakah struktur logika Alessandro memercayai seratus persen kalimat bantahan tersebut atau tidak. Pria berkuasa itu hanya bersuara datar, namun intonasi baritonnya secara misterius menyembunyikan seberkas nada pemanjaan yang sangat halus, "Mm. Jika di kemudian hari lubuk hatimu memang sedang memendam keinginan nyata untuk membeli sepotong barang baru... kamu mutlak tidak perlu repot-repot meluncurkan taktik bahasa berputar-putar seperti ini di hadapanku; katakan saja secara langsung, saya pasti akan membiayainya."

Valeria hanya bisa pasrah mengembuskan napas pendek dilanda gelombang kepasrahan batin yang mendalam. Kenyataan pemikirannya mencatat bahwa seorang Alessandro Dirgantara sampai detik siang ini terpantau memang belum memiliki tingkat kepercayaan yang penuh untuk meyakini fakta pertobatan totalnya dari lingkaran kematrean duniawi. Valeria memilih untuk tidak memperpanjang alur diskusi seputar tas mewah tersebut; ia segera meluncurkan kalimat desakan hangat untuk mengalihkan topik, "Sudahlah tidak usah dibahas lagi, ayo cepat dihabiskan porsi sup buburnya sekarang juga, nanti jika dibiarkan terlampau lama kehangatan buburnya bisa menguap mendingin loh."

Alessandro tidak lagi meluncurkan untaian kosakata balasan; pria berkuasa itu segera kembali fokus menikmati porsi bubur millet hangatnya secara senyap dan tenang, sementara Valeria sendiri setia duduk manis di sisi sofa terdekat untuk mengamati setiap sela pergerakan sang pria dalam kesunyian total. Mutlak tidak ada lagi sepeser pun untaian kosakata kalimat yang meluncur keluar dari balik bibir kedua belah pihak di saat atmosfer ruangan utama diselimuti oleh kedamaian yang sunyi dan hangat.

Tepat di tengah jalannya proses makan siang tersebut, gawai ponsel di dalam saku pakaian Valeria mendadak bergetar kencang dan berdering nyaring memecah keheningan ruangan. Ia menarik keluar ponsel tersebut dan melayangkan satu lirikkan taktis ke arah permukaan layar digital untuk memeriksa identitas sang penelpon; di mana deretan huruf nama kontak pengirim panggilan tersebut tertulis manis: 'Valdo'.

Berdasarkan catatan lembaran memori rahasia novel di otaknya, identitas pria bernama Valdo ini... tidak lain dan tidak bukan merupakan adik kandung dari pemilik tubuh asli Valeria Francesca, sesosok pemuda egois yang saat itu statusnya masih terikat sebagai mahasiswa universitas tingkat akhir namun memiliki catatan tabiat kelangsungan hidup harian yang sangat malas, nakal, dan gemar berfoya-foya sepanjang hari tanpa arah masa depan yang jelas.

Sepasang garis alis tebal Valeria seketika tampak mengernyit rapat dilanda seberkas firasat buruk, lalu memutar kepalanya perlahan untuk meluncurkan kalimat izin pamit di hadapan Alessandro, "Ales... aku izin keluar ruangan sejenak ya untuk mengangkat panggilan telepon ini."

Usai memaparkan kalimat izin tersebut, ia segera menegakkan posisi tubuh rampingnya untuk melangkah taktis keluar melintasi ambang pintu ruang kerja utama, sebelum akhirnya menekan tombol hijau untuk mengaktifkan sambungan panggilan.

Tepat di detik perdana sambungan komunikasi tersebut resmi terhubung dengan aman, sebaris suara pria dengan intonasi nada bicara yang terdengar sangat sinis, manja, dan sarat akan unsur kelicikan khas anak muda pemalas... seketika langsung merangsek maju memenuhi ruang pendengaran Valeria dari seberang telepon.

"Halo, Kak? Ini aku, Valdo."

Valeria menyahut dingin menggunakan intonasi suara yang berjarak, "Ada perkara penting apa lagi yang sedang melanda hidupmu hingga nekat meneleponku siang-siang begini?"

Pihak Valdo di seberang sana terpantau langsung bergerak frontal lurus menuju ke arah titik poin utama masalah tanpa ada basa-basi sepeser pun, "Begini loh, Kak... dalam rentang kurun waktu beberapa minggu ke depan, program sistem operasional kampusku kan mewajibkan diriku untuk segera memulai jalannya tahapan magang kerja (internship). Di dalam lembaran sejarah masa lalu bukankah Kakak sendiri yang selalu konsisten pamer di depan wajahku bahwa sosok kekasih baru Kakak saat ini merupakan sesosok figur penguasa kasta tertinggi sekaligus tokoh besar yang memiliki kekuasaan finansial yang luar biasa dahsyat di kota? Atas dasar itulah, bisakah Kakak segera menggunakan jalur koneksi dalam Kakak untuk mengatur dan memasukkan posisi diriku agar bisa langsung diterima bekerja magang dengan enak di dalam area perusahaan raksasa milik kekasih kaya kamu tersebut?"

1
Azzuhri Siregar
thor cerita satu bab jangan terlalu panjang lama-lama bacanya agak mengantuk. cerita nya bagus tapi satu bab itu terlalu panjang jadi bosen
FearMe: iya ini bab 20++ udah diperbaiki
total 1 replies
falea sezi
lanjt
Retno Isma
panjang bgt. 🫰🫰
Anne Soraya
lanjut
Putri Amalia
semoga ngk Hiatus yah author 😭
FearMe: semoga ya😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!