NovelToon NovelToon
Kinasih: Pengantin Keranda

Kinasih: Pengantin Keranda

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Misteri
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Di Desa Karang Jati, menikah bukan soal cinta, tapi soal siapa yang terpilih untuk "menjaga" desa. Tahun ini, Kinasih—gadis panti asuhan yang tak punya siapa-siapa—mendapat kehormatan yang paling ditakuti: menjadi Pengantin Keranda.
Kinasih pikir ia akan dipasangkan dengan pemuda desa, namun impian itu hancur saat ia dipaksa bersanding dengan sebuah keranda kayu jati yang konon berisi jasad "Sang Penjaga" yang tak boleh disebut namanya. Dengan balutan kebaya merah darah yang mulai pudar, Kinasih harus menjalani ritual malam satu suro; terkunci di dalam kamar pengantin yang hanya berisi dirinya dan keranda tua yang sesekali mengeluarkan suara ketukan dari dalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Sarapan Nyawa dan Rahasia Mak Saroh

Matahari baru saja mengintip malu-malu di balik barisan pohon kamboja saat pintu kamar itu akhirnya bisa didobrak.

Bima memimpin di depan, parangnya sudah siap di tangan, wajahnya awut-awutan karena tidak tidur semalaman.

Di belakangnya, Mak Saroh mengekor dengan wajah sepucat kain kafan, diikuti beberapa warga yang membawa obor yang apinya sudah sekarat.

"Nasih!" Bima berteriak, suaranya pecah.

Kamar itu kosong.

Berantakan? Tidak.

Justru terlalu rapi.

Keranda jati yang semalam hancur berkeping-keping kini berdiri kokoh di tengah ruangan, seolah-olah baru saja keluar dari bengkel tukang kayu terbaik.

Tidak ada bekas retakan, tidak ada serpihan kayu.

"Nasih... kamu di mana?" Bima mendekati keranda itu dengan tangan gemetar.

"Jangan disentuh, Bima!"

bentak Mak Saroh. "Kamu mau kehilangan tanganmu?!"

"Bodo amat sama tangan, Mak! Temanku hilang! Nasih!" Bima nekad menempelkan telinganya ke kayu keranda yang dingin.

Deg... dug...

Deg... dug...

Bima tersentak mundur. "Ada suara... ada suara jantung di dalam sini, Mak! Lebih dari satu!"

Mak Saroh mendengus, ia melangkah maju dengan angkuh meski tangannya yang memegang tasbih terus bergetar. "Memang begitu aturannya. Pengantin sudah menyatu.

Nasih sudah 'masuk' ke rumah barunya."

"Rumah baru matamu!" Bima emosi, ia mengangkat parangnya.

"Minggir, Mak! Aku mau hancurkan kotak setan ini!"

"Coba saja kalau berani," sebuah suara lembut namun dingin memotong emosi Bima.

Semua orang menoleh ke arah sudut gelap di belakang lemari tua.

Di sana, Kinasih duduk bersila. Pakaiannya masih kebaya merah semalam, tapi wajahnya... wajahnya tampak sangat segar.

Bibirnya merah alami, dan matanya yang dulu sayu kini bersinar tajam, nyaris pudar warna hitamnya menjadi abu-abu terang.

"Nasih?" Bima menjatuhkan parangnya. "Kamu... kamu nggak apa-apa?"

Kinasih berdiri pelan.

Gerakannya sangat halus, seperti tidak menapak tanah. "Aku baik, Bim.

Malah merasa lebih hidup dari biasanya."

Mak Saroh menyipitkan mata, ia melangkah mendekati Kinasih lalu mengendus udara di sekitar gadis itu. "Bau melati... tapi bukan bunga.

Kamu... kenapa kamu bisa di luar keranda sebelum aku yang buka kuncinya?"

Kinasih tersenyum tipis, senyuman yang membuat warga di belakang Mak Saroh bergidik ngeri. "Baskoro yang buka.

Dia bilang, dia nggak mau aku sesak napas di dalam sana kalau matahari sudah terbit."

"Baskoro?" salah satu warga berbisik ketakutan. "Dia panggil nama penjaga? Dia bakal kualat!"

"Siapa yang panggil aku kualat?" Kinasih menatap warga itu.

Warga tersebut mendadak memegangi lehernya, terbatuk-batuk seperti tercekik udara sendiri.

"Nasih, stop!" Bima memegang bahu Kinasih. "Apa yang kamu lakukan?"

Kinasih mengerjap, dan warga tadi langsung bisa bernapas lagi. "Maaf, Bim. Aku nggak sengaja.

Rasanya kayak ada yang gerak di pikiranku setiap ada orang yang niatnya buruk."

Mak Saroh menarik Kinasih menjauh dari Bima. "Ikut aku ke dapur, Nasih.

Kita harus 'bersih-bersih'. Bima, kamu pulang! Tugasmu sudah selesai."

"Nggak! Aku nggak akan tinggalin Nasih sendirian sama Nenek Lampir kayak Mak!"

"Biarin dia ikut, Mak," potong Kinasih dingin.

"Bima harus tahu apa yang sebenarnya kalian sembunyikan selama seratus tahun ini."

Di dapur rumah Mak Saroh yang remang-remang dan penuh bumbu dapur yang digantung, suasana makin tegang.

Mak Saroh menyodorkan segelas air putih yang dicampur kembang tujuh rupa ke depan Kinasih.

"Minum ini. Biar pengaruh 'Dia' berkurang," perintah Mak Saroh.

Kinasih hanya menatap gelas itu, lalu menggesernya pelan.

"Nggak perlu, Mak. Aku sudah sarapan."

"Sarapan apa? Aku belum masak," sahut Mak Saroh curiga.

"Sarapan memori," jawab Kinasih santai.

"Aku tahu sekarang, Mak. Baskoro itu bukan tumbal pertama. Dia itu kakak kandung dari kakekmu, kan?"

Mak Saroh menjatuhkan sendok kayunya. Prang.

"Nasih, jangan sembarangan bicara..."

"Keluarga Mak yang mulai semua ini," lanjut Kinasih sambil menatap Bima.

"Bukan demi sawah, Bim.

Tapi demi kekuasaan.

Biar keluarga Mak Saroh jadi pemimpin desa selamanya.

Mereka menjebak Baskoro, mengunci dia hidup-hidup di keranda itu supaya dia jadi 'khodam' desa."

Bima menggebrak meja.

"Jadi benar kata Sari? Ini semua cuma akal-akalan keluarga Mak?"

"Tahu apa kamu, bocah?!" Mak Saroh akhirnya meledak.

"Kalau Baskoro nggak dikunci, desa ini bakal hancur kena wabah! Itu perjanjiannya!"

"Perjanjian siapa? Manusia atau setan?" tanya Kinasih sambil berdiri.

Suaranya mendadak berubah menjadi ganda—suara gadis muda dan suara pria berat yang bergema.

"Kau masih berbohong, Saroh..."

Mak Saroh jatuh terduduk di lantai dapur. "Baskoro... maafkan aku, Paman..."

"Nasih, suaramu..." Bima mundur selangkah, ngeri melihat bayangan Kinasih di dinding dapur.

Bayangan itu tidak menyerupai Kinasih, melainkan sosok tinggi besar dengan kain kafan yang melambai.

"Aku nggak apa-apa, Bim. Baskoro cuma mau bicara," Kinasih memegang dadanya yang berdetak dua kali.

"Mak, Baskoro bilang dia sudah capek.

Dia mau berhenti jadi penjaga. Dia mau bebas."

"Nggak bisa!" Mak Saroh berteriak histeris.

"Kalau dia bebas, aku yang jadi gantinya! Itu sumpah darahnya!"

"Wah, ternyata itu alasannya Mak semangat banget jodohin aku sama keranda itu," Kinasih tertawa sinis.

"Biar Mak nggak perlu masuk ke sana, ya?"

"Nasih, ayo kita pergi dari sini," Bima menarik tangan Kinasih.

"Kita keluar dari desa ini sekarang juga."

"Nggak bisa, Bim," Kinasih menatap Bima dengan tatapan sedih.

"Aku nggak bisa jauh dari keranda itu sekarang. Jantungku... jantungku ada di dalam sana.

Dan jantung yang ada di dadaku sekarang... ini milik Baskoro."

"Apa?!" Bima melotot.

"Maksudmu kalian tukaran jantung?!"

"Semacam itu. Kalau aku pergi terlalu jauh, jantung ini bakal berhenti berdetak.

Dan Baskoro yang di dalam keranda bakal hancur.

"Kita sudah terikat, Bim."

Bima terdiam.

Ia menatap Kinasih yang kini tampak seperti dewi kematian yang cantik namun mematikan.

"Terus gimana? Kamu mau selamanya jadi 'istri' mayat?"

"Nggak. Kita bakal hancurkan kutukannya," Kinasih menoleh ke Mak Saroh yang masih meringkuk di lantai.

"Mak, kasih tahu di mana letak 'Tali Pocong Asal' itu disembunyikan. Baskoro bilang, itu kuncinya."

"Aku nggak tahu! Sumpah!"

"Bohong," Kinasih mendekati Mak Saroh.

Hawa dingin memenuhi dapur hingga air di dalam gelas membeku.

"Baskoro bilang, tali itu ada di bawah bantal tempat tidurmu, Mak.

Mau aku yang ambil, atau

Mak yang serahkan baik-baik?"

Mak Saroh gemetar hebat, ia merangkak menuju kamarnya dengan cepat.

"Bim," Kinasih memegang tangan Bima.

Tangannya sangat dingin, tapi Bima tidak melepaskannya.

"Ya, Nasih?"

"Apapun yang terjadi setelah ini... jangan benci aku, ya? Meskipun nanti aku nggak lagi jadi Kinasih yang kamu kenal di panti asuhan."

"Nasih, dengerin aku," Bima menatap mata abu-abu Kinasih dengan serius.

"Mau kamu jadi pengantin keranda, mau kamu jadi ratu hantu, atau mau kamu punya sepuluh jantung sekalipun... kamu tetap Nasih yang sering aku curi mangganya. Aku nggak akan pergi."

Kinasih tersenyum, kali ini senyumannya tulus. "Makasih, Bim."

Tiba-tiba, teriakan melengking terdengar dari kamar Mak Saroh.

Bukan teriakan marah, tapi teriakan kesakitan yang amat sangat.

"Mak!" Bima berlari menuju kamar itu.

Di sana, Mak Saroh tergeletak di lantai dengan tangan memegang sebuah tali kain putih yang sudah sangat kusam dan menghitam.

Tali itu tampak seperti ular yang melilit lengannya, membakar kulitnya hingga mengeluarkan asap berbau belerang.

"Tolong! Panas! Baskoro, tolong!"

Kinasih masuk ke kamar dengan tenang.

Ia mengulurkan tangannya. "Lepaskan talinya, Mak. Itu bukan milikmu."

Begitu Kinasih menyentuh tali itu, api gaibnya langsung padam.

Tali itu seolah-olah patuh pada Kinasih.

Ia mengambilnya, dan seketika itu juga, getaran hebat mengguncang seluruh rumah.

"Apa yang terjadi?!" Bima mencoba menahan tubuhnya agar tidak jatuh.

"Kutukannya pecah, Bim," Kinasih menatap tali di tangannya. "Baskoro... dia bebas."

Tiba-tiba, dari arah ruang tengah tempat keranda itu berada, terdengar suara ledakan keras.

Bukan ledakan api, tapi ledakan cahaya putih yang menyilaukan.

Saat debu-debu mulai tenang, mereka kembali ke ruang tengah.

Keranda jati itu sudah hilang.

Benar-benar lenyap tanpa sisa.

Sebagai gantinya, di tengah ruangan, berdiri seorang pemuda tampan dengan pakaian penari tradisional Jawa yang lengkap.

Wajahnya bersih, tapi kulitnya sepucat rembulan.

"Baskoro?" bisik Kinasih.

Pemuda itu menoleh, tersenyum dengan sangat tulus. "Terima kasih, Kinasih. Kau sudah mengembalikan namaku."

Bima melongo. "Ini... ini si 'penjaga' itu? Ternyata dia cakep juga. Pantesan kamu betah di dalam."

Kinasih menyenggol lengan Bima sambil tertawa. "Cemburu ya?"

"Dikit," gumam Bima jujur.

Baskoro melangkah mendekati mereka. "Waktuku sudah habis.

Aku harus pergi ke tempat yang seharusnya aku datangi seratus tahun lalu."

"Jantungku gimana?" tanya Kinasih.

Baskoro menyentuh dahi Kinasih.

"Sudah aku kembalikan. Rasakanlah."

Kinasih memejamkan mata.

Benar saja, detak jantungnya kembali normal. Satu detakan yang hangat dan manusiawi.

Namun, ia merasa ada sesuatu yang tertinggal.

Sebuah kekuatan kecil yang mengalir di nadinya.

"Tapi kau..." Kinasih menatap Baskoro. "Kau nggak punya siapa-siapa di sana?"

"Aku punya kedamaian, Kinasih.

Dan kau punya Bima," Baskoro melirik Bima sambil mengangguk hormat. "Jaga dia, Pemuda parang. Dia bukan lagi gadis biasa.

Dia adalah penjaga yang sesungguhnya sekarang.

Tanpa keranda, tanpa kutukan."

Baskoro perlahan-lahan memudar menjadi bintik-bintik cahaya yang harum melati.

"Eh, tunggu! Mak Saroh gimana?!" teriak Bima.

"Biarkan dia," suara Baskoro bergema untuk terakhir kalinya.

"Dia akan menghabiskan sisa hidupnya dengan mencium bau bangkai yang dulu dia ciptakan sendiri."

Kamar itu kembali sunyi.

Mak Saroh ditemukan pingsan di kamarnya, dan sejak hari itu ia tidak pernah bisa bicara lagi—hanya bisa mengerang seperti suara kayu jati yang bergeser.

Bima dan Kinasih berdiri di depan rumah yang kini terasa lebih lega.

"Jadi... kita mau ngapain sekarang?" tanya Bima sambil menyarungkan parangnya.

Kinasih menatap langit pagi yang cerah.

"Kita keluar dari desa ini, Bim. Cari sarapan yang beneran. Aku pengen bubur ayam."

"Bubur ayam?" Bima tertawa.

"Oke, tapi jangan pakai jantung ya toppingnya."

"Bim!" Kinasih memukul lengan Bima, dan mereka berdua berjalan menjauh dari rumah Mak Saroh.

Kinasih tahu, perjalanannya tidak selesai di sini.

Meskipun kutukan keranda sudah pecah, ia masih bisa merasakan

kehadiran roh-roh di sekitarnya.

Tapi kali ini, ia tidak takut.

Ia punya Bima, dan ia punya kekuatan yang diberikan Baskoro.

"Bim, tunggu," Kinasih berhenti sebentar.

"Kenapa?"

"Aku tadi lupa bilang sama Baskoro."

"Bilang apa?"

"Makasih... karena sudah bikin aku nggak merasa sendirian lagi."

Bima merangkul bahu Kinasih.

"Dia sudah tahu, Nasih. Dia sudah tahu."

Di belakang mereka, Desa Karang Jati mulai terbangun.

Dan untuk pertama kalinya dalam seratus tahun, bau melati di desa itu murni wangi bunga, tanpa ada sedikitpun aroma kematian yang mengikuti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!