Reality Bender – Sang Penguasa Kehampaan
"Di dunia di mana cahaya matahari adalah hukum, mampukah ketiadaan menjadi penyelamat?"
Dikhianati oleh kekaisaran yang ia bela dan diburu oleh takdir yang haus darah, Fang Han terbangun dengan kutukan yang mustahil: Inti Kehampaan. Kekuatan ini tidak hanya menghapus musuhnya, tetapi perlahan mengikis ingatan, emosi, dan kemanusiaannya sendiri. Setiap langkah menuju puncak kekuasaan adalah langkah menuju kegelapan abadi di mana ia terancam melupakan wajah orang-orang yang ia cintai.
Dari pelarian maut di Puncak Kun-Lun hingga menjadi tawanan di Benteng Obsidian yang mengerikan, Fang Han harus memilih: menjadi senjata pemusnah massal bagi musuhnya, atau menguasai Pedang Shatter-Fate untuk memutus rantai takdir dunia.
Ikuti perjalanan epik penuh pengorbanan, pengkhianatan politik, dan cinta yang melampaui dimensi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rendy_Tbr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AWAL DARI PENDAKIAN TERAKHIR
Fang Han merasa seolah-olah sebuah gunung diletakkan di pundaknya. Tulang-tulangnya mulai berderak keras. Setiap inci gerakannya terasa seperti menarik beban ribuan ton.
"Berlututlah... dan kembalilah ke tanah tempat asalmu," ucap Yin Chi dengan nada monoton.
Fang Han mencoba berdiri, namun gravitasi di sekitarnya begitu padat hingga udara pun terasa berat untuk dihirup. Ia melihat Mu Chen mulai sesak napas, wajahnya membiru karena tekanan pada paru-parunya.
"Han-er... gravitasi... ia hanya berpengaruh pada benda yang memiliki massa..." bisik Si Penelan Cahaya dengan susah payah.
Fang Han memahami maksudnya. Ia kembali memasuki kondisi Nirwana Sunya. Namun kali ini, ia tidak mencoba menghilang sepenuhnya. Ia memusatkan kehampaan itu di sekitar kulitnya, menciptakan lapisan tipis di mana gravitasi tidak memiliki media untuk bekerja.
Perlahan, di bawah tatapan tidak percaya Yin Chi, Fang Han berdiri tegak. Ia melangkah maju dengan ringan, seolah-olah ia sedang berjalan di atas awan, bukan di bawah tekanan gravitasi yang menghancurkan tulang.
"Mustahil!" teriak Yin Chi. Ia meniup sulingnya lebih keras, meningkatkan tekanan hingga tanah di bawah kaki Fang Han retak dan amblas sedalam satu meter.
Namun Fang Han tetap berjalan di udara yang kosong di atas lubang itu.
"Beratmu... adalah beban bagi dunia ini," ucap Fang Han.
Ia mencapai Yin Chi dalam satu kedipan mata. Ia tidak menyerang dengan kekerasan, melainkan hanya meniupkan sedikit aura abu-abu ke suling tulang tersebut. Suling itu seketika menjadi rapuh dan hancur menjadi debu. Tanpa alat medianya, gravitasi di sekitar mereka kembali normal.
Yin Chi terjatuh lemas, seluruh energi gravitasi yang ia manipulasi berbalik menekan tubuhnya sendiri yang kurus kering. Ia pingsan seketika di depan gerbang gunung.
Mu Chen terbatuk-batuk, menghirup udara dengan rakus setelah tekanan gravitasi menghilang. Ia menatap Fang Han dengan rasa hormat yang kini bercampur dengan sedikit rasa takut.
"Kau... kau benar-benar tidak masuk akal, Fang Han. Kau baru saja melewati tiga musuh paling ditakuti di wilayah ini hanya dalam satu hari."
Fang Han menatap ke arah jalan setapak yang menanjak tajam menuju awan petir merah. Di sana, di puncak yang paling tinggi, Bunga Hati Langit menunggunya.
"Perjalanan ini belum selesai," ucap Fang Han dengan suara yang tenang namun tegas.
"Musuh yang sesungguhnya belum muncul. Paman Zhou hanya punya waktu tujuh hari lagi. Kita tidak boleh berhenti di sini."
Si Penelan Cahaya berdiri di samping mereka, menatap langit yang semakin gelap.
"Pendakian ini akan menguji siapa kau sebenarnya, Fang Han. Naga Tulang Langit tidak bisa dikalahkan hanya dengan trik kehampaan. Kau harus menemukan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kekosongan."
Fang Han tidak menjawab. Ia mulai melangkah mendaki tangga batu pertama menuju Puncak Menangis. Di belakangnya, Mu Chen dan Si Penelan Cahaya mengikuti, membentuk sebuah tim yang aneh: seorang pemuda pembawa kehampaan, seorang apoteker jenius yang buron, dan seorang hantu masa lalu yang misterius.
Angin kencang mulai menderu, membawa aroma petir dan es. Di bawah cahaya kilatan merah dari puncak gunung, sosok mereka perlahan menghilang ke dalam kabut pendakian, meninggalkan lembah yang penuh dengan kehancuran para musuh yang pernah meremehkan seorang pemuda dari Desa Qinghe.
Pertarungan demi pertarungan telah menempa Fang Han. Kekuatannya telah meningkat, pemahamannya tentang Nirwana Sunya telah mencapai tahap baru. Namun, saat guntur menggelegar di atas kepala mereka, ia tahu bahwa tantangan yang akan datang akan menentukan apakah ia akan kembali sebagai penyelamat pamannya, atau akan hilang selamanya menjadi bagian dari keheningan abadi di Puncak Menangis.
Udara di lereng Puncak Menangis semakin menipis, digantikan oleh tekanan atmosfer yang berat dan kilatan petir merah yang menyambar-nyambar di cakrawala. Fang Han mendaki dengan napas yang mulai tersengal, dadanya terasa panas seolah-olah ada cairan tembaga yang mengalir di pembuluh darahnya.
Di belakangnya, Mu Chen tampak pucat, jari-jarinya terus meracik bubuk penawar racun untuk mereka hirup agar paru-paru mereka tidak meledak. Sementara itu, Si Penelan Cahaya berjalan dengan ketenangan yang mengerikan. Mata tua itu tidak lagi menatap jalan, melainkan terus terpaku pada punggung Fang Han, seolah sedang menilai sebuah barang berharga yang sebentar lagi akan menjadi miliknya.
"Han-er, kau merasa lelah?" tanya Si Penelan Cahaya dengan suara yang terdengar sangat lembut, namun menyimpan getaran yang ganjil.
"Aku baik-baik saja, Tetua. Kita harus segera sampai sebelum badai petir ini menutup jalan menuju puncak," jawab Fang Han tanpa menoleh.
Si Penelan Cahaya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya.
"Tentu. Tubuh muda memang penuh dengan vitalitas. Kau memiliki wadah yang sangat istimewa, Fang Han. Sebuah wadah yang sanggup menampung kehampaan tanpa langsung hancur. Jarang sekali aku menemukan spesimen seperti dirimu dalam ratusan tahun pengembaraanku."
Tiba-tiba, sebuah dentuman keras menggetarkan seluruh gunung. Dari balik celah tebing yang gelap, muncul sebuah sosok yang tingginya hampir tiga meter. Sosok itu bukan manusia, tapi juga bukan monster sepenuhnya. Tubuhnya terdiri dari tumpukan zirah kuno yang berkarat, dan di bagian dadanya, terdapat sebuah lentera kristal besar yang berpijar dengan warna biru pucat.
Di dalam lentera itu, terlihat sesosok jiwa yang menggeliat kesakitan, terperangkap dalam rantai energi yang menyala.
"Siapa yang berani mengusik tidur Zheng Gui, Sang Sipir Jiwa?!" suara sosok itu keluar seperti gesekan logam berat.
Zheng Gui mengangkat sebuah gada raksasa yang diujungnya terdapat duri-duri yang memancarkan energi Erosi. Keunikan kekuatannya adalah Manipulasi Beban Jiwa; setiap kali gadanya diayunkan, orang di sekitarnya akan merasa jiwa mereka ditarik keluar dari tubuh fisik, membuat gerakan mereka menjadi lambat dan kaku.
"Han-er, hati-hati!" teriak Mu Chen sambil melemparkan pil pelindung sukma. "Dia bukan menyerang fisikmu, dia menyerang jangkar jiwamu!"
Zheng Gui mengayunkan gadanya ke tanah.
DUAARR!
Gelombang kejut berwarna biru menyapu area tersebut. Mu Chen langsung tersungkur, memuntahkan darah hitam karena jiwanya terguncang hebat. Si Penelan Cahaya berpura-pura terkena dampak dan mundur beberapa langkah, membiarkan Fang Han berdiri di baris terdepan.
"Tikus kecil... berikan jiwamu untuk mengisi lenteraku!" raung Zheng Gui.
Fang Han mencoba memanggil Nirwana Sunya, namun kali ini rasanya berbeda. Setiap kali ia memanggil energi abu-abu itu, ia merasa ada bagian dari kesadarannya yang mulai menghilang. Namun, ia tidak punya pilihan.
"Kau ingin jiwaku? Cobalah ambil jika kau bisa melewati kehampaan ini!" teriak Fang Han.
Fang Han melesat maju, gerakannya terlihat terputus-putus karena beban jiwa yang diberikan oleh Zheng Gui. Ia meluncurkan pukulan ke arah zirah raksasa itu, namun pukulannya hanya melewati zirah tersebut seolah-olah Zheng Gui adalah hantu.
Brak!
Gada raksasa Zheng Gui menghantam bahu Fang Han. Meskipun Fang Han sempat melapisi tubuhnya dengan energi abu-abu, hantaman itu mengirimkan rasa sakit yang melampaui fisik. Ia merasa seolah-olah ingatannya tentang Paman Zhou sedang dicabik-cabik.
"Han-er! Jangan terlalu sering menggunakan Nirwana!" teriak Si Penelan Cahaya dari kejauhan. "Jika kau terus melakukannya, kau akan menjadi cangkang kosong sebelum pertarungan ini berakhir!"
Si Penelan Cahaya kemudian bergerak, melancarkan beberapa serangan jarak jauh untuk "membantu" Fang Han, namun serangannya sengaja dibuat meleset sedikit agar Zheng Gui tetap bisa menekan Fang Han.
"Tetua! Dia tidak memiliki tubuh fisik! Bagaimana cara melukainya?!" teriak Fang Han sambil berguling menghindari hantaman kedua.
Mu Chen, yang merangkak di tanah, berteriak dengan sisa tenaganya.
"Han-er! Lihat lenteranya! Jiwa yang tersegel di dalam sana adalah sumber kekuatannya! Rantai di dalam lentera itu adalah titik lemahnya! Jika kau bisa memutuskan rantai itu, zirah itu akan runtuh!"
Zheng Gui menyadari rencananya terbongkar. Ia mengamuk, melepaskan aura biru yang membuat seluruh area menjadi gelap. Mu Chen pingsan karena tekanan jiwa yang terlalu kuat. Si Penelan Cahaya hanya berdiri diam, menunggu momen di mana Fang Han benar-benar kelelahan.
Fang Han melihat ke arah lentera di dada Zheng Gui. Ia menyadari bahwa setiap kali Zheng Gui menyerang, cahaya di lentera itu meredup sesaat. Itu adalah jeda antara penarikan energi jiwa dan manifestasi fisik.
"Satu kesempatan... aku hanya butuh satu celah," bisik Fang Han.
Ia memaksakan dirinya untuk berdiri tegak. Kali ini, ia tidak menggunakan Nirwana Sunya untuk menyerang. Ia menggunakan teknik kehampaan untuk "menyembunyikan" jiwanya sendiri agar tidak terdeteksi oleh radar Zheng Gui.
Zheng Gui bingung. Ia kehilangan jejak mangsanya meskipun Fang Han berdiri tepat di depannya.
"Di mana kau, serangga?!" raung Zheng Gui sambil mengayunkan gadanya secara membabi buta.
Fang Han bergerak dalam bayang-bayang keheningan. Ia melompat tepat ke arah dada raksasa itu. Tangannya tidak mengepal, melainkan terbuka lebar. Ia memusatkan energi kehampaan yang sangat tipis namun tajam pada ujung jari-jarinya.
"Pemisah Takdir!"
Jari-jari Fang Han menembus kaca lentera kristal tersebut. Ia tidak menghancurkan lenteranya, melainkan langsung menyentuh rantai energi yang membelenggu jiwa di dalamnya. Dengan satu tarikan kehampaan, rantai itu terhapus dari eksistensi.
"KRAAAKKKK!"
Zirah raksasa Zheng Gui seketika membeku. Cahaya biru di matanya padam. Sosok raksasa itu runtuh menjadi tumpukan besi tua yang tak bernyawa. Dari dalam lentera yang pecah, sesosok cahaya putih lembut keluar dan melayang di depan Fang Han.