Kiara adalah definisi dari wanita modern yang ambisius. Cantik, cerdas, dan gila kerja. Baginya, satu-satunya hal yang lebih seksi daripada pria tampan adalah saldo rekening yang terus bertambah.
Hingga dia bertemu mengenal Kenan Xequel.
Kenan adalah seorang CEO yang sombong menyebalkan dan sialnya sangat tampan. Dia mewarisi kerajaan bisnis Xequel Group dan terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkannya dengan jentikan jari.
Kiara memutuskan untuk menaklukkan hati pria sialan itu berstatus bosnya, bukan karena cinta saja tapi karena dia menginginkan segalanya.. Love and Money.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momy ji ji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 3.
Kiara menatap tumpukan berkas di mejanya dengan pandangan nanar.
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam. ruangan divisi lain sudah gelap, menyisakan lampu di area kerja sekretaris dan ruang utama CEO yang masih menyala terang.
"Gila sih, ini namanya memanfaatkan kinerja karyawan," gerutu Kiara sambil memijat tengkuknya.
Pintu kaca di depannya terbuka. Kenan keluar dengan jas yang sudah tersampit di lengan, kemejanya masih rapi tanpa cela.
Dia berhenti di depan meja Kiara, menatap tumpukan kertas yang belum tersentuh.
"Belum selesai?" tanya Kenan datar.
"Bapak kasih saya laporan audit 1 minggu terakhir buat direkap dalam satu malam? bapak pikir saya mesin?" balas Kiara, matanya mulai memerah karena lelah tapi tetap menatap Kenan.
Kenan melirik jam tangannya. "Bawa ke apartemen saya."
Kiara mematung. penanya terjatuh ke lantai.
"Hah? apa tadi Pak?"
"Kita ke apartemen sekarang."
"Pak, saya ini asisten Bapak ya ampun... Pak Kenan jangan macam-macam ya. meskipun kita sudah deal tapi saya nggak jual diri!" Kiara berdiri, menyilangkan tangan di dada dengan pose sedikit dramatis.
Kenan menatapnya tanpa ekspresi.
"Aku butuh datanya besok pagi dan subuh harus kelar."
"Ya tapi kenapa harus di apartemen Pak Kenan?"
"Sistem internal kantor dikunci jam sembilan malam." Kenan berbalik arah menuju lift.
"Ikut atau saya anggap gagal." Tambahnya.
"Sialan," umpat Kiara pelan. dia dengan cepat menyambar tas dan MacBook-nya, berlari kecil mengejar langkah kaki Kenan yang lebar.
Apartemen itu terletak di lantai paling atas sebuah gedung elit di pusat kota. begitu pintu terbuka, aroma sandalwood dan kemewahan yang dingin langsung menyambut.
Kiara masuk dengan ragu, matanya menjelajahi setiap sudut ruangan yang sangat rapih dan maskulin.
Namun, langkah Kiara terhenti saat mendengar suara dari arah dapur. Suara denting piring dan gumaman kecil seorang wanita sedang berkegiatan.
Deg.
Jantung Kiara mencelos.
"Ternyata bener gosip di kantor. Ice Man ini ternyata menikah diam-diam yang romantis gitu," batin Kiara. ada rasa kecewa yang tiba-tiba menyeruak, meski dia berusaha menutupinya dengan wajah datar.
"Pak Kenan, kalau tahu begini mending saya kerjain di lobi bawah aja," ucap Kiara sinis.
Kenan tidak menjawab. dia hanya berjalan menuju sofa.
Seorang wanita paruh baya dengan celemek muncul dari balik dinding, tersenyum ramah pada Kiara.
"Eh, ada tamu ya Ken? mau dibuatkan minum apa Nona?"
Kiara melongo. "Ken?" Akrab sekali pikirnya, tapi mana mungkin ibu ibu ini istrinya pak Kenan.
"Ini bibi," kata Kenan singkat.
Kiara mengerjapkan mata, merasa bodoh karena sudah berpikiran yang bukan-bukan.
"Oh... ternyata begitu, halo bi saya Kiara. air putih aja cukup bi Makasih."
Begitu Bibi kembali ke dapur, Kiara mendekat ke arah Kenan yang sudah membuka laptopnya di meja ruang tengah.
"Saya pikir Pak Kenan tinggal sama... seseorang."
"Jangan banyak bicara. cepat kerja," sahut Kenan dingin.
Kiara mendengus, duduk di karpet bulu yang tebal dan mulai membuka berkasnya.
"Bapak sengaja ya kasih tugas sebanyak ini biar saya nggak bisa tidur?"
"Itu tugas kamu, biasa Robi yang kerjakan dan dia tidak pernah protes."
"Bapak tahu nggak, di bawah mata saya udah kayak mata panda. harga skincare saya mahal Pak. kalau saya kusam Pak Kenan mau tanggung jawab kah?"
Kenan meliriknya sekilas dari balik layar laptop.
"Fokus Kiara, jangan mengeluh."
Keheningan kembali menyelimuti ruangan itu. hanya terdengar suara ketikan keyboard yang saling bersahutan. satu jam, dua jam berlalu.
Kiara mulai merasa matanya memberat. angka-angka di layar tampak menari-nari. dia mencoba menyesap kopi yang disediakan bibi tapi rasa kantuknya sudah mencapai puncak, sebab seharian ini menjadi asisten ternyata lebih gila dari yang Ia bayangkan begitu mudah.
"Pak... ini bagian pajaknya kok nggak sinkron ya?" tanya Kiara dengan suara serak.
"Cek lampiran halaman belakang." Balas Kenan.
Kiara membolak-balik kertas dengan gerakan lambat. kepalanya terasa sangat berat. dia menyandarkan punggungnya ke kaki sofa, tanpa sadar matanya terpejam sejenak.
Hanya sejenak, pikirnya.
Kenan menutup laptopnya saat jam menunjukkan pukul dua pagi. dia meregangkan otot lehernya yang kaku lalu pandangannya jatuh ke bawah, ke arah wanita yang sejak tadi tidak berhenti mengoceh namun kini sangat sunyi.
Kiara tertidur pulas dengan posisi duduk di lantai, kepalanya bersandar di pinggiran sofa.
Beberapa lembar kertas audit berserakan di sekitarnya. wajahnya yang biasanya penuh dengan keberanian dan binar nakal, kini terlihat sangat tenang dan... lelah.
Kenan memperhatikan wajah itu cukup lama.
"Berani sekali dia tidur di sini," gumamnya pelan.
"Biasanya Robi tidak tidur." Tambahnya mendekat.
Dia berjongkok, meraih pot bunga berniat membangunkan Kiara dengan itu agar wanita itu pindah ke kamar tamu, namun tangannya berhenti di udara saat melihat bekas coretan tinta di pipi Kiara.
Sepertinya wanita itu tanpa sengaja mencoret wajahnya sendiri saat terkantuk-kantuk tadi.
Kenan mengambil tisu dari meja, lalu dengan gerakan yang sangat pelan dan seolah takut memegang kulit Kiara. dia mengusap noda tinta itu.
Tiba-tiba, Kiara menggeliat. dia membuka matanya perlahan dan langsung bertemu dengan sepasang mata Biru Kenan yang berada hanya beberapa senti dari wajahnya.
"Pak Kenan?" Kiara berbisik, suaranya masih serak khas orang bangun tidur.
Kenan langsung menarik tangannya kembali, berdiri dengan cepat seolah baru saja tersengat listrik. wajahnya kembali membeku.
"Pindah ke kamar tamu, sekarang."
Kiara mengucek matanya, mencoba mengumpulkan kesadaran. "Jam berapa sekarang? pekerjaan saya gimana?"
"Selesai, saya yang lanjut tadi."
Kiara melongo, nyawanya langsung terkumpul seratus persen.
"Bapak yang lanjutin? terus 1 miliar saya gimana? masih dihitung kan?"
Kenan berjalan menuju kamarnya tanpa menoleh.
"Tidur, besok pagi jangan telat."
"Pak, ditanya apa jawabnya apa," Kiara berdiri sambil merapikan pakaiannya yang kusut. sia menatap punggung Kenan dengan senyum penuh kemenangan.
"Makasih ya Pak Kenan. ternyata bapak nggak sedingin itu kalau saya lagi pingsan."
Kenan berhenti di depan pintu kamarnya,
"Kamu tidur bukan pingsan."
"Iya deh terserah Bapak! tapi hati-hati ya Pak. nanti kalau saya mimpiin Bapak, jangan protes!" teriak Kiara sambil berjalan menuju kamar tamu.
'Misalnya di dalam mimpi itu dia ngasih 1 miliar cuma-cuma.' Gumam Kiara senyum-senyum.
Di balik pintu kamarnya, Kenan menyandarkan punggung. dia melihat telapak tangannya yang tadi sempat mengusap pipi Kiara walau terhalang tisue. ada sensasi hangat yang tidak biasa tertinggal di sana.
"Terlalu berbahaya," bisik Kenan pada kesunyian kamarnya.
Kiara merebahkan dirinya di kasur empuk yang wangi lavender itu. dia menatap langit-langit kamar dengan mata berbinar.
"Satu atap sama Kenan Xequel?," Kiara terkekeh pelan.
"Ini...... Ini chek-in kan?" Kiara berdiri dan melompat kegirangan, dia berniat mengabari Tasya bahwa sekarang mereka sedang chek-in.
Bersambung...
tetap semangat berkarya 💪💪💪👍👍👍🥰🥰🥰
maafkan daku kak..salah ketik 🤣🤣😭