Arumi tidak pernah menyangka bahwa hari paling membahagiakan bagi kakaknya, Siska, akan menjadi awal dari penjara tak kasat mata baginya. Tepat di hari pernikahan megah yang telah dirancang keluarga, Siska melarikan diri demi kekasih lamanya, meninggalkan hutang besar dan kehormatan keluarga yang dipertaruhkan.
Demi menyelamatkan wajah orang tua dan melunasi hutang budi, Arumi terpaksa menggantikan posisi sang kakak di pelaminan. Ia menikah dengan Adrian Pramoedya, seorang CEO muda yang dingin, kaku, dan menyimpan luka mendalam akibat pengkhianatan Siska.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Sandiwara di Balik Cahaya Pesta
Seminggu telah berlalu sejak malam pernikahan yang canggung itu. Arumi mulai terbiasa dengan ritme hidup di rumah minimalis milik Adrian. Pagi hari ia menyiapkan sarapan, siang hari ia berkutat dengan draf novelnya di ruang tengah yang bermandikan cahaya matahari, dan malam hari mereka makan bersama dalam keheningan yang mulai terasa... tenang. Tidak ada pertengkaran hebat, tidak ada drama air mata. Adrian tetaplah Adrian yang kaku, namun ia tidak lagi sekaku es kutub.
Namun, ketenangan itu terusik ketika sebuah undangan fisik berwarna emas mendarat di meja makan suatu pagi.
"Malam ini ada perayaan ulang tahun perusahaan kolega utama Pramoedya Group," ujar Adrian sambil menyesap kopi hitamnya. Ia menatap Arumi yang sedang mengoles selai ke rotinya. "Ini acara publik besar pertama kita. Kamu harus ikut."
Arumi menghentikan gerakan tangannya. Jantungnya berdesir. "Publik? Maksudnya... akan banyak kamera?"
"Ya. Dan kemungkinan besar ada yang akan bertanya-tanya mengapa pengantinnya terlihat berbeda dari foto-foto pertunangan Siska yang sempat beredar di media sosial beberapa bulan lalu," Adrian meletakkan cangkirnya, tatapannya mengunci manik mata Arumi. "Kita harus terlihat sangat serasi. Jangan biarkan ada celah untuk gosip yang bisa menjatuhkan saham perusahaan."
Arumi menelan ludah. "Aku akan berusaha, Mas."
"Asistenku akan mengirimkan penata rias dan gaun sore ini. Pastikan kamu siap jam tujuh malam."
Sore itu, rumah mereka berubah menjadi salon dadakan. Seorang penata rias profesional sibuk memulas wajah Arumi, sementara asisten Adrian membawakan sebuah kotak besar berisi gaun malam. Arumi terpana saat melihat isinya
sebuah gaun A-line berwarna biru navy dengan aksen payet perak di bagian bahu. Sangat elegan, namun tetap tertutup dan sopan—sangat mencerminkan kepribadian Arumi, bukan gaya Siska yang biasanya lebih berani dan glamor.
Apakah Mas Adrian yang memilihkan ini? batin Arumi bertanya-tanya.
Pukul tujuh tepat, Adrian mengetuk pintu kamar utama. Saat Arumi membuka pintu, ia mendapati suaminya sudah mengenakan tuksedo hitam yang pas di tubuh tegapnya. Adrian terdiam sejenak saat melihat Arumi. Rambut Arumi disanggul modern yang simpel, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah lembutnya.
"Kamu... terlihat pantas," ujar Adrian singkat.
Meskipun kalimatnya terdengar biasa, ada kilat apresiasi di matanya yang dingin.
Adrian mengulurkan lengannya. "Ingat, di sana nanti, jangan jauh-jauh dariku. Jika ada yang bertanya hal yang sulit, biarkan aku yang menjawab."
Arumi menyelipkan jemarinya di lengan Adrian. "Baik, Mas."
Gedung pertemuan tempat acara berlangsung sangat megah. Lampu sorot dan karpet merah menyambut mereka. Benar saja, begitu mereka turun dari mobil, jepretan kamera wartawan langsung menyambar. Arumi merasa silau dan sedikit pening, namun ia merasakan genggaman tangan Adrian di jemarinya menguat, seolah memberinya kekuatan cadangan.
"Tersenyumlah sedikit, Arumi," bisik Adrian di telinganya, sangat dekat sehingga napas hangatnya menyentuh kulit Arumi. "Anggap saja ini bagian dari riset novelmu."
Arumi terkekeh kecil mendengar gurauan tak terduga itu. Ketegangannya sedikit mencair. Ia mencoba tersenyum sealami mungkin saat mereka memasuki aula besar yang dipenuhi orang-orang kelas atas Jakarta.
Ujian pertama datang ketika mereka dihampiri oleh sepasang suami istri paruh baya yang merupakan pemegang saham di perusahaan Adrian.
"Selamat, Adrian! Akhirnya kamu membawa istrimu," ujar sang pria paruh baya, Pak Broto. Ia menatap Arumi dengan dahi berkerut. "Eh, tapi tunggu... bukankah di foto pertunangan kemarin, nona ini terlihat... sedikit berbeda? Rambutnya atau wajahnya?"
Jantung Arumi mencelos. Ia melirik Adrian, bersiap untuk kemungkinan terburuk.
Adrian tertawa kecil—sebuah tawa yang terdengar sangat meyakinkan bagi siapa pun yang mendengarnya. "Ah, Pak Broto teliti sekali.
Siska memang memutuskan untuk tampil lebih alami setelah pernikahan. Dia sedang bosan dengan gaya glamor ala model. Dan jujur saja, saya jauh lebih menyukai penampilannya yang sekarang. Lebih menenangkan hati, bukan?"
Adrian merangkul pinggang Arumi dengan posesif namun lembut. Arumi merasa wajahnya memanas.
"Oalah, begitu toh. Memang benar, aura pengantin baru itu beda ya," timpal Ibu Broto sambil tersenyum menggoda. "Selamat ya, Jeng Siska—eh, panggilannya apa sekarang?"
"Panggil Arumi saja, Bu," jawab Arumi dengan suara yang diusahakan tetap stabil. "Nama tengah saya yang lebih sering digunakan keluarga sekarang."
Adrian menatap Arumi dengan tatapan 'kerja bagus' yang sangat tipis. Mereka berhasil melewati rintangan pertama.
Namun, acara belum selesai. Saat Adrian sedang berbincang serius dengan kolega bisnis di sudut ruangan, Arumi memilih untuk berdiri di dekat meja prasmanan, sedikit menjauh dari kerumunan. Ia butuh bernapas sejenak.
"Wah, wah... jadi ini sang pengantin pengganti?"
sebuah suara sinis terdengar dari belakangnya.
Arumi berbalik dan menemukan seorang wanita muda cantik dengan gaun merah menyala. Itu adalah Clarissa, sosialita yang kabarnya pernah mengejar-ngejar Adrian namun ditolak mentah-mentah.
"Aku tidak menyangka Adrian serendah itu sampai mau menikahi 'cadangan' demi saham," cibir Clarissa sambil menyesap minumannya.
"Semua orang di lingkaran dalam tahu Siska kabur, Arumi. Kamu pikir kamu bisa bertahan berapa lama sebelum Adrian bosan melihat wajahmu yang... standar ini?"
Arumi merasa tertohok. Kata-kata Clarissa tepat mengenai rasa tidak percaya diri yang selama ini ia pendam. Ia merasa kecil, merasa seperti barang imitasi yang dipaksakan.
"Setidaknya," suara dingin Adrian tiba-tiba terdengar di belakang Arumi. Arumi tersentak, tidak menyadari kapan suaminya kembali. "Wajah 'standar' yang kamu sebut itu adalah wajah yang membuatku ingin pulang ke rumah setiap hari, Clarissa."
Adrian berdiri tepat di samping Arumi, menatap Clarissa dengan tatapan meremehkan yang mematikan. "Dan aku tidak ingat pernah mengundang orang yang tidak tahu tata krama ke dalam lingkaran bisnisku. Jika kamu tidak punya hal positif untuk dikatakan kepada istriku, pintu keluar ada di sebelah sana."
Wajah Clarissa memerah padam karena malu. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan pergi dengan langkah cepat.
Arumi menatap Adrian dengan tak percaya. "Mas... kenapa Mas bicara begitu?"
Adrian menunduk menatapnya, ekspresinya kembali datar namun matanya tidak lagi sedingin es. "Aku tidak suka orang luar menghina apa yang sudah menjadi milikku, Arumi. Meskipun ini hanya kontrak, martabatmu adalah martabatku juga."
Arumi terdiam. Kata-kata itu, meski terdengar pragmatis, tetap memberikan rasa aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Perjalanan pulang malam itu kembali sunyi, namun suasananya berbeda. Tidak ada lagi ketegangan yang menyesakkan. Arumi menatap keluar jendela, memikirkan kejadian di pesta tadi.
"Mas," panggil Arumi pelan saat mobil memasuki halaman rumah mereka.
"Ya?"
"Terima kasih untuk yang tadi. Di depan Clarissa... dan Pak Broto."
Adrian mematikan mesin mobil namun tidak segera turun. Ia menatap setir mobil sejenak sebelum menoleh ke arah Arumi.
"Clarissa hanya bicara sampah. Jangan dimasukkan ke hati. Dan soal gaun itu..." Adrian menggantung kalimatnya. "Asistenku bilang kamu cocok memakai warna navy. Ternyata dia benar."
Arumi tersenyum tipis. "Mas sendiri yang memilihkan warnanya?"
Adrian berdeham, tampak sedikit salah tingkah—sebuah pemandangan langka. "Hanya kebetulan lewat di depan butik kemarin."
Arumi tertawa kecil. Kebetulan? Seorang CEO sibuk seperti Adrian tidak pernah melakukan sesuatu secara kebetulan.
Saat mereka berjalan memasuki rumah, Arumi merasa kakinya sedikit pegal. Ia melepas sepatu hak tingginya di ruang depan dengan napas lega.
"Besok tidak ada acara lagi," ujar Adrian sambil melonggarkan dasinya. "Kamu bisa fokus menulis novelmu lagi. Ngomong-ngomong, bab berapa sekarang?"
"Bab sepuluh, Mas. Tentang seorang pria dingin yang ternyata punya sisi tersembunyi," jawab Arumi jahil.
Adrian menaikkan sebelah alisnya. "Oh ya? Pastikan dia tidak terlalu membosankan di novelmu."
"Aku akan usahakan," balas Arumi sambil berjalan menuju kamarnya.
Malam itu, sebelum tidur, Arumi membuka laptopnya. Ia menghapus satu paragraf tentang 'suami yang kejam' dan menggantinya dengan deskripsi tentang 'pria yang membela istrinya di depan orang lain'.
Ternyata, hidup bersama Adrian tidak selalu tentang kesepakatan bisnis. Ada celah-celah kecil yang mulai terbuka, dan Arumi mulai menikmati proses menemukan apa yang ada di balik dinding es itu. Konflik ringan hari ini justru membuat mereka selangkah lebih dekat.
Arumi memejamkan mata dengan senyum yang masih tersisa. Besok adalah hari baru, dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa takut menjadi istri pengganti.