Sihirnya tajam, hampir terlalu sempurna untuk usianya. Mantra yang lain pelajari selama bertahun-tahun, ia pahami hanya dalam hitungan detik. Namun, setiap kilau kekuatan yang ia tunjukkan justru menjadi bayangan yang menjauhkannya dari yang lain.
Mereka menyebutnya dingin.
Mereka menyebutnya sombong.
Padahal, yang tak pernah mereka lihat adalah badai sunyi yang ia peluk sendirian.
Evelyn tidak pernah memilih untuk menjadi berbeda. Tapi sihir di dalam dirinya… terasa seperti sesuatu yang hidup—berdenyut, berbisik, seolah menyimpan rahasia yang bahkan ia sendiri takut untuk sentuh.
Dan di balik tatapan tenangnya, tersembunyi pertanyaan yang terus mengendap:
Apakah ia mengendalikan sihir itu… atau justru sedang perlahan dikuasai olehnya?
- Believe in magic -
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Batas yang Tak Terucap
Malam di kota Riston turun tanpa suara, seperti rahasia yang sengaja disembunyikan dari dunia. Lampu-lampu sihir menyala redup di sepanjang jalan berbatu, memantulkan cahaya lembut yang tampak hangat… tapi tidak benar-benar menghangatkan.
Langkah Evelyn Edison terdengar pelan, teratur, seolah ia sudah tahu ke mana ia akan pergi bahkan sebelum ia mulai berjalan.
Di tangannya, buku “Gerbang yang Terlupakan” masih ia genggam erat.
Ia tidak kembali ke asrama.
Tidak juga ke aula.
Langkahnya membawanya keluar dari area Sekolah Sihir Everton, menuju wilayah yang lebih sepi, lebih sunyi… tempat para guru tinggal.
Rumah-rumah di sana berbeda.
Tidak sebesar menara sekolah, tapi memiliki aura yang lebih berat. Lebih… tua. Seolah setiap dinding menyimpan cerita yang tak pernah diceritakan di kelas.
Evelyn berhenti di depan sebuah rumah kecil dengan jendela yang memancarkan cahaya kekuningan.
Ia mengetuk.
Satu kali.
Dua kali.
Tak lama, pintu terbuka perlahan.
Seorang wanita paruh baya berdiri di sana. Tatapannya tajam, namun tidak dingin. Ia adalah guru yang mengajar tadi sore.
“Evelyn?” suaranya rendah, sedikit terkejut. “Malam-malam begini?”
Evelyn menunduk sedikit, bukan karena ragu… tapi karena menata pikirannya.
“Aku ingin bertanya sesuatu.”
Wanita itu mengamatinya beberapa detik, lalu membuka pintu lebih lebar.
“Masuklah.”
Rumah itu hangat, dipenuhi rak buku dan benda-benda sihir yang tersusun rapi. Aroma teh dan kertas tua bercampur menjadi satu, menciptakan suasana yang anehnya… menenangkan.
“Duduk,” kata wanita itu singkat.
Evelyn duduk.
Wanita itu ikut duduk di depannya.
“Apa yang ingin kamu tanyakan?”
Evelyn tidak langsung menjawab. Ia menatap buku di tangannya, lalu perlahan mengangkat wajahnya.
“Adakah caranya… untuk masuk ke dunia manusia?”
Sunyi.
Pertanyaan itu menggantung di udara seperti mantra yang belum selesai.
Tatapan wanita itu berubah.
Lebih dalam.
Lebih serius.
“Tidak ada.”
Jawabannya cepat. Tegas. Tanpa celah.
“Kita adalah penyihir,” lanjutnya. “Dan kamu…” ia menatap Evelyn lebih lama, “adalah calon penyihir hebat. Jangan sampai kamu memikirkan cara untuk masuk ke dunia manusia.”
Evelyn terdiam.
Tidak ada bantahan.
Tidak ada pertanyaan lanjutan.
Namun di dalam dirinya, pikirannya mulai berbisik. Seperti apa manusia…? Apakah mereka benar-benar hidup tanpa sihir?Apakah aku… bisa menjadi salah satu dari mereka?Apakah aku bisa… meminta dilahirkan sebagai manusia? Pertanyaan itu terasa aneh
Terlalu jauh. Tapi juga… terlalu dekat untuk diabaikan.
“Evelyn.” Suara wanita itu memotong pikirannya. “Kamu terlalu banyak berpikir.”
Evelyn mengangkat pandangannya. Wanita itu kini bersandar sedikit, namun auranya terasa lebih berat.
“Manusia takut pada penyihir,” katanya pelan. “Bagi mereka, kita bukan sesuatu yang indah. Kita dianggap makhluk terkutuk.”
Evelyn mengernyit. “Ter… kutuk?”
“Ya.”
“Kenapa?”
Wanita itu tersenyum tipis. Bukan senyum hangat. Lebih seperti senyum yang menyimpan sesuatu.
“Karena mereka tidak mengerti.”
Ia berhenti sejenak.
“Atau mungkin… karena mereka pernah mengerti.”
Evelyn terdiam lagi.
Kalimat itu terasa seperti teka-teki.
“Hentikan apa yang ingin kamu ketahui,” lanjut wanita itu. “Dunia manusia tidak seperti yang kamu pikirkan.”
Evelyn menatapnya lurus.
“Maksud anda?”
Wanita itu mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan.
“Mungkin kekuatanmu hebat,” katanya pelan, tapi tajam, “tapi pemikiranmu… hanya sekecil pemikiran bayi.”
Kata-kata itu jatuh tanpa ampun.
Evelyn tidak langsung bereaksi.
Namun untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang terasa… menusuk.
“Ma… maksud anda?” tanyanya, suaranya tetap tenang, tapi lebih pelan.
Wanita itu menarik napas.
“Kamu terlalu polos, Evelyn.”
Ia menatap gadis itu dalam-dalam.
“Kamu selalu beranggapan bahwa semuanya baik. Bahwa dunia akan berjalan sesuai dengan harapanmu.”
Evelyn mengepalkan tangannya pelan.
“Berhentilah naif,” lanjutnya. “Karena itu… akan menghancurkanmu.”
Sunyi kembali mengisi ruangan. Namun kali ini, sunyi itu terasa lebih berat.Lebih padat.
Lebih nyata. Evelyn menunduk sedikit.
Kata-kata itu berputar di kepalanya.
Naif.
Polos.
Seperti bayi.
Ia tidak marah.
Tidak tersinggung.
Namun ada sesuatu yang bergerak di dalam dirinya.Sesuatu yang tidak nyaman.
“Kalau begitu…” katanya pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri, “kenapa dunia kita disembunyikan?”
Wanita itu terdiam.Pertanyaan itu tidak dijawab langsung. Waktu seolah berhenti sejenak.Lalu…“Karena tidak semua hal perlu ditemukan kembali.”
Jawaban itu tidak menjelaskan apa pun.
Namun justru membuat segalanya terasa lebih rumit. Evelyn mengangkat wajahnya.
Tatapan mereka bertemu.Ada sesuatu yang berbeda di mata wanita itu sekarang.Bukan sekadar guru.Bukan sekadar seseorang yang memberi peringatan.Tapi seseorang yang… tahu lebih banyak dari yang ia katakan.
“Pulanglah, Evelyn.”
Suara itu lebih lembut kali ini.
“Ini bukan jalan yang harus kamu tempuh.”
Evelyn tidak langsung berdiri.Ia menatap buku di tangannya sekali lagi. “Gerbang yang Terlupakan.” Judul itu terasa lebih berat sekarang.Seperti bukan sekadar tulisan.
Tapi… undangan.
Perlahan, ia bangkit.
“Terima kasih,” katanya singkat.
Ia berbalik, melangkah menuju pintu.
Namun sebelum ia keluar—
“Evelyn.”
Ia berhenti.
“Ya?”
Wanita itu tidak langsung berbicara.Seolah memilih kata-kata yang tepat.“Atau mungkin… mencoba tidak mengatakan terlalu banyak.”
“Jika suatu hari nanti kamu menemukan sesuatu yang tidak seharusnya kamu temukan…” Ia menatap Evelyn dalam-dalam.
“Jangan dibuka.”
Evelyn tidak menjawab.Ia hanya mengangguk pelan.Lalu pergi.
Malam menyambutnya kembali. Udara terasa lebih dingin.Langkahnya tetap tenang, tapi pikirannya… tidak lagi sama.Manusia takut pada penyihir…
Makhluk terkutuk…
Naif…
Semua kata itu berputar, bertabrakan, membentuk sesuatu yang tidak bisa ia abaikan lagi. Ia berhenti sejenak di tengah jalan.
Menatap langit yang gelap. Sihir di dalam dirinya berdenyut.
Lebih kuat.
Lebih dalam.
Seolah merespons sesuatu yang belum ia pahami. Evelyn menggenggam bukunya lebih erat.“Kalau memang tidak ada jalan…” bisiknya pelan.“Maka aku akan menemukannya.”
Angin malam berhembus pelan, membawa suara yang hampir tak terdengar.
Seperti bisikan.
Atau… peringatan.
Namun satu hal kini jelas—
Rasa penasaran di dalam dirinya bukan lagi sekadar pertanyaan.
Ia telah berubah menjadi tujuan.
Dan tujuan itu… tidak akan berhenti hanya karena seseorang berkata “tidak.”