Raisa Maureen ditinggal mati suaminya di dalam kondisi masih prawan, lalu ia melakukan hubungan satu malam dengan kakak iparnya karena pria itu mabuk berat dan kehilangan keperawanannya. setelah menikah dengan Evan ia baru mengetahui kenapa selama ini Aditya almarhum suaminya tidak pernah menyentuhnya. Apa yang sebenarnya terjadi? ikuti kelanjutan kisah nya hanya disini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyubur kandungan
"Ini hidup aku," ucap Raisa tegas, suaranya bergetar menahan emosi. "Bukan cuma tentang keluarga mas… atau tentang mas."
Evan menghela napas, mencoba menahan kesal.
"Tapi, Raisa—"
"Cukup," potong Raisa cepat. "Turunin aku di sini."
Evan mengerutkan kening, menoleh sekilas.
"Kamu kenapa sih keras kepala banget?"
Raisa balas menatap tajam.
"Terserah aku. Lagian mas ngapain sok peduli? Biasanya juga dingin."
Evan mengepalkan setir, rahangnya mengeras.
"Raisa, bentar lagi sampai. Aku temenin kamu ke dokternya."
"Berhenti sekarang atau aku loncat," ancam Raisa tanpa ragu.
Evan langsung menginjak rem, mobil berhenti di depan lobby rumah sakit.
"Udah… kita sampai," ucapnya menahan emosi. "Aku temenin kamu masuk."
"Gak usah," jawab Raisa dingin sambil membuka pintu. "Aku bisa sendiri."
Ia turun tanpa menoleh lagi, langkahnya cepat masuk ke dalam rumah sakit menuju bagian pendaftaran dokter spesialis kandungan.
Evan masih diam di dalam mobil, matanya mengikuti kepergian Raisa.
"Jangan-jangan… dia mau minta pil KB sama dokter kandungan gak bisa dibiarkan ini…" gumamnya dalam hati.
Ia segera memarkirkan mobil, lalu meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Hallo, Dokter Maya," ucap Evan begitu panggilan tersambung. "Saya minta tolong… kalau nanti ada pasien atas nama Raisa Maureen, dan dia minta pil KB… tolong diganti dengan penyubur kandungan."
Di seberang, suara Dokter Maya terdengar ragu.
"Memangnya dia siapa, Pak? Saya tidak bisa sembarangan seperti itu."
Evan menarik napas, lalu menjawab dengan nada memohon.
"Raisa itu pacar saya, dok. Dia lagi ngambek… saya mohon bantuannya."
Hening sejenak, lalu Dokter Maya kembali bicara, nadanya sedikit berubah.
"Jadi… setelah menduda beberapa bulan, sekarang Anda sudah punya calon istri?"
Evan tersenyum tipis.
"Dokter Maya bisa saja… tolong ya, saya benar-benar minta bantuan."
Ada jeda beberapa detik sebelum akhirnya suara di seberang mengalah.
"Baik… bisa diatur, Pak. Nanti sekalian saya berikan asam folat."
Evan menghembuskan napas lega.
"Terima kasih, dok…"
Raisa berdiri di depan meja pendaftaran, suaranya sedikit gugup.
"Permisi… saya mau daftar ke poli kandungan."
Petugas mengangguk, lalu memproses datanya.
"Baik, Ibu Raisa. Silakan ke lantai dua, nanti dipanggil sesuai antrean."
Raisa mengangguk pelan, lalu berjalan menuju lift. Tangannya masih menggenggam tas erat. Pikirannya penuh.
Sesampainya di lantai dua, ia duduk sebentar sebelum namanya dipanggil. Ia masuk ke ruang pemeriksaan untuk pengecekan awal.
"Tensinya sedikit naik, Bu. Mungkin karena tegang," ujar perawat sambil tersenyum.
Raisa hanya mengangguk pelan.
Tak lama kemudian.
"Ibu Raisa, silakan masuk ke ruang dokter."
Raisa berdiri, lalu mengetuk pintu perlahan.
"Permisi, dok…"
"Silakan duduk, Bu Raisa," sambut dokter dengan ramah. "Apa yang bisa saya bantu?"
Raisa duduk dengan canggung, menatap tangannya sendiri sebelum akhirnya berbicara.
"Saya… habis melakukan hubungan intim pertama kali, dok. Dan sekarang terasa perih…"
Dokter mengangguk memahami.
"Baik, itu cukup umum terjadi pada hubungan pertama, terutama jika tubuh belum sepenuhnya relaks atau kurang pelumasan," jelasnya dengan tenang. "Apakah ada perdarahan atau nyeri yang berlebihan?"
Raisa ragu sejenak, lalu mengangguk pelan.
"Ada sedikit darah… dan masih perih sampai sekarang."
"Baik," jawab dokter. "Itu bisa terjadi karena robekan kecil pada selaput dara atau iritasi jaringan. Biasanya akan membaik dalam beberapa hari. Saya bisa berikan obat untuk membantu penyembuhan dan mengurangi rasa nyeri."
Raisa menarik napas, lalu melanjutkan dengan hati-hati,
"Saya juga… ingin minta pil KB, dok."
Dokter menatapnya lebih serius, tapi tetap dengan nada profesional.
"Baik, sebelum itu saya perlu memastikan beberapa hal," ujarnya. "Apakah Ibu memang ingin menunda kehamilan?"
"Iya, dok," jawab Raisa cepat.
"Apakah sudah didiskusikan dengan suami?" tanya dokter lagi.
Raisa menunduk sebentar, lalu mengangguk.
"Sudah, dok."
Dokter mencatat sesuatu di berkasnya.
"Baik. Jadi, untuk kontrasepsi, ada beberapa pilihan. Pil KB adalah salah satu metode hormonal yang cukup efektif jika diminum secara rutin setiap hari pada waktu yang sama," jelasnya.
Ia melanjutkan dengan lebih rinci,
"Namun, pil KB tidak melindungi dari infeksi menular seksual, dan bisa memiliki efek samping ringan seperti mual, pusing, atau perubahan siklus haid di awal pemakaian."
Raisa mendengarkan dengan serius.
"Selain pil, ada juga metode lain seperti suntik KB, implan, atau IUD. Semua punya kelebihan dan kekurangan masing-masing."
Raisa mengangguk pelan.
"Saya… pilih pil saja, dok."
Dokter tersenyum tipis.
"Baik. Nanti saya resepkan. Tapi saya juga sarankan untuk memastikan kondisi tubuh Ibu dalam keadaan baik. Saya akan tambahkan suplemen seperti asam folat untuk kesehatan reproduksi."
Raisa sedikit terkejut, tapi hanya mengangguk.
"Iya, dok…"
Dokter menutup berkasnya.
"Nanti obatnya bisa diambil di apotek. Kalau ada keluhan lain atau nyeri tidak membaik dalam beberapa hari, silakan kontrol kembali."
Raisa berdiri perlahan.
"Terima kasih, dok…"
Namun di dalam hatinya, ia masih diliputi kegelisahan yang belum juga mereda.
Raisa keluar dari ruang dokter dengan langkah pelan. Tangannya menggenggam resep, wajahnya masih terlihat tegang. Ia langsung menuju apotek rumah sakit untuk menebus obat.
Sementara itu, di dalam ruangan, Dokter Maya meraih ponselnya lalu menghubungi Evan.
"Hallo, Pak Evan," ucapnya setelah sambungan tersambung.
"Ya, dok?" jawab Evan cepat.
"Saya sudah meresepkan obat untuk Ibu Raisa," lanjut Dokter Maya dengan nada tenang. "Sesuai permintaan Anda… saya berikan vitamin, asam folat, dan suplemen penyubur kandungan."
Evan terdiam sejenak, lalu menghembuskan napas lega.
"Baik, dok… terima kasih banyak."
"Namun saya ingatkan, Pak," tambah Dokter Maya sedikit tegas. "Penggunaan suplemen tetap harus berdasarkan kebutuhan pasien. Jangan sampai ini merugikan beliau."
Evan tersenyum tipis, meski tak terlihat.
"Saya mengerti, dok. Saya cuma ingin yang terbaik untuk dia."
Dokter Maya menghela napas pelan.
"Semoga saja begitu, Pak Evan."
Telepon pun terputus.
Di sisi lain, Raisa berdiri di depan apotek, menyerahkan resep tanpa tahu bahwa isi obat yang akan ia terima… bukan seperti yang ia harapkan.
udah tau juga belang Aditya..
udah dengerin aja,jangan jadi orang yang sok tau gimana Aditya
udah di obok obok tiap hari msak gak mau dinikahi..
ada2 aja,kemana harga diri Mu Sa
pak David tukang kibul malah dikibulin...
anak sendiri pula pelakunya 🤣🤣🤣🤣
Cuma Raisa yang disini gak tau kelakuan Aditya