NovelToon NovelToon
Checkpoint

Checkpoint

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:612
Nilai: 5
Nama Author: Quoari

Novel ini memiliki karakter utama wanita bernama Aiena. Gadis berusia dua puluh lima tahun di awal mulai cerita yang terjebak di dalam hubungan yang tidak sehat dengan pacarnya.

Tiap hari ulang tahun adalah kesempatan untuk checkpoint bagi Aiena. Apabila ia mengatakan ia bahagia dan puas dengan hidupnya, maka itu menjadi titik checkpoint-nya. Sebaliknya, ia suatu hari pada ulang tahunnya ia menyesal akan keputusannya dan mengatakan ingin kembali ke masa lalu, maka ia otomatis kembali ke titik checkpoint terakhirnya.

Bermula dari penyesalannya tidak bisa memberikan yang keturunan bagi suami yang begitu mencintainya, Aiena di masa kini berniat kembali ke masa lalu untuk menghindari toxic relationship dengan mantannya dan bertemu jodohnya, pria yang di masa kini menjadi suaminya lebih cepat dalam kondisi yang lebih baik. Namun ketika Aiena mengulang cerita hidupnya, ia justru bertemu orang lain yang tidak mampu ia tolak pesonanya.

Cerita menjadi semakin kompleks ketika Aiena menyadari siapa pria yang merebut hatinya itu, bertemu dengan sang mantan pacar toxic, dan bertemu dengan pria yang dipercaya sebagai jodohnya dalam situasi yang kini jauh berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quoari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Haze

“Na, Haze sudah di depan. Jangan buat dia nunggu lama lagi,” suara Mama membuat sisir di tangan Aiena terhenti di tengah helaian rambutnya yang kusut. Ia menatap pantulan dirinya di cermin, lingkaran hitam di bawah matanya tampak makin jelas dan wajahnya juga makin tirus.

“Aku belum siap, Ma. Suruh dia pulang,” sahutnya lirih, tanpa menoleh. Hanya melihat separuh wajah Mama yang muncul dari celah pintu melalui cermin meja rias. 

“Jangan konyol, Na. Dia kesini buat antar kamu kerja. Cepat rapi-rapi, atau Mama yang akan menyeretmu keluar.”

Hembusan napas kasar lolos dari bibir Aiena. Ia tahu mendebat Mama hanya akan membuang energi yang bahkan tidak ia miliki. Dengan gerakan kasar, ia meletakkan sisir itu ke meja rias, lalu berdiri. Merapikan sekali lagi pakaiannya sebelum beranjak keluar kamar.

Langkah kakinya terasa berat. Tubuh, otak, dan hatinya sepakat untuk tidak mau bertemu dengan Haze. Namun ja terpaksa. Sandal diseret saat Aiena berjalan, menciptakan suara gesekan yang memekakkan telinga di rumah yang sunyi itu. Begitu sampai di ambang pintu ruang tamu, sosok dengan pundak lebar itu sudah berdiri, membelakanginya sambil menatap figura foto keluarga yang tertempel di dinding.

“Lama sekali, Sayang?” Haze berbalik. Senyumnya terkembang sempurna, jenis senyum yang bagi Mama adalah pesona, namun bagi Aiena adalah racun. Pria itu melangkah mendekat, tangannya terulur seolah ingin mengusap pipi Aiena. 

Refleks, Aiena memundurkan kepalanya satu inci, membuat tangan Haze menggantung di udara selama beberapa detik sebelum akhirnya pria itu menurunkannya dengan tawa kecil yang terdengar hambar.

Haze bertanya, nadanya lembut namun matanya menatap tajam, menuntut pengakuan, “kenapa ponselmu mati semalam, hmm? Aku cemas sampai nggak bisa tidur.”

“Baterainya habis,” dusta Aiena. Ia menunduk, menghindari kontak mata yang selalu membuatnya merasa telanjang dan terintimidasi.

“Lain kali jangan diulangi, ya?” Haze mendekat lagi, kali ini tangannya mendarat di bahu Aiena, meremasnya cukup kuat hingga gadis itu meringis tertahan. “Mau berangkat sekarang?”

Aiena hanya bisa mengangguk pasrah. Ia merasakan tatapan Mama dari balik tembok dapur yang mengisyaratkan bahwa ia harus patuh. Di ruang tamu itu, di bawah cengkeraman tangan Haze, Aiena merasa dunianya kembali menyempit, hanya menyisakan aroma parfum Haze yang kini terasa mencekik.

***

“Lepaskan tanganku, Haze. Ini sakit.”

Cengkeraman Haze di pergelangan tangan Aiena justru mengencang, membuat kuku-kuku pria itu memutih di atas kulit Aiena yang pucat. Haze tidak menoleh, matanya lurus menatap jalanan dengan rahang yang mengeras. Ia memutar kemudi dengan satu tangan, membelokkan mobilnya masuk ke deretan ruko kosong yang terbengkalai, jauh dari jalur utama menuju kantor.

“Sakit? Kamu pikir gimana rasanya berdiri di depan kantormu selama tiga malam, Aiena?” Suaranya rendah, bergetar oleh amarah yang tertahan. Mobil berhenti mendadak, membuat tubuh Aiena tersentak ke depan, yang untungnya masih terlindung oleh sabuk pengaman yang ia pakai.

Mesin tidak dimatikan, hanya saja diubah ke mode parkir dan tuas rem tangan ditarik naik. Haze melepas sabuk pengamannya, lalu bergeser mendekat hingga tubuhnya menghimpit ruang gerak Aiena. Tangan kanannya naik, menarik dagu Aiena agar menatapnya paksa.

“Jelasin sekarang. Lewat mana kamu keluar semalam? Aku menunggu di sana sampai jam dua pagi, Na.”

“Aku cuma mau pulang, Haze. Tolong, biarin aku tenang,” rintih Aiena, air mata mulai membasahi sudut matanya.

Tangan Haze berpindah ke leher Aiena, tidak mencekik, namun ibu jarinya menekan nadi di sana dengan tekanan yang mengintimidasi. “Kamu pikir kamu bisa lari dari aku? Aku tahu kamu pulang numpang mobil bosmu semalam. Aku tahu!”

Aiena tersentak, napasnya tertahan di tenggorokan. “Kamu… lihat?”

“Aku tahu semuanya, Aiena. Kamu nggak bisa nyembunyiin apapun dari aku,” desis Haze, wajahnya kini hanya berjarak beberapa senti dari wajah Aiena.

Tangan kirinya terulur mengeluarkan ponsel Aiena dari tas gadis itu. “Hidupin sekarang. Aku mau cek apa aja isinya.”

“Nggak mau! Itu privasiku!” tolak Aiena, meski sebenarnya tidak apa rahasia apapun yang ia sembunyikan.

Satu pukulan keras mendarat di sandaran kursi tepat di samping telinga Aiena, membuat gadis itu memejamkan mata rapat-rapat. Haze tertawa, suara yang lebih mirip geraman binatang. “Privasi? Nggak ada privasi antara kita. Kamu milikku, Na.”

Jemari Haze mengusap air mata di pipi Aiena dengan gerakan yang mendadak lembut, kontras yang mengerikan. “Jangan nangis. Aku gini karena aku cinta kamu lebih dari siapapun. Sekarang, nyalain ponselnya, atau kita nggak akan pernah sampai ke kantor hari ini.”

Aiena menatap tangan Haze yang masih menggenggam ponselnya yang mati, menyadari bahwa jalan ini sepi dan bisa menjadi saksi bisu apa pun yang ingin pria ini lakukan padanya. Dengan tangan terpaksa, ia meraih ponsel itu dan menyalakannya. Membiarkan Haze memeriksa semua isinya seperti yang biasa pria itu lakukan selama bertahun-tahun sejak mereka resmi berpacaran.

***

1
Wid Sity
eaaa, ngobrol apa tu
Wid Sity
pantesan gerak-geriknya Shane aneh
Quoari: Iya, mengganggu konsentrasi
total 1 replies
Wid Sity
ngakak banget salah nyebut panggilan 🤣
Quoari: Untung yang lain nggak ngeh
total 1 replies
Wid Sity
ternyata matanya Shane plus
Quoari: Minus
total 1 replies
Wid Sity
ternyata Shane grogi juga
Quoari: Iya, setelah semalam keceplosan
total 1 replies
Wid Sity
Halah, ngeles aja pak
Quoari: Masih malu malu dia 🤭
total 1 replies
Wid Sity
aw, jadi tersipu malu 🤭
Wid Sity
kayaknya takut dilacak oleh Shane, makanya menghilang dan ganti nomer
Quoari: Iya, melarikan diri dari shane
total 1 replies
Wid Sity
harusnya lega dong. Ini kenapa perasaanmya jadi kosong, jangan2 Aiena masokis ya
Quoari: Karena udah lama sama haze, udah sayanf sbenernya
total 1 replies
Wid Sity
kalian kepo ya kalo ada orang berantem
Quoari: Iya, apalagi bosnya sendiri yang berantem
total 1 replies
Quoari
Memang segitu redflagnya
Quoari
Makanya Aiena nurut biar cepet
Quoari
Iya, udah berapa kali
Wid Sity
lama juga menghilangnya, untung gak dipecat
Quoari: Sembuhnya lama. Ga dipecat karena shane
total 1 replies
Wid Sity
hey, sadar Na. Kamu kesakitan kan gara2 Haze. Jangan luluh
Wid Sity
harusnya kamu minta maaf utk hal lain sat. Gak sadar diri salahnya apa
Quoari: Emang gitu dia. Pinter manipulasi perasaannya aiena
total 1 replies
Wid Sity
tapi kalo kamu meninggal duluan gara2 melakukan hal aneh2. Ortumu lebih terpukul lagi, Na
Quoari: Untungnya nggak terjadi
total 1 replies
Wid Sity
kok Aiena gak mau cerita ya? Kalo cerita kan bisa dibantu. Kalo dipendem sendiri, selamanya akan terjerat dengan Haze dong
Quoari: Percuma, haze yang dibela
total 1 replies
Wid Sity
Haze tu tampang malaikat tapi berhati iblis
Quoari: Betul
total 1 replies
Wid Sity
Haze gila ya, cemburu sama darah daging sendiri. Enggak mau ada anak. Kalo gak mau ada anak, harusnya jangan kawin, sat. Doyan kawin doang, gak mau anaknya
Quoari: Emang egois dan posesif
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!