Adelin Azzura tak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan seorang ustaz bernama Afwan Zaid, setelah masa lalunya ternoda oleh kekerasan seksual dari seorang lelaki asing.
Hidup Adelin yang penuh luka dan drama begitu bertolak belakang dengan cara pandang Afwan yang selalu memegang teguh prinsip Islam, bahwa setiap takdir telah diatur oleh Allah.
Namun Adelin tak pernah benar-benar jujur tentang masa lalunya. Ia memendam trauma itu sendirian.
Sampai akhirnya Afwan mulai dilanda konflik batin ketika Adelin selalu menolak disentuh.
Akankah rumah tangga mereka bertahan?
Ataukah berakhir dengan kalimat cerai yang sering dikaitkan dengan godaan jin dasim?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasatii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Jangan Menyentuhku
“Adelin!” Sebuah suara terdengar dari luar rumah. Tiba-tiba … pintu rumah terbuka. Mas Afwan pulang setelah aku dirundung cemas dan kekalutan.
“Adelin? Kamu aman?” tanya Mas Afwan pelan seraya menghampiriku dengan langkah pelan.
Aku terdiam. Menatap nanar ubin beralaskan karpet sederhana di ruang tamu itu. Kulihat, di ambang pintu kamar, Hamzah terbangun dari tidurnya. Ia menangis. Mungkin kaget mendengar teriakanku.
“Sayang, kamu kenapa? Apa ….”
“Apa Mas nggak bisa kasih kabar aku kalau Mas pulang telat? Aku cemas Mas!”
Kulihat, Mas Afwan terdiam lama menatapku. Hingga tiba-tiba … sebuah pelukan kini mendarat di tubuhku. Rasa aman itu, pun kembali menyapa. Aku merengek bagai anak kecil kehilangan ayahnya. Kupukul pelan dadanya, sambil sesekali menepis air mata bodoh itu.
“Aku ini … kenapa?” suara hatiku menggema. Aku, begitu nyaman dengannya. Ia bagai nyawa baru dalam hidupku. Yang tak bisa kulepas begitu saja.
“Umi! Umi!” Kudengar suara tangisan Hamzah. Ia memanggilku.
Aku melepas pelukan Mas Afwan. Namun, Mas Afwan justru lebih dulu menghampiri Hamzah. Ia menggendongnya, dan menenangkannya kembali.
Dari kejauhan, aku melihat caranya menenangkan buah hatinya. Penuh kasih sayang, tanpa sedikit pun ia membentak. Hingga Hamzah, kini benar-benar terlelap kembali.
“Sayang, Hamzah sudah tidur. Kamu lelah, ya? Aku bawain nasi goreng buat kamu,” tanya Mas Afwan seraya memberikan nasi goreng padaku. Kutarik napas dalam, kemudian kembali menuai senyuman.
***
Hujan mulai reda. Suasana malam yang semula mencekam, kini telah membaik. Aku dan Mas Afwan tengah makan malam bersama di ruang makan. Hingga tiba-tiba … sebuah kalimat lolos dari lisan Mas Afwan.
“Setelah ini, kita mulai, ya.”
Aku tersedak seketika saat mendengar kalimat itu. Kupandang wajahnya yang terlihat datar dan menikmati nasi goreng tersebut. Lantas, Mas Afwan kembali menyambung kalimatnya.
“Mulai belajar ngajinya.” Aku menghela napas panjang kembali. Kuteguk air putih di hadapanku sekali teguk. Tiba-tiba, Mas Afwan mengernyitkan dahinya.
“La! La, Sayang!”
Aku menautkan kedua alisku heran. Lalu bertanya ….
“Ada apa, Mas?”
“Kita disunnahkan untuk minum tiga tegukkan. Seperti ini. Bismillah ….” Ia mempraktikkan padaku cara minum yang benar seperti apa. Aku mengangguk pelan seraya mengulangi cara minumku. Kulihat, Mas Afwan tersenyum lantas mencium keningku.
“Maafkan aku, ya. Tadi aku nggak bilang dulu kalau aku ada urusan ke pusat kota,” ucapnya kemudian seraya menaruh gelas minumnya di atas meja makan.
Aku mengangguk lantas menuai senyuman padanya.
Malam yang sunyi, jam menunjuk pukul setengah dua belas malam. Namun, mataku belum juga terlelap. Aku mencoba duduk, dan bersandar pada sandaran kasur. Kulihat, Mas Afwan sudah terlelap. Sepertinya ia benar-benar sudah lelah. Aku mencoba hendak beranjak dari kasur. Ingin menuju dapur untuk mengambil minum.
Akan tetapi, sebuah tangan menahanku.
“Mau ke mana?” tanya Mas Afwan. Ia tersadar dari lelapnya.
“A … aku mau minum.”
“Biar aku ambil.”
“Tidak usah, Mas. Aku saja, ya.” Aku berjalan menuju dapur. Namun, aku merasa seseorang mengintaiku di balik pintu dapur. Kuabaikan semua itu, lalu kembali pada tujuan awalku, yaitu mengambil minum. Namun, perasaan cemas semakin memuncak. Hingga tiba-tiba … sebuah suara menelusup di telingaku.
“Adelin! Kamu bukan perawan.”
“Nggak! Setan dari mana itu?” Aku lantas berlari menuju kamar. Membuka pintu kamar dengan kasar, lalu menutup diriku di balik selimut tebal ini. Aku menggigil ketakutan. Hingga tanpa sengaja, aku meremas tanganku dengan kuat saat tangan ini mencoba mencari ketenangan di balik pelukanku.
Suara-suara gaib itu semakin nyata. Hingga mengganggu waktu tidurku.
“Pergi! Pergi!”
“Adelin? Kenapa, Sayang?”
“Ada setan! Ada setan di telingaku. Usir dia, Mas,” keluhku seraya menyeka telingaku seolah mengusir sesuatu di sana.
Kulihat, Mas Afwan memerhatikan sekitarnya. Hingga ia pun bangkit dari kasur lalu berkata ….
“Kita lupa merukiah rumah ini sebelum masuk,” ucap Mas Afwan. Ia lantas berlalu ke luar kamar—mengambil seember air dari dalam toilet, kemudian memasukkan sebungkus garam ke dalamnya. Kulihat, ia tertunduk sambil memejamkan mata. Mulutnya pun mulai berkomat-kamit seolah tengah membacakan ayat-ayat rukiah.
“Bismillah!” Mas Afwan menyipratkan sebagian air itu ke area dapur, lalu beralih menuju ruang tamu tempat di mana aku sempat berteriak, lalu menuju ruang makan, dan kamar Hamzah, juga kamar kami berdua. Ia bahkan melakukannya juga di luar rumah. Segala sisi kini telah disirami air rukiah.
“Alhamdulillah, sudah. Kita sudah bisa tidur. Ayo tidur!” ajaknya seraya memegang bahuku dan mendorongnya ke dalam kamar.
“Jangan lupa mohon perlindungan Allah dengan doa sebelum tidur. Ayat kursi, surah Al-Ikhlas, Al-falaq dan An-Nas. Thoyyib?”
Aku mengangguk pelan, kemudian melanjutkan tidur kami yang tertunda.
“Oh ya, tadi kamu mau minum, kan? Aku ambilkan, ya.”
“A … aku ikut!” ucapku lagi seraya menahan tangan Mas Afwan. Mas Afwan tersenyum hangat lantas menganggukkan kepala.
***
“Minumnya duduk. Ingat tiga tegukkan, ya.” Kuamalkan saran-sarannya. Sehabis minum, kami kembali masuk ke dalam kamar.
Kamar yang sedikit tenang ini, sedikit menenangkan jiwaku. Tiba-tiba … aku teringat Hamzah yang tidur sendirian. Aku kembali bangkit dan ingin membawanya ke dalam kamar.
“Ke mana lagi, Sayang?” tanya Mas Afwan heran seraya mengernyitkan dahinya.
“Hamzah, aku takut dia kenapa-napa,” jawabku dengan wajah panik.
“Nggak, kok. Kan, ada Allah. Udah, yuk kita tidur. Atau … kamu mau kita cairkan suasana dengan obrolan dulu?”
Aku lantas menggeleng lalu berkata ….
“Tidurlah. Aku juga ingin tidur.”
“Baik. Biar kamu nggak takut, peluk aku, ya.” Aku lantas memeluknya dengan perasaan canggung. Kami menyatu dalam kehangatan. Hingga akhirnya, aku terlelap sudah.
***
“Sayang,” suara itu memanggilku lembut. Kurasakan hawa hangat kini menyentuh dadaku. Hingga ketika mataku terbuka … aku terkejut bahwa kini aku tak lagi mengenakan sehelai benang pun.
“Boleh, kan?”
Aku terpaku dalam hening. Tubuhku bagai membeku. Jantungku berdetak tak sesuai dengan iramanya. Mataku membelalak saat melihat Mas Afwan juga tak lagi mengenakan pakaian. Hingga tanpa sadar, aku meneriakinya.
“Jangan menyentuhku!”
jangan mau!
.
Masih banyak cobaan yang belum kamu cobain,
kamu masih belum merasakan betapa bahagianya saat menang GA, kamu belum merasakan betapa bahagianya CO nol rupiah di tanggal kembar. It's amazing Adelin.🤣
Oke, semoga kamu baca komentarku ini, sebelum lantai dasar gedung itu menerima suara gedebugh mu🔥🔥🔥🔥🔥
Akhirnya penasaran dengan kata Bugh di ujung paragraf, apa itu suara tubuh Adelin yang memilih terjun ke bawah sana? atau apa?