Violet Evania, ia merupakan seorang gadis yang mempunyai pandangan berbeda tentang pernikahan. Baginya, menikah berarti neraka.
Bukan tanpa alasan dia berpikir demikian. Karena semua itu, di pelajari, dari pernikahann orang tuanya. Sang ayah yang ringan tangan, dan mulut setajam silet, mampu merubah pandangannya.
Disisi lain, Ryhs Sinclair, seorang CEO di perusahaan Developer Perumahan ternama, ia malah beranggapan jika menikah artinya mengikat. Sedangkan ia butuh kebebasan seperti burung-burung yang berterbangan liar di langit sana.
Bagaimana jika dua orang dengan tujuan yang sama, malah disatukan dalam ikatan pernikahan?
Yuk, ikuti kisahnya di novel ini ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muliana95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ke Panti Asuhan
Seperti biasa. Violet melangkah dengan tatapan tajam. Dia hanya mengangguk pada beberapa orang yang menyapanya.
Tak ada teman, apalagi sahabat.
Violet terlalu tertutup. Dia membatasi diri dari semua hubungan yang mungkin terjadi.
Selain tak percaya sama orang-orang. Dia juga gak mau membuat orang-orang menyadari luka batinnya.
Tiba di lantai, tempatnya bekerja, Rysh sudah ada disana. Seperti biasa.
Lelaki itu, selalu saja datang lebih pagi darinya. Bahkan Violet pernah datang satu jam lebih awal dari jadwalnya, dan Rysh juga sudah ada di sana, lebih dulu.
Dan bahkan Violet pernah menjemput Rysh di hotel, ketika jam 4 subuh. Dan seperti biasa. Lelaki itu masih saja bisa bekerja dengan semestinya.
Violet mulai membuka komputernya. Dia mencek beberapa email dan laporan yang masuk. Tak lupa, dia juga memeriksa beberapa berkas sebelum menyerahkannya pada Rysh nantinya.
"Mbak, tolong bawakan aku caffe latte," pinta Violet pada seorang office girl yang lewat.
"Baik mbak Vio,"
Setelah memilah dan membalas beberapa email, sesuai jadwal Rysh. Baru lah, Violet mengetuk pintu ruangan Rysh.
"Masuk ..." perintah dari dalam sana.
"Selamat pagi, pak Rysh," sapa Violet, menunduk sekilas.
"Heum, lanjutkan," ucap Rysh, dengan tatapan yang masih fokus ke layar komputernya.
"Jam dua belas nanti, akan ada pertemuan dengan Bu Melvi, di restoran Black Star. Lanjut jam setengah empat akan ada pertemuan dengan pak Subrata di restoran yang sama," ucap Violet, dengan jarak sekitar dua meter dari Rysh.
Rysh membuka kaca matanya, memijit pelan batang hidungnya. Menunggu Violet, menjelaskan lebih detail, kegiatannya hari nanti.
"Jam lima, bapak janjian main golf dengan artis Shilla,"
"Batalkan," ucap Rysh.
"Baik ..." ujar Violet, sembari memberitahu manager si artis. "Kalo begitu, bisakah anda bertemu dengan Bu Salma?" tanya Rubi hati-hati.
"Bu Salma?" Rysh mengernyit.
"Beliau pemilik yayasan panti asuhan yang selama ini anda menjadi donatur disana. Sudah beberapa bulan dia selalu ingin bertemu dengan anda. Bukan untuk meminta tambahan dana. Melainkan ingin berterima kasih secara langsung, pada anda," jelas Violet.
"Apakah itu penting? Bukankah kamu sering mendatanginya? Jadi itu sama saja?"
"Bukan hanya bu Salma yang ingin bertemu dengan anda. Tapi puluhan anak-anak juga ingin berterima kasih, pada sosok yang telah melindungi mereka dari kelaparan," terang Violet, menggigit bibirnya.
Tepat saat itu, Rysh melihat.
"Aish ..." Rysh mendengus.
"Baiklah, kita akan kesana setelah bertemu dengan pak Subrata," putus Rysh kemudian.
Violet mengangguk. Dia pun berlalu.
"Vio," panggil Rysh.
Violet menghentikan langkahnya, dan menoleh.
"Pergilah," ucap Rysh. Karena tak tahu, kenapa dia memanggilnya.
"Cantik, tapi dia gak mungkin aku ajak untuk kerja sama. Karena dia terlalu polos," gumam Rysh menghembus napas kasar.
✨✨✨
Setelah pertemuan dengan klien. Kini, Violet dan Rysh menunju ke panti asuhan Penuh Kasih. Disana, dia ingin bertemu langsung dengan pengurusnya.
"Kita hanya pergi dengan tangan kosong?" tanya Rysh, melirik Rubi sekilas.
"Saya telah menyiapkan oleh-oleh. Mungkin, mobilnya tak jauh di belakang kita," balas Violet, fokus ke layar tabletnya.
"Ya ,,, seharusnya aku tak mengkhawatirkan itu. Karena kamu, bisa menghandle-nya," lirih Rysh.
Entah kenapa, setiap bersama Violet dia selalu merasa gak ada topik, untuk di ajak bicara. Dan mungkin, hanya Violet satu-satunya wanita, yang tidak menatapnya dengan kagum, bahkan cinta.
Tiba disana, kedatangan mereka telah di tunggu oleh bu Salma, dan beberapa pengurus lainnya.
Violet, memeluk erat, tubuh wanita yang sudah dikenalinya itu.
"Ini, pak Rysh bu," ujar Violet, memperkenalkan Rysh sama bu Salma.
"Setelah sekian lama, akhirnya anda datang kemari pak," bu Salma menyalami Rysh.
Kini mereka bertiga sudah berada di ruang khusus tamu penting di panti. Ketiga duduk di bantal sofa, sembari menikmati suguhan yang telah disediakan.
"Terima kasih banyak pak, tanpa anda mungkin anak-anak gak bisa mendapatkan makanan dan pakaian yang layak. Memang benar, anda bukan satu-satunya pendonor di pondok. Tapi anda merupakan satu-satunya pendonor paling besar dan tetap disini. Aku dan anak-anak sangat bahagia," Salma menatap penuh rasa bangga pada Rysh.
"Mungkin dari sekian banyaknya pendonor, hanya anda satu-satunya yang menyembunyikan indentitas," sambung Salma lagi.
"Ahh, anda terlalu berlebihan. Bukan kah, berbuat kebajikan itu, hanya boleh di ketahui oleh salah satu tangan saja?" kekeh Rysh.
"Iya anda benar," balas bu Salma, mengangguk setuju.
Namun, pernyataan Rysh barusan, sempat membuat Violet kagum beberapa saat.
Hampir empat puluh menit mereka mengobrol di dalam, dan Rysh berjanji akan menjadi donatur tetap untuk panti, selagi usahanya baik-baik saja.
Akhirnya, mereka berdua pamit undur diri dari sana. Mengingat jika Rysh masih ada beberapa laporan yang harus di periksa.
Begitu keluar, seorang gadis yang memakai kupluk mendekati Rubi.
"Hai Aisha, bagaimana kabarmu?" tanya Violet, mensejajarkan tinggi tubuhnya, pada gadis pucat itu.
Mata bening itu menatap Violet beberapa saat, kemudian mengeluarkan mahkota yang di buat dari bunga dari balik sweaternya.
"Untuk kak Vio," lirihnya.
Violet sontak menunduk, membiarkan Aisha memakaikan di kepalanya.
"Cantik," puji Aisha dengan mata berbinar.
Setelah itu, dia buru-buru memeluk Violet, erat.
Violet menatap bu Salma yang ada di sampingnya. Gelengan dari bu Salma membuat Voilet memejamkan matanya.
Akhirnya, Violet membalas pelukan itu, dengan sama eratnya.
Sedangkan Rysh, menatap datar pemandangan di depannya. Tak tahu, apa yang sebenarnya terjadi.
Setelah Aisha dibawa oleh pengurus lain untuk istirahat, Violet dan Rysh kembali melangkah.
"Sudah stadium akhir, tak ada lagi harapan," tutur bu Salma lirih.
Mata Violet langsung berkaca-kaca.
"Maksudnya?" tanya Rysh yang mendengar penuturan bu Salma.
"Aisha menderita leukimia. Dan kedua orang tuanya telah tiada. Dia di titipkan oleh kerabatnya disini, karena mereka gak sanggup menjaganya," terang bu Salma.
"Oo Tuhan, anak sekecil ini?" Rysh bertanya dengan nada tak percaya.
"Bahkan itu hanya bagian kecil pak Rysh. Rata-rata anak disini malah di titipkan karena orang tuanya tak mampu. Seperti mereka yang lahir dari keluarga tak mampu, ataupun dari pasangan muda yang belum menikah," papar Bu Salma.
Rysh menggeleng-gelengkan kepalanya. Itulah, salah satu alasannya untuk selalu menjaga keamanan ketika berhubungan.
Dia gak mau wanita-wanita itu hamil. Selain gak mau bertanggung-jawab, dia jelas gak mau anaknya di telantarkan.
"Saya akan membiayainya hingga sembuh," ujar Rysh, tegas.
"Gak ada harapan pak. Bahkan, sebagian donasi dari bapak, kami gunakan untuk mengobatinya. Termasuk, datang, ke dokter terbaik di negeri ini," ujar bu Salma, membuat Rysh dan Violet saling memandang.