NovelToon NovelToon
PARTNER SIALAN!

PARTNER SIALAN!

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / CEO / Enemy to Lovers / Komedi
Popularitas:342
Nilai: 5
Nama Author: Dedik Januari Purnomo

"Dedikasi Aruna Pradipta adalah mahasiswa Teknik yang jago musik dengan otak serupa prosesor komputer. Baginya, cinta adalah variabel yang tidak logis. Namun, dunianya yang presisi hancur berantakan saat bertemu Reyna Salsabila, mahasiswa Akutansi yang kebanyakan tugasnya sebagai auditor keuangan bar-bar yang hobi makan seblak dan punya suara frekuensi tinggi.

Dari lab riset di Desa Pinus hingga drama sosialita di Singapura, mereka terjebak dalam audit perasaan yang penuh sabotase saus sambal dan teror terasi. Apakah logika Dedik sanggup menghitung besarnya cinta untuk partner sialannya? Atau justru Reyna yang akan meng-audit hati sang Robot Aquarius?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: Apartemen Sempit & Tetangga Berisik

Bandara Changi itu sangat megah, bersih, dan wanginya seperti aroma kesuksesan yang sudah difilter tiga kali.

Lantainya mengkilap sampai-sampai gua bisa ngaca buat benerin daster rangkap dua gua yang sekarang bikin gua kelihatan kayak atlet sumo lagi liburan.

Tapi, kemegahan itu mendadak terganggu oleh sebuah fenomena biologis-kimiawi yang menyerang indra penciuman semua orang di area pengambilan bagasi.

“Excuse me, what is that smell?”tanya seorang bule di depan gua sambil nutup hidung pake sapu tangan mahal.

Gua membeku. Baunya tajam, menyengat, dan sangat... familiar. Bau terasi goreng pedas khas buatan Ibu Kost gua.

"Ded..." bisik gua panik sambil narik-narik ujung kemeja Dedik yang lagi fokus nungguin koper di conveyor belt. "Bau terasinya bocor, Ded. Kayaknya toples sambel gua pecah gara-gara tekanan udara pesawat."

Dedik narik napas dalam-dalam lewat hidung, benerin kacamatanya, lalu menatap gua dengan pandangan 'Gua-Sudah-Bilang-Apa'.

"Secara molekuler, bau terasi itu punya daya difusi yang sangat tinggi, Rey. Apalagi kalau dicampur minyak panas. Itu koper lo udah bukan koper lagi, tapi senjata biologi ilegal."

Begitu koper pink fanta gua muncul di ban berjalan, baunya makin meledak. Koper itu basah di satu sudut. Orang-orang langsung jaga jarak seolah-olah koper gua itu isinya limbah nuklir.

"Ded, gimana nih? Nanti kalau ditangkep gimana?" gua udah mau nangis.

"Tenang," kata Dedik lempeng. Dia ngambil koper itu, terus dia ngeluarin botol semprotan kecil dari ranselnya.

"Ini adalah penetral bau berbasis enzim yang gua bikin sendiri buat bersihin Lab kalau Arlan abis makan pete. Tapi gua nggak yakin bisa ngalahin terasi Desa Pinus."

Kita jalan ke arah imigrasi dengan langkah seribu. Gua berusaha akting biasa aja, tapi bau sambel itu ngikutin kita kayak bayangan. Pas di depan petugas imigrasi yang mukanya galak banget, jantung gua berasa mau copot.

“Passport, please,”kata si petugas. Dia mulai ngerutin dahi. “What is that pungent smell coming from your luggage?” 

Gua udah megap-megap mau jawab, tapi Dedik langsung maju dengan wajah paling serius sejagat raya.

“Sir, that is a specific organic compound used for acoustic sensor calibration,” jawab Dedik dengan bahasa Inggris yang sangat lancar dan terdengar sangat meyakinkan.

“We are researchers from Indonesia working on a project with the National University here."

"The compound is a derivative of fermented marine protein used to test the sensitivity of bio-acoustic sensors. It’s harmless, but biologically active.” 

Si petugas melongo. “Fermented marine protein? You mean... shrimp paste?” 

“High-grade bio-active shrimp essence, Sir. For science,” tegas Dedik tanpa kedip.

Petugas itu ngelihatin Dedik, ngelihatin gua, terus ngelihatin koper pink gua yang rembes.

Mungkin karena dia males ribet urusan 'sains' yang baunya kayak dapur emaknya, dia langsung ngecap paspor kita. “Just... get out of here quickly. Go to your lab.” 

Begitu keluar dari bandara, gua langsung meluk Dedik kenceng banget. "GILA LO! High-grade bio-active shrimp essence?! Hahaha! Lo emang raja ngeles internasional!"

"Itu namanya adaptasi terminologi terhadap birokrasi, Rey. Ayo cepet, sebelum bau ini memicu evakuasi satu bandara," Dedik narik koper gua menuju pangkalan taksi.

***

Setelah drama bau terasi, kita akhirnya nyampe di alamat apartemen yang dikasih pihak investor. Letaknya di daerah Queenstown. Katanya sih "apartemen subsidi" atau HDB. Begitu masuk ke unitnya... gua bengong.

"Ded, ini kamar atau kotak korek api?" tanya gua sambil ngelihatin ruangan yang sempitnya minta ampun. Kasurnya cuma satu (dan itu single bed!), ada meja kecil, dan dapur yang lebarnya cuma selangkah.

"Secara fungsional, ini udah cukup buat satu orang peneliti dan satu asisten emosional yang hobinya bawa ulekan batu," jawab Dedik sambil naruh tasnya.

Dia langsung ngeluarin alat-alat aneh dari ranselnya: ada sensor suhu, termometer digital, sama alat pengukur kelembapan.

"Ded, lo ngapain?!"

"Gua harus mastiin sirkulasi udara di sini optimal. Kalau kelembapannya di atas 60%, otak gua bakal lemot kodingnya," jawabnya sambil nempel-nempel sensor di dinding pake isolasi.

Gua nggak peduli soal kelembapan. Gua sibuk bongkar koper. Gua ngeluarin kompas kecil buat nyari arah kiblat. Gua muter-muter di ruangan itu sampe pusing. "Ded, kiblat ke mana ya? Kok gua bingung."

"Arah 292 derajat dari utara, Rey. Lo hadap ke arah jendela itu, geser dikit 15 derajat ke kiri."

"Logikanya, kalau lo sholat hadap tembok itu, lo udah bener," sahut Dedik tanpa nengok, tangannya lagi sibuk nyolok kabel ke stopkontak Singapura yang lubangnya tiga.

Gua pun sholat di pojokan, sementara Dedik sibuk sama "laboratorium mini"-nya. Begitu selesai, gua baru sadar satu hal yang sangat krusial.

"Ded, laper. Lo nggak laper apa?"

"Laper. Tapi gua harus kalibrasi sistem dulu."

"Makan Indomie aja ya? Gua bawa banyak nih!" gua semangat ngebuka koper. Begitu gua buka bungkusan mie-nya, gua baru sadar... "DED! KITA NGGAK PUNYA KOMPOR!"

Dedik berenti ngetik. Dia nengok ke arah dapur yang kosong melompong. "Oh iya. Apartemen model begini biasanya nggak boleh pake kompor gas. Harus pake kompor listrik induksi."

"Gimana dong? Masakan gua gimana? Ulekan gua gimana?!" gua mulai panik lagi.

"Tenang," Dedik berdiri, dia nyamperin koper gua, terus ngambil rice cooker yang gua bawa.

"Secara termodinamika, rice cooker ini bisa dipake buat numis bumbu dan ngerebus mie. Gua bakal modifikasi sirkuit pemanasnya biar suhunya bisa mencapai titik didih lebih cepet."

Gua cuma bisa geleng-geleng kepala ngelihat Dedik ngebongkar bagian bawah rice cooker gua pake obeng kecil yang dia bawa di saku celananya. "Lo bener-bener macgyver versi robot ya."

Tiba-tiba, kedengeran suara ketukan pintu yang sangat kencang. TOK! TOK! TOK! 

"Siapa sore-sore gini?" gua jalan buka pintu. Begitu pintu kebuka... gua pengen nutup lagi rasanya.

"Hai, Tetangga!" Clarissa berdiri di sana, pake baju olahraga yang ketat banget seolah-olah dia mau maraton keliling Singapura. Dia bawa kotak pizza mahal.

"Gimana unitnya? Nyaman kan? Aku sengaja minta pihak kantor buat naruh aku di unit sebelah, biar aku bisa mantau progres Dedik 24 jam."

Gua melotot. "Unit sebelah?! Lo tinggal di sini juga?!"

"Tentu saja. Sebagai konsultan ahli, aku harus memastikan variabel riset Dedik tetap stabil," Clarissa masuk gitu aja tanpa diundang.

Dia ngerutin hidung pas nyium sisa bau terasi yang masih nempel. "Duh, bau apa ini? Bau bangkai ya?"

"Itu bau kebahagiaan, Cla. Lo nggak bakal paham karena idung lo cuma bisa nyium bau duit," bales gua ketus.

Dedik keluar dari dapur, tangannya item-item kena oli rice cooker. "Cla, lo ganggu konsentrasi gua. Gua lagi ngerjain optimasi perangkat masak."

Clarissa ngelihatin rice cooker yang berantakan di lantai.

"Ya ampun, Ded! Kamu jenius riset internasional, masa masih ngurusin barang rongsokan kayak gitu? Ayo makan pizza sama aku di balkon. Aku udah pesen yang paling mahal."

"Gua lebih milih makan mie hasil modifikasi sistem gua sendiri," jawab Dedik lempeng. "Dan Clarissa, secara logika, kunjungan tanpa janji temu itu nggak efisien. Silakan keluar."

Gua pengen teriak "YES!" kenceng-kenceng. Clarissa cuma bisa mendengus, naruh pizzanya di meja, terus keluar sambil ngebanting pintu.

***

Malam itu, Singapura hujan deres banget. Gua dan Dedik duduk lesehan di lantai, makan Indomie yang dimasak pake rice cooker hasil modifikasi Dedik.

Rasanya... luar biasa enak! Mungkin karena ada rasa perjuangan di dalemnya.

"Ded," panggil gua sambil nyuap mie.

"Hm?"

"Lo beneran nggak nyesel milih apartemen sempit ini dibanding tinggal di rumah mewah Clarissa yang di Orchard itu?"

Dedik berenti makan. Dia natap jendela yang berembun. "Rey, secara logika, rumah mewah itu cuma tumpukan semen dan kemewahan fungsional."

"Tapi di sini, meskipun sempit, oksigennya terasa lebih 'bernyawa' karena ada lo. Gua nggak butuh ruangan luas, gua cuma butuh ruang yang cukup buat kita berdua sinkron."

Gua tersenyum, hati gua berasa hangat banget melampaui suhu Indomie ini.

Tapi momen romantis itu rusak pas tiba-tiba ada suara teriakan dari unit sebelah, suara Clarissa yang lagi marah-marah karena ada kecoa masuk ke kamarnya.

"DEDIK!!! TOLONGIN AKU!!! ADA SERANGGA RAKSASA!!!" teriak Clarissa kenceng banget sampe kedengeran lewat tembok yang tipis itu.

Gua natap Dedik. Dedik natap gua.

"Gua harus bantu nggak?" tanya Dedik polos.

"Logikanya, Ded," jawab gua sambil narik mangkok mie dia. "Kecoa itu bagian dari ekosistem Singapura. Biar Clarissa belajar adaptasi sama alam. Kalau lo ke sana, lo bakal ngerusak rantai makanan."

Dedik manggut-manggut. "Bener juga. Logika lo makin tajam, Rey."

Gua pun lanjut makan dengan tenang, sementara suara teriakan Clarissa makin lama makin kenceng, bersahutan sama suara hujan di Queenstown.

Gua sadar satu hal, Hidup di Singapura bareng Dedik emang bakal penuh masalah, tapi selama ada Indomie, ulekan batu, dan logika konyol Dedik, gua yakin kita bakal jadi pasangan paling bahagia di kotak korek api ini.

"Ded," panggil gua lagi.

"Apa?"

"Besok ajarin gua cara pake MRT ya. Gua takut nyasar sampe ke Malaysia."

Dedik ngehela napas. "Gua udah download peta MRT-nya ke otak gua. Tenang aja, selama lo megang jaket gua, lo nggak bakal keluar dari orbit gua."

Gua meluk lengan Dedik, ngerasain bau sabun dan bau oli rice cooker yang bercampur jadi satu. Singapura, malam pertama kita di sini... lumayan kacau, tapi sangat berkesan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!