NovelToon NovelToon
Yun Miao 1: Satu Sabda Penyembuh

Yun Miao 1: Satu Sabda Penyembuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyelamat / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Auzora Maleeka

"Di saat napas terakhir Pak Tua Arman dianggap sebagai akhir dari kejayaan keluarga Chandra, seorang asing berpakaian putih muncul tanpa suara. Tak ada obat, tak ada mantra rumit. Ia hanya membungkuk, membisikkan satu kalimat di telinga kakek yang sekarat itu, lalu berbalik pergi. Detik berikutnya, jantung kembali berdetak kuat, membuat para anak tercengang. Siapakah dia? Dan apa yang diucapkannya untuk menantang kematian?"

"Sebuah kalimat yang mengubah takdir. Saat dunia medis menyatakan Kakek sekarat, seorang asing bernama Yun Miao muncul dan menyembuhkannya hanya dengan satu kalimat perintah. Siapakah Yun Miao, dan bagaimana kalimat sederhana bisa melawan maut?"

Mohon maaf ya teman-teman kalau novel pertamaku belum bisa membuat kalian puas bacanya. InsyaAllah aku akan terus berusaha agar novelku selanjutnya bisa memenuhi keinginan dan kriteria kalian semua.... Terimakasih

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auzora Maleeka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

03

"Arman, kau selama ini merasa dirimu mulia dan agung. Aku ingin sekali melihat, seperti apa sebenarnya orang yang kau cintai, yang bahkan di saat ajal menjemputmu pun nggak bisa kau lupakan, dan harus kau temui sebelum menghembuskan nafas terakhir." Tanya Nyonya Amira.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Sedangkan disisi lain, gadis itu tetap menunggu di bawah pohon bambu yang rindang tersebut, dimana disana ada jembatan kecil yang menghubungkan dengan pintu depan rumah tersebut. Dia berdiri disisi jembatan itu sambil menunggu kedatangan sang tuan rumah.

"Nona, Tuan Rendi sudah datang." Ucap kepala Pelayan.

Sedangkan Tuan Rendi memperhatikan gadis tersebut seakan-akan ingin tahu siapa gadis tersebut.

Kemudian gadis tersebut menoleh ke arah dimana Tuan Rendi dan Sang Kepala Pelayan berada.

"Apa yang terjadi. ? Kenapa aku tiba-tiba merasa sedikit merinding." Tanya Tuan Rendi dalam hati.

"Kau adalah Kepala Keluarga Chandra saat ini ?" Tanya gadis tersebut sambil melihat ke arah Tuan Rendi.

"Oh. Benar. Kau adalah..... ?" Jawab Tuan Rendi.

"Nadira Yunita." Ucap Nadira.

"Nona Nadira. Sepertinya hari ini ada hal yang ingin dibicarakan ?" Tanya Tuan Rendi.

"Aku kira Kepala Pelayan sudah memberitahumu." Kata Nadira.

"Dia memang sudah bilang." jawab Tuan Rendi.

"Kalau begitu kau masih punya waktu luang untuk mengobrol denganku, sepertinya kamu juga nggak peduli dengan kondisi Arman." Ujar Nadira.

"Diam." Sahut Tuan Rendi.

"Kau masih muda, tapi begitu berani menyebut nama Ayahku." Sambung Tuan Rendi.

Sedangkan Nadira tidak menjawab tapi malah melihat ke arah langit, seakan-akan melihat sesuatu yang akan terjadi.

"Saat seseorang akan meninggal, napas terakhir seperti ribuan anak panah yang menusuk jantung. Setiap detik yang kau tunda disini bersamaku, dia akan menderita satu detik lebih lama." Ucap Nadira.

Ketika Nadira berbicara, Tuan Rendi reflek memegang dadanya sendiri, seakan merasakan ada sesuatu yang akan terjadi.

"Aku tahu, Nona Nadira. Bukan aku nggak mempercayaimu. kami sudah undang seorang ahli spiritual. Ahli spiritual bilang, orang yang ingin ditemui oleh Ayahku lahir di zaman pembebasan. Tapi umurmu ini....." Balas Tuan Rendi sambil memegang dadanya.

Setelah Tuan Rendi berkata seperti itu, Nadira pun langsung berbalik arah seakan ingin pergi dari hadapan Tuan Rendi, tapi dicegah oleh Kepala Pelayan.

"Nona Nadira, mau kemana ?" Tanya Pak Eko.

"Aku nggak mau berurusan dengan orang bodoh. Arman melahirkan orang bodoh, itu juga karmanya. Biarkan dia menderita sampai napas terakhirnya." Jawab Nadira sambil berjalan meninggalkan mereka yang sedang diam.

"Nona Nadira, tunggu." Cegah Tuan Rendi.

Sedangkan Nadira langsung berhenti ketika dipanggil oleh Tuan Rendi.

"Kenapa ucapanmu begitu kasar ?" Kata Tuan Rendi.

"Orang yang dirindukan Tuan Besar, seumuran dengannya. Mungkin saja Nona ini adalah keturunan orang yang menginginkan anak." Ucap Pak Eko.

Sedangkan Nadira, langsung berjalan ke arah luar tanpa memperdulikan Tuan Rendi dan Pak Eko.

"Benar juga. Aku benar-benar seperti katak dalam tempurung. Benar atau salah, harus dilihat sendiri baru bisa tahu." Ujar Tuan Rendi.

"Benar." Jawab Pak Eko.

"Nona Nadira, tunggu." Kata Tuan Rendi.

Tuan Rendi langsung mengejar Nadira, sedangkan Nadira berhenti di tempat karena dipanggil.

"Maaf, Nona Nadira, aku juga cuma merasa cemas dan panik. Tapi tolong lihatlah rasa baktiku, mari temui Ayahku." Lanjut Tuan Rendi.

Sedangkan Nadira langsung berbalik menghadap ke arah Tuan Rendi.

"Kenapa gadis ini, masih muda tapi temperamennya besar sekali. Apa dia nggak tahu posisi Keluarga Chandra di Kota Jata ?" Tanya Tuan Rendi dalam hati sambil mengelus dagunya.

"Demi Ayah, merendahkan diri sekalipun nggak masalah." Sambung Tuan Rendi.

"Sudahlah. Bagaimanapun, dia pernah mengikuti ku, bisa dibilang ini adalah akhir yang baik." Sahut Nadira sambil melangkah ke dalam rumah, dimana dia akan menemui Tuan Arman yang sedang sekarat di dalam kamarnya.

"Pernah mengikuti ?" Tanya Pak Eko ketika Nadira dan Tuan Rendi sudah pergi.

Setelah sampai diruang tamu, dia dipersilahkan oleh Tuan Rendi, dimana disana sudah berkumpul semua anggota keluarga Chandra.

"Nona Nadira, silahkan." Tuan Rendi mempersilahkan Nadira masuk ke dalam.

Mereka yang melihat Nadira pun, merasa bingung dan bertanya-tanya, siapakah gerangan gadis itu dan mereka cuman bisa bertanya di dalam hati, mereka begitu penasaran ada urusan apa dia sehingga datang ke kediaman keluarga Chandra.

"Gadis ini memiliki sosok yang sangat bagus, cara berjalannya tampak halus dan seperti peri." Kata Nyonya Sonia.

"Dia putih sekali, bahkan lebih putih dari mutiara yang dia pakai." Sahut Nyonya Saskia.

"Kak Sonia, apa ini keturunan orang yang disukai oleh Ayah ? Keturunannya saja begitu cantik, pantas saja Ayah menyukainya selama 70 tahun lebih." Sambung Nyonya Saskia.

Saat Nyonya Saskia berbicara, Nyonya Amira melihat Nadira seakan-akan terlihat marah dan wajahnya pun terlihat judes ketika melihat Nadira di hadapannya itu.

Sedangkan Nadira, melihat-lihat keadaan sekitar dan juga melihat keseluruhan orang yang berada di depannya seakan-akan menilai semua orang.

"Nona Nadira, silahkan." Ajak Tuan Rendi kepada Nadira untuk menuju ke kamar Tuan Arman.

Mereka pun berjalan melewati semua orang yang sedang duduk di kursi, sedangkan Nyonya Saskia melihat Nadira tersenyum ramah, sedangkan Nyonya Amira kelihatan sangat marah sehingga ia menghentakkan tongkatnya beberapa kali ke lantai.

"Berhenti." Cegah Nyonya Amira.

Sehingga mereka yang akan pergi ke kamar Tuan Arman pun berhenti.

1
Andira Rahmawati
absend dulu thor...
Chen Nadari
mampir Thorr
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!