NovelToon NovelToon
LENTERA ARWAH DI LEMBAH SUNYI

LENTERA ARWAH DI LEMBAH SUNYI

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita / Romansa Fantasi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

No plagiat 🚫

" Di bawah naungan gerbang kuno Lembah Sunyi, He Xueyi berdiri tegak. Jemarinya yang dingin mencengkeram gagang lentera emas yang berpijar redup.
Angin malam menerpa jubah merahnya, namun ia tak bergeming. Baginya, raungan arwah penuh dendam di depannya hanyalah musik pengantar tidur.

Dengan tatapan setajam sembilu, ia bergumam pelan, 'Dendammu adalah bebanku. Masuklah ke dalam lentera, atau hancur menjadi debu tanpa jejak.'"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sisa Darah di Bawah Pohon Persik

Di dalam kereta kencana yang bergerak sunyi menuju Paviliun, atmosfer terasa lebih berat dari biasanya. Bian Zhi menatap sapu tangan sutra pemberian He Xueyi, namun pikirannya melayang jauh ke sepuluh tahun yang lalu—malam di mana salju pertama turun dan dunianya hancur berkeping-keping.

"Secara logika, Bian Zhi," suara He Xueyi memecah keheningan, matanya terpejam seolah sedang membaca pikiran asistennya, "kau sedang memikirkan lubang di dadamu yang pernah dibuat oleh pedang Lu Feng itu, kan? Luka fisik bisa sembuh, tapi logika pengkhianatan... itu yang sulit kau terima."

Bian Zhi terdiam, ingatannya kembali ke halaman belakang kediaman Gubernur. Di sana, Mei Lin, tunangannya yang seharusnya menjadi pengantinnya bulan depan, berdiri di samping Lu Feng.

"Maafkan aku, Zhi," bisik Mei Lin waktu itu, tanpa rasa bersalah. "Lu Feng bisa memberiku posisi di istana. Kau? Kau hanya prajurit yang setia pada prinsip yang tidak bisa dimakan."

Belum sempat Bian Zhi mencerna rasa sakit itu, Lu Feng melangkah maju. Tanpa peringatan, ia menghujamkan pedang kembar mereka tepat ke dada kiri Bian Zhi.

"Secara logika, Sahabat," ejek Lu Feng saat itu, mengulang kata-kata yang sering mereka pelajari, "orang mati tidak akan menghalangi jalanku menuju tahta."

Bian Zhi tumbang di atas salju yang mendadak berubah merah. Di ambang mautnya, saat penglihatannya mulai menggelap, sebuah sepatu bot sutra berwarna ungu muncul di depannya. Aroma mawar hitam dan hio mahal menembus bau anyir darah.

"Secara logika," sebuah suara wanita yang angkuh terdengar di atas kepalanya, "membiarkan bakat sehebat ini membusuk di bawah pohon persik yang buruk ini adalah pemborosan sumber daya."

Itulah pertama kalinya He Xueyi muncul. Ia tidak menangis, tidak panik. Ia hanya berdiri di sana dengan Lenteranya, menatap Bian Zhi seperti sedang menilai barang antik yang rusak.

"Kau mau hidup?" tanya He Xueyi waktu itu. "Syaratnya berat. Kau tidak akan lagi punya detak jantung, kau tidak akan lagi punya masa depan sebagai manusia, dan secara logika... kau harus melayaniku selamanya untuk membayar biaya pengobatan yang sangat mahal ini."

Bian Zhi yang sudah tak berdaya hanya bisa mengangguk lemah. He Xueyi kemudian meniupkan napas apinya ke luka Bian Zhi, menghentikan waktu dalam tubuh pria itu tepat sebelum nyawanya lepas.

"Tuan," suara Bian Zhi kembali ke masa sekarang, ia menoleh ke arah He Xueyi yang kini sedang asyik memeriksa kukunya. "Kenapa saat itu Anda memilih menyelamatkan saya? Padahal secara logika, biaya 'perbaikan' saya pasti sangat besar."

He Xueyi membuka matanya, menatap Bian Zhi dengan tatapan narsis yang khas. "Secara logika, Bian Zhi, aku butuh asisten yang tidak akan pernah menua, tidak akan pernah mengkhianatiku demi wanita biasa, dan yang paling penting... asisten yang tahu cara menyeduh teh tanpa banyak tanya."

Ia menyandarkan kepalanya ke bantal bulu angsa. "Lagi pula, melihat wajah Lu Feng yang kaget setengah mati tadi saat melihatmu masih 'hidup', itu sudah membayar lunas semua investasi yang kukeluarkan sepuluh tahun lalu. Kepuasan estetikaku tidak bisa dibeli dengan emas, tahu!"

Bian Zhi menunduk dalam. "Terima kasih, Tuan."

"Sudahlah. Secara logika, kita punya masalah baru," He Xueyi menunjuk ke luar jendela. Paviliun mereka sudah terlihat, namun di depannya, ribuan kelopak bunga persik merah sudah melingkar, membentuk segel pelindung yang tak dikenal. "Sepertinya Mei Lin dan Lu Feng ingin melakukan reuni keluarga yang lebih besar. Bian Zhi, siapkan pedang barumu. Kali ini, jangan hanya menendangnya. Habisin."

"Laksanakan, Tuan."

Malam itu, di depan Paviliun Nyawa, Bian Zhi berdiri tegak. Dia bukan lagi prajurit yang patah hati, melainkan bayangan abadi milik He Xueyi yang siap membalas setiap tetes darah yang pernah tumpah di bawah pohon persik sepuluh tahun lalu.

1
☕︎⃝❥Mengare (Comeback)
Wah, sudah disuguhi pemandangan kayak gini awal-awal 😭
Diah nation: eh itu baru awalan lho tapi nanti pas tengah tengah bab bakal ada kejutan 😂😂baca aja dulu seru kok hehe
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!