Ketika cinta harus dipisahkan oleh perjodohan orangtua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Putus
Setengah jam dari waktu janji mereka bertemu, Leya sudah sampai di taman kota. Ia masih menyembunyikan dirinya di balik Hoodie, Namun, kedua matanya masih berkaca-kaca dengan pandangan yang lurus ke depan.
"Mas sangat merindukanmu?" Leya terkejut, saat mendapati tubuhnya dipeluk tiba-tiba dari belakang.
Tetapi rasa terkejut Leya hanya berlangsung sesaat. Karena ia sudah tahu siapa gerangan yang sedang memeluknya saat ini.
"Ayo duduk!" Lea berusaha untuk mengeluarkan suara yang tenang. Namum sayangnya, getaran kesedihan masih tetap terselip di nada suaranya.
"Sayang ada apa?" Angkasa bingung, melihat respon kekasihnya yang cenderung dingin. Tidak seperti biasanya yang hangat, ceria, dan penuh senyuman.
"Aku bilang duduk!" Leya menaikkan intonasi suara. Hal yang sebelumnya tidak pernah sama sekali ia lakukan, sejak menjalin hubungan dengan Angkasa.
"Oke oke! aku duduk sekarang!" Angkasa yang teramat mencintai kekasihnya, langsung menurut. Seperti anak ayam yang takut kehilangan induknya.
Tatapan Leya masih lurus ke depan. Ia masih mempersiapkan dan menguatkan hatinya, agar tidak menangis saat bicara nanti.
"Ini untuk kamu?" Angkasa memberikan sebatang coklat kesukaan Leya. Yang setiap kali mereka bertemu, Angkasa pasti selalu membawakannya.
Kedua mata Leya yang sejak tadi berkaca-kaca, kini satu tetes bulir bening luruh dari sudutnya. Saat ia memandang coklat favoritnya, yang biasanya selalu mampu mengatasi moodnya yang sedang memburuk. Tetapi berbeda dengan situasi saat ini, yang sama sekali tidak bisa disembuhkan hanya dengan sebatang coklat.
"Sayang ada apa?" Angkasa terus bertanya-tanya melihat perubahan kekasihnya. Apalagi hingga saat ini, Leya masih menutupi kepalanya dengan hoodie.
Leya menarik nafas panjang. Ia menghapus bulir bening yang menetes di pipi. Lalu menegakkan punggung dan mengepalkan kedua tangannya. "Aku mau kita putus!" ucapnya dengan suara yang bergetar. Meskipun ia sudah berusaha untuk terdengar dan terlihat kuat.
"Ini bukan April mop sayang! bercanda kamu tidak lucu ah!" Angkasa menganggap perkataan Leya hanya sekedar candaan.
"Aku serius!" Leya membuka penutup Hoodie, lalu menatap Angkasa dengan tatapan tajam dan penuh keseriusan yang sudah ia latih sejak di rumah.
Angkasa terkejut melihat keadaan kekasihnya. "sayang kamu kenapa? siapa yang menyakiti kamu? bilang sama Mas, Mas yang akan mengurusnya?" hanya melihat keadaan Leya yang seperti itu saja, sudah membuat dada Angkasa bergemuruh.
Karena sejak Leya mengisi seluruh ruang di hatinya... Angkasa selalu berhati-hati dan selalu berusaha untuk membuat Lea tersenyum dan bahagia.
"Pokoknya aku mau kita putus!" suara Lea semakin bergetar. Karena ternyata hatinya tetap lemah dan rapuh saat berhadapan dengan pria yang masih sangat ia cintai.
"Mas gak mau sayang! Mas nggak mau putus! memangnya apa salah Mas? bukannya hubungan kita baik-baik saja?"Angkasa menolak. Putus dari Leya adalah satu-satunya hal yang akan ia tolak mentah-mentah. "jawab Mas Leya...kenapa kamu mau putus?"
Angkasa memeluk kekasihnya. Ia tidak mau, tidak rela dan tidak sanggup kehilangan Leya. Awalnya Leya memberontak, ia mendorong, memukul dan berusaha untuk melepas pelukan Angkasa yang selalu memberikannya kenyamanan dan kehangatan untuknya.
"Lepaskan aku! Aku mau putus dari kamu, Mas! hubungan kita tidak bisa dilanjutkan!" Leya sengaja tidak memberitahukan alasannya. Karena ia yakin, Angkasa pasti sudah tahu tentang rencana perjodohan itu.
Pelukan Angkasa semakin erat. "Mas gak mau sayang! kamu tahukan Mas sangat mencintai kamu?" kedua matanya berkaca-kaca. Kehilangan Leya adalah hal yang paling menakutkan dalam hidupnya.
Leya tak lagi bisa bersuara. Ia menangis, tersedu, dan tergugu dalam pelukan Angkasa. Pria ini, satu-satunya pria yang ia cintai... dan pria ini juga, satu-satunya pria yang berhasil membuatnya percaya dengan yang namanya cinta.
Angkasa terus memeluk, mengusap lembut, dan mencium puncak kepala Leya berulang kali. "Jangan katakan itu lagi, Harleya. Mas tidak mau kehilangan kamu?"
Leya juga merasakan hal yang sama. Ia tidak mau kehilangan Angkasa. Tapi perjodohan antara kedua keluarga itu tidak mungkin bisa dibatalkan.
"Aku tetap mau putus!" setelah sedikit lebih tenang, Leya melerai pelukannya.
"Memangnya apa salah Mas sayang? kalau Mas menyakiti kamu, katakan? Mas akan perbaiki? Tapi please, jangan lagi sebutkan kata-kata itu?" Angkasa memohon. Memohon dihadapan satu-satunya wanita yang mampu mengubah sisi kejam dan dinginnya saat dikantor... menjadi sosok yang lembut dan penuh kasih saat bersamanya.
Leya kembali menangis. Ternyata sangat berat memutuskan hubungan dengan seseorang yang masih ia cintai dan dalam keadaan hubungan yang baik-baik saja.
Matahari yang tadinya bersinar terang, tiba-tiba berubah mendung gelap seperti akan hujan. Angin mulai berhembus kencang, seolah alam mengerti... bagaimana perasaan Leya saat ini.
Angkasa masih menatap wajah kekasihnya. Pria itu masih menunggu jawaban yang keluar dari bibir Leya. Dan... apapun kesalahan yang Leya katakan, ia akan berusaha untuk memperbaikinya... asalkan ia tidak kehilangannya.
Leya masih tidak memberikan jawaban. Gadis itu malah berdiri dan bersiap untuk meninggalkan tempat itu. Namum Angkasa, memegang lembut pergelangan tangannya...
"Sayang, jawab Mas? Mas pasti akan memperbaikinya?" Angkasa menanti dan menuntut jawaban. Ia tidak mau hubungan ini berakhir begitu saja. Karena ia berniat untuk menjadikan Leya sebagai istrinya.
"Nanti kamu juga akan tahu jawabannya, Mas!" ucap Lea akhirnya.
Angkasa masih tidak mau menyerah. Ia terus ingin mempertahankan hubungan mereka. Namum Leya masih tetap pada keputusannya, untuk mengakhirinya.
"Kamu jahat Harleya! Kamu egois! kamu tega mempermainkan perasaanku? padahal aku berniat untuk menikahi mu?" angkasa putus asa. Ia tahu bagaimana keras kepalanya Leya, yang jika sudah membuat suatu keputusan. Maka tidak ada yang bisa merubahnya, kecuali dirinya sendiri.
"Maafkan aku, Mas! Nanti kamu juga tahu alasannya kenapa aku mengakhiri hubungan kita!"
Leya benar-benar pergi meninggalkan Angkasa yang terus memanggil dan memohon padanya. Sebenarnya ia tidak tega, ia ingin kembali, memeluk dan berkata jika hubungan mereka akan terjalin selamanya. Namun sayangnya, kenyataan dan fakta kejam membuatnya harus tetap mengakhiri hubungan itu. Meskipun ia merasakan sakit yang sama bahkan mungkin lebih sakit dari yang Angkasa rasakan.
"Kamu tega Harleya! Kamu kejam!" Angkasa marah dan kecewa. Tapi perasaan sayang dan cinta yang teramat besar, membuatnya tidak bisa marah apalagi membenci gadis itu. "Tapi... kamu tidak bisa mengakhiri hubungan kita begitu sayang! Karena selamanya... kamu hanya boleh jadi milikku!"
Angkasa menatap kepergian Leya yang sama sekali tidak menoleh lagi ke belakang. Walaupun Leya bersikeras untuk mengakhiri hubungan mereka... maka ia juga bisa bersikeras untuk terus mempertahankan hubungan mereka dan... kilat obsesif dimata Angkasa semakin terlihat. Karena selamanya... Harleya Putri Calista hanya boleh jadi miliknya.
Kriiing! Kriiing! Kriiing!
Ponselnya berdering. Angkasa dengan terpaksa harus menjawabnya. Karena panggilan itu berasal dari ayahnya. Padahal saat ini, ia sedang ingin sendiri dan tidak ingin diganggu oleh siapapun.
"Pulang sekarang!" ucap Ayahnya di seberang sana tanpa basa-basi.
Tanpa ada kata-kata lain. Pria tua itu langsung memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak. Dan... Angkasa tidak punya pilihan lain, selain pulang ke kediaman keluarga Felix... yang hampir satu tahun ini tidak pernah ia injak lagi.