Kirana, putri seorang menteri yang sedang naik daun, datang ke pedalaman demi meningkatkan citra politik ayahnya. Bersama reporter Carmen dan kameramen Dion, dia membuat konten kemanusiaan mengajar anak-anak desa dan memberi bantuan bersama prajurit TNI.
Kapten Damar ditugaskan mengawal kunjungan itu. sanf kapten menganggap Kirana hanyalah bagian dari panggung politik yang penuh pencitraan.
Semua berjalan lancar, hingga segerombolan pemberontak bersenjata menyerbu desa. Dalam kekacauan dan tembakan yang membabi buta, Damar harus membawa Kirana menyelamatkan diri ke dalam hutan.
Terpisah dari rombongan dan jauh dari sorotan kamera, Kirana untuk pertama kalinya menghadapi dunia tanpa privilese. Di tengah bahaya dan perjuangan bertahan hidup, tumbuh perasaan yang tak seharusnya ada antara seorang perwira yang terikat sumpah dan putri pejabat yang mulai melihat arti ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pencitraan Yang Ketara
Helikopter dan kendaraan taktis akhirnya tiba di pedalaman Flores. Udara terasa lebih panas dan kering. Rumah-rumah kayu sederhana berdiri di antara tanah berbatu dan bukit yang tandus.
Begitu turun, mereka langsung naik perahu boot untuk sampai ke desa itu.
Perjalanan dengan perahu boot sekitar 4 jam lebih, dan setibanya di desa terpencil itu Kirana langsung memasang wajah pencitraan.
“Kamera sudah siap?” tanya Kirana pelan pada Dion.
“Rolling,” jawab Dion cepat.
Seketika senyum lembut terpasang di wajah Kirana. dia melangkah ke arah anak-anak desa yang sudah berkumpul di bawah tenda sederhana.
“Halo… siapa yang mau belajar hari ini?” sapanya lembut.
Anak-anak itu tampak antusias. Beberapa malu-malu, beberapa lainnya menatap kagum pada perempuan cantik di hadapan mereka.
Carmen berbisik pada Dion, “Ini bagus. Angle-nya ambil dari samping, biar kelihatan interaksi natural.”
Dion mengangguk sambil terus merekam.
“Putri politisi cantik, ditemani Kapten TNI yang tampan, kombinasi sempurna buat viral.”
Beberapa prajurit yang mendengar hanya tersenyum tipis.
Tak jauh dari sana, Damar memimpin beberapa anggota membantu warga membawa beberapa Alat berat untuk menggali titik air bersih.
Dion sesekali menyorot Damar.
“Kapten, boleh sedikit komentar tentang kegiatan ini?” tanya Dion.
“Fokus saja pada pekerjaan,” jawab Damar singkat tanpa menoleh.
“Tapi ini bagus buat citra instansi juga, Kapten,” desak Dion.
Damar menghentikan gerakannya, menatap tajam. “Kami tidak bekerja untuk citra.”
Dion tertawa kecil canggung lalu kembali ke Kirana.
Menjelang makan siang, warga menyiapkan hidangan sederhana papeda dengan kuah ikan kuning dan sayur daun singkong.
Kirana duduk di tikar bersama Carmen, begitu melihat makanan di hadapannya, wajahnya berubah.
“Aku nggak bisa makan ini, Carmen,” bisiknya pelan, wajahnya sedikit pucat.
“Teksturnya,” kata Kirana lagi.
Carmen berbisik cepat, “Mbak kirana, tolong satu suap saja, setelah itu kita bisa bilang kamu sudah mencoba.”
“Aku bisa sakit kalau makan ini, aku bawa makanan sendiri,” keluh Kirana hampir menangis.
Damar yang kebetulan lewat mendengar percakapan itu.dia berhenti, lalu mendekat.
“Mereka menyiapkan itu dengan bahan terbaik yang mereka punya,” katanya tenang, tapi ada nada ketegasan di sana.
“Itu bentuk penghormatan.” kata Damar lagi menatap Kirana dengan sinis.
“Aku nggak terbiasa makan ini.” kata Kirana membalas tatapan Damar kesal.
“Anak-anak di sini tidak terbiasa punya pilihan,” balas Damar tajam.
“Kadang mereka tidak makan sama sekali.”
Suasana mendadak hening, Kirana menggigit bibirnya dia merasa citranya di depan publik sedang di pertaruhkan.
“Baiklah,” kata Kurana akhirnya.
“Satu suap saja.” Kirana mencoba tenang.
Dion langsung sigap menyalakan kamera
“Kamera siap.” kata Dion lagi
Senyum lembut Kirana kembali terpasang.
“Papeda ini enak sekali,” ucap Kirana ke arah kamera. “Warga di sini menyiapkan makanan untuk saya dan para prajurit, rasanya luar biasa, kalian harus coba.”
Kirana menelan dengan susah payah.
Setelah kamera dimatikan, wajahnya langsung berubah pucat, dia menutup mulutnya, hampir muntah.
Rahang Damar mengeras melihat hal itu, tanpa berkata apa-apa, dia berbalik dan berjalan pergi.
“Bermuka dua,” gumamnya pelan.
"Dia memang cocok di dunia politik.”
Di sisi lain, Damar duduk bersama anak buahnya, makan seadanya tanpa banyak bicara.
Tiba-tiba bayangan seseorang menghalangi cahaya matahari, Kirana berdiri di depan mereka.
“Kalian pasti bosan makan itu,” katanya ringan.
Damar mengangkat wajahnya, tatapannya tajam.
“Aku bawa persediaan makanan,” lanjut Kirana sambil tersenyum tipis.
“Kalian boleh ambil kalau mau, anda juga boleh ambil kapten,"
Damar dan Beberapa prajurit saling pandang.
“Berikan saja pada warga,” jawab Damar singkat. “Kami bisa makan nanti setelah kembali,.”
Kirana mendengus kecil menatap Damar kesal.
“Kenapa harus selalu sok jadi pahlawan," Ungkap Kirana membuat perhatian Damar tertuju kepadanya.
“Ini bukan soal sok jadi pahlawan,” jawab Damar menatap Kirana dengan sinis.
“Warga di sini belum tentu bisa makan lagi besok.”
Beberapa prajurit mengangguk pelan, Kirana terdiam sesaat merasa seperti sedang dihakimi.
“Baiklah, Kapten si paling baik hati dan sok pahlawan,” celetuk Kirana sinis sebelum berbalik.
Damar berdiri menghampiri Kirana
“Kamu ngomong apa?" Tanya Damar sambil menarik lengan Kirana.
Langkah Kirana terhenti dia menoleh cepat.
"Aku ngak ngomong apa-apa," Kirana coba mengelak mencoba menarik lengannya dari Damar.
"Baik lah Nona, si paling pencitraan,"
“Apa?” ucap Kirana tampak emosi, mendengar perkataan Damar.
“Kalau ingin membantu, lakukan tanpa kamera.” kata Damar sambil tersenyum tipis.
Wajah Kirana memerah, dia benar benar tidak bisa berpura-pura sekarang.
“Kamu pikir aku tidak tulus membantu meŕeka,” Ungkap Kirana matanya sedikit berkaca-kaca.
“Saya hanya mengatakan apa yang saya lihat,"
“Kamu bahkan tidak mengenal saya,” kata Kirana.
“Benar” jawab Damar dingin. “Dan saya tidak tertarik mengenal anda lebih jauh, yang harus saya lakukan hanya menjamin keselamatan anda,"
Tatapan mereka bertemu, tegang dan penuh kebencian.
Untuk pertama kalinya, Kirana tidak punya jawaban, dia hanya berbalik dan pergi dengan langkah cepat.
Damar menghela napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. dia tidak sadar bahwa konflik kecil itu hanyalah awal.