NovelToon NovelToon
Dua Wajah Dibalik Satu Lencana

Dua Wajah Dibalik Satu Lencana

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / TKP
Popularitas:212
Nilai: 5
Nama Author: Chocolate Chase

Menceritakan tentang seorang mantan pembunuh berantai, yang di bebaskan untuk membantu polisi dalam memecahkan sebuah kasus, yang kemudian membuat dirinya secara resmi menjadi konsultan khusus kepolisian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocolate Chase, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gaji Pertama Dan Tawa Di Tengah Ketegangan

Pagi itu matahari menyusup lembut melalui celah jendela apartemen pengawasan di kawasan Manhattan. Jam dinding digital di ruang tengah menunjukkan pukul 08.20. Udara pagi masih terasa sangat sejuk, membawa aroma pekat dari kopi hitam yang baru saja diseduh menyebar dengan cepat ke seluruh penjuru ruangan.

Arthur Rutherford duduk santai di salah satu kursi meja makan kecil. Rambut hitamnya tampak acak acakan khas orang yang baru bangun tidur, berpadu dengan kaos hitam longgar yang sedikit kusut. Di hadapannya, tergeletak sebuah ponsel dan secangkir kopi hangat yang masih mengepulkan uap tipis.

Ia membuka aplikasi perbankan di ponselnya dengan gerakan tangan yang biasa. Namun, sepasang mata hijaunya seketika melebar saat melihat notifikasi transaksi terbaru yang muncul di layar kaca tersebut.

Ada aliran dana transfer masuk sebesar 5.456 dolar dengan keterangan Gaji Konsultan Khusus Kepolisian Departemen Kasus Satu dan Dua.

Arthur menatap nominal angka tersebut untuk waktu yang cukup lama. Sebuah senyuman tipis perlahan muncul di sudut bibirnya, sebuah senyum dengan nuansa emosi yang campur aduk antara rasa lega, ironis, dan sedikit getir.

"Nominal yang lumayan besar untuk seorang mantan pembunuh berantai yang baru saja dibebaskan dari kurungan sel," gumam Arthur lirih pada diri sendiri. "Dulu aku mendapatkan bayaran dari rasa ketakutan orang lain. Sekarang aku justru mendapatkan gaji resmi dari pihak kepolisian. Alur kehidupan ini memang terasa sangat aneh."

Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menyesap kopi hitamnya perlahan sambil memandangi pemandangan di luar jendela. Di luar sana, lampu lampu jalanan kota Manhattan masih menyala samar, perlahan terkalahkan oleh cerahnya sinar fajar. Pikiran Arthur seketika melayang, mengingat kembali kasus tragis Senator Grant yang baru saja mereka selesaikan, sekaligus memikirkan kasus kematian Jennifer Cartter yang baru saja dimulai. Dua kasus besar dalam waktu yang berdekatan. Dan sekarang, untuk pertama kalinya dalam hidup, ia menerima upah resmi sebagai bagian dari tim penegak hukum.

Pintu kamar sebelah terbuka perlahan, menampilkan sosok Manuel Vin yang berjalan keluar sambil menggosok kedua matanya yang masih mengantuk. Pria itu hanya mengenakan kaos oblong polos dan celana pendek santai. "Selamat pagi. Aroma seduhan kopimu enak sekali. Kau rupanya sudah bangun jauh lebih dulu?"

Arthur mendorong sebuah cangkir kosong cadangan ke arah Manuel. "Tentu saja. Dan sepertinya hari ini membawa sebuah kabar yang sangat baik untuk kita. Coba kau periksa ponselmu sekarang juga."

Manuel mengambil ponsel dari dalam saku celana pendeknya dengan malas. Namun, matanya langsung terbelalak lebar saat melihat pop up notifikasi yang tertera di layar.

"17.506 dolar," kata Manuel dengan nada suara pelan, seolah tidak percaya dengan penglihatannya sendiri. "Rasanya kenaikan pangkat menjadi seorang Lieutenant memang memberikan perbedaan yang sangat besar. Ini adalah pertama kalinya gajiku menyentuh angka sebesar ini setelah sekian lama mengabdi."

Arthur tersenyum lebar melihat keterkejutan rekannya. "Selamat atas pencapaianmu, Lieutenant. Kau sangat pantas untuk mendapatkannya setelah semua kerja kerasmu. Aku sendiri hanya mendapatkan 5.456 dolar. Tapi bagiku yang baru keluar dari penjara, nominal ini sudah terasa seperti memenangkan sebuah lotre besar."

Tidak lama setelah percakapan mereka, pintu kamar tidur Elena terbuka. Elena Kuznetsova melangkah keluar dengan rambut pirangnya yang masih agak basah setelah mandi pagi. Ia mengenakan baju hangat hoodie oversized berwarna abu abu yang dipadukan dengan celana pendek hitam. Wajahnya terlihat sangat segar, sepasang mata birunya yang indah tampak cerah meskipun sisa sisa rasa kantuk masih sedikit tertinggal di sana.

"Selamat pagi," sapa Elena hangat sambil mendudukkan diri di kursi tepat di sebelah Arthur. "Apakah masih ada sisa kopi hangat untukku?"

Arthur langsung bergerak menuangkan kopi hitam ke dalam cangkir Elena tanpa perlu diminta terlebih dahulu. Elena tersenyum kecil melihat kepekaan Arthur, lalu ia meraih ponsel miliknya sendiri. Sepasang mata birunya ikut melebar saat melihat rincian transfer masuk di layarnya.

"5.456 dolar," kata Elena perlahan dengan nada puas. "Mengingat ini berasal dari institusi kepolisian, nominal ini sama sekali tidak buruk untuk seorang peretas asal Rusia yang terpaksa harus bekerja sama dengan mantan pembunuh berdarah dingin asal Wales."

Arthur menyeringai lebar mendengar ledekan akrab itu. Dengan gerakan tangan yang santai, ia mengambil sepotong roti bakar mentega dari piring lalu menyuapkannya langsung ke dalam mulut Elena. Elena menerima suapan itu dengan gestur yang sangat alami, mengunyah rotinya pelan sambil terus memandangi wajah Arthur dari dekat.

"Jangan membiasakan dirimu untuk terus menyuapiku seperti ini, Rutherford," kata Elena dengan mulut yang masih mengunyah, namun nada suaranya terdengar sangat lembut beriringan dengan senyuman kecil yang manis di bibirnya.

Manuel yang menyaksikan interaksi tersebut hanya bisa menggelengkan kepalanya perlahan sambil tersenyum geli. "Kalian berdua ini tingkat kedekatannya semakin parah dari hari ke hari. Urusan gaji masuk saja malah kalian jadikan momen untuk romantis romantis-an di atas meja makan."

Mereka bertiga akhirnya menghabiskan menu sarapan pagi itu dengan diselingi oleh obrolan obrolan ringan yang hangat. Arthur menceritakan sedikit pengalaman emosionalnya mengenai bagaimana rasanya menerima upah kerja resmi pertamanya setelah menghabiskan waktu bertahun tahun di balik jeruji besi. Elena juga ikut membagikan perasaannya bahwa ini adalah slip gaji legal pertamanya sebagai seorang konsultan teknologi resmi untuk badan kepolisian. Sementara itu, Manuel lebih banyak mendengarkan sambil sesekali melontarkan kalimat godaan kepada kedua rekannya tersebut.

Setelah seluruh hidangan sarapan habis, Manuel berdiri dari kursinya dengan raut wajah yang kembali serius. "Baiklah, waktu untuk bersenang senang sudah cukup. Hari ini kita harus melakukan proses interogasi ulang terhadap Thabo Nkosi. Aku sudah mengatur jadwal pertemuannya tepat pada pukul 10 pagi di markas kepolisian. Segera bersiap siap."

Waktu menunjukkan pukul 10.15 di area Ruang Interogasi Markas NYPD.

Atmosfer di dalam ruangan interogasi itu terasa begitu dingin, sunyi, dan mencekam. Lampu lampu neon yang terpasang di langit langit ruangan terdengar berdengung pelan, menambah kesan tegang yang ada. Thabo Nkosi duduk kaku di atas sebuah kursi logam, kedua belah tangannya tampak dirantai kuat ke bagian bawah meja besi. Wajah pemuda berusia 24 tahun asal Afrika Selatan itu terlihat semakin pucat dengan butiran keringat dingin yang terus membanjiri pelipisnya.

Manuel Vin duduk tepat di hadapan Thabo dengan ekspresi wajah yang sangat tegas dan mengintimidasi. Di sebelahnya, Elena bersiap dengan sebuah laptop perak yang sudah terbuka menampilkan baris data. Sementara itu, Arthur memilih untuk tetap berdiri tenang di sudut ruangan, menyandarkan punggungnya ke dinding semen sambil mengamati setiap gerak gerik Thabo dengan tatapan mata hijaunya yang tajam.

Manuel membuka sesi tanya jawab dengan suara yang menggelegar tegas. "Thabo, tim kami sudah mengetahui dengan pasti bahwa kau mengambil giliran kerja malam. Kami juga memiliki data akurat bahwa kau sempat kembali mendatangi toko jagal tersebut pada pukul 02.30 dini hari. Jelaskan kepada kami sekarang juga apa tujuanmu kembali ke sana."

Thabo langsung menundukkan kepalanya dalam dalam, suaranya terdengar bergetar hebat karena rasa takut. "Saya… saya bersumpah saya hanya kembali untuk mengambil barang yang terlupa, Pak. Saya hanya ingin mengambil jaket kerja saya yang tertinggal di dalam ruangan. Saya benar benar tidak melihat kejadian aneh apa pun di sana."

Arthur perlahan mengubah posisinya, melangkah maju mendekati meja interogasi dengan langkah kaki yang lambat. Nada suaranya terdengar sangat rendah namun sarat akan penekanan yang dingin. "Hanya mengambil jaket? Atau kau sebenarnya kembali ke sana untuk membantu membersihkan sisa aliran darah milik mendiang Jennifer Cartter?"

Pertanyaan menukik dari Arthur seketika membuat suasana di dalam ruangan menjadi semakin mencekam. Manuel ikut memberikan tekanan psikologis yang lebih dalam dengan melemparkan dokumen bukti transfer uang misterius ke atas meja, disusul oleh Elena yang memutar rekaman video kamera pengawas area pelabuhan. Tubuh Thabo Nkosi mulai bergetar hebat, napasnya memburu, dan suaranya terdengar pecah seolah hampir menangis karena tidak kuat menahan tekanan interogasi.

Tiba tiba di tengah ketegangan yang memuncak itu, Arthur melakukan sebuah tindakan yang sangat tidak terduga dan tergolong konyol.

Ia mengambil sebatang pensil kayu dari atas meja, menjepitkan pensil tersebut di antara hidung dan bibir atasnya sehingga menyerupai sebuah kumis palsu. Dengan ekspresi wajah yang dibuat buat seolah sangat serius, Arthur mulai berjalan mondar mandir di depan Thabo sambil berbicara menggunakan aksen bahasa Jerman yang sangat kental dan terdengar berlebihan.

"Jawohl, Thabo! Kau harus segera membuat pengakuan di depan kami sekarang juga! Atau aku terpaksa akan memanggil seluruh pasukan sosis dari Jerman untuk melakukan penyerbuan ke toko jagal daging tempatmu bekerja! Heil popcorn!"

Ruangan interogasi itu seketika menjadi hening total selama dua detik penuh.

Elena yang sama sekali tidak menduga aksi konyol tersebut langsung menutup rapat mulutnya menggunakan kedua belah tangannya. Kedua pundaknya tampak berguncang hebat karena berusaha sekuat tenaga untuk menahan tawa agar tidak pecah di dalam ruangan resmi. Sepasang matanya sampai berair dan kedua pipinya memerah padam karena menahan tawa terbahak bahak. Di sisi lain, Manuel terpaksa harus memalingkan wajahnya ke arah dinding, bahunya naik turun menahan senyuman lebar yang hampir lolos dari bibirnya.

Bahkan Thabo Nkosi sendiri sampai melongo bingung dengan mulut sedikit terbuka, sebelum akhirnya sebuah senyuman kecil terukir di wajahnya akibat rasa kebingungan yang bercampur dengan rasa takut.

Arthur tetap melanjutkan aksi menggunakan aksen konyolnya dengan raut wajah yang dibuat seolah olah sedang melakukan tugas negara yang sangat penting. "Das ist richtig! Kumis super yang aku miliki ini tidak akan pernah bisa kau bohongi! Kau harus segera mengatakan hal yang sebenarnya atau aku terpaksa akan menyuruhmu memakan sosis mentah secara paksa!"

Elena benar benar sudah berada di ambang batas pertahanannya. Ia menundukkan kepalanya dalam dalam ke arah meja, pundaknya terus berguncang keras demi meredam suara tawanya. Namun, tepat di momen yang konyol itu, jauh di dalam lubuk hati Elena yang terdalam, benih benih rasa cinta yang sempat muncul kini justru tumbuh dengan jauh lebih kuat dan mengakar.

Pria ini benar benar sosok yang bodoh sekali, pikir Elena di dalam hatinya sambil terus menahan tawa yang menggelitik. Namun di sisi lain, Elena menyadari bahwa Arthur memiliki kemampuan magis untuk mengubah sebuah atmosfer yang awalnya sangat mencekam dan menakutkan menjadi terasa begitu ringan, hanya dengan melakukan sebuah tindakan yang sangat konyol. Arthur tidak hanya diberkahi dengan otak yang luar biasa pintar, namun ia juga memiliki sebuah hati yang hangat di balik seluruh topeng dingin yang ia kenakan selama ini. Elena menyadari dengan pasti bahwa ia sudah mulai jatuh cinta kepada pria itu secara sungguhan.

Meskipun demikian, Elena bergerak dengan sangat cepat untuk menyembunyikan letupan perasaannya. Ia berpura pura terbatuk kecil sambil tetap menutup mulutnya menggunakan tangan, ia sama sekali tidak ingin Arthur maupun Manuel sampai menyadari perubahan emosi di dalam hatinya.

Arthur akhirnya menurunkan kembali pensil kayu dari bibirnya lalu mengulas sebuah senyuman yang polos. "Mohon maaf atas tindakanku tadi, atmosfer di ruangan ini rasanya terlalu tegang untuk kita semua. Sekarang Thabo, ceritakanlah kejadian yang sebenarnya kepada kami. Tim kami sudah tahu dengan pasti bahwa kau bukanlah sosok pembunuh utama di dalam kasus ini."

Pertahanan mental Thabo akhirnya runtuh sepenuhnya. Air matanya seketika tumpah dan ia mulai berbicara dengan jujur. Pemuda itu mengaku bahwa ia memang terpaksa membantu untuk membersihkan tempat kejadian perkara dan membuang senjata golok tersebut karena menerima ancaman pembunuhan dari sesosok orang asing yang tidak ia kenal wajahnya. Namun, Thabo bersumpah bahwa ia sendiri tidak mengetahui siapa sebenarnya dalang utama yang mengatur seluruh rencana keji ini.

Sesi interogasi hari itu akhirnya ditutup dengan keputusan bahwa Thabo Nkosi akan tetap ditahan di dalam sel khusus kepolisian sebagai seorang saksi kunci yang sangat penting untuk keselamatan dirinya sendiri.

Saat mereka bertiga sedang berjalan menyusuri koridor gedung kepolisian, Elena menyenggol lengan Arthur dengan pelan dan akrab, sementara kedua pipinya masih menyisakan semburat merah muda karena sisa tawa tadi. "Tindakanmu di dalam ruangan tadi benar benar sangat konyol, Rutherford. Tapi harus kuakui, strategimu itu terbukti berhasil juga pada akhirnya."

Arthur menyeringai lebar menanggapi pujian tersebut. "Tujuan utamaku dari aksi tadi terbukti berhasil dengan sangat baik, bukan? Bukankah kau sendiri tadi hampir saja meledak karena menahan tawa?"

Elena langsung memalingkan wajahnya ke arah lain dengan cepat, mencoba menyembunyikan senyuman manis yang tidak bisa ia tahan lagi. "Jangan terlalu besar kepala dulu, Wales."

Manuel yang berjalan beberapa langkah di depan mereka hanya bisa tersenyum kecil mendengar perdebatan akrab itu. "Kalian berdua ini memang unik, entah kapan tim investigasi kita ini bisa berjalan dengan cara yang normal seperti tim polisi pada umumnya."

Mereka bertiga akhirnya melangkah bersama menuju ke arah mobil untuk kembali ke apartemen pengawasan dengan perasaan hati yang terasa sedikit lebih ringan dari sebelumnya. Jalan untuk menuntaskan kasus kematian Jennifer Cartter memang masih tergolong panjang dan berliku, namun di tengah tengah pekatnya ketegangan misteri pembunuhan, kehadiran momen momen kecil yang konyol seperti tadi berhasil membuat mereka semua tetap merasa sebagai seorang manusia seutuhnya.

Dan di dalam keheningan hati Elena, benih benih rasa cinta yang tulus itu sudah mulai tumbuh dan berkembang dengan sangat subur secara diam diam, tanpa pernah disadari sedikit pun oleh Arthur maupun Manuel.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!