NovelToon NovelToon
Sang Tuan Mafia

Sang Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:533
Nilai: 5
Nama Author: Yanti Topato

Semua orang mengenal Bintang Prakasa sebagai pengusaha muda yang sukses, berwibawa, dan nyaris sempurna. Namanya terpampang di berbagai media sebagai pemimpin perusahaan besar yang terus berkembang dari tahun ke tahun. Dengan wajah tampan, kecerdasan tajam, dan kekayaan yang melimpah, ia menjadi sosok yang dikagumi banyak orang.

Namun tidak ada yang tahu kehidupan sebenarnya di balik senyum tenangnya.

Di balik dunia bisnis yang gemerlap, Bintang adalah pria yang mengendalikan salah satu organisasi paling berpengaruh di dunia bawah. Namanya dihormati sekaligus ditakuti. Satu perintah darinya mampu mengubah nasib seseorang dalam sekejap.

Meski memiliki segalanya, hidup Bintang tidak pernah benar-benar damai.

Lima belas tahun lalu, ayahnya meninggal dalam sebuah peristiwa yang dianggap sebagai kecelakaan. Semua orang menerima penjelasan itu, kecuali Bintang. Ia yakin ada tangan-tangan kotor yang terlibat dalam kematian ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 Rumah Rania Diserang

Malam telah turun ketika Bintang Prakasa masih berdiri di depan jendela ruang kerjanya. Lampu-lampu kota berkilauan di kejauhan, namun pikirannya jauh dari pemandangan indah itu, tatapannya terpaku pada satu foto yang tergeletak di atas meja.

Foto seorang pria yang ditemukan tewas beberapa jam lalu. Salah satu orang yang selama ini masuk dalam daftar pencariannya, salah satu orang yang diduga terlibat dalam kematian ayahnya dan sekarang... orang itu telah mati, tepat sebelum Bintang berhasil menangkapnya.

Seseorang sedang bermain dengannya dan seseorang sedang menghapus semua jejak.

Ketukan pintu terdengar.

"Masuk."

"Kita sudah memeriksa lokasi kejadian." Rangga masuk dengan wajah serius.

"Hasilnya?" tanya Bintang.

"Profesional."

"Seberapa profesional?" Bintang mengangkat sebelah alis.

"Tidak ada sidik jari," jawab Rangga lagi.

"Tidak ada saksi?" tanya Bintang lagi.

"Tidak ada."

Bintang tersenyum tipis, senyum tanpa kehangatan.

"Leonard."

"Aku juga berpikir begitu," balas Rangga.

"Ajak beberapa orang." Bintang mengambil jasnya.

"Mau ke mana?" tanya Rangga.

"Pelabuhan," jawab Bintang cepat seraya berjalan keluar.

Tiga puluh menit kemudian, empat mobil hitam memasuki kawasan pelabuhan yang sepi. Angin laut berembus kencang, langit malam tampak gelap tanpa bulan.

Bintang turun dari mobil dan Rangga berjalan di sampingnya.

"Anak buah kita terakhir terlihat di gudang nomor tujuh," ujar Rangga.

"Ada kabar dari mereka?" tanya bintang dengan jalan cepat.

"Tidak ada." Rangga menggeleng.

"Itu bukan pertanda baik."

Mereka melanjutkan langkah dan beberapa pria bersenjata mengikuti dari belakang. Saat tiba di depan gudang, Bintang langsung menyadari sesuatu.

Pintu terbuka dan lampu menyala, terlalu tenang.

"Tunggu."

"Ada apa?" Rangga berhenti.

"Ini jebakan," jawab Bintang menahan tangan Rangga.

Belum sempat siapa pun bereaksi—

Dor

Suara tembakan memecah keheningan.

"Kena sergap!" teriak salah satu anak buah.

Dor! Dor! Dor!

Rentetan peluru langsung menghantam dinding gudang, dan semua orang langsung berlindung.

"Bintang!" panggil Rangga.

"Aku baik-baik saja!" Bintang menarik pistol dari balik jasnya, tatapannya berubah dingin.

"Keluarkan mereka."

Perintah itu langsung dijalankan. Baku tembak pecah, suara peluru bergema di seluruh area pelabuhan.

Salah satu penyerang tumbang kemudian disusul yang lainnya, namun lawan mereka tidak sedikit.

Mereka sudah menunggu dan mereka tahu persis siapa yang akan datang malam ini.

"Bintang!" teriak Rangga.

"Di kanan!" lanjut Rangga.

Bintang berbalik.

Dor

Satu tembakan dilepaskannya dan seorang pria langsung jatuh, namun pada saat yang sama—

Dor

Sebuah peluru melesat.

Brak

Tubuh Bintang terdorong ke belakang dan Rangga langsung membelalak melihatnya.

"Bintang!" Sapa Rangga terkejut.

"Aku tidak apa-apa," ucap Bintang.

Meski berkata demikian, darah mulai merembes dari bahu kirinya, peluru itu menggores cukup dalam.

"Keluar dari sini!" teriak Rangga.

"Tidak sebelum aku dapat satu orang hidup-hidup."

Namun lawan mereka ternyata sudah bersiap mundur. Sebuah mobil van melaju meninggalkan area gudang.

"Sial!" umpat Bintang.

Bintang mengepalkan tangannya, kesempatan itu hilang. Sekali lagi.

.

.

.

Sementara itu, Rania baru saja selesai mengoreksi tugas murid-muridnya. Jam menunjukkan pukul sebelas malam, ibunya sudah tidur sejak satu jam lalu.

Rania merapikan buku-buku di ruang tamu, tiba-tiba ponselnya berbunyi, Kepala sekolah menelepon.

"Halo, Bu," sapa Rania di telfonnya.

"Rania, maaf mengganggu malam-malam," ucap kepala sekolah di balik telfon.

"Tidak apa-apa."

"Ada guru yang sakit. Besok pagi bisa datang lebih awal?" jelas kepala sekolah.

"Tentu."

"Terima kasih."

Panggilan berakhir.

Rania tersenyum tipis lalu berjalan menuju dapur, namun saat melewati jendela depan rumah, ia melihat sesuatu.

Seseorang berdiri di seberang jalan. Seorang pria itu mengenakan topi, seolah sedang memperhatikan rumahnya. Rania mengernyit, ketika ia mencoba melihat lebih jelas, pria itu langsung berbalik dan pergi.

"Aneh."

Ia menganggapnya tidak penting.Namun tanpa sadar, bahaya mulai mendekat ke hidupnya.

.

.

.

Keesokan paginya, Bintang duduk di ruang perawatan pribadi milik rumah sakit rekanan perusahaannya. Seorang dokter sedang membersihkan luka di bahunya.

"Untung pelurunya hanya menggores," ucap dokter itu.

"Aku tahu," jawab Bintang datar.

"Anda harus beristirahat," saran dokter itu.

"Tidak bisa," balas Bintang cepat.

Dokter menghela napas.

"Setidaknya dua hari."

"Tidak." Bintang sungguh tidak bisa di ajak kerja sama.

Pintu ruangan terbuka dan Rangga masuk.

"Kau bahkan membuat dokter frustrasi," ujar Rangga.

"Ada kabar?" tanya Bintang.

"Kami menangkap satu orang." Rangga langsung serius.

"Hidup?" Tatapan Bintang menajam.

"Hidup." jawab Rangga lagi.

"Di mana dia?" tanya Bontang lagi.

"Gudang kita."

Bintang langsung berdiri.

"Tunggu! Luka Anda—" Dokter memprotes.

"Aku belum mati." potong Bintang.

"Tapi—" ucap dokter itu lagi.

"Aku bilang aku baik-baik saja," potong bintang lagi cepat.

Dokter menyerah. Sama seperti semua orang, tak ada yang bisa menghentikan Bintang ketika ia sudah membuat keputusan.

.

.

.

Satu jam kemudian. Seorang pria duduk terikat di kursi, wajahnya babak belur. Bintang masuk ke dalam ruangan dan ria itu langsung menunduk.

"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Bintang.

Tidak ada jawaban. Bintang menarik kursi dan duduk tepat di depannya.

"Aku tidak suka mengulang pertanyaan," uajr Bintang.

Pria itu tetap diam.

"Bos, biar aku saja." Rangga melangkah maju.

"Tidak." Bintang menatap pria itu.

"Leonard?" lanjut Bintang pada pria itu.

Pria itu langsung bereaksi. Sedikit, tapi itu sudah cukup untuk Bintang mengerti.

"Kau bekerja untuk Leonard." Bintang melihatnya.

"Aku tidak tahu apa-apa." Pria itu menelan ludah.

"Kalau begitu kenapa kau takut mendengar namanya?" Bintang tersenyum tipis.

"Aku sungguh tidak tahu." Pria itu mulai berkeringat.

Tiba-tiba ponsel Rangga berdering, Semua orang langsung terdiam. Rangga melihat layar dan wajahnya seketika berubah.

"Bintang," panggil Rangga.

"Apa?" tanya Bintang dingin.

"Ini nomor pribadi," jawab Rangga.

Bintang menerima ponsel itu.

"Halo."

Beberapa detik berlalu. Lalu terdengar suara seorang pria, suara yang sudah bertahun-tahun ingin ia dengar.

"Bintang Prakasa."

Rahang Bintang mengeras, Leonard.

"Sudah lama," suara di seberang tertawa kecil. "Kau tumbuh besar."

"Aku mencarimu," ucap Bintang.

"Aku tahu," balasnya.

"Karena itu kau bersembunyi."

"Karena itu aku membiarkanmu hidup," jawab Leonard di seberang telfon.

Ruangan langsung sunyi.

"Katakan lagi." Tatapan Bintang berubah mengerikan.

"Ayahmu juga sesombong itu sebelum mati."

Brak

Meja di depan Bintang hancur dihantam tinjunya dan semua orang terkejut.

"Kalau kau pria sejati, temui aku."

"Sabarlah." Leonard tertawa.

Klik

Panggilan terputus.

Bintang masih berdiri memegang ponsel, darah mendidih di seluruh tubuhnya. Untuk pertama kalinya, musuh yang selama ini diburunya mengakui keterlibatannya, namun sebelum siapa pun sempat berbicara—

Dor

Suara tembakan terdengar dari luar gedung. Semua orang langsung siaga, Rangga berlari ke jendela dan wajahnya mendadak pucat.

"Bintang!" Panggil Rangga terkejut.

"Apa?" tanya Bintang cepat.

"Ada yang menyerang rumah Rania!" jawab Rangga.

"Bagaimana kau tahu?" Tubuh Bintang langsung membeku.

Rangga menunjukkan layar ponselnya. Salah satu anak buah mereka yang diam-diam ditugaskan mengawasi Rania, baru saja mengirim foto.

Foto rumah Rania dan sebuah mobil hitam yang berhenti tepat di depannya lalu diikuti pesan singkat.

"Mereka membawa Rania."

Bintang meremas ponselnya begitu kuat hingga hampir hancur, tatapannya berubah gelap. Sangat gelap, karena perang yang selama ini hanya menyangkut dirinya... kini telah menyeret satu-satunya wanita yang tidak seharusnya terlibat.

1
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
yg bayak tor up ya hari ini
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update ya dong torku
Glastor Roy
seru kali torku yg baik hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!