NovelToon NovelToon
Sistem Sekretaris Kecil

Sistem Sekretaris Kecil

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: WANA SEBAYA

Citra Lestari terbangun di dunia novel yang penuh intrik dan cinta beracun.
Di sana, sang bintang cantik Shafira Maharani hancur karena pria yang tak pernah setia.
Namun kali ini, Citra Lestari datang bukan untuk menangis — tapi untuk menaklukkan.
Dengan pesona lembut dan kecerdikan tersembunyi, ia perlahan membuat sang taipan bertekuk lutut.
Ketika si libertine mulai menyerahkan hatinya, cinta pun berubah menjadi permainan yang tak bisa dihentikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Tanaman Parasit yang Indah

Citra Lestari menyingkirkan selimut sutra, duduk di tepi kasur, dan sempat terpaku sejenak sebelum pipinya kembali memerah karena ingatan yang menyerbu.

Ia mengencangkan otot perutnya yang terasa nyeri samar, lalu melangkah ke atas karpet tebal dengan kaki telanjangnya. Langkahnya masih sedikit goyah—sisa dari malam yang panjang.

Ia berjalan menuju cermin rias besar yang menjulang dari lantai hingga langit-langit.

Pantulan di cermin menunjukkan seorang gadis dengan rambut hitam panjang terurai berantakan di bahu telanjangnya. Kulitnya tampak bercahaya, lembut seperti giok yang telah dipoles. Namun di atas keputihan kulit itu, tersebar tanda-tanda samar berwarna merah muda pucat—seperti kelopak bunga plum yang jatuh di atas salju bersih.

Dari lehernya yang ramping, turun ke tulang selangka, hingga area yang lebih privat. Semua itu adalah jejak klaim Arjuna Pratama.

Pria dari keluarga konglomerat terkemuka itu, tadi malam, bertingkah jauh dari kesan dingin dan arogannya. Ia tampak lapar, penasaran, dan tak pernah merasa cukup. Setiap jengkal kulit Citra seolah menjadi wilayah baru yang harus ia jelajahi dan tandai.

Citra sedikit menoleh. Cermin memantulkan lekuk pinggangnya, di mana beberapa bekas sidik jari biru keunguan yang samar masih terlihat jelas.

Wajah mungilnya memerah. Bahkan cuping telinganya pun ikut terbakar malu.

Kenangan fragmentasi dari malam sebelumnya membanjiri pikirannya. Napas panas pria itu. Bisikan pujian yang serak. Otot-otot perutnya yang keras saat menekan tubuh Citra. Dan mata itu—mata yang seolah ingin melahapnya hidup-hidup.

Sekadar mengingatnya saja membuat lutut Citra terasa lemas. Ia buru-buru meraih bingkai cermin yang dingin untuk menstabilkan dirinya.

Saat mendongak, gadis di cermin tampak berbeda. Ada pesona lembut di mata dan alisnya, seolah-olah ia baru saja disayangi dengan sangat intens. Murni, namun tanpa sadar memancarkan daya tarik yang mematikan.

*Sistem itu tidak berbohong.*

*Karunia dari "Anak Takdir" ini sungguh merupakan nutrisi luar biasa bagi tubuhnya.*

Energi hangat itu telah menyatu perlahan ke dalam tulang dan darahnya, memperbaiki penolakan awal antara jiwanya dan cangkang fisik ini. Tubuh yang awalnya agak lemah kini memancarkan kelembutan yang ternutrisi sepenuhnya. Keindahannya bukan lagi sekadar lapisan luar—ia bersinar dari dalam.

Citra bahkan bisa merasakan energi vital yang pulih, mirip konsep penyembuhan spiritual dalam novel-novel fantasi yang dulu pernah ia baca.

Semalam, setelah acara berakhir, ia hampir pingsan karena kelelahan. Namun hari ini, ia bisa bangun dan berdiri dengan baik. Kondisi fisiknya justru terasa lebih ringan daripada sebelum kejadian itu.

*Ini sudah menjelaskan banyak hal. Hubungan ini, seberat apa pun harganya, memberikan keuntungan bertahan hidup yang nyata.*

Citra dengan malu-malu meregangkan tubuhnya di depan cermin. Gerakannya polos, namun lengkungannya yang terbuka secara tidak sengaja terlihat genit. Jika ada orang lain di sini, mereka mungkin tidak akan melihatnya sebagai "Peri Kecil" yang lugu—melainkan iblis bunga kecil yang baru mekar.

Emosi kompleks di matanya yang basah perlahan mereda, digantikan oleh ketergantungan yang patuh.

*Ia membutuhkannya.*

Ia membutuhkan kehadiran Arjuna, kekuatannya, dan sumber dayanya. Seperti tanaman parasit yang indah, ia secara naluriah melilit pohon perkasa agar bisa bertahan hidup di hutan beton ini.

---

Beberapa saat kemudian.

Citra sudah berpakaian lengkap—dan kali ini, penampilannya jauh berbeda dari biasanya.

Ia mengenakan gaun tali spaghetti berwarna dusty pink. Bahannya terbuat dari sifon ringan yang lembut saat disentuh, meluncur elegan di atas tubuhnya yang ramping, menonjolkan bahu yang lansing dan lekuk tubuhnya yang anggun. Ujung gaun itu berhenti tepat di atas lutut, memperlihatkan betisnya yang indah.

Ini adalah setelan yang dipesankan Arjuna dan diletakkan di meja samping tempat tidur sebelum pria itu pergi pagi tadi. Pertama kalinya Citra mengenakan gaun seindah itu sejak ia "lahir" ke tubuh ini setengah bulan lalu.

Ia menyentuh lehernya. Bekas ciuman di sana sudah semakin memudar, kini hanya berupa jejak merah muda samar yang bisa ditutupi dengan sedikit bedak jika perlu.

Tiba-tiba, ponsel di meja samping berdering keras. Layarnya berkedip, menampilkan nama: *Saudari Siska*.

Jantung Citra berdebar kencang.

*Oh tidak. Aku bangun kesiangan.*

Dengan tangan gemetar, ia mengangkat telepon, menarik napas dalam-dalam, dan menekan tombol jawab.

"Citra Lestari! Kamu ke mana saja?!"

Suara Shafira Maharani meledak dari speaker, tajam dan penuh amarah. "Jam berapa sekarang?! Kamu di mana? Tidak menjawab panggilan atau pesan—apa kamu menganggapku bukan atasanmu? Apa kamu tidak menginginkan pekerjaan ini lagi?!"

Citra terkejut mendengar rentetan omelan itu. Rasa tidak adil muncul sesaat, namun ia segera menekannya. *Memang ini kesalahannya. Bangun kesiangan dan lupa meminta izin.*

"Maafkan aku, Saudari Siska. Aku benar-benar minta maaf!"

"Aku... aku tiba-tiba merasa sangat tidak enak badan pagi ini. Sangat pusing, lesu... Aku baru saja bangun... Aku tidak bermaksud..."

Sambil berbicara, Citra melangkah kecil ke sofa dan duduk. Ia meletakkan telepon di meja kopi dan mengaktifkan speaker phone. Kemudian, dengan gerakan yang agak aneh, ia mengulurkan kedua tangan ramping dan pucatnya—lalu dengan tenang menutupi kedua telinganya, menyisakan celah kecil saja.

Dengan cara ini, suara Shafira masih bisa masuk, namun amarahnya sedikit teredam secara fisik. Jarak yang diciptakan melalui penghalang kecil itu.

"Sakit? Kurasa kau hanya mencari alasan untuk bermalas-malasan!" seru Shafira, suaranya kini terdengar agak tertahan. "Sudah belajar menghindar setelah hanya beberapa hari? Tahukah kau berapa banyak pekerjaan yang tertunda karena kau tidak ada di sini?"

"Orang desa udik sepertimu... kalau aku tidak merasa kasihan, siapa yang mau mempekerjakanmu? Kamu sama sekali tidak tahu aturan! Benar-benar mengira dirimu istimewa?!"

Kemarahan Shafira tidak bisa diredakan hanya dengan satu permintaan maaf. Kata-kata kasar terus berdatangan.

Citra menutupi telinganya rapat-rapat. Wajah mungilnya sedikit mengerut, bulu matanya yang panjang tertunduk, menciptakan bayangan kecil di bawah matanya.

Sesekali, ia menjawab dengan suara lembut ke arah telepon di meja:

"Mhm... maaf, Saudari Siska..."

"Aku tahu aku salah..."

"Hal itu tidak akan terjadi lagi..."

"Mhm... mhm..."

Penampilannya tampak patuh sekaligus pengecut. Ada sedikit rasa dendam tersembunyi di balik kepatuhan paksa itu. Ia seperti anak kucing yang dimarahi pemiliknya—ketakutan, namun tidak berani lari, hanya mampu menutup telinga dan merengek pelan agar badai cepat berlalu.

Seluruh perhatiannya tertuju pada percakapan telepon itu. Ia begitu tenggelam dalam peran "korban" yang pasif, sehingga tidak menyadari bahwa pintu suite telah terbuka dan tertutup beberapa saat yang lalu.

Arjuna Pratama telah kembali.

Ia telah melepas jaket jasnya, yang kini tersampir santai di lengannya. Hanya mengenakan kemeja hitam dengan dua kancing teratas terbuka, memperlihatkan sebagian kulit dadanya dan tulang selangka yang menonjol. Wajahnya masih menyimpan sisa kejengkelan dari pertemuan dengan para anggota dewan direksi tadi pagi.

Namun, saat pandangannya jatuh pada gadis kecil di ruang tamu, semua kejengkelan itu membeku.

Ia melihat Citra duduk meringkuk di sofa, tangan menutupi telinga, wajah mungilnya mengerut lucu sambil mendengarkan omelan dari telepon. Gadis itu tampak begitu kecil, begitu rentan,dan begitu menggemaskan dalam kepatuhannya yang terpaksa.

Arjuna menyandarkan tubuhnya di kusen pintu. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang jarang terlihat. Matanya yang tajam mengamati setiap gerakan kecil Citra—seperti predator yang menemukan mangsanya sedang bermain dengan caranya sendiri.

---

1
cipung
makin seru thotlr👍👍
cipung
semangat thor
cipung
keren...lanjut👍👍
Friska trisna
Tema perjuangan: Bab ini bisa jadi fondasi untuk tema besar — Citra membangun karier dengan usahanya sendiri, meski berada di bayang-bayang kekuasaan Arjuna.
Friska trisna
Bab ini berhasil menunjukkan dinamika pasangan: Citra yang polos dan keras kepala, Arjuna yang arogan tapi luluh oleh ketulusan.Ada keseimbangan antara romansa manis dan ketegangan ringan. Pembaca bisa ikut tersenyum melihat kegembiraan Citra, sekaligus merasa hangat melihat Arjuna akhirnya mendukungnya.
cipung
semangat kak🤭
Ayu Ning
semangat thor
Ayu Ning
secepat itukah,menyerah.
Rahman Hayati
lanjut
Rahman Hayati
baru mampir moga suka
cipung
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!