"Kak Luis, tolong jangan ... ini menyakitkan!" titah Laura dengan wajah memerah. Bahkan ia memalingkan wajahnya ke arah lain. "Kamu berani menegurku!" Wajah Luis nampak menyeramkan. "Kak Luis ... Maafkan aku ... " Ucapan Laura saat tiba-tiba Luis beralih menciumnya. "Ini adalah hukuman karena kamu berani menentang perintahku Laura Ana ... " Kedua bola mata Laura membelalak sempurna, saat Luis ingin ... Luis Lucian sangat membenci Laura Ana, ia menganggap jika Laura anak haram dari ayahnya yang membuat ibunya pergi. Padahal yang sebenarnya terjadi, saat Lucian berumur 15 tahun, ibunya pergi karena berselingkuh. Sementara Laura anak dari sahabat ayah Lucian yang kedua orang tuanya meninggal saat kecelakaan. Saat umur 16 tahun, Laura dibawa kerumah Lucian dan tinggal disana. Karena kelebihan yang diderita Laura, Lucian mengira Laura pernah hamil dan melahirkan. Dia terus menganggu dan mempermainkan perasaan Laura, walaupun bagi Luis, ia dan Laura saudara satu ayah. Luis akan membuat Laur
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11.
"Ibu ... " Panggil Luis, hal itu sontak membuat Arina menoleh.
Tatapannya beradu dengan Luis, hatinya terasa sangat sakit. Sungguh ia merasa bersalah, demi seorang pria kasar, ia meninggalkan putranya dan juga mantan suaminya yang begitu mencintainya.
Tangan Luis sontak memegang salah satu pipi ibunya yang lebam.
Hal itu langsung membuat lamunan Arina buyar.
"Ibu tinggal disini?" Tanya Luis penuh kerinduan.
Saking merasa bersalahnya, Arina sampai tidak bisa berkata-kata untuk menjawab pertanyaan anaknya.
Ia pun memilih langsung berjongkok untuk mengambil beberapa sayuran dan bahan makanan.
Reflek, Luis juga membantu ibunya mengambil barang belanjaan yang tercecer itu.
Tatapannya tak sengaja menatap ke arah tangan Arina yang melepuh, amarah kembali membuncah dadanya.
Ia teringat Laura yang tinggal dirumahnya makan enak dan tidur nyenyak. Karena seingatnya sejak pergi dari rumah, keluarga besar ibunya juga tidak menerima ibunya.
Karena mereka tahu, keluarga mereka bergantung pada ayahnya. Mengingat dibandingkan dengan harta ayahnya seorang, harta keluarga besar ibunya itu jauh lebih kecil.
Jadi ia menduga, beberapa bekas luka di tangan ibunya karena kehidupan ibunya yang menderita. Mengingat selama 16 tahun ibunya tinggal bersamanya, ibunya sama sekali tidak pernah memasak karena memang tidak bisa, sejak kecil ibunya hidup kemewahan.
Dan sekarang ibunya membeli bahan makanan.
"Laura, gara-gara kamu dan ibumu masuk ke keluargaku. Ibuku harus menderita begini," gumam Luis dalam hatinya.
Ia semakin merasa dendam pada Laura, "aku harus memberikannya pelajaran."
Akhirnya ia memiliki satu ide, "ibumu yang hina itu sudah naik ke ranjang ayahku. Bagaimana kalau aku juga buat hal itu padamu dan memvideokannya." Gumamnya dalam hati.
Akhirnya Luis teringat kalau Laura dari awal memang pernah hamil dan melahirkan, pasti kasus itu di bereskan oleh ayahnya.
Bagaimana kalau dia buat Laura hamil dan keguguran, ia ingin Laura keguguran karena tidak ingin gadis hina itu melahirkan benihnya.
Melihat putranya yang sebelumnya ramah dan nampak mematung, seperti memikul beban. Lantas Arina memilih berbasa-basi. "Luis, hari ini kamu mau pergi kemana?"
Tapi bukanya menjawab, Luis malah mencium punggung tangan Arina, lalu segera meninggalkan tempat itu.
Arina menatap punggung putranya yang menjauh dengan tatapan sedih dan penuh penyesalan. Ia teringat ekspresi Luis tadi, "mungkin dia marah karena perselingkuhanku!!"
Lalu Arina kembali apartemennya.
Disana Emma terlihat sangat sedih.
Arina berjalan menghampiri putri tirinya, "Emma, kenapa kamu sedih?"
"Pacarku membatalkan untuk makan bersama disini," ujar Emma, saat menatap Arina. Ekspresinya berubah sangat rumit.
Arina mengelus punggung Emma, "nggak papa. Kan masih ada waktu lain kali." Ujarnya, dalam hati ia merasa lega.
Mengingat masakannya nggak ada yang enak. Jadi ia bisa belajar memasak dulu, agar Emma tidak malu didepan pacarnya.
***
Diluar negeri yang bersalju.
Wilson terbaring lemah di ranjang rumah sakit, wajahnya yang biasanya tegas kini pucat dan berkerut oleh rasa sakit.
Matanya yang sayu menatap lurus ke arah Dylan, asisten pribadinya yang berdiri di samping dengan ekspresi cemas terpancar jelas.
Tangan Wilson gemetar saat menggenggam selimut putih di tubuhnya, berusaha mengumpulkan keberanian untuk membuka pembicaraan yang mengusik hatinya.
"Aku minta tolong padamu," suaranya serak, penuh harap, "Kamu sering cek CCTV rumah, kan? Apakah Luis melakukan hal buruk pada Laura atau tidak?"
Dylan mengangguk cepat, bibirnya menekan rapat, berusaha menenangkan diri sebelum menjawab. "Tapi tuan," katanya dengan nada hati-hati, "apakah nggak sebaiknya Anda berbicara jujur pada tuan muda Luis tentang ibunya yang berselingkuh? Kasihan nona Laura, yang dikira ibunya menjadi selingkuhan Anda."
Wilson menutup matanya sejenak, napasnya terengah, menahan gelombang emosi yang bergejolak dalam dada. "Nanti aku pasti menjelaskannya langsung," jawabnya pelan, suaranya terdengar sangat lemah penuh tekad namun diselimuti penyesalan yang dalam.
Ia tahu kebenaran itu akan mengguncang segalanya, tapi sekarang ini keadaannya sudah sangat memburuk.
"Menurutmu apakah aku bisa sembuh dari penyakit otak ini?" Tanya Wilson.
Dylan mengangguk, "pasti bisa tuan. Saran saya, demi nona Laura dan tuan muda Luis, anda harus sembuh dan melupakan nyonya Arina."
"Anda sampai mengorbankan kesehatan seperti ini, anda selalu memikirkan nyonya Arina tapi nyonya malah memikirkan pria lain. Sungguh tuan Wilson, semua itu sama sekali tidak sebanding."
Wilson yang mendengar ucapan Dylan akhirnya tersadar, ditambah dengan rasa sakit ditubuhnya yang nyata.
Bahkan ingatannya kembali disaat seminggu setelah Arina meninggalkannya.
Arina terlihat sangat berbahagia bersama dengan Johan mantan pacarnya, bahkan mereka berlibur bertiga bersama dengan anak kandung Johan.
Bahkan yang membuat Wilson tambah sakit hati, Arina dengan begitu mudahnya mencuri beberapa proyek miliknya demi Johan, bukan itu saja dengan tega sebagai seorang ibu.
Arina meninggalkan putra semata wayangnya.
Tiba-tiba Wilson memegangi kepalanya, rasa sakitnya kambuh dan sangat menyiksa.
"Tuan, saya mohon. Tolong lepaskan nyonya! Anda dan dia juga sudah bercerai!" Ujar Dylan, lalu ia menyuruh Wilson menarik napas dan membuangnya perlahan.
Ia juga memencet tombol bantuan beberapa kali.
***
Luis dengan wajah merah padam bergegas pulang ke rumah untuk membuat perhitungan dengan Laura.
Ia menekan pedal gas mobilnya hingga suara mesin meraung nyaring, ban beradu dengan aspal yang panas di bawahnya.
Jantungnya berdegup kencang, bukan hanya karena kecepatan, tapi juga amarah yang membara dalam dadanya.
Wajahnya kaku, mata yang biasanya dingin kini menyipit penuh dendam. "Aku harus bertemu dia," gumamnya dengan suara serak, tangannya mengepal di setir.
Sesampainya di rumah, ia bertanya pada satpam rumahnya. Tapi satpam itu mengatakan kalau Laura belum pulang, bahkan suasana sepi tanpa jejak keberadaan gadis itu.
Luis mengerutkan dahi, menatap sekeliling dengan penuh kecurigaan. "Astaga kemana dia? Pasti dia sekarang sedang berduaan dengan Nigel dihotel."
"Sudah kubilang jangan dekat-dekat sama Nigel!" ucapnya, nada suaranya meninggi, menggema di halaman kosong.
Tubuhnya bergeming sejenak, berusaha menahan amarah yang hampir meledak.
Tanpa ragu, ia masuk ke slama mobilnya lagi, lalu memutar balik mobilnya dan melaju lagi ke rumah sakit.
Namun, sepanjang perjalanan, matanya terus mencari sosok Laura di antara keramaian jalanan.
Ponselnya ia panggil berkali-kali, tapi hanya suara nada sibuk yang menjawab.
Rasa gelisah mulai merayapi, berubah menjadi ketakutan yang samar. "Ke mana dia pergi? Kenapa ponselnya mati?" pikir Luis dengan dada sesak, tangannya menggenggam setir lebih erat seolah ingin menahan dunia agar tak runtuh di hadapannya.
Sementara itu, bis melaju dengan kecepatan tinggi menuju ke arah hutan belantara.
Beberapa preman nampak melirik ke arah sekarang gadis berwajah pucat, tapi sangat cantik.
Dada Laura yang mengundang hasrat mereka
Laura sendiri masih terlelap di kursi bis, napasnya teratur meski tubuhnya terasa lelah luar biasa.
Di sebelahnya, tiga botol obat dengan kemasan mewah tergeletak tak tersentuh.
Nigel sudah memberikannya dengan harapan bisa membantu, tapi Laura terlalu kelelahan hingga lupa meminumnya.
Tiba-tiba, tubuhnya kaku saat sebuah tangan kasar mencoba meraih pahanya.
Mata Laura terbuka lebar, jantungnya berdegup kencang seperti ingin melompat keluar dari dada.
Sekelilingnya, bayangan hitam preman-preman bertubuh besar mengelilinginya dengan senyum mengerikan dan tatapan penuh nafsu.
"Hay, gadis manis. Ikut Abang yuk," suara mereka menggema, penuh ancaman dan menggoda.
Panik menyergap, Laura mencoba meronta, menarik napas dalam-dalam untuk menguatkan diri.
Namun, tangan-tangan mereka sudah mencengkeram pergelangan tangannya dan menahan kakinya yang gemetar.
Tubuhnya diangkat kasar, seperti boneka yang tak berdaya, sementara suara bis yang seharusnya memberinya perlindungan kini terasa begitu jauh dan tak berarti.
Matanya mencari-cari di sekitar, berharap ada seseorang yang bisa menolong, tapi hanya ada deretan bangku kosong dan langit kelabu yang mulai mendung.
Hatinya berteriak dalam diam, berjuang melawan ketakutan yang mengikatnya erat dalam genggaman para preman itu.
Tapi sayang tenaganya tidak sebanding.
Lalu tatapan Laura menusuk tajam ke arah sopir bis, penuh harap dan ketakutan yang membuncah di matanya.
Namun, pria itu hanya menundukkan kepala, enggan menatap kembali, seolah malu dan takut terlibat dalam neraka yang menjerat gadis itu.
Tubuh Laura bergetar saat beberapa preman kasar mengangkatnya dengan paksa, suara napasnya tercekat di tenggorokan.
Salah satu preman mengerang sinis, "Danu ... Aku anggap hutang 10 juta mu lunas. Karena gadis ini akan aku jual ke luar negeri." Ujarnya pada sopir.
Sopir bis itu hanya mengangguk pelan.
Laura hanya mampu menggeleng pelan, air matanya mulai mengalir deras, membasahi pipi yang pucat.
Para preman itu dengan semangat membawanya ke sebuah gubuk.
Di sebuah gubuk reyot yang remang, tangan-tangan kasar merobek atasan bajunya tanpa ampun, memperlihatkan dada putihnya yang besar dan halus, seolah menjadi korban di bawah sorot kejahatan yang kejam.
Tangisannya pecah, suara lirih penuh putus asa mengisi keheningan malam yang dingin, menandai momen paling kelam dalam hidupnya.
Laura benar-benar ketakutan ...