NovelToon NovelToon
Sangkar Merah

Sangkar Merah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:644
Nilai: 5
Nama Author: Mooniecaa_moon

Aletha merupahan remaja yang sangat senang akan dunia malam. Ia juga merupakan anak konglomerat yang terkenal di kota Metropolitan. Tapi kini dirinya harus di hadapkan dengan perjanjian kontrak dengan Danny yang sepertinya menguntungkan? atau malah merugikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mendatangi tempat yang Sama—20

Aletha mengusap permukaan foto wajah ibunya yang tersenyum hangat.

"Mama lagi apa?" bisik Aletha lirih ke dalam kesunyian kamar. "Aku sama Papa sampai sekarang masih berduka atas kepergian Mama. Gak kerasa... udah mau tiga tahun Mama pergi."

Setitik air mata lolos dari sudut matanya, jatuh tepat di atas kaca album foto. "Kata orang, gak ada yang mustahil di dunia ini, Mah. Boleh gak kalau Ale berharap Mama sehat dan selamat entah itu di bagian dunia mana, dan suatu saat... Mama pulang?"

Keheningan kamar tidak memberikan jawaban. Aletha mendongak, matanya tertuju pada sebuah gaun hitam milik ibunya yang masih tergantung rapi di dalam lemari. Sebuah dorongan impulsif mendadak menguasai benaknya.

Aletha bangkit, mengambil gaun hitam milik ibunya dari dalam lemari, lalu membawanya ke kamar mandi. Ia mengguyur tubuhnya di bawah pancuran air, membasuh sisa-sisa kehangatan dari hari ini, lalu berdandan seperti biasanya dengan mengenakan gaun hitam ibunya, merias wajahnya dengan riasan natural, bersiap untuk sebuah ritual duka yang sempat ia tunda.

Karena mobil Porsche-nya masih tertinggal di mansion Dirgantara, Aletha berjalan menuju basemen dan mengendarai mobilnya yang lain—sebuah sedan sport hitam yang jarang ia sentuh.

Sebelum menuju tujuan utamanya, Aletha berhenti di sebuah toko bunga besar di pinggir jalan. Tanpa memikirkan harga, ia memesan 100 tangkai bunga krisan putih segar yang diikat menjadi satu buket besar. Bunga kematian.

Mobil sport hitam itu melaju kencang meninggalkan hiruk pikuk kota, menuju ke arah pantai utara Jakarta yang sepi dan jauh dari jangkauan.

Sore telah berganti menjadi malam yang pekat ketika Aletha tiba di tepi laut. Angin malam berembus kencang, menerbangkan rambut panjangnya dan mengibarkan ujung gaun hitam yang ia kenakan. Suara deburan ombak yang menghantam batu karang terdengar seperti gema kutukan dari masa lalu.

Aletha berjalan mendekati bibir pantai yang gelap, lalu duduk di atas pasir yang dingin. Buket besar berisi 100 tangkai bunga krisan putih diletakkannya tepat di samping tubuhnya. Matanya yang hitam menatap lurus ke arah horizon laut yang mulai gelap, tempat di mana ibunya lenyap tanpa sisa.

"Mama, aku dateng," buka Aletha, suaranya bergetar hebat menahan badai emosi yang bergemuruh di dadanya. "Hari di mana Mama pergi dari dunia ini... aku nggak tahu harus ngapain, Mah. Bahkan buat sekadar berdiri tegak aja, aku gak punya kekuatan."

Aletha meremas jemarinya sendiri, mengingat hari terkutuk dua tahun lalu. "Bahkan aku belum ngucapin selamat tinggal buat menyambut kepergian Mama dengan layak. Hari itu, aku lihat berita di mana-mana, Mah... aku gak bisa ngomong sama sekali. Sampai akhirnya aku hancur dengan sendirinya."

Air mata Aletha mengalir deras, membasahi riasan wajahnya, namun ia tidak peduli.

"Kata Papa, aku percuma dateng ke sini karena buang-buang waktu. Bahkan Papa ngelarang aku teriak atas kepergian Mama. Aku cuma bisa bungkam mulutku pakai tangan supaya suara nangis aku gak kedengeran Papa... aku takut, Mah. Tapi ingatan aku masih sama soal Mama, aku simpen di sana. Walaupun pada akhirnya, Mama hilang ditelan lautan yang gelap dengan ombak yang gak memberi jawaban sama sekali ke Ale."

Aletha memeluk lututnya, tubuhnya menggigil bukan karena angin malam, melainkan karena duka yang kembali membakar jiwanya. "Bayangan Mama masih setia di mimpi Ale. Ale gak pernah tidur nyenyak, Mah, semenjak kepergian Mama. Ale selalu mimpi buruk dan ngulang kejadian itu terus-terusan."

Aletha teringat ucapan papanya di kantor tadi. "Mah... kata Papa, wajah Mama mirip kayak aku. Apa Mama selalu di sini? Aku ngelewatin hari-hari di antara sunyi yang aku pilih daripada nyusahin orang lain. Tapi hari ini... gelap itu balik lagi, Mah. Aku mulai berduka lagi. Ternyata... luka itu cuma dibalut, dan gak pernah diobati."

Malam semakin larut, dan kesunyian pantai itu mendadak dipecahkan oleh suara jeritan yang luar biasa pilu. Aletha berdiri, menggenggam buket bunga krisan itu di dadanya, lalu berteriak sekencang-kencangnya ke arah lautan lepas.

"MAMA PULANG, MAH! ALE KANGEN, MAH!!!"

Suara teriakan itu begitu menyayat hati, sarat akan keputusasaan yang teramat dalam, seolah langsung diredam oleh suara deburan ombak besar.

Aletha mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam air laut yang dingin membeku. Selangkah, dua langkah, hingga air laut naik setinggi pahanya, membasahi gaun hitam milik ibunya. Di tengah kegelapan malam, ia mengulurkan tangannya yang memegang buket bunga krisan putih.

"Mah... ada saat-saat di mana Ale gak bisa ngomong dan milih diem dengan keadaan yang terus-terusan menghantui Ale," bisik Aletha, air matanya berbaur dengan air laut yang menciprat ke wajahnya. "Kadang aku juga bayangin, Mah... gimana jadinya kalau aku lebih milih nyusul Mama?"

Tangan Aletha mencengkeram erat beberapa tangkai bunga yang tersisa di genggamannya. "Kalau di depan sana banyak hal buruk yang terjadi... tolong jemput Ale ke tempat Mama. Walaupun Ale udah tahu tempat itu gelap... yang penting ada Mama. Mama... kalau ada keajaiban itu, tolong pulang ya, Mah..."

Aletha akhirnya menangis meraung-raung di tengah gulungan ombak malam. Suaranya terdengar begitu pilu dan patah, melepaskan seluruh beban, trauma, dan kepalsuan yang selama ini ia pikul sendirian di daratan. Satu per satu, 100 tangkai bunga krisan putih itu ia lepaskan, membiarkannya hanyut dan mengapung di atas permukaan laut yang hitam, terbawa arus menuju kegelapan palung terdalam.

Setelah sisa tangisnya mereda dan menyisakan napas yang tersengal-sengal, Aletha menatap helai-helai bunga yang mulai menjauh.

Pelahan, dengan gerakan kaku, Aletha berjalan mundur menjauhi air laut. Ia mengangkat tangannya, membungkam mulutnya sendiri yang gemetar dengan telapak tangan, persis seperti yang ia lakukan dua tahun lalu.

"I love you, Mama..." bisik Aletha di balik bungkaman tangannya.

Ia berdiri diam selama beberapa saat di tepi pantai, memandangi ke mana arah bunga-bunga putih itu pergi menyusup ke dalam kegelapan malam. Setelah memastikan seluruh bunganya hanyut, Aletha membalikkan tubuhnya. Dengan langkah tegap yang dipaksakan kembali, ia berjalan menuju mobil sport hitamnya dan melaju pulang, meninggalkan dukanya kembali terkunci di bawah gulungan ombak samudra.

1
azrinasarah
LANJUTT PLUSSS😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!