NovelToon NovelToon
Undefined: The Guardian Dog

Undefined: The Guardian Dog

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance / Mafia / Romansa
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: hrarou

🌶️ WARNING!!🌶️

Mengandungi ***** ****** yang mungkin tidak sesuai untuk semua pembaca.
.
.
.
Dalam dunia gelap yang dipenuhi darah, senjata, dan pengkhianatan, Seravina dikenal sebagai wanita sempurna yang tidak pernah gagal.

Cantik. Elegan. Mematikan.

Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah anggunnya, tersembunyi monster dingin yang tidak ragu membunuh siapa pun yang membuatnya jijik.

Hingga suatu malam, pencarian anjing baru membawanya ke arena pertarungan underground.

Dan di sanalah dia bertemu Viktor—pria yang bertarung bukan demi uang atau kemenangan, tetapi demi merasakan sesuatu yang bahkan tidak dia pahami.

Satu kehilangan diri karena trauma.

Satu lagi hidup tanpa pernah benar-benar memilikinya.

Ketika dua manusia yang sama-sama rusak dipertemukan, siapa yang akan hancur lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hrarou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kagum

Seravina duduk di kursi utama, menyandarkan punggungnya dengan santai. Ia melipat tangannya di atas meja, sementara Viktor berdiri tepat di belakangnya.

Suasana ruangan yang tadinya bising oleh bisik-bisik para pria tua itu mendadak senyap begitu Seravina membuka suara.

"Jadi..." Seravina menjeda kalimatnya, matanya yang tajam menyapu satu per satu wajah orang-orang di depannya dengan tatapan meremehkan.

"Siapa yang punya ide brilian untuk memotong jalur distribusi di pelabuhan selatan tanpa izin?" suaranya rendah, dan tenang.

Seravina mengambil sebuah map dokumen di depannya, lalu melemparnya ke tengah meja dengan gerakan santai yang menghina. Bunyi plak dari map itu membuat beberapa orang tersentak.

"Ayahku sampai menyuruhku datang ke sini hanya untuk mengurus masalah sepele ini," ucap Seravina, nadanya terdengar sangat bosan. "Kalian tahu apa artinya itu? Artinya, kesabaran keluarga Zharvok sudah habis. Beliau tidak ingin lagi mendengar laporan tentang 'kerugian kecil'. Beliau ingin kepala seseorang di atas meja ini jika pengiriman besok masih terhambat."

Seorang pria tua dengan kumis tebal, Tuan Moretti, mencoba memperbaiki posisi duduknya. Ia berusaha menutupi kegugupannya dengan suara yang dipaksakan tegas.

"Nona Seravina, Anda harus mengerti... pelabuhan selatan sedang dijaga ketat oleh otoritas. Kami tidak bermaksud memotong jalur, kami hanya mencari rute yang lebih aman," ujar Moretti sambil melirik Viktor yang berdiri diam seperti patung kematian di belakang Seravina. "Lagi pula, membawa... pria ini ke ruang rapat tertutup kita... bukankah ini sedikit berlebihan? Kita ini rekan bisnis, bukan musuh."

Pria lain di sampingnya, seorang pria muda yang ambisius bernama Enzo, ikut menimpali dengan nada sinis. "Benar. Apa Zharvok sekarang mengirim putrinya hanya untuk menakut-nakuti kami. Kita ini sudah berbisnis dengan ayahmu selama puluhan tahun, Nona. Jangan berpikir kau bisa mengatur kami hanya karena kau membawa 'anjing' besar."

Viktor tidak bergerak, namun otot lehernya tampak mengeras. Matanya yang kosong kini fokus sepenuhnya pada Enzo.

Seravina justru tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat merdu tapi mengerikan.

"Rekan bisnis?" Seravina memajukan tubuhnya, menatap Enzo dengan mata yang menyipit. "Kalian adalah alat. Dan ketika alat mulai tidak berfungsi atau mencoba berpikir mereka setara dengan pemiliknya... maka alat itu harus diganti."

Ia melirik sedikit ke arah Viktor melalui bahunya, lalu kembali menatap Enzo.

"Enzo, mulutmu semakin hari semakin bau ya?"

Ruangan itu mendadak hening total. Enzo menelan ludah, nyalinya yang tadi sempat naik langsung menciut.

Seravina menyandarkan punggungnya kembali, sebuah senyum iblis terukir di wajah cantiknya. Ia tidak peduli dengan protes atau harga diri pria-pria di depannya.

"Aku datang bukan hanya untuk bicara soal rute pelabuhan," ucap Seravina sambil mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan berwarna ungu pekat dari saku mantelnya. "Ayahku ingin aku memastikan bahwa investasi baruku... bekerja dengan baik."

Mata Enzo membelalak melihat botol itu. "Apa... apa itu?"

Seravina tidak menjawab. Ia hanya memberikan isyarat kecil dengan dagunya ke arah Enzo. "Viktor. Tahan dia di atas meja."

Tanpa suara, Viktor bergerak secepat kilat. Sebelum Enzo sempat berdiri dari kursinya, tangan raksasa Viktor sudah mencengkeram tengkuk pria itu dan menghantamkan wajahnya ke meja kayu mahoni yang keras.

BRAKKK!

"AAAGHH!" Enzo mengerang kesakitan, hidungnya mengeluarkan darah yang langsung menodai meja mahal tersebut.

Pria-pria lain di ruangan itu serentak berdiri, namun mereka mematung saat melihat Viktor menekan punggung Enzo dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mengunci lengan Enzo di belakang punggungnya. Kekuatan Viktor begitu besar hingga Enzo sama sekali tidak bisa bergerak, seperti seekor serangga yang dipaku ke lantai.

"Diam," geram Viktor rendah di samping telinga Enzo. Suaranya membuat bulu kuduk semua orang di sana berdiri.

Seravina berdiri dengan anggun, memutari meja hingga ia berada tepat di depan Enzo yang terjepit. Ia membuka tutup botol kimia itu, membiarkan aroma tajam yang aneh memenuhi udara.

"Ini adalah produk terbaru dari lab-ku," bisik Seravina sambil menjambak rambut Enzo agar pria itu mendongak. "Ayahku bilang kau terlalu banyak bicara, Enzo. Mungkin cairan ini bisa membuatmu lebih... kooperatif. Atau setidaknya, kita bisa melihat seberapa cepat sarafmu terbakar."

Tuan Moretti gemetar hebat di kursinya. "Nona Seravina... tolong... kita bisa bicara baik-baik!"

Seravina mengabaikannya. Ia menatap Viktor yang masih menahan mangsanya dengan kokoh. "Kerja bagus, Viktor. Tahan dia tetap seperti itu. Jangan biarkan dia menutup mulutnya."

Viktor menatap tangan Seravina yang memegang cairan itu, lalu menatap Enzo yang ketakutan setengah mati. Tidak ada rasa kasihan di mata Viktor; yang ada hanyalah kepatuhan pada perintah majikannya yang menjanjikan "ganjaran" manis nanti malam.

Seravina memutar-mutar botol kecil itu di depan mata Enzo yang sudah mulai berair karena ketakutan. Viktor terus menekan wajah Enzo ke meja, memastikan mangsanya tidak memiliki ruang untuk bernapas lega apalagi melarikan diri.

"Ini namanya Veritas-X," bisik Seravina dengan nada yang sangat tenang, seolah sedang menjelaskan parfum baru. "Begitu cairan ini masuk ke darahmu, ototmu akan mengunci, matamu akan dipaksa terbuka, dan kau akan merasa seperti melayang di ruang hampa yang sangat gelap. Tapi bagian terbaiknya... otakmu tidak akan bisa berbohong lagi."

Seravina mengeluarkan sebuah jarum suntik kecil dari kotak peraknya, lalu menyedot cairan ungu pekat itu.

"Viktor, pegang lehernya agar pembuluh darahnya terlihat jelas," perintah Seravina.

Viktor menggeser cengkeramannya. Dengan satu tangan besarnya, ia memiting kepala Enzo ke samping, mengekspos urat leher pria itu yang berdenyut kencang karena panik. Viktor menatap proses itu dengan wajah datar, tanpa sedikit pun keraguan, seolah sedang membantu Seravina melakukan pekerjaan dapur biasa.

"Jangan... Nona... tolong!" rintih Enzo, namun suaranya teredam oleh tekanan tangan Viktor.

Seravina menusukkan jarum itu dengan gerakan yang sangat presisi ke leher Enzo. Begitu cairan itu disuntikkan, reaksi terjadi hampir seketika.

Hanya dalam hitungan detik, tubuh Enzo mendadak kaku seperti batu. Kakinya yang tadi menendang-nendang langsung berhenti. Matanya terbelalak lebar, pupilnya mengecil hingga menyerupai titik, dan mulutnya menganga tanpa suara. Ia tampak seperti mayat yang dipaksa hidup, menatap kosong ke arah langit-langit ruangan dengan ekspresi horor yang murni.

"Bagus," gumam Seravina sambil mengelus pipi Enzo yang kaku. "Lihat, Viktor. Dia sudah 'siap'."

Seravina kembali menatap pria-pria lain yang kini duduk membeku di kursi mereka, wajah mereka pucat pasi melihat rekan mereka dijadikan bahan percobaan hidup.

"Nah, Enzo... mari kita mulai sesi kejujuran kita," Seravina mendekatkan wajahnya ke telinga Enzo. "Katakan padaku, siapa di ruangan ini yang membantumu menggelapkan uang pengiriman dari pelabuhan selatan?"

Mulut Enzo bergetar, lalu dengan suara yang kaku dan tanpa emosi seperti robot, ia mulai bergumam, "Tuan... Moretti... dan... kepala keamanan... dermaga..."

Tuan Moretti yang mendengar namanya disebut langsung terjatuh dari kursinya, wajahnya seputih kapas.

Viktor mengamati pemandangan itu. Ia merasa sedikit kagum pada kekuatan cairan yang diciptakan Seravina. Jika ia bisa mengendalikan orang sehebat ini hanya dengan satu suntikan, Viktor sadar bahwa wanita yang ia mintai ciuman setiap saat ini jauh lebih berbahaya daripada ribuan petarung di arena.

Keheningan yang mencekam setelah pengakuan Enzo pecah seketika. Tuan Moretti gemetar sambil mencoba membuka mulut untuk memohon ampun, tidak pernah mendapatkan kesempatan itu.

Tanpa peringatan, tanpa perdebatan, dan tanpa sepatah kata pun, Seravina merogoh tas tangannya dengan gerakan yang sangat tenang. Ia menarik keluar sebuah pistol kecil berhulu perak yang elegan.

BANG!

Suara tembakan itu memekakkan telinga di ruang rapat yang tertutup. Peluru itu menembus tepat di tengah dahi Tuan Moretti. Tubuh pria tua itu tersentak ke belakang dan jatuh tak bernyawa di atas lantai marmer.

Darah segar memercik dengan cepat, beberapa tetes mendarat di pipi mulus Seravina dan helai rambutnya. Namun, Seravina bahkan tidak berkedip. Ia tetap memegang pistolnya dengan tangan yang stabil, menatap jasad Moretti seolah-olah pria itu hanyalah sampah yang baru saja ia buang ke tempatnya.

Pria-pria lain di ruangan itu berteriak tertahan, beberapa dari mereka menutup mulut agar tidak muntah karena ngeri.

Viktor, yang masih memegangi Enzo yang kaku di atas meja, sedikit mengalihkan pandangannya. Ia menatap tetesan darah merah yang mengalir di wajah Seravina. Alih-alih merasa takut, Viktor merasakan adrenalinnya bergejolak hebat. Di matanya, Seravina saat ini terlihat sangat indah dalam kegilaannya—seperti dewi kematian yang nyata.

Seravina menurunkan senjatanya, lalu mengambil sapu tangan sutra dari atas meja untuk menyeka percikan darah di pipinya dengan perlahan.

"Ada lagi yang ingin mengaku sebelum aku kehabisan peluru?" tanya Seravina lembut, suaranya sangat kontras dengan mayat yang masih bersimbah darah di bawah kakinya.

Ia melirik ke arah Viktor. "Lepaskan dia, Viktor. Dia sudah tidak berguna. Otaknya sudah hangus oleh obat itu."

Viktor melepaskan cengkeramannya. Tubuh Enzo yang kaku merosot jatuh dari meja seperti boneka rusak. Viktor kemudian melangkah mendekat, berdiri tepat di samping Seravina, menutupi sosok wanita itu dari pandangan sisa-sisa anggota rapat yang ketakutan.

"Selesai?" tanya Viktor rendah, matanya menatap tajam ke arah pintu, siap menyerang siapa saja yang berani bergerak.

"Selesai," sahut Seravina dingin. Ia memasukkan kembali pistolnya ke dalam tas. "Ayo pergi. Bau darah di sini membuatku pusing."

Pintu lift berdinding kaca itu tertutup rapat, mengisolasi Seravina dan Viktor dari kekacauan berdarah di ruang rapat tadi. Suasana hening, hanya terdengar suara dengung halus mesin lift yang bergerak turun.

Viktor berdiri menjulang di samping Seravina. Matanya masih tertuju pada setetes darah merah yang mulai mengering di tulang pipi wanita itu.

Tanpa suara, Viktor mengangkat tangannya yang besar—masih terbungkus sarung tangan kulit hitam—dan mulai menyeka noda itu dengan gerakan yang sangat lembut.

Seravina tidak bergerak. Matanya yang tajam menatap Viktor dengan dingin.

"Aku tidak ingat memberimu izin untuk menyentuhku," desis Seravina. Suaranya datar, penuh peringatan.

Viktor menghentikan gerakannya, namun tangannya tetap berada beberapa milimeter dari wajah Seravina. Ia menunduk, menatap langsung ke dalam mata wanita itu. Adrenalin dari suara tembakan tadi masih berdesir di darahnya, membuat rasa lapar itu kembali muncul sepuluh kali lebih kuat.

"Pertemuan selesai," ucap Viktor berat. Suaranya bergema di ruang lift yang sempit.

"Lalu?" Seravina mengangkat dagunya, menantang.

"Ganjaran," tuntut Viktor.

Dia tidak berbasa-basi. Dia tidak peduli dengan aura mematikan Seravina atau pistol yang baru saja membunuh orang. Di otaknya, tugas sudah selesai, dan sekarang adalah waktu penagihan.

"Mau bibir."

Kata-kata itu keluar dengan sangat tegas dan tanpa keraguan. Viktor bergerak maju, memangkas jarak hingga Seravina terpaksa mundur dan punggungnya menyentuh dinding lift yang dingin. Pria raksasa itu mengunci tubuh kecil Seravina di antara kedua lengannya, menatap bibir merah itu dengan obsesi yang tidak bisa lagi ditunda.

Seravina menatap Viktor dengan pandangan menghina, tangannya yang mungil namun kuat mendorong dada bidang pria itu agar menjauh. Ia menyunggingkan senyum sinis yang seolah menampar harga diri Viktor.

"Tidak boleh," ucap Seravina singkat, padat, dan sangat dingin.

Viktor tertegun. Langkahnya terhenti, matanya sedikit membelalak tak percaya. Penolakan ini lebih mengejutkan daripada serangan mendadak di arena. "Kenapa? Tugas sudah selesai."

Seravina mengeluarkan sapu tangan dari tasnya dan mengusap wajahnya sendiri dengan kasar.

"Kau membuat kesalahan di mobil tadi. Kau hampir membuatku celaka dan merusak tabletku," Seravina melangkah maju, melewati Viktor begitu pintu lift berdenting terbuka di lantai lobi. "Kau pikir satu tugasan bisa menghapus dosa mengemudimu yang buruk itu? Belajarlah untuk tidak serakah."

Viktor berdiri mematung di dalam lift yang sudah terbuka, menatap punggung Seravina yang berjalan menjauh dengan aura angkuh. Ia merasakan dadanya berdenyut nyeri karena rasa haus yang tidak terpenuhi.

"Jangan hanya berdiri di sana seperti patung," suara Seravina terdengar menggema di lobi. "Bukakan pintu mobil untukku. Kita pulang sekarang."

Viktor mengepalkan tangannya hingga sarung tangan kulitnya berdecit. Ia terpaksa menelan kekecewaannya dan segera menyusul langkah Seravina dengan wajah yang jauh lebih menyeramkan dari biasanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!