NovelToon NovelToon
THE HIDDEN HEIR: Menyamar Jadi Supir Istri Sendiri

THE HIDDEN HEIR: Menyamar Jadi Supir Istri Sendiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Nikah Kontrak
Popularitas:265
Nilai: 5
Nama Author: Husein. R

"Satu tahun aku dihina sebagai supir sampah. Satu tahun aku diam saat istriku dijajah keluarganya sendiri. Tapi hari ini, kesabaranku habis."

​Arka Pratama bukan sekadar supir. Dia adalah pewaris tunggal Klan Naga Utara, penguasa ekonomi dunia yang memilih hidup melarat demi sebuah janji suci. Menikah dengan Nadia Atmaja lewat wasiat misterius, Arka harus menahan diri dari serangan politik kotor, sihir hitam, hingga pengkhianatan keluarga.

​Namun, saat Kakek Wijaya dan Reno mencoba merampas harga diri Nadia di depan publik, sang Naga tidak lagi bisa diam.

​"Kalian ingin melihat kekuasaan? Aku akan memulainya dengan membeli hotel ini, lalu menghapus nama kalian dari kota ini."

​Saat identitas aslinya terungkap, apakah Nadia akan tetap mencintai supirnya, atau justru ketakutan pada sosok Naga yang sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Husein. R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Supir yang Tak Terlihat

"Heh, Arka! Berhenti di situ!"

Suara cempreng Bu Lastri, ibu mertua gue, memecah ketenangan pagi. Gue yang lagi asyik ngelap ban mobil BMW hitam di garasi cuma bisa napas panjang. Gue taruh lap basah itu, lalu berdiri tegak sambil natep dia yang udah dandan menor kayak mau ke pesta, padahal cuma mau arisan.

"Iya, Bu?" tanya gue pelan.

"Iya, Bu, iya, Bu! Lo itu supir atau patung? Liat nih, masih ada debu di spion! Kalau Nadia telat ke meeting gara-gara lo kurang sigap, gue pastiin malem ini lo tidur di teras bareng kucing!" Bu Lastri nunjuk spion mobil pakai kuku merahnya yang panjang.

Gue cuma senyum tipis, jenis senyum yang bikin orang nggak tahu apakah gue lagi nurut atau lagi ngetawain mereka di dalem hati. "Maaf, Bu. Saya bersihin sekarang."

Nggak lama, pintu rumah kebuka. Nadia keluar dengan setelan blazer abu-abu yang pas banget di badannya. Cantik, tapi mukanya kaku kayak es batu. Dia bahkan nggak noleh ke arah gue, suaminya sendiri yang udah setahun ini tinggal satu atap.

"Udah siap?" tanya Nadia singkat, dingin banget.

"Siap, Nyonya," jawab gue formal. Di depan orang tuanya, gue emang dilarang panggil nama, apalagi panggil 'Sayang'. Bisa kena semprot tujuh hari tujuh malam gue.

Mobil pun melaju membelah jalanan kota yang mulai macet. Di kursi belakang, Nadia sibuk sama tabletnya. Dia kelihatan frustrasi, berkali-kali ngerapiin rambutnya yang sebenarnya udah rapi.

"Ada masalah di kantor?" tanya gue memberanikan diri.

Nadia mendongak, matanya natap gue lewat spion tengah. "Bukan urusan kamu, Arka. Fokus aja nyetir."

Gue diem. Dia nggak tahu aja, di balik kaos murah yang gue pake, ada tato simbol naga hitam di pundak gue, tanda kalau gue adalah pewaris tunggal klan pelindung yang kekayaannya bisa beli seluruh gedung di kota ini. Tapi demi janji ke kakek gue untuk hidup 'normal' dan ngelindungin Nadia dari bayang-bayang masa lalu, gue milih jadi supir yang nggak dianggap.

Drttt... drttt...

HP jadul di kantong gue bergetar. Gue lirik sekilas lewat jam tangan pintar yang gue modifikasi biar kelihatan kayak jam murah.

‘Tuan Muda, ada hawa negatif di sekitar kantor Atmaja Group. Ada yang pakai jasa 'orang pintar' buat bikin Nyonya Nadia celaka siang ini.’

Mata gue menyipit. Gue liat ke arah kaca depan. Benar aja, ada kabut tipis berwarna keunguan yang mulai nutupin jalanan, tapi cuma gue yang bisa liat. Itu bukan kabut biasa, itu kiriman.

"Mas, kenapa berhenti?!" Nadia protes pas gue ngerem mendadak di depan gerbang kantor.

"Ada yang lewat, Nyonya," jawab gue santai.

Gue jentikkan jari pelan di bawah kemudi. Klotakk! Kabut ungu itu langsung pecah berkeping-keping kayak kaca yang dihantam palu. Di suatu tempat, si pengirim santet pasti lagi muntah darah sekarang.

"Nggak ada siapa-siapa gitu, kok," gumam Nadia sambil geleng-geleng kepala. "Aneh kamu."

Pas dia turun dari mobil, dia hampir jatuh karena kakinya tersangkut karpet. Refleks, gue tangkap pinggangnya. Wangi parfumnya langsung menusuk hidung gue. Jantung gue sempet mau copot, tapi Nadia langsung nepis tangan gue dengan kasar.

"Jangan lancang!" bentaknya, mukanya merah padam.

Gue mundur satu langkah, nunduk. "Maaf, Nyonya."

Dia jalan masuk ke kantor tanpa ucapin makasih. Gue cuma bisa ngeliatin punggungnya dari jauh sambil masukin tangan ke saku celana.

"Lancang ya?" gue gumam sendiri sambil nyengir. "Kalau nggak gue tangkap tadi, lo udah pingsan kena serangan jantung karena energi gelap itu, Sayang."

Gue balik ke kursi supir, lalu buka HP jadul gue. Gue ketik satu pesan buat asisten rahasia gue.

‘Cari tahu siapa yang berani main kotor ke istri gue. Kasih mereka pelajaran yang nggak bakal mereka lupain seumur hidup. Jangan pakai tangan kosong, hancurin bisnisnya sampai akar.’

Gue simpan lagi HP itu. Tugas supir emang capek, tapi jadi malaikat pelindung yang tak terlihat itu jauh lebih seru.

Gue baru aja mau nyalain rokok di parkiran pas liat sebuah mobil sport merah mentereng berhenti tepat di depan lobi, motong jalan Nadia yang baru mau masuk. Keluar seorang cowok dengan setelan jas mahal yang harganya mungkin setara sama gaji supir gue selama sepuluh tahun.

​Itu Reno, anak dari pemilik grup kompetitor Nadia, yang udah lama ngejar-ngejar Nadia tapi selalu ditolak mentah-mentah.

​"Nadia! Tunggu dulu," teriak Reno sambil pamer senyum yang menurut gue lebih mirip seringai serigala kelaparan.

​Nadia berhenti, mukanya makin kaku. "Mau apa lagi kamu, Reno? Aku sibuk."

​"Galak banget sih calon istri," Reno ketawa, suaranya sengaja dikencengin biar orang-orang di lobi nengok. "Gue denger tender proyek pelabuhan baru itu gagal lo dapetin ya? Kasian banget. Mending lo menyerah aja, nikah sama gue, dan perusahaan lo bakal aman di bawah ketiak bokap gue."

​Gue liat tangan Nadia mengepal kuat di samping badannya. "Perusahaan aku bakal baik-baik aja tanpa bantuan licik keluarga kamu."

​"Oh ya? Yakin?" Reno maju satu langkah, suaranya merendah tapi penuh ancaman. "Lo tau nggak kenapa orang pintar yang lo sewa kemarin tiba-tiba mundur? Itu karena dia tau siapa yang dia lawan. Di dunia ini, uang bukan segalanya, Nadia. Ada kekuatan lain yang nggak bakal bisa lo lawan pakai logika bisnis lo yang cupu itu."

​Gue yang ngedenger itu dari jauh cuma bisa mendengus. Jadi si Reno ini yang main dukun? Murahan banget.

​Reno baru mau pegang bahu Nadia pas gue tiba-tiba muncul di antara mereka. Gue sengaja jalan dengan gaya agak kikuk, pura-pura mau nganterin tas Nadia yang 'ketinggalan' (padahal nggak).

​"Permisi, Nyonya. Ini tasnya ketinggalan di jok belakang," ucap gue dengan suara yang sengaja gue bikin agak medok dan polos.

​Reno kaget, langkahnya terhenti. Dia natap gue dari atas sampai bawah dengan tatapan jijik. "Siapa sih lo? Supir? Minggir lo, sampah! Ganggu orang lagi ngomong aja."

​Gue pura-pura gemeteran. "Maaf, Tuan. Saya cuma mau nganter tas Nyonya Nadia. Jangan marah-marah, nanti cepet tua."

​"Lo berani ngatur gue?!" Reno naik pitam. Dia angkat tangannya, mau nampar gue.

​Nadia panik. "Reno, jangan! Dia cuma supir!"

​Tapi sebelum tangan Reno nyentuh muka gue, dia tiba-tiba mematung. Mukanya pucat pasi. Dia ngerasain tekanan udara di sekitarnya mendadak jadi berat banget, seolah-olah ada gunung yang lagi numpuk di pundaknya. Itu tekanan aura yang gue lepasin dikit banget, cuma buat dia doang.

​Reno megap-megap, keringat dingin segede biji jagung mulai turun di dahinya. "L-lo... lo ngelakuin apa ke gue?" bisiknya gemeteran.

​Gue cuma senyum polos. "Ngelakuin apa, Tuan? Saya cuma berdiri di sini. Tuan kayaknya kecapekan, kurang minum air putih mungkin."

​Begitu gue tarik aura gue, Reno langsung tersungkur jatuh ke lantai lobi. Semua orang di lobi bisik-bisik, ngira Reno kena serangan jantung mendadak.

​"Reno! Kamu nggak apa-apa?" Nadia bingung, tapi dia nggak berani deketin Reno.

​"Gila... tempat ini terkutuk!" teriak Reno sambil bangun dengan kaki gemeteran. Dia langsung lari masuk ke mobil sport-nya dan tancap gas kabur dari situ kayak orang kesetanan.

​Nadia natap gue penuh selidik. "Arka, kamu tadi... ah, sudahlah. Kayaknya dia emang sakit."

​Nadia ambil tasnya dari tangan gue tanpa bilang makasih lagi, terus jalan masuk ke dalem lift dengan langkah terburu-buru.

​Gue balik ke parkiran, duduk di kap mobil sambil buka botol air mineral. Gue ambil HP rahasia gue lagi. Pesan dari asisten gue, Baron, udah masuk.

​‘Tuan Muda, Reno bekerjasama dengan dukun hitam dari perbatasan untuk menjatuhkan Nyonya Nadia dalam rapat pemegang saham jam 1 siang ini. Mereka mau menggunakan 'Sihir Pemikat' supaya semua pemegang saham setuju untuk menjual aset Atmaja Group ke mereka.’

​Gue ngetik balasan sambil senyum dingin.

​‘Jam 1 ya? Oke. Siapkan mobil Rolls-Royce Ghost gue yang di gudang. Kita bakal dateng ke rapat itu. Tapi jangan pakai nama gue. Pakai nama 'Investor Misterius' dari Global Dragon Corp. Gue mau liat muka si Reno pas dia tau kalau 'supir' yang dia hina tadi adalah orang yang bakal beli seluruh harga dirinya.’

​Gue liat ke arah gedung tinggi itu. "Satu tahun gue sabar jadi supir, kayaknya hari ini gue harus mulai pamer dikit biar orang-orang nggak sembarangan lagi nyenggol istri gue."

​Gue buang puntung rokok gue tepat ke dalam tong sampah dari jarak lima meter. Masuk dengan sempurna.

​Permainan baru aja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!