Amira membawa Lista masuk ke hidupnya sebagai sepupu dan sahabat. Namun, Lista justru keluar sebagai pencuri suaminya.
Diceraikan saat hamil dengan mahar yang menghina, Amira dipaksa pergi dengan tangan hampa. Tapi mereka lupa satu hal: Amira adalah pemilik takhta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: JALUR BELAKANG KE PERBATASAN
JALUR BELAKANG KE PERBATASAN
Pendar merah dari lampu indikator tablet di tangan Amira berkedip ritmis, memantulkan cahaya kegelapan yang dingin di bola matanya. Bunyi tit... tit... tit... yang keluar dari speaker gawai itu terasa seperti detak jarum jam bom waktu yang siap meledakkan sisa-sisa kemenangan yang baru saja ia reguk di lobi bawah.
“Transfer Berhasil: IDR 2.000.000.000 ke Bank Mandiri Cabang Batam Jodoh. Akun Pengirim: Exec_Admin_Backup02.”
Amira meremas tepian tabletnya hingga buku-buku jarinya memutih. "Pak Sanusi! Om Harlan!" panggil Amira, suaranya yang semula tenang kini meninggi, diselimuti riak kepanikan yang mendesak. "Ada pergerakan dana. Dua miliar rupiah dari sisa aset likuid Snack Pratama baru saja lolos dari pembekuan!"
Pak Sanusi yang sedang meneguk teh hangatnya langsung tersedak. Pria tua itu meletakkan cangkirnya dengan kasar hingga airnya mencuat ke atas meja kaca. "Bagaimana bisa, Nduk? Bukankah semua akun atas nama Aris dan Lista sudah diblokir oleh kurator bank pusat sejak dua jam lalu?!"
"Ini akun cadangan, Pak. Akun backup administrasi yang biasanya dipegang oleh staf IT atau orang dalam logistik yang memegang otoritas sistem darurat," Amira menyodorkan layar tabletnya ke hadapan Pak Sanusi dan Om Harlan yang kini sudah condong maju ke depan meja. "Dan tujuannya ke Batam. Ini bukan transfer operasional vendor, ini pelarian dana!"
Om Harlan yang sudah puluhan tahun malang melintang di dunia bisnis internasional langsung memukul meja dengan kepalan tangannya. Mata elangnya menyipit tajam. "Batam... itu pelabuhan tikus menuju Singapura, Amira! Dari Batam Jodoh ke HarbourFront Singapura hanya butuh waktu kurang dari satu jam menggunakan kapal feri cepat! Siapa pun yang memegang uang itu, dia sedang bersiap melintasi batas negara!"
Amira memejamkan mata sejenak, otaknya berputar dengan kecepatan penuh. Kilas balik ingatan tentang struktur karyawan di kantor pusat Snack Pratama berkelebat di kepalanya. Siapa orang yang paling setia pada Lista? Siapa orang yang dulu dimasukkan Lista ke divisi IT tanpa melalui jalur HRD yang sah?
“Doni...” batin Amira mendadak menyebut satu nama. Adik kandung Lista yang baru lulus kuliah setahun lalu dan ditempatkan sebagai admin server jaringan kantor.
"Ini Doni, Pak. Adik Lista," ucap Amira, matanya kembali terbuka dengan kilatan determinasi yang dingin. "Lista sengaja menaruh adiknya di sana untuk mengantisipasi hari seperti ini. Polisi menangkap Lista atas kasus pemalsuan dokumen lima miliar, tapi mereka lupa mengamankan adiknya yang memegang kunci pintu belakang sistem keuangan!"
Pak Sanusi langsung menyambar ponsel pintarnya, jemarinya bergerak cepat mencari nomor kontak unit kejahatan ekonomi Polres Jakarta Selatan yang tadi siang meringkus Lista. "Saya akan hubungi penyidik sekarang agar mereka mengeluarkan surat cegah-tangkal ke imigrasi Batam!"
"Tidak akan keburu, Pak Sanusi," potong Om Harlan sambil melirik jam tangan Rolex-nya. "Proses birokrasi antarpolda dan imigrasi butuh waktu paling cepat tiga sampai empat jam. Jam segini, feri terakhir dari pelabuhan Batam Center atau Sekupang menuju Singapura masih beroperasi. Jika Doni sudah memegang uang tunai atau mencairkannya dalam bentuk dolar di Batam, kita akan kehilangan jejak uang itu selamanya begitu dia menginjakkan kaki di tanah Singapura."
Amira berdiri dari kursinya. Rasa mual di perutnya mendadak lenyap, digantikan oleh adrenalin yang meluap raksasa ke seluruh aliran darahnya. Blazer hijau zamrudnya dikancingkan erat-erat, membungkus tubuhnya yang sedang mendekap sebuah kehidupan baru.
"Om Harlan... Om masih punya jaringan logistik dan kapal kargo di pelabuhan Batam, kan?" tanya Amira, menatap langsung ke mata sahabat almarhum ayahnya itu.
Harlan Wijaya tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh kuasa dari seorang konglomerat lama yang tidak pernah kehilangan taringnya. "Jaringan Om di Batam bahkan bisa menutup pelabuhan internasional dalam waktu sepuluh menit jika Om mau, Amira."
"Tolong hubungi orang-orang Om di sana sekarang," perintah Amira, nadanya kini sepenuhnya menjelma menjadi seorang ratu bisnis yang sah. "Jangan biarkan Doni mendekati pelabuhan feri mana pun. Dan saya... saya akan terbang ke Batam dengan penerbangan pertama sore ini."
"Amira, kamu sedang hamil muda!" sergah Pak Sanusi dengan wajah cemas yang mendalam. "Kondisi fisikmu tidak stabil untuk perjalanan darurat seperti ini!"
Amira menatap Pak Sanusi dengan pandangan yang sarat akan ketegaran yang mutlak. Ia mengusap perutnya secara perlahan. "Anak ini adalah anak Shinta, Pak. Dia kuat, dan dia harus tahu sejak di dalam rahim bahwa ibunya tidak akan pernah membiarkan sepeser pun haknya dirampok oleh para pengkhianat. Siapkan tiketnya, Om Harlan. Perang ini harus selesai hari ini juga."
Dua jam kemudian. Bandara Internasional Hang Nadim, Batam.
Udara tropis yang panas dan lembap langsung menyergap wajah Amira begitu ia melangkah keluar dari pintu kedatangan VIP. Di belakangnya, dua orang pria berbadan tegap dengan pakaian sipil rapi—orang kepercayaan Om Harlan di kepulauan Riau—langsung mengapitnya dengan ketat.
"Bu Amira, saya target sudah terdeteksi oleh tim lapangan kami," ujar salah satu pengawal bernama taufik, sambil menunjukkan sebuah foto dari layar ponselnya.
Foto tersebut memperlihatkan sosok Doni—adik Lista—yang mengenakan jaket hoodie hitam dan topi yang ditarik rendah, sedang berdiri di depan mesin ATM sebuah bank swasta di kawasan Harbour Bay, Batam—salah satu kawasan pelabuhan feri internasional mewah yang langsung terhubung ke Singapura. Di samping kakinya, terdapat sebuah tas ransel militer berukuran besar yang tampak padat berisi.
"Dia baru saja mencairkan sebagian dana dalam bentuk mata uang asing di money changer pelabuhan, Bu. Jadwal keberangkatan ferinya menuju HarbourFront Singapura adalah tiga puluh menit lagi," lanjut Taufik dengan nada suara yang berbisik di antara keramaian bandara.
Amira masuk ke dalam mobil SUV hitam besar yang sudah menunggu di depan lobi bandara. "Jalan sekarang, Taufik. Hambat keberangkatan feri itu dengan alasan apa pun. Jangan sampai dia melewati pintu imigrasi sebelum saya tiba."
"Siap, Bu." Mobil SUV itu melesat membelah jalanan aspal Batam yang lebar menuju kawasan pesisir Harbour Bay.
Di dalam mobil yang melaju kencang, Amira menatap layar ponselnya. Ia membuka ruang obrolan dengan nomor Lista yang kini tentu saja berada di dalam ruang tahanan polres Jakarta Selatan. Amira tahu, ponsel Lista disita polisi, namun sistem pesan digitalnya masih aktif dan dipantau oleh tim penyidik Pak Sanusi.
Amira mengetik sebuah pesan singkat, ditujukan untuk memecah konsentrasi jaringan pelarian mereka:
"KAU PIKIR ADIKMU BISA LOLOS KE SINGAPURA MEMBAWA DUA MILIAR MILIKKU, LISTA? LIHAT KE LUAR JENDELA JALUR IMIGRASI HARBOUR BAY SORE INI. AKU SUDAH BERDIRI DI SANA UNTUK MENJEMPUTNYA MASUK KE SEL SEBELAHMU."
Sementara itu, di dalam terminal keberangkatan Harbour Bay yang riuh oleh para wisatawan asing.
Doni berjalan dengan langkah yang tergesa-gesa, keringat dingin membasahi pelipis dan punggungnya di balik jaket hoodie tebal. Tangannya mencengkeram erat tali ranselnya yang berisi tumpukan uang dolar Singapura hasil pencairan darurat dari rekening cadangan Snack Pratama.
Tinggal beberapa meter lagi ia akan mencapai konter pemeriksaan paspor imigrasi. Jantungnya berdegup kencang, matanya terus melirik ke kanan dan ke kiri dengan waspada. “Tinggal menyeberang... setelah sampai Singapura, Mbak Lista aman, aku juga aman,” batinnya menyemangati diri sendiri.
Namun, tepat saat ia hendak menyerahkan paspornya kepada petugas imigrasi di balik bilik kaca, sebuah pengumuman dari pengeras suara terminal menggema keras, memotong seluruh aktivitas di dalam ruangan tersebut.
"Pemberitahuan kepada seluruh penumpang Horizon Ferry dengan nomor keberangkatan HF-204 menuju Singapura, keberangkatan ditunda selama tiga puluh menit karena adanya pemeriksaan teknis darurat pada sistem manifes pelabuhan. Harap para penumpang kembali ke ruang tunggu."
Doni seketika membeku. Wajahnya berubah pucat pasi. "Sial! Ada apa ini?!" umpatnya pelan.
Ia berbalik dengan gusar, berniat mencari tempat duduk tersembunyi di sudut ruang tunggu. Namun, begitu ia membalikkan badan, kerumunan orang di ruang tunggu terminal tiba-tiba terbelah menjadi dua.
Seorang wanita dengan setelan blazer hijau zamrud yang sangat mewah melangkah masuk ke dalam terminal dengan keanggunan yang mematikan. Langkah kakinya yang konstan di atas lantai granit terdengar begitu ritmis, diapit oleh dua orang pria berbadan tegap dan tiga orang petugas kepolisian KP3 Pelabuhan Batam yang bersenjata lengkap.
Itu Amira.
Doni membelalakkan mata, lututnya seketika terasa lemas bagai jeli hingga ransel militernya yang berat merosot jatuh ke atas lantai dengan suara deb yang keras. "M-Mbak... Mbak Amira?!"
Amira menghentikan langkahnya tepat dua meter di depan Doni. Tatapan matanya yang dingin mengunci pandangan adik sepupunya itu tanpa ada sepercik pun rasa ragu.