Andra dan Diana sudah menikah selama lima tahun. Namun selama itu pula Diana memilih untuk menunda kehamilannya. Dengan alasan jika saat ini sedang berada di puncak karir yang selama ini dia impikan.
Selain karena tekanan dari kedua orang tua Andra yang ingin segera punya cucu. Dalam hati kecilnya, Andra juga ingin segera punya anak. Hingga akhirnya dia bertemu sahabat lamanya bernama Nadhira.
Entah ada pikiran dari mana hingga tiba-tiba Andra meminta Nadhira hamil anaknya. Jelas Nadhira menolak apalagi Andra sudah menikah.
Apakah rencana Andra aka berhasil untuk mendapatkan anak dari keturunannya sendiri. Apakah Nadhira akhirnya akan setuju? Lalu bagaimana dengan Diana dan keluarga Andra?
Konflik apa lagi yang akan terjadi setelah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahim Untuk Sahabat 20
Kata-kata Nadhira yang penuh keputusasaan itu dibalas oleh keheningan sesaat. Sebelum akhirnya Dr. Haryo berdeham pelan untuk memecah ketegangan. Beliau merapikan beberapa berkas hasil lab dan USG di atas mejanya, lalu menatap Viona, Andra, dan Nadhira secara bergantian dengan raut wajah yang sangat serius.
"Mohon maaf, Ibu Viona, Pak Andra... sebelum kita melangkah lebih jauh ke prosedur medis inseminasi atau IVF (In Vitro Fertilization), ada hal sangat krusial yang harus saya jelaskan sebagai dokter," ujar Dr. Haryo sambil mempersilakan mereka semua untuk duduk kembali.
Nadhira memilih duduk di kursi paling ujung, menjauh dari Andra, sementara Bu Viona duduk di sofa dengan keanggunan yang menuntut penjelasan sempurna.
"Apa maksud Anda, Dokter? Bukankah proses medis adalah jalan satu-satunya agar semuanya terukur dan rahasia?" tanya Bi Viona dengan dahi berkerut.
Dr. Haryo menggelengkan kepala perlahan.
"Secara medis, tindakan intervensi seperti inseminasi buatan atau bayi tabung itu memiliki tingkat keberhasilan yang tidak pernah mencapai seratus persen, terutama jika rahim dan sel telur belum pernah terstimulasi. Dan yang paling penting, prosedur tersebut membutuhkan suntikan hormon dosis tinggi yang terus-menerus. Itu akan memberikan efek samping yang sangat menyiksa bagi Ibu Nadhira, mulai dari kram hebat, perubahan emosi yang ekstrem, hingga risiko sindrom hiperstimulasi ovarium yang bisa membahayakan nyawanya."
Andra langsung menegang mendengar penjelasan itu.
"Membahayakan nyawanya? Saya tidak mau itu terjadi, Dok." refleks Andra menolak keras saat mendengar penjelasan dokter. Apalagi mendengar jika hal itu membahayakan nyawa Nadhira. Nadhira yang tenang menunduk menatap Andra, mungkin kalau tak terjadi kesepakatan gila dia akan senang di bela sahabatnya. Namun, dia hanya tersenyum getir. Andra bukan khawatir karena nyawanya, tapi dia khawatir tak menemukan rahim pengganti lain yang mau menggantikannya.
"Benar, Pak Andra," lanjut Dr. Haryo, matanya beralih menatap Nadhira yang menatapnya tanpa ekspresi.
"Ditambah lagi, hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Ibu Nadhira ini sangat sehat. Kesuburannya berada di tingkat yang luar biasa prima. Di sisi lain, dari rekam medis Pak Andra yang saya pegang, Anda juga memiliki kualitas sperma yang sangat subur dan sehat. Kalian berdua sama-sama dalam kondisi biologis yang sempurna."
Dokter Haryo menarik napas pendek, lalu melontarkan saran yang seketika membuat atmosfer ruangan itu mendadak beku.
"Oleh karena itu, saran medis terbaik saya, sebaiknya proses ini dilakukan secara normal. Secara natural. Hubungan suami istri yang alami jauh lebih tinggi persentase keberhasilannya bagi dua individu yang sama-sama sehat, daripada kita harus memaksa tubuh Ibu Nadhira menerima zat kimia dan prosedur medis yang menyakitkan di saat dia masih perawan."
DEEEEGHHH
DEEEEGHHH
Bagaikan disambar petir di siang bolong, Nadhira langsung berdiri dari kursinya. Wajahnya yang semula pucat kini memerah karena rasa malu dan amarah yang meledak sekaligus. Andra diam mematung.
"Tidak! Saya menolak!" seru Nadhira dengan suara bergetar hebat.
Dia menatap Andra dengan pandangan penuh kebencian dan ketakutan.
"Andra! Kamu sudah berjanji! Syarat utama kita adalah tidak ada kontak fisik! Tidak melibatkan perasaan ataupun hubungan badan! Kita melakukannya murni secara medis!" teriak Nadhira.
Andra sendiri ikut terpaku di tempatnya. Jantungnya berpacu gila-gilaan. Logika dan has-rat moralnya bertubrukan hebat. Di satu sisi, dia tidak ingin menyiksa Nadhira dengan prosedur medis yang menyakitkan. Namun di sisi lain, menyentuh Nadhira secara alami adalah pelanggaran berat atas janjinya, sekaligus pengkhianatan fisik yang nyata terhadap Diana, wanita yang diklaim sangat dicintainya.
"Dokter Haryo, apa tidak ada cara medis lain yang lebih aman?" tanya Andra, suaranya terdengar panik dan serak.
"Saya... kami sudah sepakat untuk tidak melakukan itu secara alami."
Sebelum Dr. Haryo sempat menjawab, BuViona Antanagara bangkit dari duduknya. Ketukan sepatu hak tingginya terdengar begitu dominan saat dia melangkah mendekati Nadhira. Alih-alih terkejut, mata Viona justru berkilat penuh kepuasan yang licik. Kalimat dokter Haryo barusan adalah musik terindah bagi insting praktisnya.
"Kenapa harus menolak cara yang paling efektif dan aman untuk cucuku, Nadhira?" tanya Viona, suaranya beralih menjadi sebuah tekanan yang begitu pekat.
"Kamu sendiri yang bilang ingin proses ini cepat selesai, bukan? Hubungan alami akan memastikan benih Antanagara tertanam dengan sempurna di rahim sucimu tanpa risiko kegagalan medis yang membuang-buang waktu."
Viona melirik anaknya, Andra.
"Lagipula, Andra, kalian berdua sudah sah menikah siri di bawah tangan, bukan? Baskoro baru saja melaporkannya padaku lewat pesan singkat sebelum kita masuk ke ruangan ini."
Nadhira dan Andra tersentak. Mereka lupa bahwa Baskoro adalah orang kepercayaan Bu Viona. Rahasia pernikahan siri mereka sudah bocor ke tangan sang penguasa.
Bu Viona tersenyum dingin, menatap Nadhira yang mulai menangis tanpa suara karena merasa semakin terpojok.
"Secara agama, kalian adalah suami istri. Jadi, melakukan hubungan seksual secara normal untuk menghasilkan anak adalah hal yang legal. Tidak ada alasan untuk menolak saran Dokter Haryo."
"Ibu Viona, saya mohon! Jngan paksa saya untuk menyerahkan kehormatan saya seperti ini," bisik Nadhira di sela tangisnya, menatap wanita paruh baya itu dengan pandangan memohon yang teramat sangat.
"Hati saya akan mati jika harus melakukan itu dengan suami orang lain..."
"Ingat ibumu yang ada di RSUD, Nadhira," potong Viona kejam, tanpa secuil pun rasa empati.
"Lusa dia harus dioperasi lanjutan. Biaya pemulihan, obat-obatan pasca-operasi, dan kehidupan mewahnya di masa tua ada di dalam genggaman tanganku. Jika kamu mempersulit proses ini dengan keegoisanmu, aku bisa dengan mudah menarik kembali semua dana itu dalam satu detik. Lagi pula Andra juga sekarang suami kamu! Bukan hanya suami Diana!." telak. Bu Viona membungkam keduanya.
Nadhira merasa bumi tempatnya berpijak runtuh seketika. Kenyataan kembali mengikat lehernya, menariknya masuk lebih dalam ke jurang kegelapan. Dia menoleh ke arah Andra, mencari pembelaan dari pria yang dulu adalah sahabatnya.
Andra menatap Nadhira yang tampak begitu hancur. Di dalam benak Andra, sebuah pergulatan batin yang teramat seru dan menyiksa sedang terjadi. Dia harus memilih, membiarkan Nadhira menderita karena prosedur medis yang berbahaya, atau dia sendiri yang harus turun tangan menghancurkan kesucian sahabatnya secara nyata demi melahirkan sang ahli waris. Apalagi tak ada cinta untuk Nadhira di hatinya.
percuma kaya raya tp ga punya penerus atau keturunan mh