Safa adalah gadis cantik nan penurut yang tampaknya selalu dimusuhi takdir. Sejak kecil, ia tak pernah mencecap manisnya kasih sayang keluarga, bahkan dari ibunya sendiri. Kesalahan di masa lalu yang bukan kehendaknya membuat Safa dilabeli sebagai "anak pembawa sial" dan dibenci seumur hidup. Puncaknya, ia dipaksa menikah dengan seorang kakek demi menyelamatkan bisnis keluarga yang nyaris bangkrut.
Namun, kenyataan tak seburuk dugaannya. Sang kakek ternyata hanya perantara, ia mencarikan istri untuk cucu laki-lakinya yang bertemperamen kaku, cuek, dan dingin. Di rumah barunya, Safa yang terbiasa disisihkan justru mulai merasakan hangatnya kasih sayang dari keluarga sang suami yang memperlakukannya dengan sangat baik. Sayangnya, benteng es di hati suaminya sendiri tetap tak tergoyahkan.
Mampukah Safa memenangkan hati pria yang menikahinya hanya karena amanah sang kakek? Ataukah pernikahan "titipan" ini akan hancur dan berakhir dengan perceraian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uswatun Kh@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Pembalasan
Siapa yang menyangka lelaki yang dingin dan cuek itu kini tiba-tiba ada di hadapannya.
Hati yang semula rapuh karena berfikir sendirian, kini kembali kokoh. Ibarat tanaman layu seketika segar kembali.
Gadis itu hanya menatap dalam diam. Tanpa sadar ia berharap lebih.
"Safa, aku di sini. Kamu bisa mengandalkan aku, oke?" ujar Arlan sambil mengusap pundaknya lembut layaknya seorang suami yang sangat menyayanginya.
"Mas. Kok kamu di sini?"
Arlan tersenyum. "Tentu aku di sini. Istriku lagi butuh aku, jelas aku akan datang."
Hati Safa berbunga tanpa sebab. Kata-kata itu bagaikan kata yang sangat indah. Cukup membuatnya tak berdaya.
Tangannya meremas erat kain baju Arlan, seolah tak ingin jauh.
"Jadi, siapa yang coba mengganggu istriku?"
"Apa? Istri!" ucap mereka serempak.
Mata Farah berbinar saat mengetahui suami sang sahabat. Ia ikut bahagia ternyata Safa diperlakukan dengan baik.
"Tidak, kau bohong. Suami Safa itu kakek tua, mana mungkin kau suaminya," sela Adit tak terima.
Arlan melangkah maju ke arah Adit. Auranya begitu mengintimidasi hingga membuat Adit mundur.
"Kakek tua yang kau maksud itu kakekku. Suami Safa itu aku, tau!"
Egar yang berdiri di samping Farah mengangguk-angguk bangga. Akhirnya sahabatnya itu memiliki istri yang sangat ia pedulikan.
Demi mendatangi kampus Safa, ia rela meninggalkan rapat penting tentang akusisi perusahaan barunya.
"Ah! Aku gak peduli. Biarpun kau suaminya memangnya kau bisa apa. Ayahku tetap paling berkuasa. Dia tetap harus keluar dari kampus ini!"
'Sial ternyata suami Safa ganteng dan gagah. Pantas saja dia tidak menerima ku. Maka dari itu aku tidak akan melepaskanmu Safa,' batin Adit tak mau kalah.
Tangan Arlan terangkat, memberi isyarat untuk Egar. "Egar, jelaskan padanya. Biar anak ingusan ini tau siapa bosnya."
"Siap, Bos," sahut Egar. Ia lalu maju dengan membawa sebuah berkas.
"Kau itu tuan Danu, direktur yayasan Wijaya Capital kan?" timpal Egar dengan nada meremehkan.
Tuan Danu hanya melirik, seolah ia tak tersentuh.
Asap mengepul saat tuan Danu menyemburkan asap rokoknya. "Kau menyelidikiku rupanya. Hebat juga."
"Kau sudah tau, kan? Makanya jangan macam-macam! Ayahku berkuasa. Dia bisa buat apapun pekerjaanmu hancur berantakan" timpal Adit.
Mendengar ancaman itu Safa tak bisa tak khawatir. Ia mendongak menatap sang suami yang tampak begitu tenang.
Tak ingin suaminya mendapat masalah, Safa menarik pelan baju Arlan. "Mas."
Arlan tertunduk, menatap lekat manik netra bening Safa. "Tenanglah. Kamu bisa mengandalkanku. Aku ini bukan orang yang bisa sembarangan diremehkan, tau."
Arlan menyentuh singkat ujung hidung Safa. Disusul senyuman tipis.
"Semuanya tolong sabar. Saya bahkan belum bicara apa pun, loh. Jangan jadi gak sabaran gitu dong," sela Egar.
Sebelum ia melanjutkan. Ia membersihkan permukaan sofa dan mempersilahkan atasannya itu untuk duduk.
Arlan membawa Safa duduk bersamanya dan menyaksikan Egar menyelesaikan sisanya.
"Baiklah kita lanjutkan, ya. Pak dosen dan yang lain cukup memperhatikan saja, oke."
Egar kembali ke posisi semula. Ia berdiri tepat di depan pintu dengan penuh percaya diri hingga membuat Farah tersenyum getir melihat kepedeannya.
"Baiklah Tuan Danu, dengarkan dan pahami baik-baik. Anda direktur di sebuah yayasan kan. Tau yayasan itu milik siapa?"
Tuan Danu menyunggingkan bibirnya. "Tentu saja. Yayasan yang saya pegang itu milik Wijaya Capital, anak perusahaan Wijaya Kusuma. Perusahaan terbesar di negara ini."
"Wah. Itu Anda tau," sela Egar lagi.
"Tapi apa hubungannya. Sebenarnya kalian ini siapa, hah? Jangan berbelit-belit," sahut tuan Danu.
"Oke, oke. Aku akan memperjelas agar kalian melek."
Egar merapikan dasi sebelum memulai. "Wijaya Capital adalah anak perusahaan terbesar di bawah naungan Wijaya Kusuma. Dan pendiri perusahaan Wijaya Kusuma adalah tuan Wijaya Kusuma sendiri. Beliau memiliki anak yang sekarang berada di luar negeri, jadi semua urusan dalam negeri diambil alih oleh cucunya tuan Wijaya yang baru kembali dari luar negeri."
Egar menjeda sejenak ucapannya, memberi waktu bernafas dan memberi mereka waktu untuk mencerna semua.
"Jadi karena tuan Wijaya sudah tua, beliau meminta sang cucu satu-satunya untuk mengambil alih semuanya. Tapi yayasan itu berbeda, awalnya dia tak ingin ikut campur tapi karena Anda sudah menyalahi wewenang, maka saat ini, detik ini juga silakan tinggalkan jabatan itu," ungkap Egar.
Tuan Danu langsung bangkit dari duduknya. Jantungnya berpacu tak menentu.
"Maksudmu ... apa?"
Egar hanya melihat ke arah Arlan dengan menaikkan ke dua alisnya.
Seketika tuan Danu menjatuhkan dirinya dengan tak berdaya. Ia paham dengan arah pembicaraan itu. Ia hanya tak percaya pemuda di hadapannya itu adalah pemilik asli Wijaya Kusuma.
"Ti ... dak mungkin," ucapnya terbata.
Adit semakin bingung saat melihat ekspresi sang ayah. Ia mendekat dan mengguncang tubuh sang ayah.
"Ayah ada apa? Kenapa kau malah diam. Cepat buat mereka tau posisi mereka."
Seketika tuan Danu tersadar. Ia langsung memukul kepala sang anak.
"Bodoh! Bodoh!" pekiknya.
"Kau tau, kau telah menghancurkan kehidupan kita! Sekarang ayahmu di pecat, tau!"
"Apa maksud ayah? Di pecat, bagaimana mungkin?"
Sang ayah menangkup kedua pipi Adit dan mengarahkannya ke Arlan. "Lihatlah! Dia itu cucu tunggal keluarga Kusuma, pemilih Wijaya Kusuma, pemilik yayasan Wijaya Capital."
Pengumuman itu tentu membuat semua orang ternganga tak percaya. Safa ternyata istri seorang yang berpengaruh dan terkaya di negara mereka.
Safa pun tak menyangka jika ia kini istri konglomerat kaya. Ia hanya tau jika keluarga Kusuma kaya, namun tak menyangka akan sekaya itu.
"Tidak mungkin! Kalian pasti ngarang!" desis Adit masih tak terima.
"Ya, ya. Kalian pasti tetap menyangkalnya. Tapi setelah lihat ini pasti akan percaya," ucap Egar.
Ia menyodorkan map berisi berkas tuan Danu. Semua detail, kecurangan, data korupsi bahkan penggelapan dana semua tercantum rapi.
"Apa ini? Semua ini tidak benar!" elak tuan Danu dengan wajah merah penuh amarah.
"Maaf tuan Danu. Sepertinya setelah ini Anda akan berurusan dengan pihak berwajib. Ops ... aku lupa, mungkin juga Anda akan di penjara cukup lama," tambah Egar lagi.
Dengan kedua tangan mengepal kuat tuan Danu memukul kepala Adit. "Sudah ayah bilang, kuliah yang bener. Jangan suka cari masalah lagi dengan perempuan. Sekarang gara-gara kau hidup kita hancur."
"Tidak mungkin. Kenapa malah jadi begini," ujar Adit. Tatapanya kosong. Ia terjatuh dengan berlutut.
Tiba-tiba ia melihat ke arah Safa dan merangsek maju, namun Egar dan Farah menghalangi.
"Safa maafkan aku. Aku mohon. Kau wanita baik-baik, mau gak mungkin melihat orang lain hancur kan?"
Safa hanya menatapnya. Tatapan dingin seolah tak memiliki emosi. Hatinya lega karena orang yang menindasnya dapat hukuman yang pantas.
Namun, rasa sakit hatinya belum sepenuhnya hilang.
"Aku wanita baik-baik? Bukannya aku ini sama dengan LC di pinggir jalan?" ucapnya datar.
Senyuman smrik terukir di bibir manisnya. "Maaf untuk kali ini aku akan jadi wanita jahat untukmu. Karena kau pantas mendapatkan itu."
Pundak Adit merosot tak berdaya. Dan beberapa keamanan masuk ke ruangan dan membawa mereka pergi.
Safa menggenggam tangan Arlan erat. "Terimakasih, Mas. Aku gak tau lagi harus apa kalau Mas gak datang."
"Sama-sama. Aku cuma membereskan masalah perusahaan, jadi gak perlu sungka. Sekarang kamu hanya perlu fokus dengan kuliahmu."
Hati Safa lega. Setidaknya, kuliahnya akan baik-baik saja. Walau awalnya ia mengira sang suami sengaja datang untuknya.