Di Desa Karang Jati, menikah bukan soal cinta, tapi soal siapa yang terpilih untuk "menjaga" desa. Tahun ini, Kinasih—gadis panti asuhan yang tak punya siapa-siapa—mendapat kehormatan yang paling ditakuti: menjadi Pengantin Keranda.
Kinasih pikir ia akan dipasangkan dengan pemuda desa, namun impian itu hancur saat ia dipaksa bersanding dengan sebuah keranda kayu jati yang konon berisi jasad "Sang Penjaga" yang tak boleh disebut namanya. Dengan balutan kebaya merah darah yang mulai pudar, Kinasih harus menjalani ritual malam satu suro; terkunci di dalam kamar pengantin yang hanya berisi dirinya dan keranda tua yang sesekali mengeluarkan suara ketukan dari dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Sisa yang Tidak Ikut Terangkat
Sunyi.
Bukan sunyi biasa.
Bukan sunyi karena tidak ada suara.
Namun—
sunyi karena tidak ada lagi yang bisa mendengar.
Pukul 08.01.
Masih di sana.
Jam itu tidak pernah bergerak lagi.
Namun sekarang—
tidak ada yang tersisa untuk memperhatikannya.
Rumah itu kosong.
Jalan itu kosong.
Dunia itu…
kosong.
Namun—
tidak benar-benar.
Karena sesuatu masih ada.
Sesuatu yang tertinggal.
Tubuh Kinasih masih di lantai.
Mata terbuka.
Namun—
tidak ada siapa-siapa di dalamnya.
Tidak ada pikiran.
Tidak ada rasa.
Tidak ada kesadaran.
Hanya—
wadah kosong.
Namun—
di dalam kehampaan itu—
ada sesuatu kecil.
Sangat kecil.
Hampir tidak ada.
Namun—
tidak ikut terangkat.
Sisa.
Awalnya—
tidak bergerak.
Tidak sadar.
Tidak tahu.
Hanya—
ada.
Seperti bayangan dari sesuatu yang sudah hilang.
Namun—
perlahan…
ia mulai terasa.
Seperti percikan kecil.
Yang tersisa dari api besar.
Kinasih—
atau sesuatu yang dulu adalah
Kinasih—
berkedip.
Sekali.
Pelan.
Tidak sinkron.
Tidak alami.
Namun—
cukup untuk menandakan—
ada sesuatu.
Tangannya bergerak.
Sedikit.
Jari-jarinya bergetar.
Seperti tubuh yang mencoba mengingat—
bagaimana cara hidup.
Ia duduk.
Pelan.
Kaku.
Seperti boneka yang baru dipasang tali.
Matanya kosong.
Namun—
tidak sepenuhnya.
Ada sesuatu di dalamnya.
Sesuatu yang belum selesai.
Ruangan itu—
tidak lagi terasa sama.
Tidak ada lagi jaringan.
Tidak ada lagi bisikan.
Tidak ada lagi tekanan.
Namun—
justru itu—
yang membuatnya salah.
Karena—
dunia terasa terlalu ringan.
Terlalu kosong.
Seperti sesuatu besar—
baru saja pergi.
Dan meninggalkan ruang—
yang seharusnya tidak kosong.
Kinasih berdiri.
Langkahnya goyah.
Tidak stabil.
Seperti ia tidak benar-benar tahu—
bagaimana berjalan.
Namun—
ia tetap bergerak.
Pelan.
Menuju cermin.
Cermin itu utuh.
Tidak retak.
Tidak berubah.
Namun—
pantulan di dalamnya—
terlambat.
Sangat halus.
Namun—
terlambat.
Kinasih mengangkat tangannya.
Pantulan itu—
mengikutinya.
Namun—
terlambat satu detik.
Dan dalam satu detik itu—
sesuatu lain terlihat.
Bukan dirinya.
Bukan manusia.
Namun—
bayangan lain.
Yang tidak ikut mengangkat tangan.
Yang hanya…
melihat.
Kinasih berhenti.
Menatap.
Dan untuk pertama kalinya—
sesuatu di dalam dirinya—
bereaksi.
Bukan ingatan.
Bukan emosi.
Namun—
refleks.
Seperti sesuatu mengenali sesuatu yang salah.
Pantulan itu—
kembali sinkron.
Normal.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
Namun—
Kinasih tahu.
Atau sesuatu di dalamnya tahu.
Ada yang tidak ikut pergi.
Ia menyentuh wajahnya.
Kulitnya dingin.
Tidak terasa hidup.
Namun—
tidak mati.
Seperti—
di antara.
“Aku…”
Kata itu keluar.
Pelan.
Serak.
Seperti suara yang tidak pernah digunakan.
“…siapa…”
Sunyi.
Tidak ada jawaban.
Tidak ada suara.
Tidak ada siapa-siapa lagi.
Ia berjalan keluar rumah.
Pintu terbuka.
Tidak ada yang menutup.
Karena—
tidak ada yang tersisa untuk peduli.
Di luar—
jalan penuh tubuh.
Semua tergeletak.
Diam.
Mata terbuka.
Namun kosong.
Seperti boneka.
Seperti kulit tanpa isi.
Dan di antara semuanya—
tidak ada satu pun yang bergerak.
Kinasih berjalan di antara mereka.
Langkahnya pelan.
Setiap langkah—
terdengar terlalu jelas.
Karena—
tidak ada suara lain.
Ia berhenti di depan seorang anak.
Yang tadi pernah melihat.
Anak itu terbaring.
Matanya terbuka.
Kosong.
Kinasih berjongkok.
Menatap.
Lama.
Dan—
sesuatu terjadi.
Bukan dari anak itu.
Namun—
dari dirinya.
Sesuatu kecil.
Yang tertinggal itu.
Bergerak.
Bereaksi.
Seperti—
tertarik.
Kinasih menyentuh anak itu.
Pelan.
Dan saat itu—
ia merasakan sesuatu.
Kosong.
Namun—
tidak sepenuhnya.
Seperti ada sisa.
Sangat kecil.
Seperti yang ada di dalam dirinya.
“Masih ada…”
bisiknya.
Dan kata itu—
membuka sesuatu.
Ia berdiri.
Menatap sekeliling.
Semua tubuh itu—
tidak sepenuhnya kosong.
Ada sisa.
Sangat kecil.
Sangat lemah.
Namun—
ada.
Seperti—
tidak semuanya berhasil diambil.
Tidak semuanya ikut.
Dan sesuatu di dalam Kinasih—
mulai mengerti.
Langit—
tidak lagi gelap.
Tidak lagi terbuka.
Kembali normal.
Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Namun—
yang terjadi sudah selesai.
Dan yang diambil—
tidak akan kembali.
Namun—
yang tertinggal—
mulai bergerak.
Satu tubuh di ujung jalan—
berkedip.
Lalu—
diam lagi.
Namun—
itu cukup.
Yang lain—
sedikit bergerak.
Jari.
Kepala.
Mata.
Halus.
Tidak sinkron.
Namun—
ada.
Kinasih berdiri di tengah jalan.
Menatap semuanya.
Dan untuk pertama kalinya—
ia tidak merasa sendirian.
Namun—
bukan seperti sebelumnya.
Bukan karena terhubung.
Namun—
karena ada yang sama.
Sisa.
Sesuatu yang tidak sempurna.
Sesuatu yang tidak lengkap.
Sesuatu yang—
tidak ikut.
Dan itu—
mulai hidup.
Kinasih menatap tangannya.
Dan untuk pertama kalinya—
ia melihat sesuatu.
Bukan lubang.
Bukan jaringan.
Namun—
retakan.
Halus.
Di kulitnya.
Seperti—
ia tidak utuh.
Dan di dalam retakan itu—
gelap.
Namun—
bergerak.
Ia menatap lebih dekat.
Dan—
sesuatu menatap balik.
Bukan dari atas.
Bukan dari luar.
Namun—
dari dalam dirinya sendiri.
Ia tersentak.
Mundur.
Namun—
tidak bisa lari.
Karena—
itu ada di dalamnya.
“Aku… belum hilang…”
bisiknya.
Namun—
yang menjawab—
bukan suara.
Namun—
gerakan.
Di dalam retakan itu.
Dan untuk pertama kalinya—
ia mengerti sesuatu.
Yang jauh lebih buruk.
Yang di atas—
mengambil yang utuh.
Yang lengkap.
Yang siap.
Namun—
yang rusak.
Yang tidak sempurna.
Yang retak—
ditinggalkan.
Dan yang ditinggalkan—
tidak mati.
Ia berubah.
Di jalan—
lebih banyak tubuh mulai bergerak.
Tidak bangun.
Tidak hidup seperti manusia.
Namun—
bergerak.
Tidak sinkron.
Tidak wajar.
Seperti—
sesuatu mencoba memakai mereka.
Kepala yang miring.
Tangan yang bergerak terlalu lambat.
Langkah yang tidak stabil.
Namun—
semua mulai bangkit.
Kinasih berdiri.
Di tengah mereka.
Dan—
untuk pertama kalinya—
ia merasa takut lagi.
Bukan pada yang di atas.
Namun—
pada yang tertinggal.
Karena—
ini bukan manusia.
Bukan jaringan.
Bukan yang dulu.
Ini sesuatu yang lain.
Sesuatu yang tidak lengkap.
Namun—
tetap hidup.
Dan yang tidak lengkap—
tidak punya batas.
Tidak punya aturan.
Tidak punya tujuan yang jelas.
Hanya—
bergerak.
Dan berkembang.
Dengan cara yang salah.
Kinasih mundur.
Pelan.
Namun—
yang lain—
mulai menoleh.
Ke arahnya.
Serentak.
Mata mereka—
tidak kosong lagi.
Namun—
tidak benar.
Tidak manusia.
Tidak hidup.
Namun—
sadar.
Dengan cara yang salah.
“Kamu…”
Salah satu dari mereka berbicara.
Namun—
suaranya pecah.
Tidak stabil.
Seperti banyak suara bercampur.
“…beda…”
Kinasih membeku.
Karena—
ia tahu.
Ia memang berbeda.
Ia—
punya lebih banyak sisa.
Lebih banyak yang tertinggal.
Dan itu—
membuatnya lebih utuh.
Namun—
juga lebih rusak.
Mereka mulai mendekat.
Pelan.
Tidak tergesa.
Namun—
pasti.
“Kita… satu…”
bisik mereka.
Namun—
tidak seperti sebelumnya.
Tidak sinkron.
Tidak rapi.
Seperti—
sesuatu mencoba meniru.
Namun gagal.
Kinasih mundur.
Namun—
tidak ada tempat pergi.
Karena—
dunia itu sekarang—
hanya berisi mereka.
Sisa.
Yang gagal diambil.
Yang tidak sempurna.
Yang tertinggal.
Dan sesuatu di dalam Kinasih—
mulai berdenyut.
Lebih kuat.
Lebih cepat.
Seperti—
ingin keluar.
Ia menahan dadanya.
Napasnya tidak teratur.
Dan—
retakan di kulitnya—
melebar.
Dari dalam—
sesuatu bergerak.
Lebih jelas sekarang.
Lebih nyata.
Dan saat itu—
ia sadar.
Yang tertinggal—
bukan hanya dirinya.
Namun—
sesuatu lain.
Yang selama ini—
ikut.
Diam.
Menunggu.
Dan sekarang—
sudah waktunya.
Tok.
Satu ketukan.
Namun—
bukan dari atas.
Bukan dari jaringan.
Namun—
dari dalam dirinya sendiri.
Dan kali ini—
dibalas.
Oleh semua yang tertinggal.
Serentak.
Dan dunia—
yang sudah kosong—
mulai terisi lagi.
Namun—
dengan sesuatu yang jauh lebih salah.