Fradella Gauta terpaksa menikah dengan Dayaksa Herlos, Tuan Muda keluarga Herlos yang dikenal sebagai orang gila setelah kematian ayah dan ibunya akibat kecelakaan. Ratu Mayesa, kakak tirinya yang merupakan tunangan Dayaksa (Aksa) merebut tunangannya Fradella, Adryan Juardi karena tidak mau berakhir menjadi mayat. Tak banyak yang tahu Fradella (Della) dirawat di rumah sakit jiwa selama lima tahun setelah ayahnya menikahi ibu Ratu. Kini Della harus tinggal dan bertahan di "Rumah Sakit Jiwa" yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TWENTY
"Tapi aku tidak rela, Ayah!" Emily menyilangkan kedua tangannya di depan dada, wajahnya merengut masam. "Jika posisi Direktur Utama masih dipegang oleh Dayaksa si gila itu, masa depan perusahaan ini taruhannya! Orang gila seharusnya mendekam di rumah sakit jiwa untuk menjalani pengobatan, bukan memegang jabatan penting di gedung tertinggi kota ini!"
Fabio menghela napas panjang, menurunkan cerutunya lalu menatap Emily dengan kilatan mata yang mendadak menajam. "Ayah sudah bilang, tenang saja. Kenapa kamu selalu melakukan hal-hal yang merepotkan dan tidak sabaran, Emily?"
Fabio memajukan tubuhnya, menatap putrinya dengan tatapan memperingatkan. "Bagaimanapun juga, kamu tidak boleh lupa satu hal. Sebelum bocah itu menjadi gila akibat traumanya, dialah yang membangun pondasi inti perusahaan ini. Aksa yang membawa Herlos Grup merangkak naik hingga berada di jajaran perusahaan elit teratas di negara ini. Bukan hal yang mudah untuk merusak nama baik dan legitimasinya di hadapan jajaran komisaris lainnya. Mereka yang duduk di kursi itu bukan orang-orang bodoh yang gampang lupa pada jasa seseorang yang sudah memberi mereka makan selama bertahun-tahun."
Mendengar pujian ayahnya terhadap Aksa, ego Emily langsung terusik. Wajahnya memerah padam karena cemburu dan tidak terima.
"Tapi itu dulu, Ayah! Itu masa lalu!" sanggah Emily dengan nada berapi-api. "Selama tiga tahun terakhir ini, saat dia hanya bisa mengurung diri dan mengamuk seperti binatang di mansionnya, siapa yang bekerja keras di kantor ini? Aku! Aku yang memeras keringat sebagai Manajer Operasional! Aku yang membuat perusahaan ini menghasilkan untung besar di atas kertas! Dan aku juga yang membawa nama Herlos Grup tetap dikenal dan disegani oleh seluruh komunitas bisnis internasional! Mana mungkin aku terima begitu saja hasil kerja kerasku selama ini diambil alih kembali oleh orang tak berguna yang otaknya sudah rusak?!"
Fabio menggeleng-gelengkan kepalanya melihat ambisi putrinya yang menggebu-gebu namun kurang perhitungan. Ia kembali menyandarkan tubuhnya, menghisap cerutunya dalam-dalam.
"Diam, Emily. Dan nikmati saja prosesnya hari ini," ucap Fabio, nadanya mutlak tak terbantahkan.
"Ayah!!!" Emily menghentakkan kakinya ke lantai dengan sangat kesal, sebelum akhirnya berbalik dan keluar dari ruangan dengan membanting pintu, bersiap menuju ruang rapat utama dengan dendam yang membara.
Di lantai tiga puluh enam, ruang rapat utama Herlos Grup telah bertransformasi menjadi medan perang yang sunyi. Ruangan berbentuk lingkaran dengan dinding kaca raksasa yang memperlihatkan pemandangan kota dari ketinggian itu sudah dipenuhi oleh jajaran direksi, dewan komisaris, dan para pemegang saham mayoritas. Di salah satu sudut meja oval, Hendrik, komisaris senior yang terkenal vokal dan serakah tampak sedang berbisik-bisik dengan beberapa sekutunya, mematangkan strategi untuk melengserkan Dayaksa.
Suasana riuh rendah bisikan itu mendadak terhenti total. Cklek.
Pintu ganda ruang rapat terbuka lebar. Aura dingin yang luar biasa mencekam seakan langsung merayap masuk, menusuk pori-pori setiap orang yang ada di dalam ruangan. Dayaksa Herlos melangkah masuk.
Setelan jas hitam tiga potong yang melekat di tubuh tegapnya memancarkan otoritas yang absolut. Wajah tampannya datar, kaku bagai pahatan marmer tanpa ekspresi, dengan sepasang mata gelap yang menatap lurus ke depan, dingin dan mematikan. Di belakangnya, Zacky sebagai sekretaris utama berjalan dengan langkah tegas di sisi kanan, sementara Anastasya, sekretaris kedua yang membawa tumpukan tablet digital dan berkas fisik, berjalan beriringan di sisi kiri.
Dua pengawal berbadan tegap langsung mengambil posisi berjaga di luar pintu, menutup akses ruangan dari dunia luar. Atmosfer di dalam ruangan seketika berubah menjadi begitu pekat, hingga suara langkah sepatu bot kulit Aksa yang berketuk di atas lantai parket terdengar seperti dentuman jam kematian.
Aksa berjalan menuju ujung meja oval, tempat kursi kebesaran Direktur Utama berada. Ia menarik kursi tersebut, lalu duduk dengan ketenangan yang mengintimidasi. Zacky dan Anastasya langsung berdiri di belakangnya dengan sikap tegap.
Tanpa membuang waktu, Zacky melangkah maju satu langkah dan membuka rapat dengan suara baritonnya yang profesional. "Selamat pagi, jajaran direksi dan dewan komisaris yang terhormat. Sidang pleno darurat hari ini resmi dibuka. Berdasarkan instruksi Direktur Utama, kita akan langsung menuju agenda utama. Saya meminta para manajer divisi dan direksi pelaksana untuk melaporkan hasil kerja dan laporan keuangan riil mereka selama tiga tahun terakhir. Silakan dimulai."
Satu per satu direktur pelaksana maju ke depan mimbar presentasi dengan tubuh yang sedikit tegang. Mereka memaparkan grafik perkembangan, hasil audit, dan ekspansi pasar. Selama proses tersebut, Aksa tidak mengucapkan satu patah kata pun. Jemarinya yang berbalut plester medis tipis di balik lengan jas bergerak lincah membuka berkas fisik, sementara matanya bergerak cepat mencocokkan setiap data angka di kertas dengan tampilan slide presentasi di layar besar. Kejeniusannya yang sempat tertidur kini bekerja dengan kecepatan penuh, menyerap ribuan data dalam hitungan menit.
Kini giliran Emily Herlos. Dengan langkah anggun yang sengaja dibuat-buat dan kepala mendongak penuh percaya diri, ia maju ke depan. Sebagai Manajer Operasional, ia merasa berada di atas angin.
"Selamat pagi semuanya, dan selamat datang kembali kepada Tuan Muda Dayaksa," ucap Emily dengan nada sarkasme yang tersamar halus. Ia menyalakan layar presentasinya yang menampilkan grafik keuntungan yang melonjak tajam berwarna hijau. "Selama tiga tahun terakhir, di bawah pengawasan operasional saya, Herlos Grup berhasil mencatatkan kenaikan keuntungan bersih yang sangat fantastis dari tahun ke tahun. Kami berhasil menembus pasar baru dan mempertahankan stabilitas korporasi di tengah absennya kepemimpinan utama. Hasil ini membuktikan bahwa manajemen operasional berjalan dengan sangat prima."
Beberapa komisaris yang bersekutu dengan Hendrik tampak mengangguk-angguk setuju, sementara Fabio Herlos yang duduk di kursi tengah hanya tersenyum tipis, terus memperhatikan dinamika ruangan.
Setelah Emily menyelesaikan presentasinya dengan senyum kemenangan, ia menatap Aksa, menunggu reaksi pria itu yang ia harapkan akan kebingungan atau setidaknya menunjukkan gejala tidak stabil akibat tekanan angka-angka bisnis.
Namun, ruangan itu justru jatuh ke dalam keheningan yang menyiksa selama hampir dua menit. Aksa perlahan menutup map dokumen di depannya dengan ketukan pelan yang terdengar nyaring di tengah kesunyian. Ia menegakkan tubuhnya, menatap Emily dengan pandangan mata yang sangat tajam, seolah-olah sedang menatap seekor serangga yang menjijikkan.
"Laporan yang sangat indah, Manajer Emily," suara Aksa akhirnya keluar. Rendah, berat, dan bergema dengan nada intimidasi yang membuat bulu kuduk berdiri. "Namun sayangnya, laporan ini tidak lebih dari sekadar tumpukan sampah fiksi yang dibungkus dengan grafik warna-warni."
Wajah Emily seketika berubah tegang. "Apa maksud Anda, Tuan Muda Aksa?! Data yang saya tampilkan adalah data resmi dari—"
"Diam," potong Aksa. Suaranya tidak keras, namun memiliki penekanan mutlak yang membuat Emily seketika terbungkam dengan mata membelalak.
Aksa membuka kembali map dokumennya dengan sentakan pelan. "Mari kita bedah keberhasilan operasional yang kau banggakan ini. Dari empat kuartal terakhir, meskipun di layar presentasimu terlihat ada kenaikan keuntungan bersih sebesar dua belas persen, tetapi kau dengan sengaja menyembunyikan data pengeluaran di halaman belakang. Kenaikan modal untuk pembelian bahan baku utama di divisimu juga naik sangat signifikan, mencapai tiga puluh delapan persen! Bagaimana bisa sebuah bisnis dikatakan untung besar jika biaya produksinya melonjak tiga kali lipat dari persentase keuntungan?!"
Aksa melemparkan selembar kertas laporan audit independen ke tengah meja oval, meluncur tepat di hadapan Hendrik dan Fabio.
"Jika dihitung dengan rumus progresif pendapatan dan inflasi modal, hasil kerja operasionalmu ini sama saja dengan rugi total! Uang perusahaan keluar lebih banyak daripada yang masuk! Di mana letak keuntungan yang kau bualkan tadi, Emily?!" tanya Aksa, matanya berkilat dingin menuntut jawaban.
Kau harus kuatt Aska jgn sampai terpengaruh
Lucu deh kalian berdua