Bagi dunia luar, Reihan Arta Wiguna adalah sosok "Ice King" di lantai bursa—dingin, tak tersentuh, dan selalu kalkulatif. Namun, di balik kemewahan hidupnya, ia terikat oleh janji konyol kakeknya puluhan tahun silam. Ia dipaksa menikahi Laluna Wijaya, seorang gadis yang ia anggap hanya sebagai "beban" tambahan dalam hidupnya yang sudah sibuk.
Laluna sendiri tidak punya pilihan. Menikah dengan Reihan adalah satu-satunya cara untuk melindungi apa yang tersisa dari nama baik keluarganya. Mereka sepakat pada satu aturan main: Pernikahan ini harus menjadi rahasia. Tidak ada cinta, tidak ada kemesraan di depan publik, dan tidak ada campur tangan dalam urusan pribadi masing-masing.
Namun, tinggal di bawah satu atap perlahan meruntuhkan tembok yang dibangun Reihan. Laluna bukan sekadar gadis penurut yang ia bayangkan; ia adalah api yang hangat di tengah musim dingin Reihan. Saat satu per satu rahasia keluarga dan pengkhianatan bisnis mulai terkuak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: PERESMIAN DAN PENGKHIANATAN
Kunci perak di tangan Laluna terasa dingin, namun hatinya hangat. Ruko di kawasan SCBD itu bukan sekadar bangunan, itu adalah pengakuan.
Selama beberapa minggu terakhir, Laluna membagi waktunya antara apartemen dan proyek renovasi ruko tersebut.
Reihan, meski tetap sibuk dengan perang kekuasaan di kantor, secara mengejutkan memberikan kebebasan penuh pada Laluna untuk mendesain tempat itu.
"Aku ingin interior yang homey, Reihan. Banyak unsur kayu, tanaman hijau, dan pencahayaan yang hangat. Aku ingin orang merasa seperti sedang bertamu di rumah teman saat masuk ke 'Khay'," ujar Laluna suatu malam di ruang tengah.
Reihan yang saat itu sedang memeriksa berkas, hanya mengangguk tanpa mendongak. "Lakukan saja. Dimas sudah mengatur kontraktor terbaik. Pastikan saja ventilasinya bagus, aku tidak ingin kau pingsan karena panas oven."
Meskipun kata-katanya tetap terdengar teknis, Laluna tahu itu adalah bentuk perhatian.
Hari peresmian kecil-kecilan "Khay Bakery" pun tiba. Laluna memutuskan untuk tidak mengadakan acara besar guna menjaga dari perhatian publik.
Ia hanya mengundang beberapa pelanggan setia dari penjualan online-nya dan teman-teman dekat.
Reihan tidak berjanji akan datang.
"Jadwalku padat, Laluna. Dan kehadiranku di sana hanya akan memancing spekulasi yang belum siap kita hadapi," ucapnya pagi itu.
Laluna mencoba untuk tidak kecewa. Ia mengerti.
Keamanan posisinya dan perusahaan adalah prioritas utama.
Pukul sepuluh pagi, aroma donat kentang yang baru digoreng dan chiffon cake pandan yang harum mulai semerbak keluar dari ruko.
Laluna mengenakan apron linen berwarna krem dengan bordir logo "Khay" yang sederhana. Pelanggan mulai berdatangan, dan pujian demi pujian mengalir.
"Donatnya sangat lembut, Nona Khay! Dan interiornya... sangat estetis!" puji seorang pelanggan yang sering memesan via Instagram.
Di tengah kesibukan itu, sebuah karangan bunga raksasa tiba di depan ruko. Tidak ada nama pengirim yang jelas, hanya kartu ucapan kecil bertuliskan :
"Untuk sekutu yang paling gigih. Teruslah memanggang."
Laluna tersenyum lebar. Ia tahu siapa pengirimnya.
Namun, kebahagiaan itu terusik saat sesosok pria masuk ke dalam toko. Bukan Reihan, melainkan Danu Arta Wiguna, sepupu Reihan yang memiliki tatapan mata licik dan senyum yang selalu terasa palsu.
"Tempat yang manis untuk sebuah rahasia yang manis, bukan?" Danu berjalan berkeliling, menyentuh permukaan meja kayu dengan gerakan yang mengganggu.
Laluna mencoba tetap bersikap profesional. "Selamat datang. Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"
Danu mendekati Laluna, menatapnya dengan pandangan merendahkan.
"Jangan berpura-pura tidak mengenalku, Laluna Wijaya. Atau haruskah aku memanggilmu... Nyonya Reihan?"
Jantung Laluna berdegup kencang, namun ia tetap tenang.
"Saya tidak mengerti maksud Anda."
"Oh, kau mengerti. Aku punya foto-foto yang sangat menarik dari kantor Reihan minggu lalu. Adegan pelukan yang sangat dramatis untuk dua orang yang katanya hanya memiliki 'hubungan kontrak',"
Danu mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto saat Laluna mengobati luka Reihan.
"Dewan komisaris akan sangat tertarik melihat ini. Mereka tidak suka dibohongi. Pernikahan rahasia tanpa persetujuan keluarga besar kecuali kakek, adalah pelanggaran etika berat bagi CEO Arta Wiguna."
Laluna menarik napas panjang.
"Apa maumu, Danu?"
"Mudah saja. Aku ingin Reihan mundur dari merger perusahaan telekomunikasi minggu depan. Jika dia tetap maju, foto-foto ini dan bukti-bukti hutang ayahmu yang dilunasi secara mencurigakan oleh dana pribadi Reihan akan ada di meja redaksi media besok pagi."
Danu meletakkan kartu namanya di atas meja kasir.
"Sampaikan salamku pada suamimu. Katakan padanya, es mulai mencair, dan dia akan tenggelam di dalamnya."
Setelah Danu pergi, suasana ruko yang hangat mendadak terasa mencekam bagi Laluna.
Ia tidak bisa menunggu sampai malam. Ia segera menutup toko lebih awal dan bergegas menuju kantor Reihan.
Kali ini, ia tidak peduli dengan protokol. Ia menerobos masuk ke ruang kerja Reihan tepat saat pria itu sedang melakukan rapat internal lewat video call.
"Laluna? Ada apa denganmu?" Reihan mematikan sambungannya, melihat wajah istrinya yang pucat dan penuh keringat.
Laluna menceritakan semuanya. Tentang kedatangan Danu, tentang ancaman foto, dan tentang dana pelunasan hutang ayahnya.
Reihan terdiam cukup lama. Alih-alih marah, ia justru berdiri dan berjalan menuju jendela besar yang menghadap kota.
"Aku sudah menduga dia akan bermain kotor. Tapi aku tidak menduga dia akan mendatangi tokomu."
"Reihan, batalkan mergernya. Aku tidak peduli dengan ruko ini atau namaku. Aku tidak ingin kau kehilangan posisimu karena aku," ucap Laluna lirih.
Reihan berbalik. Matanya tidak lagi dingin, melainkan berkilat dengan tekad yang mengerikan.
Ia melangkah mendekati Laluna dan memegang kedua bahunya.
"Dengarkan aku, Laluna. Danu mengira dia memegang kartu as, tapi dia lupa siapa yang mengajari kami semua cara bermain."
Reihan menarik napas dalam.
"Aku tidak akan membatalkan merger. Dan aku juga tidak akan membiarkan dia menghancurkanmu."
"Tapi bagaimana cara—"
"Kita akan melakukan apa yang paling dia takuti," potong Reihan.
"Kita tidak akan membiarkan dia membocorkannya. Kita sendiri yang akan mengumumkannya."
Laluna terbelalak. "Apa? Mengumumkan pernikahan ini sekarang? Tapi kakek... dewan komisaris..."
"Jika kita yang mengumumkannya dengan narasi yang tepat, kita yang memegang kendali. Jika dia yang membocorkannya, kita yang menjadi korban."
Reihan mengusap pipi Laluna dengan ibu jarinya.
"Besok malam adalah pesta ulang tahun perusahaan. Kita akan masuk ke sana bersama. Bukan sebagai bos dan asisten, tapi sebagai suami dan istri."
Laluna merasakan dunianya berhenti berputar.
"Kau yakin? Ini berarti tidak ada jalan kembali, Reihan. Kontrak kita... semuanya akan menjadi nyata di mata dunia."
Reihan menatap mata Laluna dalam-dalam, sebuah tatapan yang memberikan jawaban lebih dari seribu kata.
"Bukankah memang sudah terasa nyata sejak lama, Laluna?"
Malam itu, di tengah aroma ragi yang tertinggal di apron Laluna dan aroma kertas kantor di jas Reihan, sebuah keputusan besar diambil. Mereka akan keluar dari bayang-bayang, meski itu berarti mereka harus menghadapi badai yang paling besar dalam sejarah Arta Wiguna.
Namun, di sudut gelap kantor Danu, pria itu tertawa kecil. Ia sudah menyiapkan jebakan lain yang jauh lebih mematikan daripada sekadar foto. Sebuah rahasia tentang kematian ayah Reihan yang melibatkan keluarga Wijaya puluhan tahun silam.
Sebuah rahasia yang bisa membuat cinta yang baru tumbuh itu berubah menjadi kebencian yang abadi.