NovelToon NovelToon
Dua Wajah Cinta

Dua Wajah Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Poligami / Pelakor
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Lima tahun menikah, Stella merasa hidupnya sempurna bersama Abbas, suami yang penyayang. Kehadiran Annisa—yang diperkenalkan Abbas sebagai adik sepupu yatim piatu—bahkan disambut Stella dengan tangan terbuka layaknya adik kandung sendiri.
​Namun, fatamorgana itu hancur saat Stella menemukan slip reservasi hotel di saku jas Abbas. Bukan sekadar perjalanan bisnis, slip itu mencantumkan paket Honeymoon Suite untuk Mr. Abbas & Mrs. Annisa.
​Kebenaran pahit terungkap: adik sepupu yang datang ternyata adalah istri siri suaminya selama setahun terakhir. Terjebak dalam pengkhianatan di bawah atap yang sama, Stella harus memilih: bertahan demi janji suci yang telah ternoda, atau pergi demi harga diri saat Annisa mulai menuntut pengakuan sah sebagai istri kedua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

...Vira melangkah tegap menyusuri lorong panjang kantor, menuju area belakang yang aromanya sangat kontras dengan wangi pengharum ruangan di lobi utama. ...

...Di sana, sebuah ruangan sempit dengan loker logam dan beberapa peralatan kebersihan telah menanti....

..."Ini area kamu, Annisa," ucap Vira sambil membuka salah satu loker. ...

...Ia mengeluarkan sepotong seragam berwarna biru kusam dan sepasang sepatu karet. ...

..."Ini seragammu. Tugas pertamamu pagi ini adalah membersihkan seluruh kaca di lantai tiga dan memastikan pantry tetap rapi. Jangan sampai ada sampah yang menumpuk."...

...Annisa menerima seragam itu dengan ujung jarinya, seolah kain itu adalah benda beracun yang menjijikkan. ...

..."Membersihkan kaca? Semuanya, Mbak?" tanyanya dengan suara yang mulai bergetar karena emosi....

..."Panggil saya Bu Vira atau Manager di sini," koreksi Vira tegas. ...

..."Dan iya, semuanya. Di perusahaan ini, tidak ada perlakuan khusus, bahkan untuk saudara Pak Abbas sekalipun."...

...Baru saja Annisa hendak melayangkan protes, ponsel yang berada di saku blazer Vira berdering nyaring. ...

...Vira merogoh sakunya dan seketika ekspresi wajahnya berubah menjadi jauh lebih sopan saat melihat nama yang tertera di layar....

..."Halo, selamat pagi, Ibu Stella," jawab Vira dengan nada bicara yang manis....

...Mendengar nama itu disebut, Annisa tersentak. ...

...Ia menajamkan pendengarannya, mencoba mencuri dengar pembicaraan di telepon tersebut....

..."Iya, Bu. Annisa sudah bersama saya sekarang," lanjut Vira sambil melirik Annisa yang masih mematung memegangi seragamnya. ...

..."Sudah, Bu. Pak Abbas sudah menempatkannya di bagian OB sesuai instruksi Ibu tadi pagi. Saya sendiri yang akan mengawasi kinerjanya agar dia benar-benar belajar dari bawah."...

...Annisa menggertakkan giginya. Ia bisa membayangkan Stella sedang tersenyum penuh kemenangan di seberang telepon sana, sementara dirinya harus bersiap memegang pembersih kaca dan kain pel....

..."Baik, Bu Stella. Nanti siang akan saya laporkan lagi perkembangannya. Terima kasih, Bu," Vira menutup teleponnya dan kembali menatap Annisa dengan sorot mata tanpa kompromi. ...

..."Kamu dengar sendiri, kan? Istri Pak Abbas sangat memperhatikan kedisiplinan di sini. Jadi, cepat ganti baju dan segera mulai bekerja."...

...Annisa hanya bisa terdiam, mencengkram seragam biru itu erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. ...

...Di dalam hatinya, ia bersumpah akan membalas perlakuan Stella ini berkali-kali lipat lebih kejam suatu saat nanti....

...Stella meletakkan ponselnya di atas nakas dengan senyum puas yang masih menghiasi bibirnya. ...

...Ia merasa telah mengambil langkah yang tepat. Sebagai istri, ia tidak ingin terlihat kejam, namun ia juga tidak ingin ada orang yang merusak tatanan di rumah atau perusahaan suaminya hanya karena status "saudara"....

..."Walaupun dia saudara sepupu suamiku, aku harus tetap disiplin. Perusahaan itu butuh kerja keras, bukan sekadar titipan," ucap Stella pelan pada dirinya sendiri....

...Ia kini berada di kamar belakang, ruangan kecil yang tadi ia tunjukkan pada Annisa. ...

...Kamar itu memang sederhana, namun Stella memastikan semuanya bersih. ...

...Ia ingin melihat sejauh mana "adik sepupu" suaminya itu bisa bertahan dengan kesederhanaan sebelum menikmati fasilitas keluarga....

...Tak lama kemudian, seorang pelayan rumah tangga masuk membawa tumpukan kain bersih. ...

..."Permisi, Bu. Ini sarung bantal dan sprei cadangannya sudah saya cuci dan setrika," lapor pelayan itu sopan....

...Stella menunjuk ke arah tempat tidur single di pojok ruangan. ...

..."Bi, tolong pasangkan ya. Pastikan rapi. Saya ingin Annisa merasa cukup nyaman di sini, tapi dia juga harus tahu posisinya sebagai tamu yang sedang dibantu."...

..."Baik, Bu Stella," jawab pelayan itu cekatan mulai bekerja....

...Setelah memastikan urusan kamar Annisa selesai, Stella melangkah keluar. ...

...Ia menaiki anak tangga menuju lantai atas, masuk ke dalam kamar utamanya yang luas, sejuk, dan beraroma lavender yang menenangkan....

...Stella menghela napas panjang, melepaskan beban pikiran yang sejak pagi menghimpit dadanya. ...

...Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang king-size miliknya, menatap langit-langit kamar dengan perasaan yang campur aduk antara kemenangan kecil dan sisa kecurigaan yang belum sepenuhnya padam. ...

...Di kamar mewah inilah ia merasa aman, tanpa tahu bahwa di luar sana, suaminya dan Annisa sedang merajut rencana untuk meruntuhkan kenyamanan yang ia miliki....

...Stella sedang menatap langit-langit kamar saat ponsel di sampingnya bergetar hebat. Nama "Papa - London" muncul di layar, membuat Stella segera bangkit dan menarik napas dalam-dalam sebelum menjawabnya....

..."Halo, Pa? Selamat siang di sana," sapa Stella, berusaha menjaga nada suaranya agar tetap ceria....

..."Halo, Sayang. Tiba-tiba Papa kepikiran kamu. Bagaimana kabarmu dan Abbas? Apakah semuanya baik-baik saja di Jakarta?" Suara berat ayahnya terdengar penuh wibawa namun penuh kasih sayang dari seberang benua....

...Stella terdiam sejenak. Ia teringat kejadian di meja makan tadi pagi, wajah sombong Annisa, dan kedipan mata Abbas yang sempat ia tangkap sekilas namun ia tepis....

..."Iya Pa, semuanya baik-baik saja. Kami sehat," jawab Stella akhirnya. ...

..."Hanya saja, ada sedikit keramaian di rumah. Saudara sepupu Mas Abbas baru datang dari kampung. Dia sekarang tinggal di sini dan mulai bekerja di perusahaan."...

..."Saudara sepupu? Abbas tidak pernah bercerita soal itu pada Papa sebelumnya," suara ayahnya terdengar sedikit menyelidik. ...

..."Siapa namanya? Dan di posisi apa dia bekerja? Kamu tahu kan, Papa tidak suka ada orang yang masuk ke perusahaan tanpa kualifikasi yang jelas, meskipun itu keluarga."...

...Stella tersenyum tipis, merasa didukung oleh ketegasan ayahnya. ...

..."Namanya Annisa, Pa. Jangan khawatir, Stella sudah pastikan dia mulai dari bawah. Dia bekerja sebagai OB untuk sementara waktu agar belajar disiplin. Stella tidak akan membiarkan siapa pun merusak sistem yang sudah Papa bangun."...

..."Bagus. Itu putri Papa yang sebenarnya. Pantau terus, ya. Kalau ada yang mencurigakan atau Abbas mulai berubah, segera beri tahu Papa. Papa bisa saja pulang ke Jakarta minggu depan kalau diperlukan."...

..."Tidak perlu sampai begitu, Pa. Stella bisa menanganinya," ucap Stella meyakinkan, meski di dalam hatinya ia mulai merasa bahwa keberadaan Annisa akan membawa badai yang lebih besar dari yang ia duga. ...

...Setelah menutup telepon, Stella menatap pantulan dirinya di cermin, bertekad untuk tidak membiarkan siapa pun merebut apa yang menjadi miliknya....

...Sementara itu di lantai tiga, suasana kantor yang biasanya elegan kini terasa seperti penjara bagi Annisa. ...

...Dengan tangan yang terbungkus sarung tangan karet murah, ia terpaksa membungkuk, memunguti sisa kertas dan sampah dari tempat sampah di setiap meja karyawan....

...Wajahnya memerah, bukan hanya karena lelah, tapi karena menahan malu yang luar biasa. ...

...Setiap kali ada karyawan yang melintas dan memperhatikannya dengan tatapan kasihan atau sekadar rasa ingin tahu, Annisa membuang muka. ...

...Ia, yang baru beberapa jam lalu membayangkan duduk di kursi empuk sebagai sekretaris CEO, kini justru harus berurusan dengan aroma sampah yang menyengat....

..."Sialan kamu, Stella!" desis Annisa pelan saat ia mengikat plastik sampah hitam besar di sudut ruangan. ...

..."Lihat saja nanti, siapa yang akan tertawa paling akhir di rumah itu."...

...Saat ia sedang mengelap meja kerja salah satu staf, pandangannya tertuju pada pantulan dirinya di kaca jendela yang besar. ...

...Seragam biru kusam itu tampak sangat tidak cocok di tubuhnya yang biasanya ia rawat dengan baik. ...

...Ia menyentuh pipinya, tempat di mana Abbas menciumnya tadi pagi....

...Kegetiran merayap di hatinya. Abbas, suaminya, sang pemilik kuasa di gedung ini, justru membiarkannya dipermalukan seperti ini atas perintah istri pertamanya. Namun, di balik rasa sakit hatinya, sebuah ambisi gelap mulai tumbuh. ...

...Jika Stella ingin ia belajar dari bawah, maka ia akan belajar cara yang paling efektif untuk menghancurkan Stella dari dasar hingga ke puncaknya....

...Ia menarik napas dalam, memaksakan diri untuk terus bekerja. ...

...Setiap butir keringat yang jatuh hari ini, ia catat sebagai hutang yang harus dibayar oleh Stella dengan air mata di kemudian hari. ...

...Di lantai tiga yang dingin itu, rencana jahat mulai tersusun rapi di balik wajah polos sang "adik sepupu"....

1
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo aku mampir kak👋
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
cinta semu
beruntung Stella punya teman yg cerdas ...😎
cinta semu
smg aja Stella instingnya tajam ...
tiara
wah wah ternyata sudah setahun toh mereka menikah siri,tunggu saja kalau stella tau rasain kalian
tiara
wah ga beres Si Abbas nih, sepertinya, ga tau diri tuh orang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!