Demi mengejar cinta masa kecilnya, Raynara rela meninggalkan statusnya sebagai putri mafia Meksiko. Ia menyamar menjadi babysitter sederhana di Jakarta dan bersekolah di tempat yang sama dengan sang pujaan hati.
Namun, dunianya seolah hancur mengetahui Deva telah dijodohkan dengan sahabatnya sendiri.
Sebuah insiden di hari pernikahan memaksa Rayna maju sebagai pengantin pengganti. Mimpi yang jadi nyata? Tidak. Bagi Deva, Rayna hanyalah gadis ambisius yang haus harta.
"Tugas kamu itu urus Chira, bukan urus hidupku. Jangan mentang-mentang kita satu sekolah dan sekarang kamu pakai cincin ini, kamu bisa atur aku. Di sekolah kita asing, di rumah kamu cuma pengganti yang mencuri posisi orang lain."
Di antara dinginnya sikap Deva dan tuntutan perjodohan di Meksiko, sanggupkah Rayna bertahan? Ataukah ia akan kembali menjadi ratu mafia yang tak punya hati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konslet
“Berani juga kamu datang kemari setelah membuat adikku terluka,” ucap Rayden sambil berdiri tegak di ambang pintu rumah Harris.
Deva menelan ludah paksa. Perasaannya campur aduk antara gugup dan gelisah. Tangannya yang masih nampak lemah pasca-sakit mencengkeram erat buket bunga lili dan mawar di pelukannya.
“Maaf, aku tidak sengaja. Aku tidak tahu kalau dia selama ini selalu mencoba menghubungi aku,” ucap Deva terbata-bata.
“Ya, dia terus menghubungimu, namun sayang sekali bukan kau orangnya. Aku sudah tahu pokok permasalahan di antara kalian. Gara-gara Austin yang menyamar sebagai dirimu, dia berhasil menipu adikku. Tapi bukan hanya itu masalahnya, kau juga bermasalah di sini!” Rayden menunjuk tajam ke arah Deva.
“Jika kau serius punya perasaan pada adikku, seharusnya kau datang langsung ke Meksiko, bukan malah menunggu di sini dan menyalahkan adikku!” lanjut Rayden dengan nada setengah marah dan setengah kecewa.
Deva terdiam menunduk, sementara Rayna yang berdiri di samping Byan diam-diam meliriknya. Ada sedikit perasaan tak tega melihat Deva kena semprot habis-habisan. Namun, suasana mendadak hening saat Deva angkat bicara.
“Aku pernah ke Meksiko.”
“Pernah? Serius? Sejak kapan?” tanya Rayden cukup terkejut. Rayna pun tertegun, matanya membulat menatap Deva.
Byan yang sejak tadi menyimak akhirnya menimpali. “Deva memang pernah ke Meksiko setahun lalu, Ray. Tepat setelah kelulusan SMP kita. Tapi begitu dia tiba, dia mendapati kamu jalan dengan cowok lain. Karena itu, Deva mulai membencimu dan mengira kamu sudah melupakannya.”
Sontak, Rayna memicingkan mata pada Rayden. Ia ingat betul dirinya tak pernah jalan dengan cowok lain karena pasti dipantau ketat oleh Ayahnya. Maka sudah jelas siapa yang dilihat Deva saat itu.
“Cowok lain?” Rayna mendengus ke arah kakaknya. “Itu pasti Bang Eden! Aku kan sering minta ditemani beli komik atau makan es krim. Dan Bang Eden selalu pakai penyamaran kalau jalan denganku.”
Rayden memang terkenal sering memberi pelajaran dengan tinju mautnya pada cowok-cowok yang mendekati adiknya. Deva dan Byan pun melongo mendengar penjelasan Rayna. Sementara Rayden pura-pura tak tahu dengan memalingkan pandangannya ke arah lain, mendadak sibuk memperhatikan tanaman di teras.
“Jadi... selama ini aku salah paham?” ucap Deva lemas.
“Sepertinya begitu. Ini miskomunikasi tingkat dewa." Byan rasanya ingin tertawa membayangkan Deva cemburu buta pada calon kakak iparnya sendiri.
Keheningan yang canggung itu pecah oleh suara melengking dari bawah. Chira dengan kuncir dua yang sudah miring, berkacak pinggang di depan Deva.
“Om Galak! Itu bunga sampai kapan dipegang telus? Mau dikasih Onty Layna atau ndak? Kalau ndak mau, buat Chila saja bIal Chila kasih ke kochen!”
Sentilan Chira membuat Deva tersadar. Dengan gerakan perlahan, ia maju ke depan Rayna. Ia menahan napas sejenak, menatap lekat manik mata gadis yang mengenakan terusan biru langit itu.
"Ray... a-aku minta maaf. Aku minta maaf karena sudah salah paham dan menyakitimu dengan kata-kata kasarku," ucap Deva tulus, suaranya sedikit bergetar. "Aku tidak berharap langsung dimaafkan, tapi aku harap kamu tidak kembali ke Meksiko. Be-beri aku kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita."
Rayna menatap buket itu, lalu beralih ke wajah Deva.
"Hubungan apa?" tanyanya pelan.
Deva melirik cincin pernikahan yang masih melingkar di jari manis Rayna. "Hubungan kita yang sudah sah se-sebagai suami istri," jawab Deva tegas. "Aku tidak akan memaksa, tapi aku harap kamu mau memberiku kesempatan membuktikan kalau aku benar-benar menyesal."
Rayden yang melihat upaya Deva mulai melunak, dalam hati ia mengakui remaja di depannya ini punya rasa yang tulus, hanya saja kesalahpahaman itu hampir merusak segalanya. Byan pun tersenyum lega melihat adiknya akhirnya bicara terus terang.
Namun, Rayna justru merasa sangat gugup. Ia bimbang. Padahal kemarin ia sudah berniat ingin kembali pada Deva, tapi sekarang ketakutan itu muncul lagi. Ia takut memberikan hatinya lalu terluka untuk kedua kalinya.
Rayna kemudian menatap bunga lili di pelukannya yang kini berpindah tangan. Ia menarik napas dalam, membiarkan aroma bunga itu menenangkan debar jantungnya.
"Aku memaafkanmu," ucap Rayna pelan, membuat binar harapan muncul di mata Deva. "Tapi soal pernikahan kita... aku butuh waktu untuk memikirkannya lagi. Jadi, aku belum bisa pulang bersamamu ke rumah orang tuamu hari ini."
Deva tersenyum getir, namun ia mengangguk paham. Setidaknya pintu maaf sudah terbuka sedikit. Namun, belum sempat ia bernapas lega, suara berat Rayden kembali memecah suasana dari ambang pintu.
"Dan jangan lupa satu hal," cetus Rayden menatap Deva dengan tatapan menyelidik. "Aku juga belum sepenuhnya merestui pernikahan ini. Jadi, kamu juga harus membuatku yakin kalau kamu memang pantas jadi adik iparku."
Deva menelan ludah, rasa was-was kembali menghimpit dadanya. Ia melirik jam tangannya, teringat bahwa waktu kesepakatannya dengan Rayden kini tinggal empat hari lagi.
Empat hari untuk meyakinkan singa seperti Rayden? Rasanya sangat singkat dan mustahil.
"Aku mengerti," jawab Deva sungguh-sungguh. Ia lalu kembali menatap Rayna dengan tatapan memohon. "Ray... aku harap kamu bisa memberiku jawaban secepat mungkin."
Rayna tidak menjawab dengan kata-kata, ia hanya mengangguk pelan sambil mendekap buket bunga itu di dadanya. Saat itulah, embusan angin sore bertiup lembut di teras rumah Harris. Rambut panjang Rayna terhembus pelan, membingkai wajahnya yang cantik dengan terpaan cahaya senja yang keemasan.
Deva tertegun. Ia terpaku menatap pemandangan di depannya. Sosok Rayna yang nampak begitu anggun sekaligus rapuh dalam balutan terusan biru langitnya.
"Terima kasih. Aku suka bunganya," ucap Rayna sambil memberikan senyum tipis yang tulus.
Mendengar pujian sederhana itu, Deva mendadak salah tingkah. Ia menunduk sedikit, menyembunyikan rona merah yang muncul di pipinya karena malu, persis seperti remaja yang baru pertama kali jatuh cinta.
Byan yang berdiri tak jauh dari sana hanya bisa tersenyum lebar. Melihat tingkah laku keduanya, ia merasa seperti ditarik kembali ke masa lalu. Di matanya, Deva dan Rayna saat ini tidak ada bedanya dengan mereka waktu kecil.
Cinta monyet mereka yang dulu sempat hancur karena salah paham, kini perlahan mulai tumbuh kembali, meski jalannya masih terjal dan diawasi oleh tatapan tajam Rayden.
Saking gugupnya setelah mendapatkan senyum dari Rayna, kesadaran Deva seolah melayang di awan. Ia berbalik dan berjalan dengan langkah kaku menuju sebuah motor sport gagah yang terparkir di halaman rumah Harris. Tangannya sudah hampir meraih stang motor itu ketika sebuah suara berat menghentikannya.
"Hai, Dev! Mau ke mana bawa motor itu?" tanya Rayden mengangkat satu alisnya, menatap Deva dengan tatapan yang sulit diartikan.
Deva menoleh dengan wajah polos yang masih agak memerah. "Pulang," jawabnya singkat.
Rayden mendengus remeh, hampir tak percaya dengan apa yang dilihat. "Pulang pakai motorku? Memangnya tadi kau kemari pakai apa, ha?"
Deva tersentak seolah baru saja tersengat listrik. Ia mematung, lalu perlahan melirik ke arah gerbang. Di sana, mobil mewah milik Ayahnya terparkir manis di sana. Byan sendiri sudah menutupi wajahnya dengan satu tangan, merasa sangat malu melihat tingkah laku adiknya yang mendadak "konslet" itu.
"Oh... iya, lupa tadi pakai mobil, hehe," gumam Deva pelan. Suaranya nyaris hilang ditelan rasa malu yang luar biasa.
Chira yang melihat kejadian itu langsung meledak dalam tawa. Ia menunjuk-nunjuk Deva dengan jari mungilnya.
"Om Galak ini gimana sih? Masa mobil sendili ndak ingat? Haha…" ejek Chira terpingkal-pingkal.
...****************...
semangat update trs ya sampai tamat💪🤗