NovelToon NovelToon
Pernikahan Kontrak

Pernikahan Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Yvone Larasati, seorang desainer interior freelance yang keras kepala dan mandiri, terpaksa menelan harga dirinya dan menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Dylan Alexander Hartono, CEO Alexander Group yang dingin dan tak tersentuh. Pernikahan ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan ayah Yvone dari jerat penjara akibat jebakan korupsi politik. Di sisi lain, Dylan membutuhkan citra "pria beristri yang sempurna" untuk mengamankan mega-proyek infrastruktur dan pariwisata pemerintah senilai triliunan rupiah.

Berawal dari selembar kertas yang didasari kebencian dan pragmatisme, batasan antara sandiwara dan kenyataan mulai mengabur. Dikelilingi oleh intrik mematikan dari pejabat korup, ancaman masa lalu keluarga, dan empat rival cinta yang mematikan, Dylan dan Yvone menemukan tempat berlindung pada satu sama lain. Di bawah matahari Bali yang hangat, dinding es Dylan runtuh, dan ketakutan Yvone sirna, melahirkan gairah yang tak terbendung dan pengorbanan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 20

Satu minggu berlalu sejak malam yang mengubah segala batasan di Villa Karang Putih.

Bagi Yvone, Bali bukan lagi sekadar tempat pelarian; pulau ini telah bertransformasi menjadi markas komando sekaligus akademi militer pribadinya. Dylan Alexander Hartono terbukti tidak main-main dengan janjinya untuk melatih Yvone menjadi seorang 'Ratu' di papan catur politik ibu kota.

Pagi itu, sinar matahari memantul menyilaukan di permukaan infinity pool, namun fokus Yvone sepenuhnya tersita oleh tumpukan dokumen tebal di atas meja kayu jati di ruang kerja pribadi Dylan.

"Lagi. Perhatikan laporan pengeluaran kuartal ketiga di halaman empat puluh dua," suara bariton Dylan menginstruksikan.

Pria itu berdiri di belakang kursi Yvone, satu tangannya bertumpu pada sandaran kursi, sementara tangan lainnya menunjuk deretan angka yang terlihat seperti sandi rumit bagi Yvone. Dylan mengenakan kacamata bacanya, auranya memancarkan ketegasan seorang mentor yang tidak mentolerir kesalahan.

Yvone memijat pangkal hidungnya, mencoba memfokuskan matanya yang mulai lelah. "Dylan, aku ini desainer interior. Aku tahu cara menghitung volume cat dan luas lantai marmer. Tapi laporan audit keuangan sub-kontraktor ini... ini bahasa alien."

"Di duniaku, Yvone, jika kau tidak bisa membaca angka, kau akan mati dibunuh oleh angka itu sendiri," ucap Dylan tanpa sedikit pun belas kasihan. Pria itu menunduk, wajahnya berada di dekat telinga Yvone. "Nadia dan Menteri Hadi tidak akan menyerangmu dengan pisau. Mereka akan menyerangmu dengan kertas. Mereka akan menyelundupkan satu dokumen, satu tagihan fiktif ke dalam proyekmu, dan sebelum kau menyadarinya, KPK akan mengetuk pintumu. Sekarang, lihat lagi baris vendor material baja."

Mendengar nama ayahnya secara tersirat disebut (KPK), Yvone seketika menegakkan punggungnya. Rasa lelahnya lenyap digantikan oleh tekad. Ia menelusuri angka-angka itu dengan ujung pensilnya.

"Tunggu," gumam Yvone, alisnya berkerut. Ia membandingkan halaman empat puluh dua dengan halaman lampiran di bagian belakang. "Volume pemesanan baja tulangan untuk fondasi ini... nilainya naik lima belas persen dibandingkan kuartal kedua. Tapi progres pembangunan fisik di lapangan yang dilaporkan minggu lalu baru mencapai tahap penggalian. Untuk apa mereka memesan baja sebanyak ini jika tanahnya belum siap?"

"Tepat," Dylan tersenyum miring, sebuah senyum bangga yang langka. Ia mengecup pelipis Yvone dengan singkat. "Mereka menimbun material fiktif. Uangnya dicairkan, tapi bajanya tidak pernah sampai ke lapangan. Inilah cara para kontraktor nakal mencuri dana proyek pemerintah tanpa terlihat mencolok."

"Lalu apa yang kau lakukan jika menemukan hal seperti ini di Alexander Group?" tanya Yvone, mendongak menatap suaminya.

"Aku memecat manajer proyeknya hari itu juga, mem- blacklist perusahaannya, dan memastikan mereka tidak akan pernah bisa memenangkan tender apa pun di seluruh Asia Tenggara," jawab Dylan dingin. Pria itu melepaskan kacamatanya dan meletakkannya di atas meja. "Kau belajar dengan cepat, Sayang."

Panggilan 'Sayang' yang diucapkan dengan nada serak dan posesif itu masih selalu berhasil membuat perut Yvone bergejolak.

"Kau mentor yang kejam," Yvone tersenyum kecil, memutar kursinya untuk menghadap Dylan.

"Aku mengajarimu bertahan hidup," Dylan menarik pinggang Yvone hingga wanita itu berdiri dan menabrak dada bidangnya. "Karena proyek Senopati-mu akan memasuki tahap fondasi minggu ini. Aku ingin kau menerapkan semua yang kau pelajari hari ini pada rapat evaluasi logistikmu dengan Rangga nanti siang."

Yvone mengangguk. "Aku tidak akan membiarkan satu paku pun lolos dari pengawasanku."

Pukul 13.00 WITA.

Yvone duduk di depan layar monitor besar di ruang tengah, kembali terhubung melalui video call terenkripsi. Di layar, terbagi menjadi dua frame. Satu menampilkan Rangga Susilo di kantornya di Jakarta, dan satu lagi menampilkan Pak Yanto, mandor kepala sekaligus penanggung jawab sub-kontraktor proyek butik hotel Senopati.

"Progres penggalian basement sudah selesai 80%, Bu Yvone, Pak Rangga," lapor Pak Yanto, seorang pria paruh baya berkumis tebal yang tampak berkeringat, berdiri di lokasi proyek dengan helm proyek kuningnya. "Minggu depan kita sudah bisa mulai mengecor fondasi."

"Kerja bagus, Pak Yanto," puji Rangga sambil mencatat sesuatu di bukunya. "Pastikan sistem drainase sementaranya berjalan baik. Kita masuk musim hujan, aku tidak ingin galian itu berubah menjadi kolam renang."

"Siap, Pak!" jawab Yanto. "Oh ya, sekalian saya mau minta persetujuan approval untuk perubahan vendor material dasar. Vendor baja Grade A langganan kita ternyata sedang kosong stoknya untuk satu bulan ke depan. Jadi saya berinisiatif mengalihkan PO (Purchase Order) ke vendor baru, PT Bina Konstruksi. Barang mereka ready, harganya juga lebih miring sedikit. Draf pengajuannya sudah saya email pagi tadi."

Rangga mengangguk pelan. "Jika memang mendesak dan spesifikasinya sama, saya rasa tidak masalah. Bagaimana menurutmu, Yvone? Kau yang memegang kendali budgeting interior yang terikat dengan struktur ini."

Yvone, yang sejak tadi menyimak dengan tenang, membuka fail yang dikirimkan Pak Yanto di tabletnya.

Di luar jangkauan kamera, Dylan sedang bersandar di ambang pintu dapur dengan secangkir kopi hitam, menatap istrinya dalam diam, menunggu.

Yvone memindai dokumen itu. Matanya yang baru saja dilatih oleh sang miliarder es dengan cepat menangkap anomali.

"Tunggu sebentar, Pak Yanto," suara Yvone mengalun dingin, memancarkan otoritas yang membuat Rangga di seberang sana sedikit terkejut. "Anda bilang harga PT Bina Konstruksi lebih miring. Tapi di invoice pengajuan ini, total tagihannya sama persis dengan vendor lama kita."

Pak Yanto di layar tampak gelagapan. Ia mengusap belakang lehernya. "Ehh... itu... itu karena ada biaya tambahan untuk pengiriman kilat, Bu. Kan kita butuh cepat."

"Pengiriman kilat dari mana, Pak? Alamat gudang PT Bina Konstruksi yang tertera di kop surat ini ada di Bekasi. Vendor lama kita ada di Karawang. Secara logistik, jarak Bekasi ke Senopati jauh lebih dekat. Seharusnya biaya transportasinya lebih murah," cerca Yvone tanpa memberikan celah.

Yvone dengan cepat mengetik nama perusahaan itu di portal data bisnis yang aksesnya baru saja diberikan Dylan padanya pagi tadi.

"Dan yang lebih menarik lagi..." Yvone menatap kamera web dengan tajam. "PT Bina Konstruksi ini baru didirikan tiga minggu yang lalu. Bagaimana mungkin Bapak mempercayakan material fondasi utama tulang punggung dari bangunan berlantai sepuluh ini kepada perusahaan yang bahkan belum memiliki rekam jejak sertifikasi SNI?"

Wajah Pak Yanto seketika pucat pasi. Keringat sebesar biji jagung mengalir di pelipisnya.

Rangga yang tadinya santai kini mencondongkan tubuhnya ke depan, rahangnya mengeras. "Apa benar begitu, Yanto? Kau mengalihkan pesanan ke perusahaan bodong?!"

"B-Bukan begitu, Pak Rangga! Saya berani jamin kualitasnya bagus! Saya..."

"Tolak pengajuan itu, Rangga," potong Yvone tegas. "Aku tidak akan menandatangani pencairan dana sepeser pun untuk vendor ini. Pak Yanto, jika vendor lama kita kosong, kita cari vendor terakreditasi lainnya. Jangan pernah mencoba mengubah spesifikasi fondasi tanpa proses audit yang jelas. Jika gedung ini runtuh karena baja berkualitas rendah, karir kita berdua yang akan hancur."

"B-Baik, Bu Yvone. S-Saya akan cari vendor lain. Maafkan ketidaktelitian saya," Pak Yanto mengangguk-angguk cepat, tampak sangat ketakutan, sebelum akhirnya pamit untuk kembali bekerja dan memutuskan sambungannya.

Di layar, hanya tersisa Rangga dan Yvone.

Rangga membuang napas panjang, menatap Yvone dengan pandangan takjub. "Astaga, Yvone. Aku tidak pernah melihat sisi dirimu yang ini. Kau mengulitinya hidup-hidup. Dari mana kau belajar membaca draf manipulatif seperti itu dengan sangat cepat?"

Yvone tersenyum tipis, melirik sekilas ke arah Dylan yang kini mengangkat cangkir kopinya sebagai gestur toast kebanggaan dari kejauhan.

"Aku memiliki guru yang sangat cerewet akhir-akhir ini," jawab Yvone ringan. "Tapi Rangga, tolong awasi Pak Yanto dengan ketat. Firasatku tidak enak. Seseorang yang sudah berani memanipulasi invoice material dasar biasanya tidak bekerja sendirian."

"Aku setuju. Aku akan mengirim tim audit independen ke lapangan besok pagi," Rangga mengangguk setuju. Pria itu menatap Yvone dengan sorot mata yang melembut. "Terima kasih, Yvone. Kau baru saja menyelamatkan reputasi biroku dari potensi malapraktik."

"Kita satu tim, Rangga. Sampai jumpa di meeting selanjutnya." Yvone memutuskan panggilan.

Begitu layar mati, Dylan meletakkan cangkirnya dan berjalan menghampiri Yvone. Pria itu langsung mengangkat tubuh istrinya dan memutarnya di udara.

Yvone tertawa lepas, memegang bahu suaminya. "Turunkan aku, Dylan!"

"Skor satu untuk Nyonya Hartono," Dylan menurunkan Yvone namun tetap memeluk pinggangnya erat-erat. Mata pria itu berkilat bangga. "Kau luar biasa. Kau berhasil menangkap basah maling di rumahmu sendiri."

"Berkat kau," Yvone mengalungkan lengannya di leher Dylan. Namun senyumnya perlahan memudar, digantikan oleh kerutan khawatir. "Tapi, Dylan... Pak Yanto adalah kontraktor senior yang sudah bekerja dengan biro Rangga selama lima tahun. Kenapa dia tiba-tiba berani melakukan hal sebodoh itu? Mengambil risiko di proyek sebesar ini?"

Ekspresi Dylan berubah menjadi sangat serius. Insting predatornya sejalan dengan kekhawatiran Yvone. "Karena ada seseorang yang membayarnya dengan harga yang jauh lebih mahal dari gajinya seumur hidup."

Dylan melepaskan pelukannya dan berjalan cepat mengambil ponselnya. "Marco."

"Ya, Bos?" jawab Marco di seberang.

"Periksa aliran dana rekening atas nama Yanto, kepala kontraktor di proyek Senopati. Cek juga profil PT Bina Konstruksi yang baru didirikan tiga minggu lalu di Bekasi. Aku ingin tahu siapa pemodal di balik perusahaan cangkang itu."

"Dilaksanakan, Bos."

Dylan mematikan teleponnya dan menatap Yvone. "Tebakanku, kita akan menemukan jejak jari Nadia Pramudya di sana. Dia tidak bisa menghancurkan citramu dari luar, jadi dia mencoba menyabotase hasil karyamu. Jika fondasi itu dibangun dengan baja murahan, dan suatu saat terjadi kecelakaan... kau sebagai kepala desainer interior yang menyetujui anggaran strukturnya akan ikut diseret ke penjara karena kelalaian."

Yvone merinding ngeri. "Wanita itu... dia benar-benar ingin aku mati atau dipenjara."

"Dia menggali kuburannya sendiri," desis Dylan mematikan. Pria itu menarik Yvone kembali ke dalam pelukannya. "Teruslah waspada, Yvone. Jangan percaya dokumen apa pun tanpa memverifikasinya ganda."

Pukul 19.00 WIB, Jakarta.

Hujan deras mengguyur kawasan SCBD. Rangga Susilo duduk di sebuah lounge eksklusif yang temaram, memutar gelas bourbon-nya dengan perasaan campur aduk.

Kejadian siang tadi saat rapat virtual membuatnya sadar akan dua hal. Pertama, Yvone Larasati adalah wanita yang luar biasa cerdas, berani, dan tajam kombinasi yang membuat Rangga semakin terpikat padanya. Kedua, ada sesuatu yang sangat aneh sedang terjadi di proyeknya. Bagaimana bisa seorang desainer interior jauh lebih peka terhadap kejanggalan struktur logistik dibandingkan dirinya yang merupakan arsitek utama?

"Tuan Rangga Susilo?"

Sebuah suara wanita yang sangat elegan namun memancarkan arogansi menginterupsi lamunan Rangga.

Rangga mendongak. Berdiri di samping mejanya adalah seorang wanita tinggi semampai dengan dress merah gelap dan mantel trench mahal. Wanita itu sangat cantik, dengan riasan sempurna dan aura kekuasaan yang tak bisa disembunyikan.

"Ya? Maaf, Anda siapa?" Rangga berdiri karena sopan santun.

"Silakan duduk," wanita itu mengambil kursi tepat di hadapan Rangga tanpa dipersilakan. Ia menyilangkan kakinya dengan anggun dan memberikan senyum misterius. "Perkenalkan, nama saya Nadia Pramudya. Dan saya percaya, kita berdua memiliki masalah yang sama... atau setidaknya, ketertarikan yang sama."

Rangga mengerutkan kening. Tentu saja ia tahu siapa Nadia Pramudya. Putri Menteri Dalam Negeri. Sosialita tingkat atas. Apa urusannya dengan biro arsitekturnya?

"Saya merasa terhormat, Nona Nadia. Tapi saya rasa biro saya sedang tidak mengikuti tender dari kementerian," jawab Rangga hati-hati.

"Oh, saya di sini bukan untuk membicarakan semen dan batu bata, Rangga," Nadia tertawa kecil yang terdengar merdu namun beracun. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap lurus ke mata arsitek muda itu. "Saya di sini untuk membicarakan rekan kerja Anda. Yvone Larasati."

Nama Yvone membuat postur Rangga seketika menegang. "Ada apa dengan Yvone?"

"Dia menawan, bukan?" Nadia memiringkan kepalanya, memutar-mutar cincin berlian di jarinya. "Cerdas, cantik, dan terlihat sangat rentan. Tidak heran pria seperti Dylan Alexander Hartono rela menjadikan dirinya perisai untuk gadis itu. Dan tidak heran... pria sebaik Anda juga ikut terpesona olehnya."

"Saya tidak mengerti arah pembicaraan ini, Nona Nadia," Rangga merendahkan suaranya, merasa tidak nyaman dengan invasi privasi ini.

Nadia tersenyum penuh kemenangan. "Oh, Anda mengerti. Saya melihat cara Anda menatapnya di foto-foto proyek. Tapi sayangnya, Rangga, Anda sedang dimanfaatkan. Yvone dan Dylan tidak peduli dengan biro Anda. Yvone menggunakan proyek Senopati Anda hanya sebagai batu loncatan sosial untuk membersihkan nama keluarganya. Begitu dia mendapatkan apa yang dia mau, dia akan membuang Anda dan menghancurkan reputasi perusahaan paman Anda."

"Itu tuduhan yang sangat tidak berdasar," Rangga membalas dingin, bersiap untuk pergi. "Yvone adalah profesional sejati. Saya permisi—"

"Siapa yang menemukan masalah vendor PT Bina Konstruksi siang ini?" tembak Nadia tiba-tiba.

Langkah Rangga terhenti. Ia berbalik perlahan, matanya membelalak kaget. "Bagaimana Anda tahu soal itu? Rapat itu tertutup!"

Nadia menyandarkan punggungnya, terlihat sangat puas. "Saya tahu segalanya, Rangga. Karena sayalah yang mengatur agar Yanto mengajukan vendor itu."

Rangga mengepalkan tangannya. "Anda mencoba menyabotase gedung saya?! Untuk apa?!"

"Untuk menunjukkan kepada Anda siapa Yvone sebenarnya!" Nadia berdiri, melangkah mendekati Rangga dengan tatapan membujuk layaknya iblis yang menawarkan apel beracun. "Yvone bisa menangkap anomali itu dengan cepat karena Dylan membocorkan triknya padanya. Dylan dan Yvone sedang bermain pahlawan di atas panggung proyek Anda, Rangga! Mereka akan membuat seolah-olah Andalah yang tidak kompeten mengurus kontraktor Anda sendiri."

Nadia menyentuh kerah jas Rangga, sebelum pria itu menepisnya kasar.

"Dengarkan aku, Arsitek," desis Nadia pelan, suaranya kini dipenuhi racun berbisa. "Dylan Hartono tidak pantas untuk Yvone. Pria itu kejam, posesif, dan cepat atau lambat akan menghancurkan gadis itu. Kau peduli pada Yvone, kan? Kau ingin menyelamatkannya dari sangkar emas yang mencekiknya?"

Rangga terdiam. Ia teringat bagaimana insiden Yvone yang harus dikawal ketat, dan insiden memalukan saat Dylan muncul bertelanjang dada di kamera hanya untuk mengintimidasinya. Di mata Rangga, Dylan memang terlihat seperti tiran yang mengontrol hidup Yvone.

Melihat keraguan di mata Rangga, senyum Nadia semakin lebar.

"Bekerja samalah denganku, Rangga," Nadia menyodorkan sebuah kartu nama berwarna perak. "Berikan aku akses data internal komunikasi proyek kalian. Aku akan memastikan Dylan Hartono jatuh dan menceraikan Yvone. Begitu Dylan hancur, Yvone akan bebas. Dan dia akan berlari kepada pria yang selama ini selalu bersikap baik dan melindunginya dengan tulus. Yaitu kau."

Rangga menatap kartu nama yang disodorkan di hadapannya. Jantungnya berdegup kencang karena konflik batin yang luar biasa. Di satu sisi, logikanya berteriak bahwa Nadia adalah ular yang licik. Tapi di sisi lain... egonya yang terluka dan perasaannya yang terpendam pada Yvone berteriak meminta pembenaran.

Dengan tangan sedikit gemetar, Rangga Susilo mengambil kartu nama perak itu dari tangan sang putri politik.

"Saya... akan memikirkannya," gumam Rangga.

Nadia tersenyum lebar. Bidak barunya telah masuk ke dalam perangkap.

1
Titien Prawiro
Bacanya deg2gan terus.
k
bagus sekali
k
lia kasihan
p
memang bagus😍
p
👍👍👍👍
1
lanjut
1
absen
Sang_Imajinasi
Jangan Lupa beri vote dan dukungan 🙏
Xiao Bar
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!