NovelToon NovelToon
Cinta Dibalik Kontrak

Cinta Dibalik Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: DinaSafitri

Alya Gabrielsen terpaksa menikah dengan pria asing demi menyelamatkan status keluarganya. ayahnya, Tyo, bangkrut dan terlilit hutang yang membuatnya hampir masuk penjara. Dengan paksaan sang ibu, Alya mau tak mau rela menikah di usia muda dengan pria yang sama sekali tak ia kenali. Bagaimana kisah Alya? saksikan hanya disini!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DinaSafitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CDK. 20

“Apa semua bukti ini masih belum cukup jelas? Atau perlu saya keluarkan bukti lainnya?” ucapnya dengan nada acuh tak acuh. “Kau sendiri yang menggali lubang itu, saya hanya membantumu memperdalamnya supaya kau tidak kelelahan.”

Ayi berdecak sinis. “Ngomongin anak orang nggak kira-kira, tapi giliran lihat kelakuan anak sendiri malah tutup mata. Dasar orang kampung, kampung banget!” sindirnya nyaring.

Tatapan Tari langsung menajam ke arah Ayi, tetapi wanita itu tak mampu berkata apa-apa selain membantu putrinya berdiri.

PLAK!

“Papa…!”

“ANAK DURHAKA!” bentak Farid murka setelah menampar Sari sekuat tenaga. “Kau benar-benar sudah melempar lumpur ke wajahku! Sudah berapa kali aku bilang jangan membuat masalah!”

“Jangan sentuh anak saya lagi!” Tari berteriak histeris sambil melindungi Sari di belakang tubuhnya.

“Seharusnya yang Anda tampar bukan hanya anak Anda saja, Farid,” ujar Max santai, tetapi penuh tekanan. “Sebaiknya tanyakan juga pada istri Anda itu.”

Farid langsung menoleh tajam pada istrinya, menuntut penjelasan.

“Maafkan tingkah anak saya yang sudah membuat Nona Alya malu, Tuan Max. Saya harap—”

“Sayangnya, tidak bisa.” Max memotong ucapan itu tanpa belas kasihan. “Kerja sama kita sudah putus sejak tiga jam yang lalu. Anda juga harus mengganti rugi sebagai kompensasi. Untuk jumlahnya, tim saya akan segera menghubungi Anda.”

Ia menatap Farid dingin.

“Sekarang silakan pulang… sebelum Anda benar-benar dipermalukan di sini.”

Ucapan itu terasa seperti tamparan telak.

Farid mengepalkan tangan dengan perasaan campur aduk—malu, marah, dan hancur menjadi satu. Tanpa peduli pada teriakan Sari yang meronta-ronta sejak tadi, ia menyeret putrinya pergi dengan kasar.

Sementara kedua teman Sari sudah lebih dulu dibawa pulang paksa oleh orang tua mereka sejak video pertama tersebar.

Kini, tatapan Max beralih dingin pada Hendru dan Bagas.

“Bawa mereka berdua jauh dari sini!” perintahnya tegas. “Kalian dipecat tanpa uang pensiun. Dan pastikan mereka tidak mendapatkan pekerjaan di mana pun!”

Hendru dan Bagas langsung berlutut sambil memohon ampun.

“Ampun, Tuan Max… kalau kami dipecat, bagaimana anak dan istri kami?” Hendru menangis dengan wajah pucat.

Max tersenyum miring penuh penghinaan.

“Dalam keadaan seperti ini, kalian masih ingat anak dan istri?” suaranya terdengar rendah, tetapi menusuk. “Lalu bagaimana saat kalian memberi mereka makan dari uang haram?”

Tatapannya berubah semakin tajam.

“Kalian korupsi dari gaji para guru lain, lalu masih punya muka untuk memohon belas kasihan? Benar-benar manusia menjijikkan.”

Atas perintah Max, keduanya segera diseret paksa oleh anak buahnya keluar dari sekolah dan dipecat secara tidak terhormat.

Satu per satu tamu mulai meninggalkan tempat itu.

Di tengah suasana yang masih dipenuhi bisik-bisik, Tyo menatap Max dengan senyum hangat penuh rasa syukur.

“Terima kasih, Nak,” ucapnya tulus. “Kamu sudah menyelamatkan Alya dan membersihkan namanya.”

“Tak perlu sungkan,” jawab Max tenang. “Alya calon istri saya. Sudah seharusnya saya melindunginya.”

Pria itu menatap Tyo sejenak sebelum kembali berkata dengan nada lebih lembut.

“Lebih baik Anda segera pulang. Sudah terlalu malam, dan kesehatan Anda juga harus dijaga. Beberapa hari ini Anda bekerja terlalu keras.”

Tyo sedikit tertegun mendengar perhatian itu.

“Alya biar pulang bersama saya,” lanjut Max.

Tyo langsung memahami maksudnya.

“Kalau begitu Papa pulang duluan, Alya,” pamitnya sebelum pergi meninggalkan mereka.

Helena dan Ella juga ikut pulang. Sejak awal kedatangan mereka memang tak pernah berniat membela Alya. Mereka hanya menjadi penonton tanpa suara, hadir sekadar formalitas semata.

“Terima kasih,” ucap Alya tulus sambil menatap Max.

“Tak perlu berterima kasih pada saya.” Max mengangguk kecil ke arah Ayi. “Berterima kasihlah pada temanmu itu.”

Alya mengernyit bingung dan hendak bertanya, tetapi Ayi sudah lebih dulu bersuara.

“Sama-sama, Al! Santai aja, nggak usah sungkan!” katanya ceria. “Gue sama Widya pulang duluan, ya. Bye!”

Tanpa memberi kesempatan Alya membalas, Ayi langsung menarik tangan Widya dan pergi meninggalkan mereka berdua.

“Ayo, saya antar,” ujar Max.

Pria itu membukakan pintu mobil untuk Alya, mempersilahkannya masuk terlebih dahulu. Bahkan, Max menahan bagian atas pintu dengan tangannya agar kepala Alya tidak terbentur.

Perhatian kecil itu membuat jantung Alya berdetak tidak karuan.

Max memang dingin.

Namun di balik sikap dinginnya, ada sisi hangat yang diam-diam selalu membuat Alya lengah.

Entah sudah yang keberapa kalinya pria itu memperhatikan hal-hal kecil tentang dirinya. Jika terus diperlakukan seperti ini, Alya tak yakin dirinya mampu bertahan untuk tidak jatuh cinta pada pesona pria dewasa itu.

Mobil melaju meninggalkan halaman sekolah dengan kecepatan sedang, membelah sunyinya malam.

“Terima kasih sekali lagi,” ucap Alya pelan memecah keheningan. “Aku nggak ngerti kenapa Tuan bilang aku harus berterima kasih sama Ayi. Tapi… aku tetap ingin mengucapkan terima kasih sama Tuan.”

“Sama-sama,” jawab Max singkat. “Lagipula, sudah menjadi tugas saya karena Anda adalah tunangan saya.”

Pria itu melirik Alya sekilas.

“Dan saya juga ingin mengucapkan selamat atas kelulusan Anda.”

---

Waktu berlalu begitu cepat.

Hari-hari Alya berjalan seperti biasa hingga tanpa terasa kini tibalah hari pernikahannya.

Semua orang tampak sibuk berlalu-lalang mempersiapkan acara.

Di dalam kamar hotel, Alya duduk anggun di depan cermin besar, membiarkan sang perias menyempurnakan riasan di wajahnya.

Ia masih sulit percaya bahwa dirinya akan menikah di usia semuda ini.

Namun lagi-lagi, apa boleh dikata?

Takdir hidup membawanya pada jalan seperti ini.

“Bestie gue emang paling cakep!” seru Ayi heboh dari belakang.

Alya memang terlihat sangat cantik hari itu.

Tubuh rampingnya dibalut gaun pengantin sederhana, tetapi elegan, membuat pesonanya terlihat semakin berbeda.

Riasan di wajahnya pun tidak berlebihan. Sederhana, lembut, namun justru semakin menonjolkan kecantikan alami yang dimilikinya.

Alya tersenyum malu.

“Ini karena Mbaknya yang jago dandanin gue,” ujarnya merendah.

Sang perias ikut tersenyum.

“Bukan karena saya, Nona,” katanya tulus. “Memang dari sananya Nona sudah cantik. Bahkan dengan riasan sederhana seperti ini saja sudah bikin pangling.”

Semua persiapan itu diatur langsung oleh Max.

Pria itu bahkan mendatangkan perias profesional dengan bayaran fantastis hanya untuk hari spesial mereka.

Meskipun pernikahan ini hanyalah sebuah kontrak, Max tidak ingin momen yang hanya terjadi sekali seumur hidup itu terasa tak berarti.

Setidaknya… harus ada sesuatu yang bisa dikenang, walaupun mungkin semua ini hanya bertahan satu tahun.

Tak lama setelah sesi rias selesai dan sang perias keluar dari kamar, terdengar ketukan lain di pintu.

Alya menoleh.

Helena berdiri di sana dengan kedua tangan terlipat di depan dada.

Tak ada senyum.

Tak ada haru.

Tak ada kebahagiaan sedikit pun di wajah ibunya.

“Tinggalkan kami berdua,” ucap Helena dingin.

Ayi dan Widya saling berpandangan canggung.

Melihat ekspresi Helena yang tak bersahabat, Widya segera menarik tangan Ayi keluar dari kamar.

Begitu pintu tertutup dan mereka benar-benar tinggal berdua, Alya berdiri perlahan.

“Kenapa, Mah?” tanyanya pelan.

Tanpa basa-basi, Helena langsung berkata ketus,

“Setelah kamu menikah, kamu harus kirim Mama uang lima ratus juta setiap bulan.”

Deg!

Tubuh Alya langsung membeku.

“T-tapi kenapa, Mah?” suaranya bergetar. “Kenapa Alya harus ngasih uang sebanyak itu setiap bulan?”

Helena memutar bola matanya malas.

“Nggak usah banyak tanya!” bentaknya. “Anggap aja itu kompensasi karena Mama udah ngebesarin kamu!”

Wanita itu mendekat sambil menunjuk wajah Alya.

“Kamu kan sekarang jadi istri orang kaya. Uang segitu pasti bukan apa-apa buat suami kamu nanti.”

Alya benar-benar tak habis pikir.

Ia adalah anak yang dilahirkan wanita itu.

Ia bahkan tidak pernah meminta untuk dilahirkan ke dunia ini.

Lalu kenapa sekarang dirinya diperlakukan seperti mesin uang?

“Ma… Mama mau jadiin Alya sapi perah?” tanyanya lirih dengan mata berkaca-kaca.

“Halah! Nggak usah sok menyedihkan!” Helena mendengus sinis. “Kalau bukan karena kakak kamu yang nolongin ibunya Max, keluarga mereka juga nggak bakal datang buat ngelamar kamu!”

Tatapannya semakin tajam.

“Dan kalau bukan karena Mama, kamu juga nggak bakal bisa sekolah sampai lulus!”

Alya mengepalkan tangannya kuat-kuat.

Dulu, orang yang memaksanya menikah dengan Max adalah mamanya sendiri.

Lalu sekarang… semua itu dianggap sebagai hutang?

“Tapi Alya nggak pernah minta semua ini, Mah!” suaranya mulai pecah. “Apa pengorbanan Alya masih kurang? Alya rela kehilangan masa muda Alya demi nikah dan nolong keluarga… tapi Mama masih tega memperlakukan Alya kayak gini?”

Helena malah berdecak kesal.

“Pengorbanan kamu itu belum ada apa-apanya dibanding jasa Mama!” bentaknya tanpa rasa bersalah. “Mama yang ngandung kamu, ngelahirin kamu, ngerawat kamu sampai sebesar ini!”

Ia menatap Alya penuh tekanan.

“Lima ratus juta itu nggak besar! Pokoknya Mama nggak mau tahu. Setiap bulan kamu harus transfer uang itu ke Mama. Titik!”

Setelah mengatakan itu, Helena langsung pergi begitu saja.

Meninggalkan Alya yang berdiri mematung dengan tatapan tak percaya.

Alya menggeleng pelan.

Gila…

Benar-benar gila.

Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan lagi.

Namun buru-buru ia menghapusnya saat Ayi dan Widya masuk kembali ke kamar.

“Ayo, Al,” ujar Ayi lembut. “Lo udah harus turun.”

Kedua sahabatnya menggandeng Alya keluar dari kamar menuju lantai bawah karena acara hampir dimulai.

Beruntung mereka tidak mengetahui apa yang baru saja terjadi, sehingga Alya tak perlu menjelaskan apa pun.

Begitu tiba di bawah tangga, Tyo langsung menyambut putrinya dengan mata yang berkaca-kaca.

Ia tak pernah menyangka akan sampai di titik ini.

Dengan penuh haru, Tyo menggandeng Alya menuju altar tempat Max telah berdiri gagah menunggu.

Langkah demi langkah terasa berat.

Sampai akhirnya tangan Alya berpindah dari genggaman sang ayah menuju tangan pria yang kini akan menjadi suaminya.

Tyo mundur perlahan dan bergabung bersama para tamu lain dengan air mata yang masih mengalir.

Pendeta mulai membacakan ikrar pernikahan.

Semua orang mendengarkan dengan khidmat hingga akhirnya tiba giliran kedua mempelai mengucapkan janji mereka.

Max mengucapkannya dengan lantang dan tegas tanpa kesalahan sedikit pun.

Sementara Alya…

Meski suaranya sedikit bergetar, gadis itu berhasil menyelesaikan seluruh kalimatnya dengan baik.

Hingga akhirnya sang pendeta tersenyum dan berkata,

“Kalian resmi menjadi suami istri. Dan sekarang, Anda boleh mencium mempelai wanita Anda.”

Tanpa ragu, Max menarik tubuh Alya mendekat lalu mengecup bibir gadis itu lembut.

Alya langsung memejamkan matanya.

Di bawah altar, tepuk tangan dan sorak sorai bahagia pun menggema memenuhi ruangan.

1
Neng Nosita
apa yg drencanakan max? apakah pernikahan hanya dijadikan alat bagi mereka yg berkuasa?
Barru Kab
mana kelanjutannya thor
Dina Safitri: OTW yaa🤭
total 1 replies
Neng Nosita
semoga nanti Max mengetahui kelicikan ibu mertuanya
Neng Nosita
wah..siapa tuh?
Neng Nosita
lamaran yang jauh dari kata romantis,...😄
Neng Nosita
sak sek syok pasti si Alya...
Neng Nosita
uuuh..seru thor👍
Dina Safitri: MasyaAllah terimakasih sudah mampir kakak. mohon untuk saran keritikan nya😍

cerita ini masih dalam proses kontrak, begitu kontrak turun aku akan melanjutkan ceritanya. sekali lagi terimakasih karena sudah mampir🙏
total 1 replies
pieyyy
bgs kak, sini mampir bntr kak aku baru keluarin karya baruku, makasihh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!