Larasati mengira pernikahan adalah pelabuhan aman dari badai hidupnya. Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa pria yang ia panggil suami, Bagaskara, justru menjadi iblis yang menyeretnya ke neraka.
Terlilit hutang judi yang tak berujung, Bagas melakukan hal yang paling tak ter maafkan. menjadikan kesucian istrinya sebagai jaminan pelunasan.
Di balik jeruji kontrakan kumuh Jakarta. Larasati terjepit antara rintihan harga diri yang diinjak-injak dan ancaman fitnah yang menghancurkan nama baik orang tuanya.
Sementara itu, di sebuah rumah mewah, Rizki Pratama, sang pewaris takhta bisnis yang baru saja mengikat janji palsu demi bakti. Merasakan nyeri yang sama di dadanya. Ada jiwa yang menjerit meminta tolong, jiwa yang pernah ia temukan di tepi sungai namun ia lepaskan karena kata "bukan jodoh".
Saat kehormatan telah berpindah tangan dan pengkhianatan menjadi mata uang. Akankah doa di antara dua hati yang terpisah mampu menuntun mereka pada sebuah pertemuan berdarah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Effendik89, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tragedi KM 42
Lampu-lampu jalan tol yang menjulang tinggi di tepian Jakarta. Tampak seperti deretan raksasa yang membisu. Menyaksikan sebuah sedan hitam melaju membelah kesunyian malam.
Jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari. Angin malam yang kencang menghantam badan mobil. Menimbulkan suara siulan yang mengerikan di sela-sela kaca jendela.
Di dalam mobil, Larasati masih terdiam. Matanya yang sembab menatap kosong ke arah aspal hitam yang seolah tak berujung. Ia masih mengenakan kebaya putih pernikahannya. Namun kain itu kini terasa seperti kain kafan yang membungkus mimpinya hidup-hidup.
Di sampingnya, Bagaskara tampak sibuk dengan ponselnya. Cahaya biru dari layar gawai itu menerangi wajahnya yang licik. Memperlihatkan seringai tipis yang sesekali muncul.
Bagas tidak sedang melihat peta menuju apartemen mewahnya yang fiktif. Ia sedang mengetik pesan rahasia kepada Maya. Sebuah pesan proposal rencana matang yang sudah ia rancang bersama Maya.
“Kita sudah sampai di perbatasan kota. Beritahu Permadi, jalankan rencananya sekarang. Pastikan semuanya terlihat nyata. Aku ingin hutangku dihapus sepenuhnya malam ini juga.”
Tak lama kemudian, balasan dari Maya masuk, “Semua sudah siap. Dua mobil sudah menunggu di KM 42. Jangan lupa aktingmu, Sayang. Ingat, setelah ini Laras adalah jaminan kebebasan kita.”
Bagas menyimpan ponselnya kembali ke saku. Ia melirik Laras yang tampak rapuh dan tak berdaya. Tidak ada rasa kasihan di dalam hatinya.
Baginya, Laras bukanlah istri yang harus dijaga kesuciannya. Melainkan sebuah aset berharga yang bisa ditukar dengan nyawanya sendiri dari kejaran para rentenir, dari wajah beringas para penagih hutang.
Jebakan di Jalan Sunyi
Mobil mulai memasuki area jalan tol yang sangat sepi. Jauh dari pemukiman warga. Di sisi kiri dan kanan hanya ada hutan beton dan semak-semak belukar yang gelap.
Tiba-tiba, dari arah belakang, dua buah mobil sedan berwarna gelap melaju kencang dan langsung memotong jalur mobil Bagas.
CIIIIIIIIIT!
Bagas menginjak rem dengan paksa. Ban mobil berdecit keras, meninggalkan bekas hitam di aspal. Laras terjerembap ke depan, kepalanya hampir menghantam dasbor.
"Mas! Ada apa?!" teriak Laras dengan suara gemetar karena ketakutan.
"Sialan! Siapa mereka?!" Bagas berakting dengan sangat meyakinkan.
Wajahnya dibuat tampak panik. Meski di dalam kepalanya ia sedang menghitung detik-detik kehancuran Laras.
Beberapa pria bertubuh kekar keluar dari kedua mobil tersebut. Mereka mengenakan pakaian serba hitam dan penutup wajah. Salah satu dari mereka, seorang pria bertubuh gempal yang memakai masker hitam pekat. melangkah paling depan. Itu adalah Juragan Permadi.
"Keluar kalian! Turun!" teriak salah satu preman sembari menggedor kaca mobil dengan balok kayu.
Bagas keluar dari mobil dengan tangan terangkat, berpura-pura gemetar hebat, "Tolong jangan sakiti kami! Ambil saja mobil ini, tapi tolong lepaskan kami!"
Namun, para preman itu tidak peduli. Mereka mulai menghajar Bagas. Pukulan dan tendangan mendarat di tubuh Bagas. Namun semuanya telah diatur agar tidak mengenai bagian yang vital.
Bagas tersungkur di aspal, merintih kesakitan yang dibuat-buat, membiarkan Laras melihat betapa lemahnya suaminya menghadapi serangan itu.
Laras dipaksa keluar dari mobil oleh dua pria lainnya. Ia menjerit. Mencoba memberontak, namun tenaganya tidak sebanding dengan cengkeraman tangan-tangan kasar itu.
"Mas Bagas! Tolong, Mas!"
Altar di Balik Semak
Permadi melangkah mendekat ke arah Laras. Matanya yang beringas menatap tajam ke arah gadis yang sejak lama ia incar itu. Tanpa sepatah kata pun, ia merenggut lengan Laras dan menyeretnya paksa menuju kegelapan semak-semak di pinggir jalan tol. Menjauh dari lampu jalan yang redup.
"Jangan! Tolong lepaskan aku! Mas Bagas!" teriakan Laras memecah kesunyian malam. Namun suaranya tertelan oleh deru angin dan tawa sinis para preman yang sedang menahan Bagas.
Bagas, yang wajahnya kini sedikit lebam karena aktingnya. Memejamkan mata sembari menelungkup di aspal. Ia mendengar jeritan istrinya yang memilukan.
Ia mendengar suara kain kebaya putih yang robek dengan kasar. Namun, ia justru merasa lega. Baginya, setiap jeritan Laras adalah satu digit utangnya yang dihapuskan oleh Permadi.
Di balik rimbunnya semak belukar yang berduri, di atas tanah yang dingin dan lembap, tragedi itu terjadi. Kehormatan yang selama ini Laras jaga dengan segenap jiwanya.
Kesucian yang seharusnya ia persembahkan bagi pria yang mencintainya dengan tulus. Kini direnggut secara paksa oleh seorang monster yang hanya melihatnya sebagai objek pelunas hutang.
Larasati menatap langit malam yang kelam. Tidak ada bintang, tidak ada rembulan. Hanya ada kegelapan yang pekat.
Di dalam pikirannya yang mulai hancur. Ia kembali mengingat wajah pemuda pembawa katapel itu. Kenapa kau tidak datang? Kenapa Tuhan membiarkan ini terjadi padaku?
Tangisnya perlahan menghilang, digantikan oleh kehampaan yang luar biasa. Jiwanya seolah-olah terbang meninggalkan raganya yang kini terhina. Saat Permadi selesai dengan nafsu bejatnya dan meninggalkannya begitu saja di tengah semak. Laras tidak lagi merasa sebagai manusia. Ia merasa seperti selembar kertas yang telah diremas dan dibuang ke tempat sampah.
Sisa-Sisa Pengkhianatan
Beberapa saat kemudian, rombongan preman itu pergi meninggalkan lokasi dengan deru mesin yang kencang. Bagas bangkit perlahan, mengusap darah di bibirnya, dan berjalan menuju semak-semak tempat Laras tergeletak.
Ia menemukan Laras sedang meringkuk, memeluk tubuhnya sendiri dengan kebaya yang sudah compang-camping dan kotor oleh tanah. Rambutnya berantakan dan matanya kosong, menatap pada kehampaan yang abadi.
"Laras... maafkan aku," ucap Bagas, suaranya dibuat selembut mungkin, seolah-olah ia adalah korban yang gagal melindungi.
"Mereka terlalu kuat. Aku tidak berdaya..."
Laras tidak menjawab. Ia tidak menangis lagi. Air matanya sudah kering bersamaan dengan hancurnya kehormatannya.
Ia hanya menatap Bagas dengan tatapan yang sangat dingin. Sebuah tatapan yang menyiratkan bahwa di dalam hatinya, Bagas sudah mati.
Bagas membantu Laras berdiri. Membawanya kembali ke mobil sewaan yang kini terasa seperti peti mati beroda. Mereka melanjutkan perjalanan menuju pusat kota Jakarta.
Bagas tersenyum dalam diam, hutangnya sudah lunas dan ia kini memiliki Laras yang sudah hancur. Sebagai boneka yang bisa ia gunakan untuk rencana-rencana jahat selanjutnya bersama Maya. Bisa ia gunakan sebagai boneka pelunas hutang dari juragan lain selain Permadi yang masih ia tanggung.
Di Jakarta, di sebuah gedung rumah sakit yang megah, Rizki Pratama tiba-tiba terbangun dari duduknya. Jantungnya berdegup kencang secara tidak wajar. Ia merasakan sebuah nyeri yang hebat di dadanya.
Seolah-olah ada sesuatu yang baru saja terbakar habis di kejauhan. Ia menatap ke arah luar jendela, ke arah jalan tol yang membentang luas.
"Larasati..." bisik Rizki, suaranya penuh dengan kekhawatiran yang tak beralasan.
Takdir baru saja menorehkan luka yang paling dalam. Larasati telah sampai di Jakarta, bukan sebagai permaisuri, melainkan sebagai korban dari konspirasi paling busuk dan Rizki Pratama, sang pewaris yang tertahan oleh bakti. Tidak tahu bahwa gadis yang ia cari baru saja kehilangan segalanya di bawah lampu-lampu jalan tol yang dingin.