NovelToon NovelToon
THE HIDDEN HEIR: Menyamar Jadi Supir Istri Sendiri

THE HIDDEN HEIR: Menyamar Jadi Supir Istri Sendiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Nikah Kontrak
Popularitas:265
Nilai: 5
Nama Author: Husein. R

"Satu tahun aku dihina sebagai supir sampah. Satu tahun aku diam saat istriku dijajah keluarganya sendiri. Tapi hari ini, kesabaranku habis."

​Arka Pratama bukan sekadar supir. Dia adalah pewaris tunggal Klan Naga Utara, penguasa ekonomi dunia yang memilih hidup melarat demi sebuah janji suci. Menikah dengan Nadia Atmaja lewat wasiat misterius, Arka harus menahan diri dari serangan politik kotor, sihir hitam, hingga pengkhianatan keluarga.

​Namun, saat Kakek Wijaya dan Reno mencoba merampas harga diri Nadia di depan publik, sang Naga tidak lagi bisa diam.

​"Kalian ingin melihat kekuasaan? Aku akan memulainya dengan membeli hotel ini, lalu menghapus nama kalian dari kota ini."

​Saat identitas aslinya terungkap, apakah Nadia akan tetap mencintai supirnya, atau justru ketakutan pada sosok Naga yang sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Husein. R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pesan dari Balik Kubur

Mobil van putih milik Leo bukan cuma sekadar kendaraan, ini adalah markas berjalan dengan teknologi kedap suara tingkat tinggi. Begitu pintu tertutup otomatis, Leo menekan sebuah tombol. Kursi kemudinya berputar 180 derajat ke belakang, membuat kami bertiga duduk berhadapan dalam lingkaran yang sempit namun intens.

Leo menyilangkan kakinya yang dibalut celana putih bersih. Dia sempat-sempatnya mengeluarkan vape dan mengembuskan uap tipis. "Gimana? Ruangannya nyaman kan? Lebih aman daripada pelukan mantan," ucapnya santai dengan cengiran khas oppa Korea.

Tapi sedetik kemudian, senyum itu hilang. Tatapannya berubah total. Matanya yang tadi jenaka kini menyipit, tajam, dan kental dengan aura predator, persis serigala yang sudah mengunci leher mangsanya. "Oke, bercandanya cukup. Tuan Muda, tumpahin semuanya. Jangan ada yang lu tutupin."

Gue pun cerita. Semuanya. Tentang pengkhianatan Reno, intervensi Surya Kencana, sampai detik-detik saat kepala Baron ditembus peluru dan Kian dipaku pipa besi. Hana di samping gue gemeteran, tangannya mencengkeram sabit yang dia simpan di balik gaun.

"Gue gagal, Leo," suara gue serak. "Gue punya kekuatan naga, tapi gue pingsan cuma karena jentikan jari pria bertopeng itu."

Leo terdiam, jari-jarinya mengetuk meja kecil di antara kami. "Bukan salah lu. Sakti Langit itu anomali. Tapi sebelum kita bahas cara mutusin jari dia, ada sesuatu yang harus kalian denger."

Leo mengeluarkan sebuah perangkat enkripsi. "Gue nemuin ini di server rahasia Baron. Ada dua pesan suara yang diset untuk terkirim ke gue kalau sinyal kehidupan mereka terputus."

Suasana jadi sunyi senyap. Leo memencet tombol play.

Suara pertama adalah suara Kian. Berat, tenang, tapi ada nada getir di sana.

"Hana... maaf. Aku tahu aku janji akan pulang untuk fitting baju pengantin kita. Tapi tugas ini... Tuan Muda Arka... dia bukan sekadar atasan. Dia adalah harapan terakhir buat orang-orang seperti kita di kota yang busuk ini. Dia punya hati yang terlalu bersih buat dunia yang sekotor ini. Hana, kalau aku nggak kembali, tolong jangan benci dia. Jaga dia. Karena dia adalah satu-satunya orang yang memanusiakan aku."

Hana langsung menutup wajahnya, tangisannya pecah tanpa suara.

Lalu, suara kedua muncul. Suara yang paling gue kenal. Suara Baron yang selalu terdengar sedikit lebih dewasa dari usianya.

"Hai, Leo. Adik gue yang paling ganteng tapi bandel. Gue tahu lu pasti lagi duduk di depan Arka sekarang sambil pamer koat putih lu itu. Maafin kakak lu ini ya... gue janji mau jagain lu sampe lu nikah, tapi kayaknya gue harus duluan. Leo, Arka itu berharga. Dia punya sesuatu yang nggak kita punya: ketulusan. Tolong lindungi dia, pake Pasukan Serigala Putih lu. Jangan biarkan naga itu padam sebelum dia bisa terbang tinggi. Ini permintaan terakhir kakak lu."

Rekaman berakhir dengan suara statis. Gue nunduk, nggak sanggup natep Leo.

Hana mengangkat wajahnya, matanya yang sembab menatap gue dengan sisa-sisa kebencian yang sekarang bercampur dengan kewajiban yang berat. "Aku akan melindungimu," ucapnya dingin. "Tapi jangan salah sangka. Aku melakukannya karena itu permintaan terakhir Kian, bukan karena aku suka padamu. Bagi aku, kamu tetaplah alasan kenapa dia tidak ada di sisiku sekarang."

Leo malah santai saja. Dia kembali menyandarkan punggungnya, auranya kembali rileks meski tatapan serigalanya nggak bener-bener hilang.

"Kalo gue mah, oke-oke aja, Tuan Muda," Leo nyengir, seolah beban permintaan kakaknya itu seringan kapas. "Baron emang selalu sayang sama gue dengan cara yang nyebelin. Jadi, Pasukan Serigala Putih sekarang ada di bawah komando lu. Kita punya misi baru: Bikin Sakti Langit nyesel karena udah pernah lahir ke dunia."

Leo memutar kursinya kembali ke depan. "Sekarang, kita ke markas utama. Ada 'mainan' baru yang perlu lu liat buat ngelawan Seal of Silence milik kakek-kakek bertopeng itu."

Gue melihat ke luar jendela. Langit Jakarta masih mendung, tapi kali ini gue nggak sendirian. Di samping gue ada tunangan yang membenci gue tapi terikat janji, dan di depan gue ada agen elit yang kepintarannya mungkin bakal jadi kunci buat ngeruntuhin dominasi Naga Selatan.

Perang ini baru saja naik level.

Tiba-tiba, perangkat enkripsi milik Leo mengeluarkan bunyi bip panjang. Bukan lagi rekaman, tapi sebuah transmisi langsung yang masuk lewat jalur frekuensi kuno.

Suara yang keluar terdengar berat, serak, dan berwibawa—tipe suara orang tua yang sudah makan asam garam kehidupan lebih banyak dari siapa pun.

"Leo, Arka... jangan gegabah. Amarah itu seperti api, kalau lu nggak kontrol, dia bakal bakar diri lu sendiri sebelum nyentuh musuh. Mampirlah ke rumah tua di pinggiran Bogor dulu. Ada hal yang harus kita bicarakan sebelum kalian bener-bener terjun ke mulut singa."

Leo ngerutin dahi, tapi dia nggak membantah. Dia langsung muter balik arah mobil. "Itu suara Eyang Brata. Sesepuh tertinggi dari klan Serigala. Kalau dia udah manggil, berarti urusannya udah nggak main-main lagi."

Dua jam kemudian, kami sampai di sebuah rumah joglo tua yang tersembunyi di balik hutan jati. Suasananya tenang banget, cuma ada suara jangkrik dan bau tanah basah.

Seorang kakek duduk di kursi goyang di teras rumah. Meskipun rambutnya sudah putih semua, badannya masih tegap. Matanya tajam, seolah bisa nembus isi kepala siapa pun yang dia liat.

"Kau sudah besar ya, Nak Arka," ucap kakek itu perlahan saat gue melangkah mendekat. "Terakhir gue liat lu, lu masih bayi yang cuma bisa nangis di pelukan kakek lu."

Gue tertegun. "Kakek kenal sama Kakek gue?"

"Kenal?" Kakek itu terkekeh, suaranya kayak gesekan batu. "Kakek lu, si Naga Langit, adalah partner kerja gue dulu. Kami ini duet maut yang selalu ditakuti kedatangannya di seluruh penjuru negeri. Kami adalah penyeimbang antara cahaya dan kegelapan."

Eyang Brata bangkit berdiri, jalannya masih sangat stabil. Dia natep gue, Hana, dan Leo bergantian.

"Terakhir kali kami bertarung bersama adalah saat melawan Sakti Langit. Dan itu sudah hampir satu abad yang lalu. Gue sendiri kaget pas denger kabar dari Leo kalau orang itu muncul lagi," Eyang Brata narik napas panjang, natep langit malam.

"Secara logika, nggak mungkin dia masih hidup dengan fisik seprima itu. Sangat mencurigakan. Menurut gue, ada tiga kemungkinan yang lagi kita hadepin sekarang," Eyang Brata ngangkat jarinya satu per satu.

"Satu, memang dia punya teknik rahasia buat awet muda yang belum pernah kita tau. Dua, ada orang lain yang sengaja menyamar jadi dia buat manfaatin ketakutan orang terhadap nama Sakti Langit. Atau tiga..." Eyang Brata menjeda, tatapannya jadi sangat serius. "Reinkarnasi. Kekuatan gelap Naga Selatan mungkin udah nemuin inang baru yang lebih kuat, dan jiwa Sakti Langit pindah ke sana."

Gue ngerasa merinding denger kemungkinan ketiga. Kalau itu beneran reinkarnasi, berarti kekuatan yang gue hadepin kemarin cuma secuil dari potensi aslinya.

"Nak Arka," Eyang Brata megang bahu gue. "Kekuatan naga lu itu belum matang. Lu cuma punya kuncinya, tapi lu belum buka pintunya. Dan Sakti Langit—siapa pun dia sekarang—tau cara nahan pintu itu biar tetep tertutup."

Hana maju selangkah, suaranya masih dingin tapi penuh rasa ingin tahu. "Terus gimana cara kita ngalahin orang yang bahkan maut pun nggak mau jemput dia?"

Eyang Brata tersenyum tipis, matanya melirik ke arah Leo. "Leo, lu bawa 'barang' itu kan? Barang yang dititipin kakak lu sebelum dia tewas?"

Leo mengangguk, dia ngeluarin sebuah kotak kecil dari balik koat putihnya. Kotak itu terbuat dari kayu jati tua dengan ukiran naga dan serigala yang saling melilit.

"Ini saatnya, Arka. Lu harus tau kenapa kakek lu ninggalin gue dan pilih buat 'pensiun' jadi supir," ucap Eyang Brata misterius.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!