NovelToon NovelToon
KAF FA RO

KAF FA RO

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis / Kutukan / Balas Dendam
Popularitas:539
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Rafiq Al-Farizi adalah pria agamis yang kehilangan segalanya dalam waktu singkat. Ujian itu membuat imannya runtuh.

Ia bertemu dengan Mbah Jaya, seorang dukun yang menawarkan "keadilan" melalui ilmu hitam. Langkah demi langkah, hingga akhirnya Ia mengucapkan sumpah setia kepada makhluk gaib.

Sebagai tanda perjanjian, muncul tulisan KAF FA RO di jidatnya—stempel bahwa jiwanya telah menjadi milik kegelapan. Dengan kekuatan barunya, ia memburu balas dendam kepada semua yang menghancurkannya.

Namun semakin dalam ia melangkah, semakin ia sadar: bukan ia yang mengendalikan kegelapan, tapi kegelapan yang mengendalikannya. Dan harga dari perjanjian ini lebih mahal dari nyawanya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rajah Perlindungan

Di sisi lain kota, di sebuah rumah sederhana di komplek perumahan tempat Rafiq dulu tinggal, Pak RT Bambang sedang duduk di ruang tamu Ustad Salim.

Tubuhnya yang tambun kini terlihat lebih kurus. Wajahnya yang dulu selalu merah karena sering berada di luar rumah, kini pucat. Matanya cekung, dengan lingkaran hitam di bawahnya yang dalam.

Kemeja batik lengan pendek yang ia kenakan terlihat kusut, tidak disetrika seperti biasanya. Peci hitam di kepalanya agak miring, seolah ia tidak peduli lagi dengan penampilannya.

Ustad Salim duduk di hadapannya, dua cangkir teh hangat di atas meja di antara mereka. Ruang tamu Ustad sederhana, hanya berisi rak buku yang penuh dengan kitab-kitab dan beberapa kursi rotan. Lampu di langit-langit menyala terang, mengusir kegelapan yang mulai merayap dari luar.

"Ustad... saya tidak bisa tidur," kata Pak Bambang. Suaranya serak, parau, seperti orang yang sudah lama tidak berbicara.

"Setiap malam, setiap saya pejamkan mata, saya melihatnya. Mata itu. Mata kosong dengan api di dalamnya. Dan setiap malam, saya mendengar bisikan. Bisikan yang tidak jelas, tapi saya tahu itu panggilannya. Panggilan nama saya. Panggilan yang membuat bulu kuduk saya berdiri."

Ustad Salim mendengarkan dengan sabar. Matanya yang tenang menatap Pak Bambang dengan penuh perhatian. "Sejak kapan ini terjadi, Pak RT?"

"Sejak saya pingsan di masjid. Sejak saya melihat matanya. Sejak itu, tidak ada malam yang tenang. Rumah saya... rumah saya tidak seperti rumah saya lagi. Ada yang tinggal di sana. Sesuatu yang tidak saya kenal. Sesuatu yang datang setiap malam. Saya melihat bayangan di halaman. Saya mendengar langkah kaki di atap. Saya mencium bau... bau yang tidak seharusnya ada di rumah saya."

Ia berhenti. Tangannya yang memegang cangkir teh gemetar hingga tehnya tumpah sedikit ke piring.

"Saya takut, Ustad. Saya tidak pernah takut seperti ini. Bukan karena Rafiq. Tapi karena apa yang ada di dalam Rafiq. Ada sesuatu di dalam dirinya sekarang. Sesuatu yang gelap. Sesuatu yang tidak bisa saya lawan. Dan sesuatu itu... sesuatu itu ingin menghancurkan saya."

Ustad Salim menghela napas panjang. Ia menatap Pak Bambang dengan mata yang dalam. "Pak RT, saya ingin bertanya sesuatu. Dan saya berharap Bapak menjawab dengan jujur."

Pak Bambang mengangguk pelan.

"Apa yang sebenarnya terjadi dengan laporan keuangan masjid? Apakah benar Rafiq mengambil uang kas?"

Pak Bambang menunduk. Tangannya yang memegang cangkir semakin gemetar. Teh dalam cangkirnya bergoyang, tumpah sedikit lagi.

"Saya... saya tidak tahu, Ustad."

"Pak RT."

Pak Bambang mengangkat wajahnya. Air mata mulai mengalir di pipinya yang pucat.

"Tono yang datang kepada saya. Dia bilang ada kejanggalan di laporan keuangan. Dia bilang Rafiq memindahkan uang kas ke rekening pribadinya. Dia bilang ada bukti transfer. Dia bilang... dia bilang ini kesempatan untuk membersihkan pengurus masjid dari orang yang tidak bertanggung jawab. Saya percaya. Saya percaya padanya."

"Anda tidak memeriksa sendiri?"

Pak Bambang menggeleng pelan. "Saya... saya tidak punya waktu. Tono bilang dia sudah memeriksa semuanya. Saya hanya... saya hanya mengumumkan apa yang dia berikan."

Ustad Salim menatap Pak Bambang lama.

"Dan uang yang ada di laporan itu, Pak RT? Yang katanya dipindahkan Rafiq? Apakah Bapak tahu ke mana uang itu sebenarnya pergi?"

Pak Bambang tidak menjawab. Ia hanya menunduk lebih dalam. Bahunya bergetar. Tangisnya pecah.

"Saya minta maaf, Ustad. Saya minta maaf. Saya salah. Saya telah memfitnah orang yang tidak bersalah. Saya telah mengambil uang yang bukan hak saya. Tono memberi saya bagian. Dua puluh persen. Untuk diam. Untuk mendukung tuduhan itu."

Ustad Salim menutup matanya sejenak. Ia menarik napas panjang, menghembuskannya pelan. Ketika membuka mata, tidak ada amarah di sana. Hanya kesedihan. Kesedihan yang dalam.

"Pak RT, apa yang Bapak rasakan sekarang adalah akibat dari apa yang Bapak lakukan. Bukan karena Rafiq. Tapi karena Allah. Karena Allah tidak akan membiarkan kezaliman berlalu begitu saja."

Pak Bambang mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata. "Saya tahu, Ustad. Saya tahu saya salah. Tapi saya takut. Saya takut pada apa yang terjadi pada Rafiq. Saya takut pada apa yang ada di dalam dirinya sekarang. Saya takut... saya takut dia akan datang untuk mengambil apa yang telah saya ambil darinya."

Ustad Salim bangkit dari kursinya. Ia berjalan ke rak buku, mengambil sebuah kotak kayu kecil dari rak paling atas. Ia kembali duduk di hadapan Pak Bambang, membuka kotak itu.

Di dalamnya, ada selembar kertas kuning bertuliskan ayat-ayat suci dalam aksara Arab yang rapi. Rajah. Doa perlindungan yang biasa diberikan untuk orang-orang yang merasa terganggu oleh makhluk halus.

"Ini, Pak RT. Saya tuliskan ayat-ayat kursi dan mu'awwidzatain. Bawa selalu. Jangan lepas dari tubuh Bapak. Mandi wajib setiap hari. Sholat tepat waktu. Perbanyak istighfar. Dan yang paling penting..." Ustad Salim menatap mata Pak Bambang dengan serius.

"Kembalikan apa yang telah Bapak ambil. Uang itu. Kembalikan ke masjid. Minta maaf pada Rafiq. Itu satu-satunya cara."

Pak Bambang menerima rajah itu dengan tangan gemetar. Ia menempelkannya ke dadanya, di balik kemeja batiknya yang kusut.

"Apa itu cukup, Ustad? Apa itu cukup untuk melindungi saya dari... dari apa yang ada di dalam Rafiq?"

Ustad Salim tidak menjawab. Ia hanya menatap Pak Bambang dengan mata yang tidak bisa memberikan kepastian. Karena di dalam hatinya, ia tahu. Rajah ini mungkin bisa melindungi dari gangguan makhluk halus biasa.

Tapi Rafiq bukan lagi sekadar korban yang dirasuki makhluk halus. Rafiq telah memilih jalannya sendiri. Rafiq telah membuka pintu yang tidak seharusnya dibuka. Dan pintu itu... pintu itu tidak akan mudah ditutup.

"Coba dulu, Pak RT. Dan jangan lupa. Yang paling penting bukan rajah ini. Tapi hati Bapak. Hati yang bersih, hati yang menyesal, hati yang kembali pada Allah. Itu benteng yang paling kuat."

Pak Bambang mengangguk. Ia berdiri dengan susah payah, tubuhnya masih gemetar. Ustad Salim membantunya berdiri, mengantarkannya ke pintu.

Di ambang pintu, Pak Bambang berhenti. Ia menoleh ke belakang. "Ustad... apa yang terjadi pada Rafiq? Apa dia masih bisa diselamatkan?"

Ustad Salim terdiam lama. Angin sore bertiup, membawa aroma tanah basah dari halaman depan. Suara azan Maghrib mulai berkumandang dari masjid komplek.

"Hanya Allah yang tahu, Pak RT. Tapi satu yang saya yakini: selama masih ada nyawa, selama masih ada kesempatan untuk bertaubat, pintu ampunan selalu terbuka.

Tapi..." ia menatap ke arah jalanan yang mulai gelap. "Rafiq harus mau. Dan dari apa yang saya dengar... sepertinya dia sudah tidak mau lagi."

Pak Bambang menunduk. Ia melangkah keluar, meninggalkan rumah Ustad dengan rajah di dadanya dan beban yang tidak kunjung ringan.

Di dalam rumah, Ustad Salim duduk kembali di kursi rotannya. Ia menatap kotak kayu kecil yang masih terbuka di atas meja. Rajah perlindungan yang ia tulis untuk Pak Bambang sebenarnya tidak akan cukup.

Ia tahu itu. Tapi ia tidak punya jawaban lain. Yang ada di dalam Rafiq sekarang bukan jin pengganggu biasa. Yang ada di dalam Rafiq adalah sesuatu yang lebih tua, lebih gelap, lebih kuat. Sesuatu yang tidak bisa diusir hanya dengan ayat-ayat kursi.

Ia menutup matanya. Bibirnya bergerak dalam doa yang panjang.

"Ya Allah, lindungi hamba-Mu yang masih tersesat. Bimbing mereka yang masih mau dibimbing. Dan ampuni kami semua yang telah lalai dalam menjaga amanah."

Di luar, azan Maghrib bergema di seluruh komplek perumahan. Tapi di rumah-rumah yang gelap, di hati-hati yang penuh dosa, suara itu tidak lagi membawa ketenangan.

1
La Rue
Sensasi horornya benar² terasa. Tapi aku suka,karena gaya penulisan yang khas dari Sang Penulis. Semoga banyak yang mampir karena ceritanya bagus dan jarang typo 👍
La Rue: sama-sama
total 2 replies
La Rue
Waduh makin seram tapi semakin penasaran 😱🤭
La Rue
seram tapi penasaran 😱🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!