Aku memang memimpikan menjadi seorang IBU, tapi aku tidak pernah memimpikan menjadi seorang ISTRI.
Nayla Annaya, 24 tahun, memilih hidup sendiri tanpa hubungan asmara. Namun, tekanan keluarga untuk segera menikah membuat hidupnya mulai terasa tidak terkendali.
Di tengah usahanya melarikan diri sejenak bersama sahabat-sahabatnya, sebuah kejadian tak terduga di pusat perbelanjaan justru menjadi awal dari sesuatu yang tak terduga.
Karena terkadang, satu hari yang terlihat biasa saja bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Navy Ane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
“Izinku Ada di Tangannya (Zain)”
POV Zain
"Kak Zain."
"Iya?"
Nayla tampak ragu sesaat.
Lalu… ia tersenyum kecil.
"Terima kasih… untuk hari ini."
Aku terdiam.
Bukan karena tak tahu harus menjawab, tapi karena… kalimat sederhana itu terasa lebih dari sekadar ucapan biasa.
Ada sesuatu di dalamnya.
Sesuatu yang selama ini kutunggu.
"Sama-sama," jawabku akhirnya, dengan senyum yang bahkan tak bisa kusembunyikan.
Arkan menarik tangan Nayla pelan.
"Kak, ayo."
"Iya."
Aku hanya bisa berdiri di tempat, memperhatikan mereka berbalik… lalu berjalan menjauh.
Langkah mereka perlahan menghilang di antara keramaian.
Biasanya, momen seperti ini akan terasa kosong.
Sepi.
Seolah ada yang tertinggal.
Tapi tidak hari ini.
Aku menghembuskan napas pelan, menatap arah kepergian mereka lebih lama dari yang seharusnya.
Aneh.
Untuk pertama kalinya…
aku tidak merasa kehilangan.
Sudut bibirku terangkat tanpa sadar.
Karena aku tahu—
ini bukan akhir.
Ini baru awal.
Dan entah kenapa…
keyakinan itu terasa begitu nyata.
Dadaku terasa penuh, hangat, dan ringan di saat yang bersamaan.
Semua usaha, semua penantian… seakan mulai menemukan jalannya.
Hari ini—
aku tidak hanya bertemu Nayla.
Aku juga mendapatkan kesempatan.
Dan kali ini…
aku tidak akan menyia-nyiakannya.
Di dalam mobil, senyumku tak juga pudar.
Entah sejak kapan, rasanya sulit sekali menahannya.
Hati ini… penuh.
Perasaan yang bahkan aku sendiri tak benar-benar mengerti.
Hangat. Ringan. Tapi juga berdebar.
Aku menyetir santai, jemariku mengetuk pelan setir mengikuti irama lagu yang entah sejak kapan terputar.
Lampu merah.
Mobilku berhenti.
Seorang penjual asongan menghampiri, menawarkan beberapa barang sederhana.
Biasanya, aku hanya menggeleng.
Tapi kali ini… berbeda.
"Semua ini berapa?" tanyaku tanpa berpikir panjang.
Penjual itu tampak terkejut, lalu menyebutkan harga dengan ragu.
Aku mengangguk, langsung memberinya uang.
"Ambil aja semuanya, ya."
Matanya membesar, berkali-kali mengucap terima kasih.
Aku hanya tersenyum.
Aneh.
Rasanya ingin berbagi kebahagiaan ini… pada siapa pun.
Seolah dunia hari ini terlalu baik untuk tidak dibalas dengan hal yang sama.
Lampu kembali hijau.
Mobilku melaju pelan.
Namun pikiranku masih tertinggal di sana—
pada senyum kecil Nayla.
Pada tatapan Arkan yang mulai melunak.
Dan pada satu hal yang kini semakin jelas.
Aku semakin dekat.
Mobilku akhirnya berhenti di halaman rumah.
Mesin dimatikan.
Namun aku tidak langsung turun.
Tanganku masih menggenggam setir, sementara pikiranku… entah ke mana.
Satu per satu potongan hari ini kembali terlintas.
Senyum kecil Nayla.
Nada suaranya yang pelan saat mengucapkan terima kasih.
Dan cara ia menoleh… sebelum benar-benar pergi.
Aku menghembuskan napas panjang.
Lalu tersenyum lagi.
"Kenapa jadi kepikiran terus sih…" gumamku pelan.
Aku menyandarkan kepala ke kursi, menatap kosong ke depan.
Tapi bukannya hilang—
justru bayangannya semakin jelas.
Aneh.
Padahal ini bukan pertama kalinya aku bertemu dengannya.
Tapi hari ini… terasa berbeda.
Lebih dekat.
Lebih nyata.
Tanganku bergerak mengambil ponsel di kursi sebelah.
Layar menyala.
Nama itu ada di sana.
Nayla.
Jempolku sempat berhenti.
Ragu.
Apa aku terlalu cepat?
Apa ini akan terlihat berlebihan?
Aku terdiam beberapa detik.
Lalu terkekeh pelan.
"Udah sejauh ini… masa mundur."
Aku mulai mengetik.
Satu kalimat.
Menghapusnya.
Mengetik lagi.
Menghapus lagi.
Hingga akhirnya—
Zain:
"Udah sampai rumah?"
Sederhana.
Terlalu sederhana, mungkin.
Aku menatap layar itu beberapa saat.
Lalu—
kirim.
Pesan itu terkirim.
Dan detik berikutnya…
jantungku justru berdebar lebih kencang dari sebelumnya.
Aku tertawa pelan, menggelengkan kepala.
"Parah… cuma kirim chat doang."
Namun tetap saja—
aku menunggu.
Dengan senyum yang tak juga hilang.
Pesan itu sudah terkirim.
Satu menit.
Dua menit.
Lima menit.
Aku masih menatap layar ponsel.
Kosong.
Belum ada balasan.
Aku menghela napas pelan, lalu meletakkan ponsel di samping.
"Yaelah… baru juga kirim," gumamku.
Mungkin dia masih di jalan.
Atau… sedang sibuk.
Aku mencoba berpikir masuk akal.
Namun entah kenapa, tanganku kembali meraih ponsel itu.
Layar masih sama.
Tidak ada notifikasi.
Aku terkekeh kecil.
"Tenang, Zain. Jangan keliatan butuh banget."
Aku bangkit dari mobil, masuk ke dalam rumah.
Berusaha mengalihkan pikiran.
Mandi.
Ganti baju.
Bahkan sempat membuka laptop.
Tapi tetap saja—
setiap beberapa menit, mataku melirik ponsel.
Dan tetap…
tidak ada apa-apa.
Malam mulai turun.
Lampu kamar sudah menyala.
Aku menjatuhkan diri ke kasur, satu tangan menutup wajah.
"Dia emang cuek, ya…"
Aku mengingat kembali sikap Nayla tadi.
Tidak banyak bicara.
Tidak mudah membuka diri.
Dan sekarang…
di chat pun sama.
Aku tersenyum tipis.
"Aneh… malah makin kepikiran."
Ponselku tiba-tiba bergetar.
Refleks, aku langsung bangkit.
Layar menyala.
Nama itu muncul.
Nayla.
Jantungku langsung berdebar.
Tanpa menunggu lama, aku membuka pesannya.
Nayla:
"Udah. Maaf baru bales."
Singkat.
Sangat Nayla.
Aku menatap pesan itu beberapa detik…
lalu tersenyum.
Entah kenapa—
cukup.
Itu sudah cukup membuat hariku terasa lengkap.
Jempolku kembali bergerak.
Zain:
"Gapapa."
"Capek?"
Kali ini…
aku tidak buru-buru berharap.
Tapi tetap saja—
senyum itu kembali muncul.
Ponselku kembali bergetar.
Cepat sekali.
Aku bahkan belum sempat menaruhnya jauh.
Nayla:
"Lumayan."
Aku tersenyum kecil.
Jawaban singkat.
Sangat dia.
Zain:
"Tadi jalan cukup jauh sih."
"Arkan nggak rewel?"
Beberapa detik.
Lalu balasan masuk lagi.
Nayla:
"Nggak."
"Dia malah seneng."
Aku mengangkat alis, sedikit terkejut.
Senyumku makin lebar tanpa sadar.
Zain:
"Wah… berarti aku lulus ya?"
Kali ini sedikit lebih lama.
Seolah dia berpikir.
Nayla:
"Belum."
Aku terkekeh pelan.
Zain:
"Berat juga ya syaratnya, pangeran kecil."
Beberapa detik hening.
Lalu—
Nayla:
"Dia emang susah."
"Nggak semua orang dia mau."
Aku membaca kalimat itu pelan.
Entah kenapa…
terasa seperti lebih dari sekadar membicarakan Arkan.
Zain:
"Gapapa."
"Aku sabar."
Kali ini… cukup lama.
Aku hampir berpikir dia tidak akan membalas lagi.
Namun akhirnya—
Nayla:
"Kenapa?"
Satu kata.
Tapi cukup membuatku berhenti sejenak.
Aku menatap layar.
Lalu mengetik perlahan.
Zain:
"Karena…"
"aku mau kenal kalian lebih lama."
Hening.
Detik terasa lebih panjang.
Jantungku ikut berdebar menunggu.
Beberapa saat kemudian—
Nayla:
"Kalian?"
Aku tersenyum.
Zain:
"Iya."
"Kamu… sama pangeran kecil."
Tak ada balasan langsung.
Namun kali ini…
aku tidak merasa gelisah.
Karena entah kenapa—
aku yakin, di sana…
Nayla sedang tersenyum kecil.