Aisha Prameswari adalah seorang ibu rumah tangga yang kehidupannya sempurna Dimata dunia.ia memiliki suami ideal Arka Dirgantara,seorang arsitek ternama dan seorang putra semata wayang,baskara,yang ia cintai lebih dari hidupnya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Nama Itu, Mia
Dua hari setelah Baskara terbang ke Surabaya, Aisha masih belum bisa tidur nyenyak. Nama Mia berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak. Ia sudah mencoba menghubungi Arka berkali-kali, tapi pria itu hanya menjawab pesan singkat: “Sedang sibuk. Nanti hubungi.”
Aisha tahu Arka tidak sedang sibuk. Arka menghindarinya.
Di apartemen yang sunyi, Aisha duduk di depan laptopnya. Jari-jarinya mengetik nama "Mia" di mesin pencari, ditambah kata "Arka Dirgantara" atau "arkitek". Tidak ada hasil yang relevan. Ia mencoba mencari di media sosial, di profil-profil teman lama Arka. Tidak ada.
Mungkin Ren hanya berbohong. Mungkin ini taktik lama pria itu untuk menghancurkan Arka dari dalam. Tapi mengapa Baskara juga menerima pesan yang sama? Siapa yang mengirim pesan ke ponsel Baskara?
Aisha memutuskan untuk menelepon psikolog Baskara, Bu Dewi, untuk menanyakan apakah Baskara membahas pesan itu. Bu Dewi mengangkat setelah tiga kali dering.
“Bu Aisha, ada yang bisa saya bantu?”
“Bu Dewi, maaf mengganggu. Baskara... apakah dia pernah menyebut nama 'Mia' kepada Ibu?”
Keheningan di seberang sana terlalu panjang.
“Bu Dewi?”
“Bu Aisha,” suara Bu Dewi pelan, hati-hati. “Saya tidak bisa membocorkan detail sesi konseling. Tapi yang bisa saya katakan, Baskara memang sempat menanyakan sesuatu tentang... seseorang dengan nama itu. Saya sarankan Ibu bicara langsung dengan Bapak Arka.”
Aisha meremas ujung bajunya. “Jadi benar ada Mia?”
“Sebaiknya Ibu tanyakan pada suami Ibu.”
“Mantan suami,” Aisha mengoreksi getir. “Baik, terima kasih Bu Dewi.”
Setelah menutup telepon, Aisha merasa dadanya sesak. Bukan cemburu—ia tidak punya hak untuk cemburu lagi. Tapi ada rasa takut yang aneh. Takut bahwa selama lima belas tahun menikah dengan Arka, mungkin ada rahasia besar yang ia tidak tahu. Dan jika rahasia itu melibatkan Baskara...
Ia tidak bisa terus menghindar. Aisha mengambil kunci mobil dan mantel tipis. Di luar, hujan gerimis mulai turun, seperti biasa di Jakarta.
Arka memiliki kantor kecil di kawasan Kuningan. Bukan kantor mewah, tapi ruang kerja pribadi yang jarang ia gunakan setelah perceraian. Aisha belum pernah ke sana, tapi alamatnya tercatat di dokumen pernikahan dulu.
Setengah jam kemudian, Aisha berdiri di depan pintu kayu dengan plakat kecil: Arka Dirgantara – Arsitek. Ia mengetuk. Tidak ada jawaban. Ia coba membuka gagang pintu—tidak terkunci.
Aisha masuk. Ruangan itu gelap, hanya cahaya dari jendela yang tertutup tirai. Meja kerja berantakan, gelas kopi kering di mana-mana. Dan di sudut ruangan, Arka duduk di kursi, kepalanya tertunduk, tangan memegang selembar foto.
“Arka.”
Pria itu terkejut. Ia buru-buru menyembunyikan foto itu di dalam laci, tapi Aisha sudah melihatnya. Sebentar saja, tapi cukup untuk mengenali wajah dalam foto itu: seorang wanita muda dengan rambut panjang, senyum lebar, dan mata yang familiar. Mata yang mirip dengan mata Baskara.
“Aisha, apa yang kau lakukan di sini?” Arka berdiri, berusaha tenang.
“Kita harus bicara.”
“Tidak sekarang. Aku sedang—”
“Mia,” potong Aisha. “Siapa dia?”
Ruangan itu tiba-tiba terasa lebih dingin. Arka membeku. Wajahnya berubah—bukan marah, tapi pucat, seperti ketahuan menyembunyikan sesuatu yang selama ini ia kubur dalam-dalam.
“Kau tahu tentang Mia?” suara Arka serak.
“Ren memberitahuku. Dan seseorang mengirim pesan ke Baskara juga tentang Mia. Jadi jangan coba-coba berbohong padaku, Arka. Siapa dia?”
Arka berjalan ke jendela, membuka tirai. Hujan di luar semakin deras. Ia berdiri di sana, membelakangi Aisha, bahunya naik turun menarik napas panjang.
“Aisha,” katanya akhirnya, “sebelum aku cerita, kau harus janji satu hal. Apa pun yang kau dengar, jangan pernah cerita pada Baskara. Belum. Dia belum siap.”
Jantung Aisha berdegup kencang. “Janji.”
Arka balik menghadapnya. Matanya merah, tapi bukan karena menangis. Ada kelelahan yang luar biasa di sana, kelelahan yang sudah ia pendam bertahun-tahun.
“Mia adalah... Mia adalah adik perempuanku.”
Aisha mengerutkan kening. “Kau tidak punya adik. Kau anak tunggal.”
“Itu yang semua orang tahu. Tapi sebenarnya... ibuku melahirkan dua anak. Aku dan Mia. Mia lahir dua tahun setelah aku. Tapi dia... dia berbeda.”
“Berbeda bagaimana?”
Arka menarik napas. “Mia terlahir dengan sindrom Down. Saat itu, ayahku—ayah kandungku, bukan ayah yang kau kenal—tidak bisa menerima. Dia menganggap Mia adalah aib. Keluarga besar juga. Ibuku dipaksa memilih: Mia atau pernikahan.”
Aisha merasakan dadanya sesak. “Apa yang terjadi?”
“Ibuku memilih Mia. Ayahku pergi. Kami hidup miskin, tapi ibu bahagia karena punya Mia. Aku kecil tidak mengerti mengapa Mia berbeda, tapi aku sayang dia. Dia selalu tersenyum, Aisha. Apa pun yang terjadi, Mia tersenyum.”
Arka berhenti, mengepalkan tangannya. “Lalu ketika aku berumur sepuluh tahun, ibu jatuh sakit. Kanker. Kami tidak punya uang untuk berobat. Ibu meninggal dalam waktu enam bulan. Aku dan Mia menjadi yatim piatu.”
Aisha menutup mulutnya dengan tangan. “Lalu bagaimana kau bisa...”
“Keluarga ayahku datang. Mereka mengaku menyesal dan ingin mengambil aku. Tapi mereka tidak mau menerima Mia. Mereka bilang Mia akan menjadi beban. Aku marah, aku berteriak, aku tidak mau. Tapi mereka mengancam akan memasukkan Mia ke panti sosial yang jauh. Satu-satunya cara Mia tetap aman adalah jika aku pergi dengan mereka dan... dan tidak mengakui Mia sebagai saudaraku.”
“Arka...”
“Aku setuju. Aku pergi dengan keluarga ayahku. Mereka mengganti namaku, memberiku kehidupan baru, menyekolahkanku di luar negeri. Dan Mia... Mia dimasukkan ke panti asuhan khusus di Bandung. Aku diizinkan mengirim uang, tapi tidak boleh mengunjungi. Tidak boleh ada yang tahu.”
Air mata Arka jatuh. Untuk pertama kalinya, Aisha melihat pria yang selalu ia anggap kuat itu benar-benar hancur.
“Setiap bulan, aku kirim uang. Setiap tahun, aku minta kabar. Tapi aku tidak pernah bisa bertemu Mia. Karena keluarga angkatku—keluarga ayah kandungku—akan mencabut semua warisan jika mereka tahu aku masih berhubungan dengannya. Aku butuh warisan itu untuk membangun karir, untuk... untuk suatu hari nanti mengambil Mia dari panti.”
“Dan sekarang? Di mana Mia sekarang?” bisik Aisha.
Arka mengusap wajahnya. “Mia meninggal delapan tahun lalu. Leukemia. Aku baru tahu setelah dia meninggal. Panti tidak bisa menghubungiku karena nomorku berubah. Aku datang ke pemakamannya tiga hari setelah dia dikubur.”
Aisha terisak. Ia tidak bisa menahan tangisnya. “Kenapa kau tidak pernah bilang? Selama lima belas tahun kita menikah, kenapa kau diam?”
“Karena aku malu, Aisha. Aku malu karena aku meninggalkan adikku sendiri demi kehidupan mewah ini. Aku malu karena aku terlalu pengecut untuk melawan keluarga angkatku. Aku malu karena aku menyembunyikan Mia seolah dia adalah... dosa.”
“Dia bukan dosa!”
“Aku tahu! Tapi setiap kali aku mau cerita, aku takut. Takut kau akan melihatku sebagai pria yang lemah. Takut kau akan jijik karena aku meninggalkan saudara kandungku sendiri.”
Aisha berjalan mendekat. Ia meraih tangan Arka—tangan yang dingin dan gemetar.
“Arka, aku tidak akan jijik. Aku ini wanita yang berselingkuh dari suaminya. Aku tidak punya hak untuk menghakimi siapa pun.”
Arka menatapnya. Ada luka yang sama di mata mereka, luka karena menyembunyikan kebenaran, luka karena takut dihakimi.
“Mengapa Ren tahu tentang Mia?” tanya Aisha.
Arka menghela napas. “Ren adalah satu-satunya orang yang tahu masa laluku. Kami berteman sejak SMA. Aku cerita padanya saat kami mabuk satu malam. Aku pikir dia bisa dipercaya. Ternyata selama ini dia menyimpan itu sebagai senjata.”
“Dan pesan ke Baskara?”
“Pasti Ren juga yang mengirim. Atau seseorang yang disuruhnya. Dia ingin menghancurkan gambaran Baskara tentangku. Agar Baskara tahu bahwa ayahnya juga tidak sempurna.”
Aisha menunduk. “Kita berdua sudah gagal, Arka. Kita berdua menyembunyikan rahasia yang menghancurkan.”
Arka mengangguk pelan. “Sekarang Baskara tahu tentang Mia. Atau setidaknya dia mendengar nama itu. Aku harus bicara padanya. Tapi aku takut.”
“Kita bicara bersama. Saat dia sudah siap.”
Mereka berdiri diam di kantor yang gelap itu. Hujan masih deras di luar. Aisha merasa ada jarak yang aneh antara dirinya dan Arka—bukan jarak karena perceraian, tapi jarak karena mereka berdua menyadari bahwa pernikahan mereka selama lima belas tahun dibangun di atas setengah kebenaran.
“Arka,” Aisha berkata pelan. “Aku tidak akan memberitahu Baskara. Tapi suatu hari nanti, dia harus tahu. Bukan tentang aibmu, tapi tentang Mia. Tentang bibinya yang selalu tersenyum. Dia berhak tahu bahwa dia punya keluarga lain di luar sana, meski mereka sudah tiada.”
Arka mengangguk. “Suatu hari nanti. Tapi tidak sekarang.”
Aisha meninggalkan kantor Arka dengan perasaan campur aduk. Ia lega karena misteri Mia terjawab, tapi juga sedih—bukan cemburu, tapi sedih karena Arka selama ini menanggung beban sendirian.
Ia ingat malam-malam ketika Arka pulang larut dan langsung tidur tanpa bicara. Atau ketika Arka tiba-tiba melamun di tengah percakapan. Dulu Aisha mengira itu karena Arka lelah bekerja atau bosan dengannya. Sekarang ia tahu, Arka sedang mengingat Mia.
Apakah jika Arka lebih terbuka, Aisha tidak akan merasa kesepian? Apakah jika Aisha tahu tentang luka Arka, ia akan lebih mengerti dan tidak mencari pelukan dari Ren? Atau apakah itu hanya alasan lain untuk membenarkan kesalahannya?
Aisha tidak tahu. Yang ia tahu, rahasia adalah racun. Dan mereka berdua sudah terlalu lama meminum racun itu.
Di apartemen, Aisha duduk di balkon, memandang hujan. Ponselnya berdering. Baskara.
Ia langsung mengangkat. “Nak!”
“Bu,” suara Baskara di seberang sana terdengar cemas. “Aku mau tanya sesuatu.”
“Apa, Nak?”
“Siapa Mia? Kenapa ada orang yang kirim pesan ke aku tentang Mia? Ayah kalau ditanya cuma diem.”
Aisha menutup matanya. Pertanyaan yang ia takuti akhirnya datang juga.
“Nak, itu... itu cerita yang panjang. Tapi Ibu janji, suatu saat Ibu dan Ayah akan cerita. Bukan sekarang, tapi nanti. Kamu percaya Ibu?”
Diam sejenak. “Ibu janji nggak bakal bohong lagi?”
“Ibu janji tidak akan pernah bohong lagi.”
“Baik. Aku percaya Ibu. Tapi tolong bilang Ayah, aku nggak suka kalau Ayah diem terus. Aku jadi takut.”
“Ibu sampaikan. Kamu di sana baik-baik saja?”
“Baik. Nenek masak enak. Tapi aku kangen Ibu.”
Aisha tersenyum meski air matanya jatuh. “Ibu juga kangen kamu, Nak. Ibu sayang kamu.”
“Aku sayang Ibu. Meskipun aku masih marah.”
“Tidak apa-apa. Ibu tunggu sampai kamu tidak marah.”
Mereka bicara sebentar lagi, lalu Baskara pamit karena neneknya memanggil. Setelah telepon ditutup, Aisha memandangi layar ponselnya. Ada pesan masuk dari nomor yang sama yang mengirim pesan ke Baskara.
Ia membuka pesan itu.
“Aisha, kau sudah tahu tentang Mia? Tanyakan pada Arka bagaimana dia bisa tega meninggalkan adiknya sendiri demi harta. Atau mungkin kau juga sama seperti dia? Kalian berdua sama-sama egois. Pantas kalian berpasangan.”
Aisha tidak membalas. Ia hanya mematikan ponselnya dan membaringkan diri di tempat tidur.
Di luar, hujan belum reda. Dan Aisha tahu, ini baru permulaan dari badai yang lebih besar. Ren tidak akan berhenti sampai ia menghancurkan mereka berdua.
Namun di dalam hatinya, tumbuh tekad baru. Ia tidak akan lari lagi. Ia tidak akan bersembunyi. Untuk Baskara, untuk Arka, untuk dirinya sendiri—ia akan menghadapi semua ini.
Keesokan paginya, Aisha bangun dengan niat menemui Ren. Bukan untuk berdamai, tapi untuk menghentikannya. Ia mengambil kunci mobil, melangkah keluar apartemen, dan berhenti di depan pintu.
Selembar amplop putih terselip di bawah keset.
Aisha mengambilnya, membuka. Di dalamnya ada foto lama. Foto seorang wanita muda dengan rambut panjang—wajah yang sama dengan foto yang dipegang Arka kemarin.
Tapi kali ini, foto itu berbeda. Di belakang foto, tertulis dengan tinta merah:
“Mia tidak mati karena leukemia. Tanyakan pada Arka apa yang sebenarnya terjadi.”
Dunia Aisha berhenti berputar.