Demi nafas Nonik, Santi OB miskin rela jual harga diri.
Demi warisan triliunan Opa Darwis, Dody CEO dingin butuh istri kontrak.
Satu tanda tangan di UGD, satu cap jempol Nonik yg sekarat.
Kontrak nikah 250 juta resmi dibuat.
Dia istri di atas kertas. Dia suami yg membeku.
Di antara mereka ada Nonik, bocah 5 tahun yang nyawanya jadi taruhan.
Bisakah hati sedingin es Dody luluh oleh tangis Santi?
Sementara Wati sang HRD dan Wandy sang tunangan siap menikam dari belakang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alya Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SANTI MENCARI NONIK
Menjelang sore. Santi masih belum juga tertidur. Dia berusaha memejamkan matanya. Tetapi pikirannya berputar-putar kacau campur aduk. Sampai akhirnya dia melihat Nonik dalam kabut hitam.
“Nonik. Nak kamu pulang. Nak. Sini sama mama.”
Santi berusaha meraih Nonik. Tetapi tangannya tidak sampai. Dia terus maju untuk mendekati Nonik. Nonik diam saja. Dia menunduk. Dia memegang boneka beruang coklat kecil. Itu tertinggal di kosannya belum sempat dibawa waktu membawa Nonik ke rumah sakit K karena Santi tergesa-gesa melihat kondisi Nonik yang anfal, nguk-nguk saja.
“Ayo nak. Pulang sama mama. Mama kangen.”
Santi terus maju berusaha meraih Nonik. Tiba-tiba Nonik menghilang ditelan kabut hitam yang menggulungnya.
“No….nik.”
Santi menjerit. Mister Chow yang terkantuk-kantuk terkejut.
“Nonik….Nonik…ayo kesini nak.”
Tangan Santi menggapai-gapai di udara seperti mau meraih sesuatu. Mister Chow panik.
“San. Ada pa. bangun San.”
Mister Chow berusaha membangunkan Santi. Tetapi Santi terus-menerus menggigau, menyebut nama anaknya.
Mister Chow berlari keluar mencari suster penjaga.
“suster…..suster…..”
Suster penjaga tergopoh-gopoh mendatangi mister Chow.
“Tolong pasien ruang Anggrek nomor 06. Sus.”
“Ya pak.”
Mereka masuk dan mendapati Santi masih menggigau memanggil-manggil nama Nonik. Suster segera memeriksa Santi. Lalu memberi obat penenang ke mulut Santi. Tidak beberapa lama Santi tenang kembali. Dia tertidur.
“Udak pak. Dia udah tenang.”
“Makasih sus.”
Suster penjaga menganggukkan kepalanya dan pergi keluar. Mister Chow memandangi Santi.
“Sampai gini ya sama anaknya.”
Mister Chow berguman pelan.
Malam menjelang, Santi terbangun. tatapannya kosong. Dia turun dari tempat tidurnya. Dengan Langkah lunglai dia berjalan. Membuka pintu. Sepi. Suster penjaga tidak ada di tempat. Mereka sedang mengecek pasien-pasien menjelang malam. Santi tadi sudah dicek sedang tidur. Mister Chow karena lelahnya tertidur di kursi. Seharian melalui lautan. Dikejar-kejar mister Mican. Kemudian berhasil mengantar Santi sehingga sampai rumah sakit K. Hari yang sungguh-sungguh melelahkan. Bahkan langkah Santi juga tidak membangunkannya.
Beberapa orang hanya memandang saja Santi yang masuk lift tanpa bicara. Ada tiga orang di dalam lift, seorang lelaki tua, seorang gadis muda dan seorang anak kecil.
“Lantai 1, mbak.”
Gadis muda berkata kepada Santi. Santi menganggukkan kepalanya. Tatapannya ke depan kosong.
“Kak, orang itu napa.”
Si Anak Kecil menggoyangkan lengan gadis muda itu.
“Ssssst…”
Gadis muda itu meletakkan jari telunjuk kirinya di mulutnya. Si Anak Kecil itu kemudian diam tetapi dia terus memandang Santi dengan tatapan aneh. Si lelaki tua hanya tersenyum simpul.
Santi melangkah ke pintu keluar rumah sakit. Dia menyusuri jalanan. Mulutnya berbicara lirih.
“Nonik…”
Dia sampai di gang sempit. Dua orang muda yang sedang asyik duduk-duduk memperhatikannya.
“Tuh. Ada target.”
Seorang muda bermata cekung menyentuh pundak temannya. Temannya yang berbadan besar melihat kearah Santi.
“Tancap.”
Mereka berdiri dari duduknya dan mendekati Santi.
“Neng….mau kemana neng. Ini udah malem neng.”
Santi tidak menjawab. Tatapan matanya lurus ke depan.
“Nonik.”
Santi berkata lirih. Dua orang muda itu melongo.
“Apa neng…”
“Nonik.”
“O, jadi nama neng ….. Nonik.”
Tukas si Mata Cekung mengangguk-anggukkan kepala.
“Ayo ikut abang neng. Ke rumah abang. Nanti bisa bobok tenang.”
Si Badan Besar berkata. Si Mata Cekung tertawa.
“Mau kau ajak gelut ah.”
Tangan si Badan Besar memukul punggung si Mata Cekung.
“Kau suka main-main sama target ah.”
“Ni ada target masak didiamin, sayang khan.”
“Serah lah.”
“Kau juga ikut khan.”
“Yoi.”
Si Mata Cekung tertawa lepas. Mereka pemuda tidak punya pekerjaan. Mereka berdua biasa pergi mengobrol di gang sempit ini. Tempat itu biasa untuk mengobrol mereka. Tidak ada yang perduli. Gang sempit itu sepi. Paling hanya satu dua orang lewat itupun dengan langkah tergesa-gesa. Takut gelap. Gelap ada yang tidak baik.
“Neng. Neng ayo ikut abang ya neng. Rumah abang dekat khok.”
Si Badan Besar menjejeri Santi. Mata si Badan Besar nanar merah menyala. Dia sedang lupa diri. Itu kebiasaannya untuk lupa diri. Tidak ada yang berani melarang. Daerah ini adalah daerah kuasanya.
Santi diam mematung. Tetapi tiba-tiba dia berlari cepat.
“Nonik….jangan….Nonik.”
Si Badan Besar dan si Mata Cekung terkejut. Mereka lalu menyusul Santi yang berlari menjauh.
Dody baru saja datang dari mencari Nonik. Ritonga pamit ada pekerjaan yang harus dikerjakannya di terminal M. dia kepala keamanan maka harus selalu siap bila dibutuhkan. Dia sampai ke ruang Anggrek nomor 06 dan membuka pintu. Dia terkejut melihat tempat tidur Santi kosong sedangkan mister Chow tertidur pulas. Dody membangunkan mister Chow.
“Pak bangun pak. Santi kemana pak.”
Dody menggoyang-goyangkan tubuh mister Chow. Mister Chow hampir saja terjatuh. Dia terkejut karena dibangunkan tiba-tiba.
“O hmm ada pa.”
Mister Chow menguap. Dia benar-benar mengantuk berat karena lelahnya.
“Santi ada dimana pak.”
“Ahh Santi.”
Mister Chow terkejut.
“Dia tadi tidur.”
“Tapi tempat tidurnya kosong.”
“Ku tak tau mas. Aku tertidur.”
Dody segera berlari ke meja melingkar suster penjaga. Di tempat penjaga ruang Anggrek hanya ada 2 suster penjaga.
“suster. Mana pasien kamar nomor 06.”
Suster penjaga yang berbadan gemuk menjawab.
“Dia tidur pak. Barusan aku ke situ.”
“Tapi dia tak ada.”
Kedua suster penjaga mengecek. Tempat tidur kosong.
“Tadi disini pak.”
“Udah sus aku mau cari.
Dody segera berlari keseluruh lorong ruang Anggrek. Mengecek satu-satu. Dari toilet sampai tempat duduk tunggu tamu semua dicek. Tidak ada. Dody kebingungan. Dia berlari tertabrak seorang gadis muda yang membawa sebungkus makanan. Bungkusan makanan itu terjatuh ke lantai.
“Ma..af.”
Suara Dody terbata-bata meminta maaf.
“Iya pak tak pa.”
Gadis muda itu memungut bungkusan makanan itu.
“Mbak liat perempuan muda usia sekitar 29 tahun. Cantik pakai daster berbunga-bunga, lusuh.
“O..orang aneh itu.”
Celetuk si Anak Kecil dibelakang gadis muda.
“O adik liat perempuan itu.”
“ya pak. Dia satu lift dengan kita.”
Sambung si Gadis Muda.
Dody segera berlari setelah mendapat keterangan singkat dari si Gadis Muda. Dia segera menuju pintu lift dan memencet tombol tutup. Lalu memencet tombol lagi 1.
Kedua pemuda itu mengitari Santi. Mereka tertawa cekikikan. Santi tiba-tiba seperti tersadar dan ketakutan melihat dua pemuda itu tertawa.
“Ayo neng mau main sembunyi-sembunyian ya. Hap…. mau abang tangkap.”
Santi menggeleng-gelengkan kepala. Rasa-rasanya tadi dia bermimpi melihat Nonik dan mengikutinya.
“Ayo neng ikut abang. Tuh rumah abang udah deket.”
Si Mata Cekung menunjuk-nunjuk kearah sekenanya. Dia sedang lupa diri.
“Tak mau.”
Teriak Santi ketakutan. Dia mau berlari tetapi dihadang oleh dua orang pemuda tadi.
“Udah neng main kejar-kejarannya. Abang capek. Neng bantu abang ya. Badan abang capek nih.”
Santi terpojok. Dia tidak mungkin lagi lolos. Dia menangis sesunggukan.
“Neng tak usah nangis. Ayo ikut abang aja.”
Santi benar-benar merasa sendirian. Tidak ada yang menolong dia. Dia melihat kiri kanan hanya gelap. Tidak ada orang yang lewat. Santi menangis lagi.
“Udah neng nangisnya. Sini badan abang udah lelah. Neng bantu ya.”
Santi sudah tidak bisa berkutik. Dia kebingungan.
Tiba-tiba seorang laki-laki bermata tajam menggeser badan si Badan Besar dan si Mata Cekung. Dody. Dody berhasil menemukan Santi.
“Ouh.”
Dua pemuda itu limbung. Mereka menatap nanar kepada Dody.
“Kau mau apa.”
Dody segera main-main dengan dua pemuda itu. Keduanya terjatuh kalah main sama Dody. Dody ternyata mahir dalam main-main karena dia banyak belajar dari Ritonga.
“Udah bang udah. Nggak kuat.”
“Pergi.”
Dody menjawab dingin. Maka keduanya segera bangun dan berlari dari tempat itu. Dody segera membantu Santi. Santi berkata lirih.
“Nonik….Nonik….mana…..Nonik….”
Bersambung