NovelToon NovelToon
Fall In Love With My Lil Sister

Fall In Love With My Lil Sister

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Kehidupan di Kantor / Romantis / Saudara palsu / Rumah Tangga
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Soju Kimchizz

Entah sejak kapan Alessia tumbuh menjadi gadis cantik mempesona. Sepuluh tahun menjaganya sebagai adik, ia baru menyadari debaran jantungnya yang tak karuan. Nathaniel sang anak angkat mulai mendambakan adik angkatnya. Adik yang keluarganya telah menyelamatkan Nathaniel dari jurang keterpurukan. Pantaskah Nathaniel bersanding dengan adiknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menginap di Rumah Kakak Sendiri, Memang Aneh?

Apartemen mewah Nathaniel yang biasanya terasa dingin dan minimalis, malam ini terasa jauh lebih hidup. Nathaniel bergerak dengan cekatan, menanggalkan jasnya dan menggulung lengan kemeja putihnya hingga ke siku, memperlihatkan lengan kokohnya yang terbiasa bekerja keras.

Ia menata meja makan dengan sangat telaten. Meski makanan yang mereka santap hanya hasil drive-thru, Nathaniel tidak membiarkannya begitu saja. Ia menyalakan lilin aromaterapi, menata piring porselen, dan gelas kristal seolah mereka sedang berada di restoran bintang lima. Bahkan, ia meletakkan selembar kain kasmir lembut di atas kursi Alessia agar gadis itu merasa nyaman.

"Ayo makan," ajak Nathaniel lembut. Ia mengulurkan tangannya, menggenggam jemari Alessia dan menuntunnya menuju meja makan dengan perlakuan bak seorang putri.

Alessia duduk, namun matanya terus memperhatikan gerak-gerik Nathaniel yang sangat tenang. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, sesuatu yang sejak tadi ingin ia tanyakan namun ia takutkan jawabannya.

"Kakak... beneran suka aku?" tanya Alessia tiba-tiba. Suaranya kecil, hampir tenggelam oleh suara rintik hujan di luar jendela apartemen.

Nathaniel yang sedang menuangkan air ke dalam gelas terhenti sejenak. Ia meletakkan botol air itu, lalu menatap Alessia dalam-dalam dengan sorot mata yang sulit diartikan.

"Kamu butuh pengakuan yang bagaimana, Al?" tanya Nathaniel balik, suaranya bariton dan stabil, sangat kontras dengan jantung Alessia yang berdebar tidak karuan.

"Habisnya... sepertinya hanya aku yang kecintaan. Aku yang selalu ingin dekat, aku yang selalu pamer rasa sayang. Tapi Kakak... Kakak kelihatan biasa-biasa saja. Seperti tidak ada bedanya saat kita masih sekadar 'kakak-adik'," jawab Alessia jujur, matanya mulai berkaca-kaca karena rasa tidak percaya diri yang tiba-tiba muncul.

Nathaniel menarik napas panjang. Ia mengitari meja, lalu berjongkok di samping kursi Alessia agar tinggi mereka sejajar, mengingat tinggi badannya yang 192 cm sering kali membuatnya terlihat terlalu dominan. Ia menggenggam kedua tangan Alessia, mengusap punggung tangannya dengan ibu jari.

"Itu cuma perasaan kamu saja, Al," kata Nathaniel lirih namun penuh penekanan. "Cara kita menunjukkan rasa sayang itu berbeda. Aku tidak pandai berkata-kata manis atau pamer di depan umum, tapi setiap langkah yang kuambil, termasuk menjagamu dari perjodohan konyol kemarin, adalah caraku mencintaimu."

Ia memberikan senyum tipis yang jarang ia perlihatkan pada siapa pun. "Jangan berpikir yang tidak-tidak. Kita makan dulu ya? Makanannya keburu dingin."

Alessia terdiam, menatap wajah tampan pria di hadapannya. Meskipun jawaban Nathaniel sangat logis, ada bagian dari hati Alessia yang masih menginginkan sesuatu yang lebih eksplosif, sesuatu yang membuktikan bahwa pria dingin ini benar-benar "kalah" oleh perasaannya sendiri.

Nathaniel menghela napas panjang, meletakkan garpunya dengan perlahan. Ia menatap Alessia yang kini membuang muka ke arah jendela apartemen yang menampilkan gemerlap lampu kota Seoul. Ia tahu, logikanya yang terlalu kaku sering kali terdengar seperti penolakan di telinga Alessia.

"Setelah makan kita nonton sebentar, lalu aku antar pulang ya," kata Nathaniel, mencoba menetapkan batasan yang aman bagi mereka berdua.

"Kak... aku bisa menginap di sini," ujar Alessia tiba-tiba. Matanya menatap Nathaniel penuh harap, seolah ingin menghabiskan waktu lebih lama tanpa sekat jam malam.

"Tidak, Al. Ayah dan Ibu akan khawatir," jawab Nathaniel tegas namun lembut.

Alessia mendengus pelan, ia menyandarkan punggungnya ke kursi kasmir yang tadi disiapkan Nathaniel. "Lagian aku kan menginap di rumah kakakku sendiri, Ayah dan Ibu tidak akan curiga. Bukankah selama ini mereka percaya padamu?"

Nathaniel memijat pangkal hidungnya. "Al, coba pikirkan. Setelah sekian lama kita sudah pisah rumah, kapan kamu pernah menginap? Lalu tiba-tiba saat sudah sedewasa ini, kita saling menginap? Apa itu masuk akal bagi Ayah?"

Ia menjeda sejenak, menatap Alessia dengan intens. "Ayah itu orang yang sangat teliti. Perubahan kecil pada rutinitas kita akan memicu kecurigaannya. Aku hanya tidak ingin kita melakukan kesalahan ceroboh yang bisa menghancurkan semuanya sekarang."

"Iya... suka-suka Kakak deh. Memang sepertinya aku yang kecintaan," gerutu Alessia sambil memotong makanannya dengan kasar. Ia merasa Nathaniel terlalu penuh perhitungan, sementara ia hanya ingin merasakan kehadiran pria itu lebih lama.

Nathaniel terdiam, menatap Alessia yang sedang merajuk. Ia bangkit dari kursinya, melangkah mendekati Alessia, lalu berlutut di samping kursi gadis itu, membuat posisi mereka sejajar. Ia meraih tangan Alessia yang sedang memegang garpu, memaksanya untuk berhenti sejenak.

"Al, lihat aku," pinta Nathaniel rendah. "Berhenti bilang kamu yang 'kecintaan'. Kamu tidak tahu seberapa keras aku menahan diri setiap kali kamu ada di dekatku. Mengantarmu pulang adalah caraku melindungimu, juga melindungiku dari keinginan untuk tidak membiarkanmu pergi."

Ia mengecup punggung tangan Alessia dengan lama, membiarkan kehangatannya tersampaikan. "Kita nonton satu film, lalu aku antar kamu pulang dengan selamat. Oke?"

Alessia hanya terdiam, meski hatinya sedikit lumer mendengar pengakuan jujur Nathaniel soal "menahan diri". Ia tahu pria ini sedang berjuang dengan moralitasnya sendiri sebagai orang kepercayaan William.

———

Layar besar di ruang tengah apartemen itu kini menjadi satu-satunya sumber cahaya, membiaskan warna-warna redup yang menari di dinding minimalis. Suara dari film yang diputar seolah hanya menjadi latar belakang yang samar, karena bagi Nathaniel, suara detak jantung Alessia yang bersandar di dadanya jauh lebih nyaring.

Lampu sengaja dimatikan, menciptakan privasi semu yang menyesakkan sekaligus memabukkan. Alessia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu; ia merapatkan tubuhnya, melingkarkan lengannya di pinggang Nathaniel seolah pria itu adalah jangkar yang menahannya agar tidak hanyut.

Nathaniel pun tak kuasa menahan diri lagi. Lengan kekarnya menarik tubuh mungil Alessia lebih dekat, melingkupinya dengan kehangatan yang protektif Nathaniel benar-benar menenggelamkan Alessia dalam pelukannya. Ia menyandarkan dagunya di puncak kepala Alessia, menghirup dalam-dalam aroma sampo stroberi yang selalu berhasil mengacaukan logikanya.

'Aku sangat mencintaimu, Al. Lebih dari yang bisa kamu bayangkan,' batin Nathaniel berteriak.

Tangannya yang besar mengusap bahu Alessia dengan gerakan sangat perlahan, seolah menyentuh porselen mahal yang mudah pecah. Ada keinginan primitif yang mendesak di dalam dadanya, keinginan untuk membalikkan tubuh gadis itu, menatap matanya, dan menunjukkan dengan tindakan betapa ia memujanya. Ia ingin meruntuhkan tembok "kakak-adik" itu sepenuhnya malam ini juga.

Namun, setiap kali jemarinya menyentuh kulit lembut Alessia, bayangan wajah William Sinclair yang penuh kepercayaan muncul di benaknya. Kepercayaan itu adalah belenggu sekaligus kompas moralnya.

Nathaniel memejamkan mata rapat-rapat, rahangnya mengeras menahan gejolak yang membakar dari dalam. Ia tahu, jika ia membiarkan pertahanan dirinya runtuh satu inci saja, ia tidak akan bisa berhenti. Menyentuh Alessia lebih jauh berarti mengkhianati pria yang sudah mengangkatnya dari keterpurukan, sekaligus membahayakan masa depan Alessia sendiri.

"Kak... dingin," bisik Alessia, semakin mengeratkan pelukannya.

Nathaniel hanya bisa membalas dengan mengeratkan dekapannya, menyelimuti tubuh Alessia dengan kashmir yang tadi ia siapkan. "Tidurlah sebentar kalau mengantuk. Aku di sini," ucapnya dengan suara berat yang bergetar.

Malam itu, di sofa apartemen yang sunyi, Nathaniel sedang memenangkan pertempuran melawan dirinya sendiri, meski imbalannya adalah rasa sesak yang luar biasa di dadanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!