NovelToon NovelToon
MAFIA’S REBIRTH: CINTA & DENDAM SI CUPU

MAFIA’S REBIRTH: CINTA & DENDAM SI CUPU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Vittorio "The Grim Reaper" Genovese adalah puncak rantai makanan di dunia bawah Italia. Dingin, kejam, dan tak tersentuh—sampai sebuah pengkhianatan bom mobil mengakhiri hidupnya. Namun, maut ternyata punya selera humor yang aneh. Vittorio terbangun di tubuh Arjuna, mahasiswa beasiswa tingkat akhir yang hidupnya adalah definisi "kesialan". Tubuh kurus, kacamata tebal yang pecah, dan hobi menjadi samsak tinju geng kampus.
Dendam Vittorio membara, tapi tantangan terbesarnya bukan membalas budi pada para pembully, melainkan menghadapi Karin, gadis "semprul" tetangga kostnya yang tidak punya urat takut. Karin adalah perpaduan antara kekacauan dan keceriaan yang sering membuat Vittorio—sang raja mafia yang biasanya hanya bicara lewat peluru—kehilangan kata-kata dan martabatnya karena tingkah konyol gadis itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sarapan Kacau di Kost Sederhana

Sinar matahari pagi menyelinap malu-malu melalui celah ventilasi kamar kost Arjuna yang sempit, membawa serta debu-debu yang menari di udara pengap. Bagi Vittorio Genovese, ini adalah pagi ketiganya di raga ini, dan ia masih belum terbiasa dengan ritual bangun pagi tanpa pelayan yang membawakan espresso ganda dan koran pagi di atas nampan perak.

​Alih-alih aroma kopi Italia yang mahal, hidung Vittorio justru diserang oleh bau yang sangat spesifik: perpaduan antara asap minyak goreng bekas, bawang putih yang hampir gosong, dan teriakan melengking yang sanggup merusak saraf pendengaran paling tangguh sekalipun.

​"JUNA! BANGUN WOI! MATI LU YA?!"

​BRAK! BRAK! BRAK!

​Pintu kayu yang malang itu digedor dengan kekuatan yang tidak proporsional bagi seorang gadis mungil. Vittorio menghela napas panjang, bangkit dari kasur tipisnya dengan gerakan yang jauh lebih sigap dari Arjuna yang asli. Meskipun tubuh ini masih lemah, latihan singkat yang ia lakukan setiap malam mulai memberikan definisi pada otot-ototnya yang tadinya tersembunyi di bawah lapisan lemak sisa mi instan.

​Ia membuka pintu, dan di sanalah dia: Karin. Pagi ini, ia mengenakan daster biru motif lumba-lumba yang tampaknya sudah dicuci seribu kali hingga warnanya memudar. Rambutnya diikat ke atas menyerupai sarang burung, dan di tangannya ia memegang sebuah spatula kayu seolah-olah itu adalah pedang perang.

​"Apa lagi, wanita semprul?" suara Vittorio masih serak khas orang bangun tidur, namun nada dinginnya tetap terjaga.

​"Wanita semprul, wanita semprul... panggil 'Kak Karin' atau minimal 'Dewi Penyelamat' gitu kek!" Karin merangsek masuk ke kamar Vittorio tanpa permisi, membuat sang raja mafia itu mundur selangkah karena kaget. "Gue udah masak nasi goreng spesial buat ngerayain kemenangan lu lawan geng burung emprit kemarin. Cepetan ke dapur umum, sebelum dihabisin ama Bang mamat supir angkot sebelah!"

​Vittorio menatap spatula itu dengan pandangan jijik. "Nasi goreng? Aku lebih suka protein yang tidak digoreng dengan minyak yang warnanya seperti oli mesin."

​Karin berkacak pinggang, spatulanya menunjuk tepat ke hidung Vittorio. "Eh, denger ya Tuan Muda Halu. Di sini, minyak itu emas. Minyak goreng mahal tahu! Buruan keluar atau gue seret lu pake daster ini!"

​Vittorio akhirnya menyerah. Ia tahu berdebat dengan Karin adalah satu-satunya pertempuran yang tidak bisa ia menangkan dengan strategi militer manapun. Ia mengenakan kaos oblong putih dan celana pendek, lalu mengikuti Karin menuju dapur umum kost-an yang luasnya tak lebih dari ukuran toilet di mansionnya di Italia.

​Di dapur, kekacauan yang sebenarnya dimulai.

​Dapur umum itu hanya memiliki satu kompor gas dua tungku yang salah satunya sudah berkarat. Di sana, sudah ada Bang Mamat yang sedang menyeduh kopi hitam sambil menghisap rokok dalam-diam, dan Mbak Yanti yang sedang sibuk mencuci piring sambil bergosip melalui telepon yang dijepit di bahunya.

​"Wih, ini dia pahlawan kita! Si Juna yang kemarin bantai Rico!" Bang Mamat berseru, membuat Vittorio merasa ingin menghilang ke dalam lubang tikus. "Jago juga lu ya, Jun. Belajar silat di mana? Guru lu siapa? Jagoan pasar rebo ya?"

​Vittorio hanya mengangguk kaku. "Latihan mandiri," jawabnya singkat. Ia mengambil posisi duduk di kursi plastik yang reyot di sudut meja makan kayu yang permukaannya lengket.

​Karin datang membawa sepiring besar nasi goreng yang warnanya cokelat pekat karena kecap manis yang berlebihan, ditambah hiasan telur dadar yang pinggirannya gosong dan kerupuk yang sudah layu. "Nih, santap! Nasi Goreng 'Maut' ala Karin. Dijamin habis makan ini lu langsung bisa terbang ke Italia!"

​Vittorio menatap piring itu seolah-olah itu adalah bom waktu. Ia mengambil sendok dengan ragu. Di sekelilingnya, suasana sangat bising. Mbak Yanti tertawa terbahak-bahak mendengar gosip di telepon, Bang Mamat mulai batuk-batuk karena asap rokoknya sendiri, dan radio di sudut dapur memutar lagu dangdut koplo dengan volume yang membuat piring di meja bergetar.

​Ini adalah definisi "kekacauan" bagi Vittorio. Di duniaku, sarapan adalah waktu untuk merencanakan kematian musuh dalam keheningan yang absolut. Di sini, sarapan adalah perjuangan untuk tetap waras di tengah hiruk-pikuk manusia-manusia aneh ini.

​"Kenapa diem aja? Takut keracunan?" Karin duduk di depan Vittorio, mulai menyuap nasi gorengnya sendiri dengan penuh semangat. "Tenang aja, gue udah cobain. Paling cuma bikin perut lu mules dikit, nggak bakal bikin mati kok."

​Vittorio menyuap sesendok kecil. Rasa manis kecap yang dominan, pedas cabai rawit yang menusuk, dan aroma bawang putih yang kuat meledak di lidahnya. Ini... jauh dari standar kuliner manapun yang ia kenal. Tapi entah mengapa, di tengah kesederhanaan dan kebisingan ini, ada kehangatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Kehangatan yang tidak bisa dibeli dengan jutaan Euro.

​"Bagaimana?" tanya Karin dengan mulut penuh nasi.

​"Terlalu banyak kecap," komentar Vittorio, tapi ia tetap menyuap sendokan kedua. "Dan telurnya terlalu matang."

​"Cih, dasar kritikus makanan palsu!" Karin mencibir, namun ia tampak senang melihat Vittorio makan dengan lahap. "Oya, Juna. Hari ini lu ada kelas siang, kan? Gue denger-denger, Rico nggak masuk hari ini. Katanya dia sakit tipes mendadak setelah ketemu lu. Lu apain sih sebenernya?"

​Vittorio menelan nasinya perlahan. "Aku hanya memberikan sedikit saran kesehatan tentang bagaimana cara bernapas tanpa paru-paru yang hancur."

​"Hih, serem!" Karin bergidik. "Tapi serius, Jun. Lu harus hati-hati. Rico itu emang penakut kalau sendirian, tapi bapaknya itu orang kuat di kota ini. Dia punya banyak kenalan orang-orang gelap. Gue nggak mau lu beneran jadi semen buat fondasi jembatan."

​Vittorio berhenti mengunyah. Matanya menyipit. "Orang kuat? Di kota ini tidak ada yang lebih kuat daripada orang yang tidak punya beban masa lalu."

​Tiba-tiba, suasana dapur yang tadinya hangat menjadi tegang saat dua orang pria asing berjaket kulit hitam muncul di depan pintu kost. Mereka bertubuh besar, dengan potongan rambut cepak dan tatapan mata yang mencari-cari.

​"Mana yang namanya Arjuna?" tanya salah satu pria itu dengan nada mengancam.

​Mbak Yanti langsung berhenti bicara di telepon. Bang Mamat mematikan rokoknya. Karin tampak pucat pasi, tangannya gemetar memegang sendok.

​Vittorio tetap tenang. Ia meletakkan sendoknya dengan perlahan, menyeka mulutnya dengan tisu murah yang kasar, lalu berdiri. "Aku Arjuna. Ada perlu apa?"

​Kedua pria itu mendekat. Mereka melihat Arjuna—pemuda kurus dengan kacamata retak (yang sudah diperbaiki sementara dengan lem oleh Karin semalam) dan kaos oblong putih. Mereka tertawa meremehkan.

​"Jadi ini bocah yang bikin Tuan Muda Rico masuk rumah sakit?" pria yang lebih pendek maju, mencoba mencengkeram kerah baju Vittorio. "Ikut kami sekarang. Bos ingin bicara."

​"Juna, jangan..." Karin berbisik, matanya berkaca-kaca karena takut.

​Vittorio menepis tangan pria itu dengan gerakan yang sangat halus namun bertenaga. "Aku sedang sarapan. Dan aku tidak suka diganggu saat sedang makan. Kembali lagi setelah aku selesai, atau kalian akan menyesal telah melangkahkan kaki ke tempat kumuh ini."

​Kedua pria itu terperangah. Mereka tidak menyangka akan mendapatkan perlawanan kata-kata dari seorang mahasiswa yang terlihat seperti kurang gizi.

​"Bocah sombong!" pria yang lebih tinggi langsung melayangkan tinju ke arah wajah Vittorio.

​Vittorio tidak menghindar jauh. Ia hanya memiringkan kepala sedikit, membiarkan tinju itu lewat di samping telinganya. Dalam satu gerakan yang hampir tidak terlihat oleh mata awam, ia menggunakan siku tangannya untuk menghantam rusuk pria itu.

​KRAK.

​Suara tulang yang retak terdengar jelas di keheningan dapur. Pria tinggi itu tersungkur sambil memegangi dadanya, megap-megap mencari udara.

​Pria kedua terkejut dan mencoba mencabut sesuatu dari balik jaketnya—sebuah pisau lipat. Namun, sebelum ia sempat membukanya, Vittorio sudah mengambil mangkuk plastik berisi sisa nasi goreng Karin dan menghantamkannya tepat ke wajah pria itu.

​PLAK!

​Nasi goreng cokelat itu kini menghiasi wajah sang preman, menutupi matanya. Dalam kebutaannya, Vittorio memberikan satu tendangan memutar ke arah kakinya, membuatnya jatuh terjungkal menabrak rak piring Mbak Yanti.

​PRANG! KLONTANG!

​Piring-piring pecah berhamburan. Suasana dapur menjadi kacau balau. Kedua preman itu mengerang kesakitan di lantai yang kini penuh dengan sisa nasi goreng dan pecahan keramik.

​Vittorio berdiri di tengah kekacauan itu, wajahnya tetap datar, tanpa sedikit pun emosi. Ia menatap kedua pria itu dengan pandangan dingin yang membuat mereka gemetar ketakutan meski mereka lebih besar darinya.

​"Beritahu tuanmu," ucap Vittorio dengan suara rendah yang menggetarkan. "Jangan kirim tikus got jika ingin menangkap macan. Dan beritahu dia, harga piring-piring ini mahal. Aku akan menagihnya nanti."

​"C-cabut! Ayo cabut!" kedua preman itu merangkak bangun dan lari tunggang langgang keluar dari kost, meninggalkan jejak nasi goreng di lantai koridor.

​Hening kembali melanda dapur. Mbak Yanti melongo. Bang Mamat menjatuhkan kopinya. Karin menatap Vittorio seolah-olah dia baru saja melihat alien turun dari langit.

​"Juna... nasi goreng gue..." gumam Karin, menatap mangkuknya yang kini hancur di lantai.

​Vittorio menghela napas. Ia melihat tangannya yang sedikit memerah. Tubuh ini masih terlalu lambat untuk seleranya. "Maaf, Karin. Nanti aku belikan yang baru."

​"B-bukan itu masalahnya, Juna!" Karin tiba-tiba meledak, ia melompat dan memukul bahu Vittorio. "Lu gila ya?! Mereka itu orang-orangnya bapaknya Rico! Lu beneran mau cari mati?!"

​Vittorio menatap Karin. Ia melihat ketakutan yang tulus di mata gadis itu. Tanpa sadar, tangannya bergerak mengacak-acak rambut Karin yang berantakan. "Jangan khawatir. Selama aku di sini, tidak ada yang bisa menyentuhmu atau tempat ini. Sekarang, bantu aku membersihkan piring Mbak Yanti sebelum dia pingsan."

​"Juna... lu beneran bukan Arjuna ya?" tanya Karin pelan, suaranya bergetar.

​Vittorio tersenyum tipis—senyuman yang sangat langka dan penuh misteri. "Arjuna sedang beristirahat. Untuk sekarang, biarkan aku yang mengurus kekacauan ini."

​Sarapan pagi itu berakhir dengan sangat kacau. Namun di tengah pecahan piring dan sisa nasi goreng, Vittorio menyadari bahwa perang ini bukan lagi sekadar dendam pribadi. Ini adalah tentang melindungi "kekacauan" kecil yang mulai ia sukai.

​"Woi, Juna! Jangan cuma senyum-senyum! Ambil sapunya!" teriak Karin yang sudah kembali ke mode semprulnya.

​Vittorio memutar bola matanya. "Iya, bawel."

​Sang Raja Mafia, penguasa kegelapan Italia, kini sedang menyapu lantai dapur kost-an kumuh sambil mendengarkan lagu dangdut. Jika anak buahnya di Italia melihat ini, mereka pasti akan memilih untuk bunuh diri masal. Tapi bagi Vittorio, ini adalah langkah awal untuk membangun kembali kekuasaannya dari nol. Dari sebuah piring nasi goreng yang hancur.

1
Riska Baelah
emg sih seharus ny vittrio sebagai cwok harus ny jelas nyatakan cinta ke karin biar hubungan kalian jelas pacaran, bukn hany bos sama asisten doang🤭
Riska Baelah
sumpah kk sepanjang aq baca eps ini
aq ngakak 😄🤣😄🤣😄🤭
lucu bnget cemburu ny si vittrio🤣😄🤣😄🤭 lanjut kk👍
Riska Baelah
karin ini ya ad aja tingkah ny, segala ibu kantin d curigai,,, ngurangin porsi ayam ny😄🤣😄🤣😄🤭
kocak bnget,,,,👍
Riska Baelah
ikut dong liburan ke bali /CoolGuy/
Riska Baelah
harus berakhir bhagia ya kk,, minimal vittrio nikah sama karin, puny ank satu cwek yg muka ny mirip vittrio sifat ny karin, biar hidup ny vittrio berwarn kya pelangi😄🤣😄🤣🤣😄🤭👍
Riska Baelah
lagian jg si vittrio udh tau modelan karin kya gitu ,semprul sok2 an, mau d ajk kencan romantis, yaaa mna ngaruh😄🤣😄🤣🤣🤭
laen x cukup sederhana tp berkesan saja🤭
Riska Baelah
kk kok adegan romantis ny tipis bnget kya tisu d bagi 10 😄🤣🤭, kan udh jelas vittrio suka sama karin gitu jg karin, gak bisa ap ad momen yg lebih manisss gitu🤭
Riska Baelah
karin takut , klu2 vittrio berubah, mka ny d tany trus msih mau tinggal d kost ap engga, tenang karin klu pun vittrio pindah kmu past d ajak🤭
Riska Baelah
uhhhhh so sweet ny😍🤭
karin udh gak malu lg yaa peluk2 vittrio depan orng🤭
mna manja lg
🤣😄🤭
Riska Baelah
kpan sih vittrio nyatain cint ke karin, gemes deh, masa sebagai teman trus, naek jd asisten,, jd pacar lah👍🤭
Riska Baelah
🤣😄🤣😄🤣🤭
Riska Baelah
mau jg dong ditraktir martabak ny 🤭
Riska Baelah
😄🤣😄🤣😄🤭 karin ad2 tingkah ny🤭
Riska Baelah
/Chuckle//Chuckle//Chuckle//Chuckle//Chuckle//Chuckle/
Riska Baelah
karin2 d kira lg maen mafia mafia ap, segala mau ikut,, jng dong entr vittrio gak konsen, harus ny vittrio mint cwek rambut pendek buat lindungi karin👍
Riska Baelah
semangat vittrio💪💪💪💪💪
Riska Baelah
😄🤣😄🤣🤭 karin2 mau daster sutra , jng lupa vittrio d beliin yaa,
dri pda karin pke daster kuning bikin syilau mata mu😄🤣😄🤣🤭
Riska Baelah
😄🤣😄🤣🤭 agen rahasia, si karin,malh d ladeni lg sama Vittoria🤭
Riska Baelah
coba juna minta uang buat perbaiki kost an ny,, sama beliin karin bju bgus , jng pke daster truss🤭
Riska Baelah
kya ny aq komen sendri dech, ini pembaca yg laen kya ny blum tau, klu ad cerita baru yg seru👍
tp gak ap lah, klu vittrio penguasa italia, aq penguasa komen d cerita kk ini🤭👍
Farida 18: xixi jangan lupa mampir disebelah judulnya the Don & the distater, sama hari ini aku up novel baru judulnya Love, Bullets, and Bakwan: Mahkota sang Cassanova & Ratu Typo
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!