"Singkirkan tatapan menantangmu itu, Mahasiswa Baru. Kau terlalu sombong hanya karena dari Harvard," desis Amieyara Walker, matanya menghujam sedingin es di koridor sepi.
Maximilian Valerio hanya menyunggingkan seringai tipis yang sarat akan provokasi. "Dan kau? Merasa bisa mengaturku karena memegang gelar Asisten profesor, Nyonya Janda Satu Malam?"
"Jaga mulutmu, Valerio! Jangan menguji batas kesabaranku jika kau tidak ingin hancur di kampus ini!"
"Oh, silakan coba, Yara. Aku tidak takut dengan ancaman kosong dari wanita yang bahkan tidak bisa mempertahankan suaminya sendiri."
Dua jiwa angkuh yang sama-sama terluka, terjebak dalam lingkaran makian dan harga diri yang tinggi.
Tidak ada ruang untuk romansa lembut di antara mereka; yang ada hanyalah benturan ego, dendam, dan obrolan penuh permusuhan yang justru mengikat mereka dalam ketertarikan yang berbahaya dan mematikan.
Happy reading 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#19
Sinar matahari siang di kawasan Faculty of Medicine Universitas Los Angeles terasa membakar kulit, menciptakan bias gelombang panas di atas aspal beton yang bersih.
Berbeda dengan Fakultas Bisnis yang kasual atau Fakultas Hukum yang kaku berwibawa, area Fakultas Kedokteran memancarkan atmosfer yang jauh lebih steril, elite, dan mengintimidasi.
Di ujung koridor utama gedung anatomi, terdapat sebuah kafetaria semi-terbuka bernuansa neoklasik yang dikelilingi oleh pepohonan palem tiruan dan air mancur mini yang gemercik halus.
Tempat itu bukan sekadar area pengisi perut. Di lingkungan universitas, kafetaria ini dikenal sebagai markas tidak resmi bagi anak-anak konglomerat papan atas, pewaris dinasti bisnis, dan putri-putri dari keluarga atas modern yang menempuh studi kedokteran atau ilmu biomedis.
Suasana di dalam kafetaria siang itu luar biasa bising oleh denting sendok perak di atas piring porselen dan tawa yang sengaja diredam dengan anggun.
Jika seseorang jeli memperhatikan dinamika sosial di tempat ini, mereka akan segera menyadari bahwa tidak ada satu pun kata tulus yang mengalir di dalam lingkaran pertemanan tersebut.
Di balik senyuman manis, pujian mahal atas tas desainer terbaru, atau pelukan hangat saat menyapa, yang ada hanyalah sebuah ekosistem penuh kepalsuan. Sebagian besar wanita di sana berada di tempat itu hanya untuk saling menjilat, mengamankan koneksi bisnis orang tua mereka, atau sekadar mencari perlindungan di bawah bayang-bayang klan yang lebih berkuasa.
Dan di episentrum ekosistem yang kejam itu, duduk sang ratu tertinggi.
Emmeline Valerio bersandar dengan keanggunan mutlak di atas kursi rotan berlapis beludru putih. Kembaran dari Maximilian Valerio itu mengenakan jubah laboratorium putihnya yang dibiarkan terbuka, menampilkan gaun rajut sutra tanpa lengan berwarna hijau zamrud yang sangat pas di tubuhnya yang ramping dan proporsional.
Berbeda dengan Max yang cenderung memancarkan aura dingin, misterius, dan urakan dengan tato-tato geometrisnya, Emmeline adalah definisi dari keindahan yang mematikan.
Wajahnya yang simetris sempurna, sepasang mata gelap yang tajam laksana elang, serta pembawaannya yang angkuh membuat siapa pun di dalam kafetaria itu akan berpikir dua kali sebelum berani menatap matanya secara langsung.
Di hadapan Emmeline, berdiri Cinmocha Walker dengan tas tangan kecil yang dicengkeram erat oleh jemarinya yang mulai berkeringat dingin. Atmosfer yang dipancarkan oleh Emmeline seketika membuat nyali Caca menciut beberapa senti, mengembalikan memori lama yang sangat ingin dia kubur dalam-dalam.
Emmeline menyesap iced americano-nya perlahan, membiarkan keheningan yang menyiksa menyelimuti mereka selama hampir satu menit, sebelum akhirnya dia meletakkan gelas kaca itu ke atas meja dengan ketukan yang teramat pelan namun tegas.
"Cinmocha Walker," ucap Emmeline, bibirnya yang dipoles lipstik merah marun bergerak lambat, menyuarakan nama itu seolah sedang mengeja sesuatu yang asing namun familier.
"Ah... aku ingat sekarang. Aku terbiasa memanggilmu Mocha, kan? Kau adalah salah satu adik kelas yang dulu sering sekali membawakan jus jeruk dan merapikan catatan olahragaku saat di high school."
Emmeline menopang dagunya dengan sebelah tangan, menatap Caca dari atas ke bawah dengan pandangan mata yang merendahkan, seolah sedang menilai kualitas pakaian yang dikenakan gadis Walker itu.
"Dan sekarang... setelah Dua tahun tidak melihat wajah menjilatmu itu, kau tiba-tiba datang jauh-jauh dari Fakultas Bisnis ke wilayahku hanya untuk membawa apa yang kau sebut sebagai 'kabar buruk'? Sungguh menarik."
Caca menelan ludahnya dengan susah payah, mencoba mempertahankan senyuman manisnya yang palsu agar tidak terlihat gemetar di hadapan sang ratu bully. Dia melangkah maju satu tapak, mencondongkan tubuhnya ke arah meja Emmeline sembari berbisik dengan nada yang dibuat-buat penuh kecemasan.
"Emme, aku kemari karena aku sangat mengkhawatirkan reputasi keluargamu," ucap Caca, matanya bergerak liar memastikan tidak ada mahasiswa lain yang mendengarkan.
"Di Fakultas Bisnis dan Hukum saat ini sedang terjadi kehebohan besar. Kakakmu... Maximilian Valerio yang baru seminggu pindah ke sini, baru saja tertangkap basah sedang bercinta dengan seorang asisten dosen bernama Amieyara Walker di dalam ruang UKS. Semua orang di kampus sudah menyebarkan fotonya, Emme. Wanita itu adalah janda murahan dan simpanan pejabat, dia sengaja menjebak Max untuk memeras kekayaan keluarga Valerio!"
Emmeline tidak menunjukkan reaksi terkejut sedikit pun. Sepasang mata tajamnya tidak berkedip, tidak ada kerutan kepanikan di dahinya, dan tangannya tetap tenang di atas meja.
Sebagai saudara kembar yang tumbuh bersama Maximilian selama dua puluh tahun, Emmeline tahu betul bagaimana tabiat asli saudaranya. Max mungkin telah berubah menjadi pria yang liar, urakan, dan dingin sejak menginjak Boston dua tahun lalu, namun Max bukanlah pria bodoh yang akan kehilangan kendali dirinya hingga berbuat mesum di tempat umum seperti UKS kampus, apalagi dengan seorang asisten dosen.
Namun, melihat bagaimana Caca datang dengan napas yang memburu dan mata yang berkilat penuh dendam, Emmeline yang cerdas langsung bisa membaca arah permainan ini.
Dia paham betul bahwa ini semua tidak ada hubungannya dengan rasa khawatir terhadap nama Valerio. Ini masih soal obsesi lama dan cinta sepihak Caca yang menyedihkan terhadap Maximilian sejak masa high school dulu.
"Oh ya?" Emmeline mengeluarkan suara gumaman pendek yang terdengar sangat meremehkan. "Di UKS?"
Emmeline menegakkan tubuhnya, melipat kedua tangannya di depan dada sembari menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang sarat akan racun ejekan.
"Mocha... Mochi? Namamu Mochi, kan? Aku benar-benar lupa," ucap Emmeline dengan nada suara yang sengaja ditinggikan di bagian akhir, terdengar begitu tajam dan mengiris harga diri.
Caca seketika terdiam mematung, rahangnya mengancing rapat dengan kepalan tangan yang semakin mengerat di balik tas desainer-nya. Mochi.
Nama panggilan bernada menghina itu adalah nama yang selalu ingin dia lupakan dari masa lalunya—sebuah lelucon yang dulu sering digunakan oleh Emmeline dan komplotannya untuk menjadikannya bahan tertawaan di depan ratusan siswa high school.
Dan sekarang, di tengah kafetaria mewah ini, si gadis Valerio sialan ini dengan sengaja kembali mengingatkan posisi rendahnya di hadapan dinasti mereka.
Brengsek, batin Caca mengumpat dengan sangat kejam di dalam hatinya. Rasa benci yang mendalam seketika merayap naik menembus rongga dadanya.
Sejak dulu aku juga sangat membencimu, Emmeline! Kau tidak lebih dari seorang psikopat berwajah cantik yang berlindung di balik nama orang tuamu. Hanya saja... aku belum memiliki celah yang tepat untuk membalas semua perbuatanmu dan menghancurkan kesombonganmu itu!
Emmeline yang tidak memedulikan pergolakan emosi di wajah Caca kembali melanjutkan kalimatnya dengan nada yang semakin menusuk. "Dengar ya, Mochi. Kakakku, Maximilian, memiliki uang yang cukup untuk membeli seluruh gedung fakultas ini jika dia mau. Kalaupun dia benar-benar berniat untuk bercinta atau melampiaskan nafsunya dengan wanita mana pun di kampus ini—entah itu asisten dosen, mahasiswa, atau siapa pun—dia bisa dengan mudah menyewa ruang dekan atau memesan kamar suite hotel bintang lima terbaik di Los Angeles hanya dalam satu kedipan mata. Dia tidak akan pernah serendah itu untuk melakukannya di atas ranjang UKS yang sempit dan berbau antiseptik."
Emmeline memiringkan kepalanya, menatap Caca dengan binar mata yang laksana pisau bedah. "Jadi, berhentilah bertingkah seolah kau adalah pahlawan yang peduli pada nama baik keluargaku. Kau datang kemari hanya karena kau merasa cemburu dan gila setelah melihat Max menyentuh wanita lain yang jelas-jelas jauh lebih menawan daripada dirimu yang membosankan ini, kan?"
Kata-kata blak-blakan dari Emmeline laksana tamparan keras yang telak menghantam wajah Caca, membuat topeng manis yang dia pertahankan sejak tadi runtuh tak berbekas, menyisakan tatapan penuh kemarahan yang tertahan di balik helai rambut pirangnya.
Panggung di kafetaria Fakultas Kedokteran siang itu resmi berubah menjadi medan perang dingin di mana cakar-cakar tak kasat mata mulai saling mengoyak.