Shintia Almahira, mahasiswi cantik semester akhir, selalu berusaha membuat kakaknya, Andreas, kembali bahagia setelah ditinggal wafat tunangannya. Saat Andreas diam-diam menemukan cinta baru, Shintia ikut lega.
Namun semuanya berubah ketika wanita itu ternyata mengincar pria lain, seorang direktur hotel muda, tampan, kaya raya, dan super nekat yang justru tergila-gila pada Shintia. Dengan cara-cara kocak dan memalukan, sang direktur terus mengejar hati gadis itu.
Sementara Andreas harus menelan pengkhianatan yang menghancurkan hatinya. Saat hidup terasa runtuh, hadir seorang gadis desa sederhana yang perlahan mengobati lukanya.
Di tengah tawa, air mata, dan kekacauan cinta, mampukah Shintia menerima pria yang selalu membuat hidupnya jungkir balik? Atau justru semua akan berakhir dengan luka baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Sen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua hati saling menunggu
Ruang keluarga rumah utama keluarga Hadi pagi itu dipenuhi aroma teh hangat dan suasana tenang khas keluarga mapan yang jarang benar-benar berkumpul.
Namun ketenangan itu tidak sepenuhnya sampai ke kepala Raffa.
Pria itu duduk di sofa panjang sambil menyandarkan tubuh lelahnya. Kemeja hitam yang ia kenakan masih sedikit kusut karena sejak kemarin hampir tidak benar-benar beristirahat.
Di hadapannya, sang mama memperhatikan putranya dengan tatapan khawatir.
Sedangkan sang ayah duduk lebih santai sambil membuka tablet berita bisnis pagi.
“Raffa…” suara mamanya kembali terdengar lembut. “Mau sampai kapan kamu hidup sendiri terus?”
Raffa mengusap wajah pelan.
“Mamah bahas ini lagi.”
“Karena kamu selalu menghindar.”
Suasana kembali hening beberapa detik. Mamanya lalu melanjutkan dengan nada lebih hati-hati.
“Mamah tahu kamu sayang sekali sama almarhumah istrimu dulu. Dan mamah juga tahu kehilangan itu berat.” Tatapan wanita paruh baya itu melembut. “Tapi hidup kamu gak boleh berhenti di sana.”
Sang ayah ikut mengangguk kecil.
“Papa setuju.”
Raffa diam.
Tatapannya kosong menatap meja kaca di depannya.
Sudah hampir dua tahun sejak kecelakaan yang merenggut istrinya. Dan selama dua tahun itu pula hidupnya berubah jauh lebih dingin.
Ia bekerja seperti mesin. Mengisi hari dengan rapat, proyek, dan perjalanan bisnis. Tanpa sadar menjauh dari semua orang yang mencoba masuk ke hidupnya.
Termasuk Sella.
“Berlarut dalam kesedihan itu gak baik,” lanjut papanya tenang. “Nanti malah merusak hidup kamu sendiri.”
Raffa mengembuskan napas pelan lalu mengangguk kecil.
“Iya, Pa.”
Namun jawaban itu terdengar sekadar formalitas.
Karena sebenarnya pikirannya sama sekali tidak berada di ruangan itu.
Melainkan pada seorang gadis yang tadi pagi mungkin sedang sarapan sambil memikirkan dirinya.
Shintia.
Nama itu kembali muncul begitu saja di kepala Raffa.
Dan anehnya… untuk pertama kalinya sejak istrinya meninggal, ada seseorang yang bisa masuk ke pikirannya sesering ini.
Raffa memijat pelipis pelan.
Ia sebenarnya ingin bicara.
Ingin mengatakan kalau ada seseorang yang akhir-akhir ini membuat hidupnya terasa sedikit berbeda.
Seseorang yang membuat dirinya ingin pulang lebih cepat.
Yang membuat dirinya diam-diam tersenyum hanya karena ekspresi kecil gadis itu.
Namun tidak.
Belum saatnya.
Karena sampai sekarang Raffa masih ingin memastikan satu hal.
Apakah Shintia benar-benar tulus… atau hanya hanyut sesaat.
Mamanya yang melihat Raffa terus diam akhirnya kembali bicara.
“Kalau kamu memang belum siap cari orang baru, ya pelan-pelan aja. Tapi jangan nutup hati terus.”
Raffa tersenyum tipis samar.
“Gak semudah itu, Mah.”
“Mamah tahu.”
Wanita itu lalu saling melirik dengan suaminya sebelum akhirnya berkata pelan,
“Sebenernya… ada satu perempuan yang menurut mamah cocok buat kamu.”
Raffa sudah bisa menebak arah pembicaraan ini. Dan benar saja.
“Sella.”
Nama itu langsung membuat Raffa menahan napas tipis.
Mamanya tampak antusias. “Dia cantik, pintar, pembawaannya elegan. Dan yang paling penting, dia ngerti dunia hotel.”
Papanya ikut menimpali santai. “Manager hotel, kan dia?”
“Iya.” Mamanya tersenyum kecil. “Cocok sama Raffa. Sama-sama kerja di bidang yang sama. Kalau nanti menikah juga bisa saling bantu mengembangkan Hotel Permata.”
Raffa menunduk sebentar sambil mengusap jemarinya perlahan.
Kalau dipikir logis… Apa yang dikatakan mamanya memang benar. Sella nyaris sempurna di mata banyak orang.
Cantik, Cerdas, Ambisius.
Dan sangat cocok berdiri di samping seorang direktur utama hotel besar seperti dirinya.
Namun entah kenapa… Saat membayangkan hidup bersama Sella, Raffa tidak merasakan apa-apa.
Tidak ada rasa hangat.
Tidak ada ketenangan.
Berbeda jauh saat dirinya memikirkan Shintia.
Gadis cerewet yang bahkan masih bingung membedakan dirinya suka atau tidak.
Yang tertawa terlalu keras saat gugup, Yang diam-diam menangis hanya karena mengira dirinya celaka.
Dan yang paling aneh… Shintia sama sekali tidak pernah terlihat tertarik pada harta atau statusnya.
Justru itu yang membuat Raffa terus memikirkannya.
“Raffa?” panggil mamanya lagi.
Pria itu tersadar dari lamunannya.
“Hm?”
“Kamu denger gak sih?”
Raffa tersenyum kecil tipis.
“Denger.”
“Terus?”
“Mamah suka banget sama Sella ya?”
“Tentu.” Wanita itu mengangguk mantap. “Perempuan kayak dia cocok jadi pendamping kamu.”
Raffa menatap cangkir teh di meja beberapa detik sebelum akhirnya menjawab pelan,
“Sella orang baik.”
“Tapi?”
Pria itu mengangkat pandangan perlahan.
“Belum tentu cocok buat aku.”
Mamanya langsung mengerutkan kening tipis.
“Kamu belum coba buka hati.”
Raffa tidak membantah.
Karena sebenarnya… hatinya justru mulai terbuka diam-diam. Hanya saja bukan untuk Sella.
Dan ironisnya, gadis yang sedang memenuhi pikirannya sekarang bahkan belum resmi menjadi siapa-siapa dalam hidupnya.
Papanya memperhatikan putranya cukup lama sebelum akhirnya tersenyum samar.
“Ada seseorang ya?”
Deg.
Pertanyaan itu membuat Raffa refleks menoleh.
Mamanya langsung ikut penasaran.
“Hah? Siapa?”
Raffa langsung menggeleng santai.
“Gak ada.”
“Kamu bohong dari wajahnya kelihatan,” ujar papanya sambil terkekeh kecil.
“Papa apaan sih.”
“Jarang lihat kamu bengong sambil senyum sendiri begitu.”
Raffa langsung menghela napas kecil malas.
Namun jauh di dalam dirinya… Ada perasaan aneh yang perlahan tumbuh. Karena ternyata hanya mendengar nama Shintia di dalam kepalanya saja sudah cukup membuat suasana hatinya sedikit berubah.
Mamanya masih memperhatikan penuh rasa ingin tahu. “Siapa perempuan itu?”
“Belum ada siapa-siapa, Mah.”
“Kalau memang ada, kenalin ke mamah.”
Raffa tersenyum tipis lalu berdiri dari sofa.
“Nanti.”
“Nanti kapan?”
“Kalau waktunya tepat.”
Jawaban itu membuat kedua orang tuanya saling pandang.
Sedangkan Raffa berjalan perlahan menuju jendela besar rumah. Tatapannya lurus ke halaman depan yang dipenuhi cahaya matahari pagi.
Dalam pikirannya hanya ada satu bayangan.
Shintia memakai toga wisuda. Wajah gadis itu pasti akan terlihat sangat bahagia.
Dan entah kenapa… Raffa ingin datang di hari itu.
Muncul tepat ketika Shintia mulai berpikir dirinya benar-benar menghilang.
Ia ingin melihat reaksi gadis itu secara langsung. Apakah Shintia masih akan menangis karena dirinya.
Masih marah, Atau mungkin… sudah melupakan semuanya.
Namun satu hal yang pasti... Raffa ingin menjadi orang yang berdiri di sana saat Shintia wisuda nanti.
Bukan sebagai lelaki asing yang datang sebentar lalu pergi, Melainkan seseorang yang benar-benar kembali. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama… Raffa mulai menunggu sebuah hari dengan perasaan yang berbeda.
***
Dan di kampus, kali ini wajah Shintia lebih sumringah setelah bercerita pada kakaknya... Ia setidaknya sudah mengurangi beban pikirannya, Kini Shintia hanya berpikir... Jika Raffa memang benar sudah tiada, ia berharap ada yang tiba-tiba tahu makamnya, namun jika Raffa memang masih hidup ia berharap Raffa sehat dan datang kembali untuk dirinya.
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu 💪🥰🤗
seandainya Shintia tahu Raffa masih hidup...
duhhh Shintia jangan khawatir yg kecelakaan itu bukan Raffa 🥲🥲
jadi teringat Raffa dan Sutra yaaa...
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu💪🥰🤗
Raffa jahil banget sama Shintia 😄😄